
Evan terus menerus mendekati Clarisa, dia tidak ingin hubungan persahabatan yang sudah dia bina selama 5 tahun hancur dalam sekejab. Clarisa selalu ada disaat dia butuhkan, bahkan Clarisa rela melakukan apa pun demi dirinya.
Evan menghela nafas dengan kasar, sejak tadi pagi dia belum berhasil mengajak Clarisa bicara, bahkan Clarisa sampai bertukar tempat duduk hanya untuk menghindar dari Evan.
"Kalian ini sebenarnya ada masalah apa sih?" Tanya Carlos penasaran.
"Iya nih, biasanya kalian kemana-mana selalu berdua, udah kaya pasangan romeo dan juliet." Deo ikutan berkomentar.
Evan melipat kedua lengannya diatas meja, dia tenggelamkan wajahnya. Deo menatap Carlos, Carlos mengangkat kedua bahunya tanda dia tidak tau apa-apa.
"Jangan menyerah Van, Clarisa lama-lama akan luluh juga dengan semua usaha kamu. Kalian itu udah sahabatan lama, jadi nggak mungkin Clarisa memutuskan persahabatan kalian semudah itu." Ucap Deo sambil menepuk bahu Evan.
"Atau jangan-jangan kamu sakit hati saat tau Clarisa sudah bertunangan dengan Tino?" Carlos mulai menebak-nebak.
"Ya bukanlah!" Seru Evan lalu mendongkan wajahnya.
"Aku ikut bahagia jika Clarisa bahagia bersama dengan Tino. Lagian aku sama Clarisa cuma sahabatan." Sambung Evan lagi.
"Terus apa masalahnya?" Tanya Carlos penasaran.
"Clarisa tidak suka melihat aku dengan cewek lain, apa salah kalau aku jatuh cinta sama cewek lain saat Clarisa mengatakan jika dia suka sama aku."
"Hah! Apa! Kamu jatuh cinta? sama siapa?" Tanya Deo terkejut.
"Kamu nggak perlu tau, sekarang yang jadi masalah, gimana caranya membuat Clarisa mau bicara lagi sama aku." Evan kembali menenggelamkan wajahnya.
" Aku tau siapa orangnya, kamu nggak bisa menyembunyikan ini dari aku, Van." Guman Carlos dalam hati.
Nena berjalan menghampiri Evan, Deo dan Carlos. Deo menyengol lengan Carlos dan memberitahu kalau Nena sedang berjalan kearah mereka.
"Ok."
Carlos tau maksud Deo. Dia berdiri dan berjalan kearah Nena.
"Boleh aku bicara sama kamu?"
"Ada apa sih?"
Carlos menarik tangan Nena dan mengajaknya keluar dari kantin. Dia mengajak Nena kebelakang sekolah.
"Ada apaan sih?"
"Nggak ada apa-apa, aku cuma ingin duduk berdua sama kamu."
Carlos menarik tangan Nena lalu mendudukannya disampingnya.
"Ada apa sih dengan Carlos? kenapa sikapnya mencurigakan kayak gini?" Guman Nena dalam hati.
"Nggak usah menatapku seperti itu. Aku udah tampan dari dulu." Ucap Carlos sambil menatap Nena yang kini juga tengah menatapnya.
"Idih GR.."
"Na, boleh aku bicara sesuatu sama kamu?"
"Apa?"
"Apa kamu su--"
Tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi.
"Ayo kita ke kelas, jam istirahat udah habis." Ajak Nena lalu berdiri.
"Kamu duluan aja."
Nena menganggukan kepalanya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Carlos.
"Apa yang aku lakukan, nggak seharusnya aku melakukan ini."
Carlos mengacak-acak rambutnya. Dia menghela nafas panjang.
"Tapi demi Evan dan Clarisa, aku harus melakukannya. Aku tau kamu menyukai Evan , Na. Tapi aku nggak akan membiarkan hubungan Evan dan Clarisa hancur."
Carlos berdiri lalu berjalan menuju kelas.
»»»»
Nena merasakan dampak yang tengah dialami oleh Evan dan Clarisa. Nena merasa Evan mulai menjaga jarak dengannya, walau Evan tak pernah mengabaikan telfon darinya.
Sudah seminggu lebih Evan tak lagi datang ke rumah Nena. Dia merasa sangat penasaran, dia akhirnya mengirim pesan dan mengajak ketemuan.
__ADS_1
[ Van..bisa kita ketemuan ] Nena.
Carlos melihat ponsel Evan bergetar. Dia mengambil ponsel Evan dari atas meja.
"Nena!"
Carlos membuka pesan dari Nena. Dia membaca pesan dari Nena dan terlihat senyuman diwajahnya. Dia membalas pesan Nena.
[ Ok..aku akan ke rumah kamu sekarang ] Evan.
Carlos menghapus pesannya, lalu meletakan kembali ponsel Evan keatas meja.
Deo dan Evan berjalan menghampiri Carlos sambil membawa makanan dan minuman.
"Malam ini kamu mau kemana Van, apa kamu mau menemui Clarisa? ini malam minggu lo." Tanya Deo.
"Aku malas, aku mau dirumah aja." Sahut Evan sambil memasukan kentang goreng kemulutnya.
"Kalau kamu Los?"
