
Genap satu tahun sejak Dona melahirkan, kini Mery sudah bekerja sebagai sekretaris Sandy atas permintaan dari Mona.
Awalnya Sandy menolak karena menurutnya dia akan merasa canggung jika bekerja dengan Mery, karena wajah Mery sangat mirip dengan Dona.
Tapi Mona terus mendesak Sandy agar mau menerima Mery sebagai sekretaris barunya, akhirnya Sandy menerima Mery.
"Mer, walau kita saling kenal tapi kita harus bersikap profesional, sekarang kamu adalah sekretaris saya jadi saya sekarang adalah atasan kamu." ucap Sandy menegaskan.
"Baik kak, eh maksud saya Pak." ucap Mery.
"Sekarang kamu boleh kembali ke ruangan kamu." ucap Sandy lalu memeriksa kembali berkas-berkas yang tadi diberikan Mery.
Mery berjalan keluar dari ruangan Sandy. Mery duduk di ruang kerjanya.
"Aku nggak akan pernah menyerah untuk mendapatkan kamu kak." ucap Mery sambil menatap foto Sandy di layar ponselnya.
Mery kembali mengerjakan pekerjaannya, setelah berjam-jam bekerja tak terasa sudah waktunya pulang. Mery membereskan berkas dan file-file yang akan dia bawa pulang. Mery mengambil tas dan keluar dari ruangan.
Didepan loby kantor Mery berpapasan dengan Sandy.
"Kak Sandy juga mau pulang." ucap Mery.
"Ini masih di kantor Mer, panggil saya Pak." ucap Sandy.
"Maaf Pak." ucap Mery sambil menundukkan kepalanya.
"Ya udah, aku pulang duluan." ucap Sandy sambil masuk kedalam mobil lalu melajukan mobilnya.
"Dasar kak Sandy jahat, basa basi kek, mau aku anterin nggak gitu, bukannya malah langsung pergi gitu aja." gerutu Mery.
Mery memesan taksi online. Tak berselang lama taksi tiba dan Mery masuk kedalam taksi.
" Ke alamat Jalan Kenanga no. 7, Pak." ucap Mery pada supir taksi.
Supir taksi melajukan taksinya ke alamat yang dituju. Didalam taksi Mery terus mengutuk Sandy.
"Dasar kak Sandy nggak punya hati, dasar penjahat, keras kepala, aku benci..benci..benci!" teriak Mery sambil memukul mukul kursi penumpang.
"Mbak nya kenapa? lagi ada masalah sama pacarnya ya." tanya supir taksi yang sedari tadi mengamati Mery dari kaca spion yang ada didepannya.
"Bukan urusan bapak, bapak fokus aja menyetir." sahut Mery ketus.
"Galak banget sih mbak." ucap supir taksi.
Mery hanya diam sambil melipat kedua tangannya. Tak berselang lama Mery sampai di rumah, Mery turun dari taksi. Mery membuka pintu, dia masuk kedalam rumah lalu menutup pintu.
"Mery pulang Ma." ucap Mery sambil masuk kedalam rumah.
Mery berjalan menuju kamarnya dan membuka pintu kamar. Mery menaruh tas dan berkas-berkas di atas meja lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
"Kenapa juga aku bisa jantuh cinta pada orang yang nggak punya hati kayak dia sih." teriak Mery sambil memukulkan tangan dan kakinya diatas ranjang.
"Suka sama siapa sayang?" tanya Meysa yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Mery.
__ADS_1
"Mama, kalau mau masuk ketuk pintu dulu dong Ma, Mery kan jadi kaget." ucap Mery terkejut lalu bangun.
"Maaf, habis pintu kamar kamu terbuka dan Mama mendengar kamu marah-marah nggak jelas gitu." ucap Meysa lalu duduk di samping Mery.
"Ada apa sayang? cerita dong sama Mama." sambung Meysa sambil membelai lembut rambut Mery.
"Nggak ada apa-apa kok Ma, Mery cuma capek aja." ucap Mery.
Mery tidak mau kalau Mama nya sampai tau kalau dia mencintai Sandy, karena Mery tidak mau Mama nya ikut campur, apalagi sampai menjodohkannya dengan Sandy. Mery ingin mendapatkan hati dan cinta Sandy dengan usahanya sendiri.
Tutt..tutt..tutt..( Ponsel Mery berbunyi )
Mery turun dari ranjang dan mengambil ponselnya dari dalam tas, Mery melihat siapa yang menelfon.
"Baru juga di omongin, udah menelfon aja, ada apa ya kak Sandy menelfon aku? apa dia mau meminta maaf sama aku?" guman Mery dalam hati.
"Kok nggak diangkat sayang, siapa yang menelfon?" tanya Meysa.
"Kak Sandy Ma." ucap Mery.
