
Evan berpakaian sangat rapi. Dia memakai kaos berwarna biru muda lalu ia lapisi dengan jaket levis. Dia terlihat sangat mempesona, apa lagi senyumannya yang sangat manis yang mampu membuat kaum hawa terpesona saat melihatnya.
" Aku beneran nggak boleh ikut?" Carlos berdiri didepan pintu kamar Evan sambil bersandar dipintu.
" Kalau aku sih boleh-boleh aja kamu ikut, tapi ini kan yang mengajak Clarisa, lagian kamu kemarin kan udah tau apa jawaban Clarisa." Evan menepuk bahu Carlos lalu keluar dari kamarnya.
" Ya kamu bujuk Clarisa dong, aku bosen ini dirumah, Mama dan Papa juga nggak ada dirumah." Pinta Carlos sambil terus mengekori Evan.
" Kamu pergi aja sama Deo, sekalian cari pacar, masa hari gini masih jomblo." Sindir Evan sambil menyengir kuda memperlihat deretan giginya yang putih.
" Kamu juga jomblo, nggak nyadar apa." Sindir Carlos balik.
" Tapi kan sekarang aku jomblo, karena aku baru putus sama Putri." Evan membuka pintu mobilnya.
" Ngapain kamu masih mengikuti aku!" Seru Evan sambil melihat Carlos masih berdiri dibelakangnya.
Carlos mengatupkan kedua tangannya memohon sambil mengerucutkan bibirnya. Evan menghela nafas panjang.
" Ya udah masuk, tapi nanti kalau Clarisa marah kamu tanggungsendiri ya akibatnya." Ucap Evan lalu masuk kedalam mobil.
" Itu urusan nanti." Carlos masuk kedalam mobil.
Evan melajukan mobilnya menuju rumah Clarisa. Dalam perjalanan Carlos terus saja menanyakan soal rahasia apa yang Clarisa punya, yang tidak boleh diketahui olehnya.
" Udah aku bilang, aku nggak bisa memberitahu kamu, nanti kamu juga bakalan tau sendiri."
Evan terlihat sangat kesal karena Carlos tak juga menutup mulutnya. Ingin sekali dia membungkam mulut Carlos menggunakan kaos kaki busuk biar pingsan sekalian.
" Nanti setelah sampai dirumah Clarisa, kamu bilang kalau kamu ngotot ingin ikut. Jangan bilang kalau aku yang mengajak kamu, mengertikan!" Seru Evan lalu menghentikan mobilnya. Kini mereka sudah sampai didepan rumah Clarisa.
Tinnn..
Evan membunyikan clakson mobilnya. Clarisa segera keluar dari rumah setelah mendengar suara clakson mobil. Dia terkejut saat melihat Carlos duduk disamping Evan.
" Kok kamu ikut, Los?" Clarisa mengerucutkan bibirnya sambil menatap Evan.
" Maaf, aku udah ngelarang dia, tapi dia tetep ngotot ingin ikut. Kalau kamu nggak suka dia ikut, kamu usir aja." Ucap Evan sambil menepiskan senyumannya.
" Jangan dong, aku suntuk dirumah, jadi aku boleh ikut ya, please!" Pinta Carlos sambil mengatupkan kedua tangannya.
" Kamu ini cowok atau cewek sih, kerjaannya kok kepo banget." Ledek Clarisa.
Clarisa masuk kedalam mobil dan duduk dikursi penumpang. Evan melajukan mobilnya menuju tempat yang Clarisa tunjuk.
" Kita mau ngapain Sa? Kamu mau ketemu sama cowok kamu?" Tanya Carlos penasaran.
" Udah nggak usah cerewet!" Seru Clarisa.
__ADS_1
" Cantik-cantik kok galak banget sih." Sindir Carlos sambil memiringkan senyumannya.
" Kamu bisa diem nggak sih! Kalau nggak, aku turunin dijalan nie!" Ancam Evan.
Evan yang sedari tadi bosen mendengar celotehan Carlos merasa sangat kesal. Telinganya seakan panas mendengar suara Carlos yang tak kunjung berhenti.
" Ya maaf, aku kan cuma pengen tau aja." Ucap Carlos sambil mengerucutkan bibirnya.
" Nggak usah kepo deh!" Ucap Clarisa dengan nada ketus.
Kini mereka sudah berada disebuah mall, mereka berjalanan menuju restoran yang berada didalam mall itu. Carlos melihat seorang pria melambaikan tangannya kearah mereka.
Clarisa dan Evan saling menatap..
" Kamu mau kan?" Tanya Clarisa sambil melingkarkan tangannya ke lengan Evan.
Carlos membulatkan kedua matanya melihat Clarisa yang bersikap manja kepada Evan.
" Mau apaan coba? apa sih yang sedang mereka rencanakan? terus siapa pria itu?" Gumannya dalam hati.
Evan menganggukan kepalanya, mereka berjalan menghampiri pria itu.
" Maaf sudah lama menunggu ya." Ucap Clarisa sambil bergelayut manja di lengan Evan.
