
Hubungan Clarisa dan Evan sudah kembali seperti dulu lagi, tapi perasaan Clarisa ke Evan telah berubah. Dengan keputusan Evan yang ingin menjauh dari kehidupan Nena, membuat Clarisa sadar, jika cinta itu tak selamanya harus saling memiliki. Dengan kita bisa selalu bersama dan melihatnya itu sudah membuat kita bahagia.
Clarisa sudah mulai membuka hatinya untuk Tino, itu pun juga karena Evan selalu mendukung hubungan mereka. Evan tau hanya Tino lah yang bisa membahagiakan Clarisa. Cintanya yang tulus serta kesabaranya membuat hati Clarisa luluh.
Evan bahagia bisa melihat kembali senyum ceria terpancar dari wajah Clarisa.
"Van."
"Heemm."
"Makasih ya, berkat kamu sekarang hubungan aku dan kak Tino bisa berjalan dengan lancar." Ucap Clarisa dengan senyuman di wajahnya.
"Semua itu bukan karena aku, tapi karena niat kamu yang ingin menerima Tino dengan sepenuh hati kamu." Evan menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa sambil melihat bunga-bunga yang tumbuh di halaman rumahnya.
"Gimana hubungan Carlos dan Nena? apa pengorbanan kamu sudah membuahkan hasil?"
Evan menggelengkan kepalanya.
"Kok bisa!"
"Kan aku pernah bilang sama kamu, aku cuma bisa membujuk Nena untuk menerima cinta Carlos tapi keputusan tetap ada ditangan dia. Dia mau menerima Carlos atau nggak itu hak dia." Evan menghela nafas panjang.
Clarisa menatap Evan, dia bisa merasakan kesedihan yang tengah Evan rasakan. Dia juga tidak berhak mencampuri urusan pribadi Evan, Clarisa mengenal betul sifat Evan. Sekali dia mengambil keputusan maka dia tidak akan mengubahnya lagi. Apa lagi Carlos adalah prioritas utama dalam hidup Evan.
Carlos berjalan menuruni tangga, dia menghampiri Mama nya yang tengah asyik menonton TV di ruang tengah.
"Evan mana Ma?" Tanya Carlos sambil duduk disamping Dona.
"Didepan sama temannya."
"Siapa Ma?"
"Clarisa, anaknya teman Papa kamu itu." Sahut Dona tanpa berpaling dari layar TV.
Carlos berdiri dan berjalan menjauh.
"Kamu mau kemana?" Seru Dona.
"Menemui Evan." Teriak Carlos sambil terus berjalan.
Carlos melangkahkan kakinya menuju teras depan.
"Wah..pagi-pagi udah datang kesini, udah kangen banget ya sama Evan?" Goda Carlos sambil duduk disebelah Evan.
"Mau tau aja urusan orang!" Ucap Clarisa ketus.
"Judes banget jadi cewek."
"Biarin, dari pada jadi cewek manja dan cengeng kayak cewek kamu itu." Sindir Clarisa.
"Cewek aku! siapa?" Tanya Carlos sambil mengeryitkan dahinya.
"Siapa lagi, memangnya cewek kamu ada berapa?"
Clarisa melirik Evan yang hanya diam sambil menatap kearah lain. Dia bisa melihat, Evan tidak nyaman dengan topik pembicaraan ini.
"Tunggu...tunggu..tunggu, maksud kamu Nena!" Seru Carlos.
Clarisa menganggukan kepalanya. Carlos pun tertawa terbahak-bahak.
"Kok kamu malah tertawa, memangnya ada yang lucu apa?" Tanya Clarisa heran.
"Tentu aja lucu, Nena itu bukan cewek aku, jadian aja belum, bagaimana bisa disebut cewek aku." Ucap Carlos sambil menepiskan senyumannya.
"Nena belum menjawab pernyataan cinta kamu?" Tanya Evan terkejut.
Carlos menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba ponsel Carlos berbunyi. Carlos melihat siapa yang menelfonnya.