"Cepetan kamu angkat siapa tau penting." ucap Meysa lalu keluar dari kamar Mery.
"Halo Pak, ada apa ya, ini kan udah bukan jam kerja lagi." jawab Mery sedikit ketus.
"Aku cuma mau menanyakan apa berkas kerjasama dengan PT Santosa ada padamu? karena aku harus menyelesaikannya sekarang." ucap Sandy.
"Sebentar saya cek dulu." ucap Mery sambil memeriksa berkas yang tadi dia bawa pulang.
"Kamu bisa mengantarnya ke rumah aku, karena itu sangat penting dan aku harus menyelesaikannya sekarang." ucap Sandy.
"Gila! ini orang mikir nggak sih, malam-malam begini aku harus mengantar ke rumahnya." guman Mery dalam hati.
"Tapi Pak, ini kan udah malam." ucap Mery.
"Nggak ada tapi-tapian, aku tunggu di rumah." ucap Sandy sambil mematikan telfonnya.
"Halo pak, halo..halo! dasar! maunya apa sih ini orang." gerutu Mery.
Mau tidak mau Mery harus mengantarkan berkas itu, karena itu adalah berkas yang sangat penting. Mery mengambil berkas itu dan keluar dari kamar.
"Kamu mau kemana sayang?" tanya Meysa.
"Mau ke rumah bos Mery Ma, mau mengantarkan berkas penting." ucap Mery.
"Tapi ini udah malam sayang dan kamu juga belum makan." ucap Meysa.
"Cuma sebentar kok Ma, ini berkas yang sangat penting dan harus selesai malam ini juga." ucap Mery.
"Baiklah sayang, kamu hati-hati ya, pulangnya jangan malam malam." ucap Meysa.
"Baik Ma, Mery pergi dulu ya Ma." ucap Mery sambil mencium tangan Meysa.
Mery berjalan keluar dan memesan taksi online. Tak berselang lama taksi pesanan Mery tiba, Mery masuk kedalam taksi dan berangkat menuju rumah Sandy. Sesampainya di rumah Sandy, Mery mengetuk pintu.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
"Sebentar, siapa sih malam-malam gini bertamu." ucap Mona.
Mona membuka pintu rumah.
"Malam tante." sapa Mery sambil mencium tangan Mona.
"Mery sayang, ada apa malam-malam ke rumah tante?" tanya Mona.
"Mau mengantarkan berkas kantor tante." ucap Mery.
"Ya udah, ayo masuk dulu." ucap Mona.
"Makasih tante." ucap Mery lalu melangkah masuk kedalam rumah.
"Maafin Sandy ya sayang, karena selalu merepotkan kamu." ucap Mona.
"Nggak apa-apa kok tante, ini kan juga tugas Mery." ucap Mery.
Sandy yang mendengar suara Mery langsung keluar dari kamar dan menuruni tangga.
"Kamu bawa berkasnya nggak!" teriak Sandy sambil berjalan menuju ruang tamu.
"Sayang, kamu itu kalau bicara sama Mery bisa pelan-pelan nggak. Mery itu juga nggak tuli jadi nggak perlu teriak-teriak." tegur Mona.
"Nggak apa-apa kok tante, Mery sudah terbiasa." ucap Mery sambil menatap tajam kearah Sandy.
"Mana berkasnya." ucap Sandy sambil mengambil berkas dari tangan Mery.
Sandy mengecek apa betul itu berkas yang dia cari.
"Makasih, sekarang kamu boleh pulang." ucap Sandy lalu melangkah pergi.
"Sandyyyy.." teriak Mona yang mulai kesal dengan sikap Sandy.
"Ada apa Ma, Sandy lagi sibuk ini Ma." ucap Sandy sambil menghentikan langkahnya.
"Apa-apaan itu sikap kamu, mana sopan satun kamu,,ini udah malam San, apa kamu nggak kasian sama Mery? masa kamu tega menyuruh Mery pulang sendirian." seru Mona.
"Nggak apa-apa kok tante, Mery bisa pulang sendiri." ucap Mery merasa tidak enak hati.
"Sayang, kamu itu harus bisa tegas sama Sandy, kalau kamu diemin aja dia lama-lama bisa ngelunjak." ucap Mona.
"Tapi ini juga tugas Mery tante." ucap Mery.
"Tapi ini sudah bukan jam kerja, dan Sandy juga bukan bos kamu kalau ada diluar kantor." ucap Mona.
"Terserah Mama aja, Sandy lagi sibuk." ucap Sandy lalu melangkah pergi.
🌟🌟🌟🌟
Ini kenapa sekarang yang like cuma dikit ya..apa cerita aku jelek..kok yang like nggak nyampe 500 lebih 😔😔😔
__ADS_1