
Sudah satu minggu Evan dan Carlos berlibur di rumah Oma nya. Mereka terlihat sangat bahagia, terutama Carlos. Anak kecil itu sudah tidak lagi memasang wajah murungnya, karena Mery selalu mengajak mereka jalan-jalan.
Evan juga tak kalah bahagianya, karena Gasta sering main ke rumah Mery di waktu lenggangnya, tentu saja dengan Sakti. Semenjak kejadian di restoran waktu itu kini Sandy sudah welcome untuk Sakti. Sudah tidak ada lagi kesalah pahaman antara dia dan Sakti.
Evan sedang bercanda tawa dengan Gasta, anak kecil itu tidak melepaskan Gasta sedetikpun dari pandangannya hingga membuat Sakti merasa sangat geram. Sandy hanya tersenyum melihat Sakti cemburu dengan keponakannya.
" Kamu kenapa?" Tanya Sandy sambil menepuk bahu Sakti lalu duduk disampingnya.
" Itu bocah tengil, dari tadi nggak mau lepas dari cewek aku!" Seru Sakti sambil terus menatap kearah Gasta yang masih asyik bercanda tawa dengan Evan.
" Kamu ini ada-ada aja, masa kamu cemburu sama keponakan aku. Evan itu baru berusia 9 tahun, masa mau kamu jadiin saingan." Ucap Sandy sambil menggelengkan kepalanya.
" Habisnya keponakan kamu itu rese banget, dari tadi deketin cewek aku terus. Aku mau ngobrol sama Gasta nggak di bolehin sama dia." Ucap Sakti sambil terus mengerutu kesal.
" Udah biarin aja, nggak mungkin juga Evan bakal ngerebut Gasta dari kamu." Pria itu menepuk bahu Sakti, " Lebih baik kita ngobrol di luar aja."
Sakti menganggukan kepalanya dan mengukuti Sandy keluar dari rumah, mereka mengobrol di teras depan.
" Wajah Monic mirip sama Mery ya, cantik." Goda Sakti dengan senyuman di wajahnya.
Sakti memang sengaja ingin mengoda Sandy. Sakti melihat Carlos tengah bermain dengan Monic di taman depan rumahnya.
" Kamu mau mencari perkara lagi ya, aku bilangin sama Gasta ni kalau kamu mau menggoda istri aku." Ancam Sandy dengan penuh penekanan.
Sakti seketika membulatkan kedua matanya mendengar ancaman Sandy, " Ehh..jangan dong, kamu mau bikin hubungan aku sama Gasta berakhir." Sakti menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa, " Gasta nggak tau kalau aku pernah mencintai Mery." Sambungnya.
" Kenapa kamu nggak cerita sama Gasta?" Tanya Sandy terkejut.
" Kalau aku cerita, apa Gasta akan mau datang ke rumah kamu? apa Gasta mau berteman sama Mery?" Ucap Sakti lalu menghela nafas panjang.
__ADS_1
" Ya, siapa tau dengan kamu memberitahu Gasta maka dia akan lebih mencintai kamu, karena dia takut kehilangan kamu saat dia tau kamu pernah cinta mati sama Mery." Ucap Sandy dengan menepiskan senyumannya.
Pria itu jadi teringat saat dirinya mencoba menjauhi Mery gara-gara Pil itu. Saat itu Sakti lah yang selalu ada disamping Mery dan memberinya semangat. Andai saat itu Sandy tidak segera menyadari kesalahannya mungkin saat ini yang menikah dengan Mery bukanlah dirinya tapi Sakti.
" Itu semua hanya masa lalu dan aku ingin menguburnya dalam-dalam. Gasta adalah masa depan aku, jadi aku nggak akan pernah melepaskannya." Sakti memasukan stik keju ke dalam mulutnya.
" Kamu mau menikahi Gasta, dia masih kecil woy..inget umur kamu." Sindir Sandy.
" Memangnya kenapa dengan umur aku, kamu aja sama Mery bisa nikah kenapa aku nggak!" Sindir Sakti balik.
Sandy menelan salivanya, pria itu lupa jika dirinya nggak jauh beda dengan Sakti. Pria itu mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Ya tapikan Gasta masih kecil, aku dengar dari Mery usia Gasta 20 tahun, la kamunya udah tuir gitu." Ucap Sandy dengan nada bercanda.