__ADS_1
"Nena! tumben dia menelfon aku duluan, ada apa ya?" Guman Carlos dalam hati.
"Padahal udah 1 bulan sejak pernyataan Carlos malam itu. Jadi semua pengorbanan aku selama ini sia-sia." Guman Evan dalam hati.
Carlos berdiri dan berjalan menjauh, dia mengangkat telfon dari Nena.
"Ya, ada apa?" Sahut Carlos.
"Bisa kita ketemu?".
"Bisa, kapan?"
"Sekarang, aku tunggu di taman dekat rumah aku."
"Ok, aku kesana sekarang." Carlos lalu mematikan telfonnya.
"Emm..ada apa ya? bukannya dia udah menolak aku."
Carlos masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya. Evan dan Clarisa menatap heran kepada Carlos yang tiba-tiba pergi tanpa memberitahu mereka.
"Ada apa dengan Carlos? apa terjadi sesuatu?" Tanya Clarisa penasaran.
"Mungkin dia dapat telfon dari Deo."
"Mungkin juga sih." Ucap Clarisa sambil menganggukan kepalanya.
Clarisa melipat kedua kakinya keatas sofa, dia duduk menghadap Evan.
"Van, kamu tau nggak kalau Deo sekarang tengah berhubungan dengan Sasa?"
"Maksud kamu Sasa, cewek yang pendiam itu?" Tanya Evan terkejut.
Clarisa menganggukan kepalanya.
"Kok bisa! bukannya Sasa tau betul sepak terjang Deo!"
Clarisa menaikan kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
"Maksud kamu, menyembunyikan apa?" Tanya Evan sambil mengeryitkan dahinya.
"Aku juga nggak tau apa itu,"
Clarisa berdiri.
"Aku pulang dulu, aku ada janji sama Kak Tino." Ucap Clarisa lalu berjalan menjauh.
Evan sedang memikirkan tentang kata-kata yang di ucapkan Clarisa. Tentang hubungan Deo dan Sasa. Evan memang tidak suka mencampuri urusan pribadi Deo, tapi Evan tidak juga tidak ingin sahabatnya dalam masalah.
»»»»
Carlos menghentikan mobilnya di sebuah taman, dia melihat Nena tengah duduk sendirian di kursi taman.
Carlos berjalan menghampiri Nena. Sebelum menuju taman, Carlos berhenti disebuah toko bunga dan membeli setangkai bunga mawar merah.
"Maaf, lama ya, ini buat kamu." Ucap Carlos sambil memberikan setangkai bunga mawar itu kepada Nena.
Nena terkejut saat Carlos memberinya bunga mawar, ini pertama kalinya ada cowok yang memberinya bunga mawar merah. Nena menerima bunga mawar itu dengan senyuman manis di wajahnya.
" Sial, ada apa dengan jantungku? kenapa jantungku berdebar-debar? senyuman itu-- ada apa ini, aku nggak mungkin benar-benar jatuh cinta sama Nena, kan?" Guman Carlos dalam hati.
"Kok malah benggong?" Ucap Nena membuyarkan lamunan Carlos.
"Emm..habis aku terpukau sama kecantikan kamu." Goda Carlos.
"Udah deh, nggak usah ngegombal. Ayo duduk, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Ucap Nena sambil menepuk sebelahnya.
Carlos duduk disamping Nena.
__ADS_1
"Ada apa kamu menyuruh aku kesini? jangan bilang kamu berubah pikiran?" Carlos menatap kedua mata Nena.
"Emm..sebenarnya apa yang kamu suka dari aku?" Tanya Nena sambil menundukan wajahnya.
"Emm..apa ya, kamu itu cantik, body kamu wuihh..sexsi, montok--"
Kedua mata Nena membulat seketika saat mendengar kata-kata Carlos, dia sontak langsung mencubit pinggang Carlos.
"Awww..sakit tau!" Seru Carlos sambil mengeryit menahan sakit.