" Emmm..nggak kok, mari silahkan duduk." Ucap pria itu sambil menatap tajam kearah Evan.
" Dia siapa sayang?" Tanya Evan sambil menatap pria yang duduk didepannya.
" Oya, aku lupa memperkenalkan sama kamu ya sayang. Kenalin, dia Tino, pria yang ingin Papa kenalkan sama aku." Ucap Clarisa dengan senyuman diwajahnya.
" Hai, aku Evan, pacarnya Clarisa." Ucap Evan sambil mengulurkan tangannya.
Tino menjabat tangan Evan sambil menampakan senyum palsunya.
" Emm..kalian mau pesan apa ni?" Tawar Tino.
" Aku pesan--"
Evan mencubit paha Carlos, " Maaf, kita nggak bisa lama-lama, aku kesini hanya ingin mengantarkan pacar aku Clarisa. Katanya dia mau bicara sama kamu."
Carlos mengeryitkan dahinya menahan rasa sakit dipahanya.
" Sialan ini Evan, cubitannya sakit banget lagi. Pacar! memangnya mereka pacaran? kok aku nggak tau ya." Gumannya dalam hati.
" Aku cuma mau menanyakan apa tujuan kamu mengajak aku untuk ketemuan disini, apa penolakan aku waktu itu masih kurang jelas. Aku juga udah memberitahu kamu, kalau aku udah punya pacar. Tapi kenapa kamu masih juga mengejar-ngejar aku." Ucap Clarisa sambil menatap Tino.
" Aku kira waktu itu kamu cuma membohongiku, hanya untuk menghindar dari aku. Kata Om kamu belum punya pacar, makanya aku berani mendekati kamu." Jelas Tino.
__ADS_1
Tino terus menatap Evan dengan sorot mata yang tajam, dia masih tidak percaya jika Evan adalah pacar Clarisa.
" Aku tau kalau aku tampan, jadi menatapnya nggak usah kayak gitu juga kali." Celetuk Evan.
Evan menyadari jika Tino terus menatapnya dengan bola mata yang seakan-akan siap meloncat keluar.
" Aku akan mengatakan ini untuk yang terakhir kali, jangan pernah menghubungi aku lagi ataupun datang kerumah aku lagi. Aku nggak suka itu, asal kamu tau. Aku hanya mencintai Evan, sekarang dan untuk selamanya."
Clarisa menarik tengkuk Evan lalu mengecup bibir Evan. Evan seketika membulatkan kedua matanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Clarisa.
Carlos bahkan menelan salivanya saking terkejutnya. Kedua bola matanya seakan siap meloncat keluar.
" Gila ini cewek! bisa-bisanya dia mencium Evan didepan umum! mana Evan cuma diam aja lagi. Evan pasti sedang menikmati ciuman Clarisa." Gumannya sambil menggelengkan kepalanya.
" Sayang, ayo kita pergi, tadi katanya mau mengajak aku jalan-jalan." Ucap Clarisa dengan suara manjanya.
Lamunan Evan seketika langsung membuyar.
" Hah..apa?" Ucap Evan gugup.
" Tadi katanya mau mengajak aku jalan-jalan, kita ke bioskop aja ya." Clarisa menyandarkan kepalanya kebahu Evan.
Tino mengepalkan kedua tangannya melihat kemesraan Evan dan Clarisa.
" Ok..maaf ya, kita duluan." Ucap Evan sambil menyungingkan senyumannya.
Clarisa menggenggam tangan Evan, mereka lalu berjalan menjauh meninggalkan Tino yang kini sedang dilanda emosi.
Carlos terus mengekori kemanapun Clarisa dan Evan pergi. Dalam otaknya begitu banyak pertanyaan untuk Evan dan Clarisa. Sandiwara apa yang sedang mereka perankan.
Mereka masuk kedalam mobil. Evan melajukan mobilnya keluar dari area parkiran Mall.
" Sekarang kamu mau tanya apa? Aku tau kamu tadi sangat penasaran dengan sikap kita." Ucap Evan sambil terus menatap kedepan.
" Tau aja kamu kalau aku penasaran dengan sikap kalian tadi." Carlos melipat kedua lengannya didada.
" Sekarang jelasin semuanya ke aku, sebenarnya apa yang sedang kalian lakukan tadi." Sambungnya.
Clarisa mulai menjelaskan pokok permasalahannya kepada Carlos. Carlos hanya menyimak sambil memangut-mangutkan kepalanya.
" Awas ya kalau sampai mulut kamu ember! kalau sampai anak-anak pada tau, kamu yang akan jadi tersangka utamanya." Ancam Clarisa.
" Ya nggak lah, masa aku tega melakukan itu. Aku akan menutup rapat-rapat mulut aku. Tapi yang bikin aku penasaran, kenapa tadi kamu mencium Evan? Bukannya ini hanya sandiwara ya?"
Clarisa menelan salivanya, dia binggung harus memberi alasan apa.
" Emm..itu..itu--"
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