" Umur aku nggak jauh beda dengan istri kamu, cuma selisih 1 tahun aja. Kalau aku tua berarti istri kamu juga tua dong." Sindir Sakti.
Sandy sontak langsung melempar bantal sofa ke muka Sakti, tapi dengan reflek Sakti menepis bantal itu.
" Kalau aku lumutan berarti kamu udah bangkotan dong." Ucap Sakti sambil menahan tawa.
Mery yang sedari tadi mendengar percakapan suaminya dan sahabatnya hanya bisa menahan tawa dan menggelengkan kepalanya. Evan dan Gasta berjalan menghampiri Mery yang tengah duduk di ruang tamu sambil memangku Ricart.
" Kak Mery kenapa senyum-senyum gitu? Ada yang lucu ya kak?" Tanya Gasta penasaran.
Evan dan Gasta duduk disamping Mery, Gasta mengambil alih memangku Ricart. Ricart tersenyum dan memegang kedua pipi Gasta.
" Anak kamu lucu kak, kapan ya aku bisa punya anak kayak Ricart gini, gemesin." Ucap Gasta sambil menciumi kedua pipi Ricart.
" Nikah dulu sama Sakti, jangan bunting duluan?" Ucap Mery dan mendapat anggukan dari Gasta.
__ADS_1
" Nggak boleh!" Seru Evan.
Evan tidak rela jika kakak cantiknya menikah dengan orang lain. Mery dan Gasta mengeryitkan dahinya.
" Memangnya kenapa sayang?" Tanya Mery terkejut.
" Karena kakak cantik hanya boleh menikah sama Evan." Ucap Evan lalu memeluk Gasta.
Gasta dan Mery tertawa mendengar ucapan anak kecil yang kini tengah mencemberutkan bibirnya.
" Sayang, kamu kan masih kecil, masa kamu mau menikah dengan kakak cantik." Ucap Mery sambil menahan tawanya.
" Ya, kakak cantik tunggu Evan dewasa, baru Evan akan menikah dengan kakak cantik." Ucap Evan dengan pedenya.
" Ya kasian kakak cantik dong sayang, nanti kakak cantik keburu tua dong." Ucap Mery mencoba memberi pengertian kepada Evan.
Tapi Evan tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Gasta hanya menggelengkan kepalanya melihat Evan cemberut. Karena tidak ingin mengecewakan Evan akhirnya Gasta mengiyakan ucapan Evan. Gadis itu berfikir itu hanya omongan anak kecil dan dia akan lupa dengan sendirinya saat mereka sudah beranjak dewasa.
Sakti dan Sandy masuk ke dalam rumah saat mendengar tawa Mery yang terdengar sampai teras depan. Sakti berdiri dibelakang Gasta dan mengusap lembut puncak kepala Gasta.
" Pulang yuk Yank, udah sore juga, takutnya nanti Ibu dan Ayah kamu khawatir lagi." Ucap Sakti sambil mengecup puncak kepala Gasta.
Gadis itu menganggukan kepalanya dan menyerahkan Ricart kepada Mery. Gadis itu memeluk Evan dan mengecup kening Evan.
" Kakak pulang dulu ya, kapan-kapan kakak main kesini lagi." Ucap Gasta sambil mengusap lembut puncak kepala Evan.
" Tapi kapan Kak, sebentar lagi Evan udah balik ke Jakarta." Ucap Evan sambil cemberut.
Gasta menatap Sakti dan Mery, gadis itu binggung harus menjawab apa. Sakti menepuk bahu Gasta dan menggelengkan kepalanya. Sakti tidak ingin sang pujaan hati memberikan harapan palsu untuk anak kecil yang belum tau apa-apa. Belum bisa membedakan antara sayang dan cinta.
__ADS_1
Gasta menepuk bahu Evan lalu berdiri, Gasta dan Sakti berpamitan kepada Mery dan Sandy. Mereka mengantar Sakti dan Gasta sampai di depan pintu. Evan hanya bisa memandang kakak cantiknya pergi meninggalkan rumahnya.
⭐⭐⭐⭐