Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Ending..


__ADS_3

Hari demi hari menuju proses persalinan. Sandy terlihat sangat cemas melihat Mery yang selalu merintih menahan sakit di pinggangnya.


Dengan sangat sabar Sandy selalu mendampingi Mery, bahkan Sandy mengambil cuti hanya untuk menemani Mery di rumah.


"Apa yang sekarang kamu rasakan sayang?"


"Pinggang aku kak, rasanya pegal sekali." Ucap Mery sambil memegang pinggangnya.


"Mau aku bantu memijitnya?"


Sandy mengusap lembut punggung Mery agar bisa mengurangi sedikit rasa sakit yang Mery rasakan. Kalau saja Sandy bisa memindahkan rasa sakit yang Mery rasakan maka Sandy rela menerimanya.


"Gimana sayang, sudah lebih enakan?"


"Lumayan kak, terimakasih ya."


"Ya sudah sekarang kamu istirahat aja, lebih baik kamu tidur."


Mery merebahkan tubuhnya di ranjang dan dibantu oleh Sandy. Sandy meletakan bantal dibawah punggung Mery agar Mery merasa nyaman.


Setelah Mery terlelap, Sandy keluar dari kamar. Dia berniat untuk bertanya kepada Mama nya kenapa Mery bisa merasakan sakit seperti itu.


"Ma.." panggil Sandy lalu duduk di samping Mona.


"Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu sama Mery?"


"Iya Ma, kenapa Mery begitu merasakan sakit di punggungnya ya, Sandy nggak tega melihatnya Ma."


"Itu biasa sayang, apa lagi kehamilan Mery udah memasuki usia sembilan bulan. Sebentar lagi Mery akan melahirkan. Mama dulu juga seperti itu, jadi kamu nggak usah khawatir." Ucap Mona lalu menepuk bahu Sandy.


"Tapi kasian Mery Ma, tiap malam dia nggak bisa tidur karena merasa sakit di punggungnya."


"Ya kamu pijat punggungnya untuk mengurangi rasa sakitnya, tapi jangan keras-keras, cukup kamu pijat dengan perlahan aja agar mengurangi rasa sakitnya.:


"Itu udah Sandy lakukan Ma."


Saat Sandy sedang mengobrol dengan Mona tiba-tiba mereka mendengar teriakan Mery.


"Kak..tolong kak..sakit." Teriak Mery keras.


Sandy dan Mona sontak langsung berlari menuju kamar Mery. Sandy membuka pintu.


Sandy berlari menghampiri Mery yang tengah duduk di tepi ranjang.


"Ada apa sayang? Kenapa kamu berteriak?"


"Kak..perut aku rasanya sakit sekali kak." Ucap Mery sambil memegang perut besarnya.


"Kayaknya Mery udah mau lahiran sayang, ayo sekarang kita bawa Mery kerumah sakit." Ucap Mona cemas.


Tanpa pikir panjang Sandy langsung membopong Mery dan membawanya keluar dari kamar. Mona mengikuti Sandy dari belakang.


Sandy memasukan Mery kedalam mobil. Mona menemani Mery di kursi belakang sedangkan Sandy mengemudikan mobilnya.


"Sayang, tahan ya, kamu harus kuat."


"Ma, sakit Ma, ini sakit sekali Ma." Ucap Mery menahan sakit.


"Itulah beratnya perjuangan seorang ibu sayang, kamu harus kuat, cepetan sayang, kasian Mery." Ucap Mona cemas.

__ADS_1


"Iya Ma, ini Sandy juga udah cepat, sabar ya sayang sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit."


Sandy tidak tega melihat Mery yang terlihat begitu lemas dan pucat. Sesampainya dirumah sakit Sandy mengeluarkan tubuh Mery yang sudah sangat lemah dari dalam mobil. Reni sudah menunggu Mery dan Sandy didepan loby rumah sakit.


Sebelum berangkat ke rumah sakit, Sandy menghubungi Reni dan memberitahunya kalau Mery akan segera melahirkan.


Reni membawa Mery ke ruang rawat untuk diperiksa. Pakaian Mery sudah diganti dengan pakaian pasien hamil.


Reni memeriksa keadaan Mery, ternyata Mery baru pembukaan lima. Mery harus masih menunggu sampai waktunya persalinan.