"Aku mau kerumah teman aku."
"Siapa teman kamu itu?" Tanya Evan dan Deo bersamaan.
"Ada deh, mau tau aja."
Carlos terus memikirkan rencana untuk memisahkan Evan dan Nena.
"Ayo Van, kita pulang." Ajak Carlos.
Evan menganggukan kepalanya lalu berdiri.
"Kita duluan ya, ini semua kamu aja yang menghabiskan, biar perut kamu kenyang." Ucap Evan.
Deo mengibaskan tangannya dan menyuruh Evan dan Carlos agar segera pergi. Sebenarnya Deo juga sudah ada janji dengan kekasihnya.
Mereka masuk kedalam mobil. Evan melajukan mobilnya meninggalkan cafe.
"Nanti temani aku ya." Pinta Carlos.
"Kemana?"
"Nanti kamu juga akan tau."
"Aku nggak mau tau, pokoknya kamu nanti ikut aku." Ucap Carlos dengan nada serius.
"Kok kamu maksa gitu, sebenarnya ada apa sih?" Tanya Evan penasaran.
"Aku butuh bantuan kamu."
"Soal."
"Nanti aku kasih tau, sekarang kita pulang dulu ganti baju, setelah itu aku kasih tau kamu."
"Terserah!"
Sesampainya dirumah Evan langsung masuk kedalam kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Clarisa.
Tutt..tutt..tutt..
Clarisa mengambil ponselnya dari atas meja.
"Evan! angkat nggak ya.."
Clarisa akhirnya mendiamkan telfon dari Evan.
Ponsel Clarisa kembali berbunyi.
"Apa!" Sahut Clarisa ketus.
"Galak amat jadi cewek." Goda Evan.
"Biarin, nggak penting buat kamu juga kan!"
Evan menghela nafas panjang, dan duduk ditepi ranjang.
"Sa, aku kangen sama kamu. Kita udah jarang ngobrol kayak dulu lagi. Sekarang setelah kamu bertunangan sama Tino kamu lupa sama aku ya." Sindir Evan.
"Apa nggak kebalik, setelah kamu mengenal Nena kamu lupa sama aku!" Sindir Clarisa balik.
__ADS_1
"Soal Nena, aku..aku nggak bisa milih diantara kalian. Kamu sahabat aku dan Nena, aku sangat mencintainya. Apa kamu nggak bisa ngertiin perasaan aku Sa? aku aja bahagia saat kamu bertunangan dengan Tino, kenapa kamu nggak bisa bahagia saat aku menemukan cinta sejati aku?"
Carlos mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar Evan, saat dia mendengar percakapan Evan dan Clarisa.
"Bukannya aku nggak bisa ngertiin kamu Van, tapi aku hanya butuh waktu untuk menerima semua ini."
"Sampai kapan Sa, sudah satu bulan lebih kamu mendiamkan aku."
"Besok kita bicara."
" Janji."
"Hemm."
"Makasih ya." Evan terlihat sangat bahagia.
Carlos masuk kedalam kamar Evan.
"Kok belum siap!" Seru Carlos sambil melipat kedua lengannya di dada.
"Memangnya kita mau kemana sih?"
"Aku mau kerumah Nena."
"Apa!"
Evan membulatkan kedua matanya, dia terlihat sangat terkejut.
"Mau ngapain?" Tanyanya penasaran.
"Aku cuma mau main, sekalian ada yang mau aku ambil." Ucap Carlos berbohong.
Evan menatap curiga kepada Carlos.
"Udah cepetan, aku tunggu di mobil." Ucap Carlos lalu berjalan keluar dari kamar Evan.
"Ada urusan apa ya Carlos ke rumah Nena, aku harus tau."
Evan bergegas menuju kamar mandi.
»»»»»
Kini mereka sudah berdiri didepan pintu rumah Nena. Carlos mengetuk pintu rumah Nena.
Tokk..tokk..tokk..
Asisten rumah tangga keluarga Nena berjalan menuju pintu lalu membuka pintu.
"Cari siapa ya Den?" Tanya wanita paru baya itu.
"Nena nya ada bi?" Tanya Carlos.
"Ada, mari silahkan masuk."
"Kami tunggu diluar aja Bik, tolong panggilkan Nena aja." Ucap Carlos.
Wanita itu menganggukan kepalanya lalu masuk kedalam rumah.
Carlos dan Evan duduk dikursi taman.
"Kamu mau apa sih Los? ada urusan apa kamu sama Nena?" Tanya Evan penasaran.
"Nanti kamu juga akan tau."
Nena berjalan menghampiri Evan dan Carlos.
"Kok kalian nggak masuk? diluar dingin lo." Ucap Nena sambil tersenyum kearah Evan.
Evan juga tersenyum sambil menatap Nena.
"Malam ini kamu cantik banget Na, aku kangen sama kamu. Maaf, jika akhir-akhir ini aku mengabaikan kamu." Guman Evan dalam hati.
Carlos berdiri dan duduk berjongkok didepan Nena, dia menggenggam tangan Nena.
Evan dan Nena terkejut melihat sikap Carlos.
"Los, maksudnya apa ini?" Tanya Evan terkejut.
"Na, aku mau mengatakan sesuatu sama kamu, aku--"
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