"Aku itu serius, tapi kenapa pikiran kamu malah mesum kayak gitu!" Seru Nena kesal.
"Aku kan bicara apa adanya, kamu memang cantik, sexsi, mon--"
"Cukup! kalau kamu nggak bisa serius, aku pergi!" Seru Nena lalu berdiri. Carlos menarik tangan Nena.
"Maaf, ok aku akan serius kali ini."
Carlos mendudukan Nena disampingnya.
"Apa yang ingin kamu ketahui?" Tanya Carlos sambil menggenggam tangan Nena.
"Kenapa kamu menyukaiku? apa yang kamu suka dari aku?"
Carlos mengambil nafas dan membuangnya perlahan.
"Jujur, aku juga nggak tau kenapa aku bisa suka sama kamu, yang aku tau aku hanya ingin selalu bersamamu," Carlos menyandatkan tubuhnya ke punggung kursi taman.
"Apa kamu ingat saat kita tidak sengaja bertemu di mall waktu itu?"
Nena menganggukan kepalanya.
"Saat itu aku benar-benar takut saat melihat kamu kesakitan seperti itu, entah mengapa aku juga bisa merasakan sakit yang kamu rasakan. Jantung aku seakan berhenti berdetak. Sejak saat itu, wajah kamu selalu memenuhi pikiranku, aku juga nggak tau kenapa aku bisa seperti itu." Sambungnya lagi.
Nena menatap Carlos dengan wajah sendunya. Dia berfikir, apa dirinya tega menyakiti hati Carlos yang begitu baik? apa dia tega memanfaatkan kebaikan Carlos untuk kepentingannya sendiri? apa dia harus bersikap seegois ini?
"Kenapa kamu diam? apa kamu nggak percaya dengan apa yang aku katakan?"
Nena menggelengkan kepalanya.
"Lalu.."
"Aku nggak tau harus bicara apa, aku juga nggak tau pasti dengan perasaan aku saat ini tapi aku--"
"Nggak usah kamu katakan, aku udah tau apa jawaban kamu. Lagian kamu udah menolak aku waktu itu, aku juga nggak akan memaksa kamu untuk menerima perasaan aku. Aku juga nggak mau kamu menerima aku hanya karena keterpaksaan, karena bagi aku cinta itu nggak harus saling memiliki." Ucap Carlos dengan senyuman diwajahnya.
"Tapi maafkan aku Los, aku harus melakukan ini. Aku ingin lihat, bagaimana reaksi Evan, saat dia tau aku menerima perasaan kamu. Aku ingin dia merasakan sakit yang aku rasakan." Guman Nena dalam hati.
"Los, aku mau menjadi pacar kamu."
Carlos membulatkan kedua matany, dia tidak percaya Nena akan benar-benar menerima perasaannya.
"Kamu serius?"
Nena menganggukan kepalanya. Carlos memeluk Nena dengan sangat erat.
"Makasih ya, aku janji aku akan membuat kamu bahagia."
Nena membalas pelukan Carlos, entah mengapa dia merasakan kenyamanan dalam pelukan Carlos.
"Kenapa aku sebahagia ini ya, saat Nena menerima perasaan aku. Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta sama Nena? jika itu benar, aku berjanji akan membuatnya bahagia, tak akan aku biarkan dia menangis lagi." Guman Carlos dalam hati.
"Maafin aku Los, aku hanya ingin memanfaatkan kamu. Aku butuh bantuan kamu untuk membalaskan sakit hati aku ke Evan." Guman Nena dalam hati.
⭐⭐⭐⭐
Biasakan klik tombol jempol setelah selesai membaca ya guys, itu adalah hadiah terindah untuk aku, dengan begitu kalian menghargai usaha aku selama ini. Jangan lupa kasih bintang 5 agar reting novel ini kembali naik. Jadikan pula novel ini sebagai novel favorit kalian semua.
__ADS_1
Jangan lupa mampit ke novel yang season 2 ya..ramaikan juga novel itu.
Terimakasih atas dukungan kalian selama ini.