
Sandy terus menatap ke depan dan tak menghiraukan ucapan Mery, ia tak ingin membahas masalah pribadinya dengan orang lain.
"Kenapa kak Sandy diam, jadi benar semua ini ada hubungannya dengan kak Dona?"
Mery menatap ke arah Sandy, dia ingin sekali menghentikan mobil Sandy dan meminta jawaban atas pertanyaan yang selama ini selalu memenuhi pikirannya.
"Kak...lihat aku kak!" Mery memegang tangan Sandy.
"Lepasin, Mer! aku lagi menyetir, apa kamu tidak lihat! kamu mau kita dalam bahaya, hah!" teriak Sandy keras.
Mery sontak langsung melepaskan tangannya dari tangan Sandy, tanpa sadar air mata menetes di kedua pipi Mery.
Mery menyandarkan kepalanya pada bangku penumpang sambil menatap keluar jendela, air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya. Mery hanya diam, dia tidak lagi mengajak Sandy bicara.
Sandy menatap Mery yang sedang menatap keluar jendela, dia merasa penasaran, kenapa Mery dari tadi hanya diam tak bersuara. Sandy akhirnya menepikan mobilnya dan berhenti.
"Kenapa kamu diam aja, biasanya kamu amat cerewet hingga membuat kuping aku sakit?" tanya Sandy sambil menatap Mery.
Tapi Mery tetap diam dan tetap terus menatap keluar jendela. Sandy semakin bingung dengan tingkah Mery.
"Mer, apa kamu marah sama aku?" tanya Sandy sambil menarik tangan Mery agar Mery menatapnya saat dia ajak bicara.
Sandy terkejut melihat air mata mengalir dari kedua sudut mata Mery dan membasahi kedua pipinya.
"Kamu kenapa menangis? apa karena bentakan aku tadi? aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk membentak mu. Aku hanya terkejut tiba-tiba kamu memegang tanganku, apalagi aku sedang menyetir," ucap Sandy merasa sangat bersalah.
"Aku mau pulang," ucap Mery lalu menghapus air matanya.
"Baiklah, tapi kamu jangan menangis lagi, nanti Mama kamu akan berfikir aku sudah ngapa ngapain kamu lagi."
"Kakak hanya mengkhawatirkan itu! kakak tidak perduli dengan perasaan aku!" teriak Mery lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil Sandy.
Sandy membuka pintu mobil dan mengejar Mery.
"Mer...tunggu!" teriak Sandy lalu menarik tangan Mery.
"Lepasin kak! aku ingin sendiri!" teriak Mery lalu menghempaskan tangan Sandy.
__ADS_1
"Kamu mau kemana? ini udah malam."
Sandy menatap Mery, dia tidak tau apa yang sedang Mery pikirkan hingga marah seperti itu kepadanya.
"Kalau aku ada salah aku minta maaf, aku nggak bermaksud untuk menyakiti hati kamu."
"Aku yang salah kak, bukan kakak." Mery lalu duduk terkulai lemas.
Sandy mendekati Mery dan berjongkok didepan Mery.
"Apa maksud kamu?" tanya Sandy sambil mengerutkan dahi.
"Aku...aku yang salah kak, karena aku...aku..terlalu mencintaimu," aku Mery sambil menundukkan wajahnya.
"Apa! aku nggak salah dengarkan, Mer. kamu mencintaiku! sejak kapan?" tanya Sandy terkejut.
"Sejak pertama kali aku kenal sama Kak Sandy, sejak Kak Sandy masih berpacaran dengan kak Dona. Aku pikir itu hanyalah cinta monyet dan dengan berlalunya waktu rasa cinta itu akan hilang dengan sendirinya, tapi ternyata aku salah, cinta itu terus bersemi didalam hatiku."
Sandy berdiri, dia lalu mengacak-acak rambutnya, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Selama ini Sandy hanya menganggap Mery seperti adiknya sendiri karena dia adalah adik dari wanita yang sangat dia cintai bahkan sampai sekarang.
"Aku tau, Kak Sandy sangat mencintai Kak Dona, tapi entah mengapa aku nggak bisa melupakan kakak, aku udah mencobanya berkali-kali, tapi tetap nggak bisa. Saat kalian putus aku merasa senang, aku egois kan kak, bahagia di atas penderitaan kakak aku sendiri."
"Tapi aku juga nggak bisa membuang begitu aja perasaan ini. Apa kak Sandy nggak bisa membuka sedikit hati kakak untuk aku?" tanya Mery lalu berdiri dan mendekati Sandy.
"Mer...aku nggak mau hubungan kita rusak hanya karena masalah ini."
Mery semakin mendekati Sandy dan memeluk Sandy, dia lalu memeluk Sandy dengan sangat erat.
"Aku mohon kak, aku sangat mencintaimu, hati ku sangat sakit saat kakak menjaga jarak dari ku."
"Lepasin, Mer!" Sandy berusaha melepaskan pelukan Mery.
"Nggak! aku nggak akan melepaskan Kak Sandy!" Mery lalu mempererat pelukannya.
Sandy melepaskan tangan Mery dari tubuhnya dan menarik dagu Mery, lalu Sandy mencium bibir Mery. Mery terbelalak, dia tidak menyangka Sandy akan menciumnya.
Setelah puas Sandy melepaskan tubuh Mery.
__ADS_1
"Apa sekarang kamu sudah puas?" Sandy sambil menatap Mery.
"Maksud kakak apa?" tanya Mery terkejut dengan ucapan Sandy.
"Bukankah itu yang kamu inginkan dari ku! kalau kamu belum puas aku akan memberikannya lagi."
PLAAAKKK..
Suara tamparan keras terdengar, tangan Mery gemetar setelah menampar pipi Sandy dengan sangat keras. Amarah menyelimuti hati Mery.
"Kakak pikir aku ini apa, hah! aku mencintai kakak dengan tulus, tapi ini balasan untuk aku, sebuah penghinaan!" teriak Mery emosi.
"Bukankah itu yang kamu mau, kalau kamu memang mencintaiku, berarti kamu mau melakukan apa pun yang aku mau," ucap Sandy tanpa rasa bersalah.
"Aku benci Kak Sandy! kenapa juga aku bisa mencintai orang seperti kak Sandy!" teriak Mery lalu pergi meninggalkan Sandy.
"Kamu mau kemana? ayo aku antar pulang!" teriak Sandy lalu menarik tangan Mery dan membawanya kedalam mobil.
Sandy melajukan mobilnya, didalam mobil Sandy dan Mery hanya diam tak bersuara sampai di rumah Mery.
Mery membuka sabuk pengaman lalu mencoba untuk membuka pintu mobil tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh Sandy.
"Mau apa lagi! belum puas kakak menyakiti hati aku!" seru Mery lalu menghempaskan tangan Sandy.
"Maaf, aku tadi terbawa emosi."
"Sudahlah kak, sekarang kakak harus pulang," ucap Mery lalu membuka pintu mobil dan keluar dari mobil.
Sandy membuka pintu mobil dan mengejar Mery, dia lalu menarik tangan Mery dan memeluknya.
"Maaf, aku benar-benar minta maaf."
"Sebelum kakak minta maaf aku udah maafin kakak, seharusnya aku yang minta maaf, karena sudah mencintaimu tanpa seizin mu. Aku berjanji mulai malam ini aku akan berusaha menepis rasa cinta ini, jadi kakak nggak perlu khawatir lagi. Aku juga nggak akan menganggu kakak lagi, aku akan menjaga jarak," ucap Mery lalu melepaskan pelukan Sandy dan melangkahkan kakinya menuju pekarangan rumahnya.
Sandy hanya mampu menatap kepergian Mery, entah mengapa hatinya merasa amat sakit saat Mery bilang kalau dia akan menjaga jarak.
"Ada apa denganku, kenapa hati ini sangat sakit saat Mery ingin menjaga jarak denganku? selama ini aku menjaga jarak dengannya, aku tidak masalah, tapi kenapa ini terasa berbeda saat dia yang ingin menjaga jarak dariku. Apa karena aku sudah terbiasa dengan segala tingkah lakunya?" Sandy terus menatap kepergian Mery.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