Sandy masih tetap menemani Mery sampai melahirkan. Kondisi Mery terlihat sangat lemah dan wajahnya terlihat sangat pucat. Sandy tidak tega melihat kondisi Mery. Sandy mengecup kening Mery dan memberinya semangat.


Mery merasakan sakit di bagian tulang punggungnya. Sandy memberikan bantal dibawah punggung Mery agar Mery merasa nyaman.


"Sabar ya sayang, aku akan selalu menemanimu." Ucap Sandy lalu mengecup kening Mery.


"Rasanya sangat sakit kak." Ucap Mery dengan suara lemah.


"Sabar sayang, demi anak kita." Ucap Sandy menggenggam tangan Mery.


Sandy merasa sangat berat perjuangan menjadi seorang ibu.


Dokter dan suster mulai mempersiapkan alat untuk proses lahiran. Didalam ruang inap udah ada semua keluarga Mery dan Sandy. Mereka memberikan Mery dan Sandy dukungan dan semangat agar persalinan berjalan lancar.


Waktu persalinan akan dimulai. Mery dibawa keruang bersalin. Sandy tetap menemani Mery sampai sang buah hati lahir ke dunia. Setelah berjam jam Sandy terus menyemangati Mery dan menyeka keringat yang bercucuran dikening dan wajah Mery.


Reni terus memberi arahan kepada Mery untuk terus semangat dan tak boleh lelah dalam persalinannya yang normal. Sedangkan Sandy terus menggenggam tangan Mery dan terus menyemangati Mery.


"Terus sayang, aku yakin kamu bisa." Ucap Sandy lalu mengecup kening Mery.


"Ayo Mer, ambil nafas panjang lalu keluarkan, ambil nafas panjang lagi lalu menggedan sekuat-kuatnya."


Mery mengambil nafas panjang dan mengedan dengan sangat kuat..


"Ayo Mer, sedikit lagi, ini kepalanya udah kelihatan." Ucap Reni terus memberikan Mery arahan.


Dengan segenap tenaga yang masih tersisa, Mery mengambil nafas panjang dan mengedan dengan sekuat kuatnya.


Oekk..oekkk..oekk..


Edanan Mery yang terakhir berhasil membuat bayinya lahir dengan selamat. Mery merasa lega setelah mendengar suara tangisan bayinya. Tubuh Mery terasa sangat lemas.


Sandy yang masih setia menemani Mery melahirkan terlihat sangat bahagia. Tak henti hentinya Sandy mencium tangan Mery yang masih dalam genggamannya. Lalu Sandy menyeka keringat yang bercucuran dikening Mery.


"Selamat ya Kak, Mer, anak kalian perempuan, sangat cantik seperti kamu Mer." Ucap Reni menjelaskan.


"Terimakasih sayang atas perjuangan kamu dalam melahirkan anak kita." Ucap Sandy lalu mengecup kening Mery.


"Terimakasih kak, karena masih setia mendampingiku sampai anak kita lahir."


Reni senang melihat keharmonisan rumah tangga Sandy dan Mery. Dia berharap semoga Sandy selalu mendampingi Mery seumur hidupnya.


"Bayi kalian lahir dengan berat normal, 3 kg, ini kak silahkan kalau mau mengendongnya." Ucap Reni lalu memberikan bayi itu kepada Sandy.


Sandy mengendong bayinya dengan penuh hati hati. Ini pertama kalinya Sandy mengendong bayi yang baru lahir. Bahkan saat Dona melahirkan Sandy sekalipun belum pernah mengendong anak Dona saat masih bayi.


"Alhamdulliah ya Allah, Engkau telah menyelamatkan anak dan istriku. Engkau telah memberikan kami anugerah yang terindah kepada kami." Ucap Sandy lalu mengecup kening anaknya.


Sandy langsung meng Adzan Kan dan meng Iqomat kan anaknya. Sandy langsung membawa anaknya kepada Mery.

__ADS_1


"Sayang, lihatlah anak kita, dia sangat cantik seperti kamu." Ucap Sandy sambil menunjukan anaknya kepada Mery.


Sandy melihat Mery yang tengah menangis karena bahagia. Sandy tersenyum melihatnya yang telah berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan anaknya dan membuatnya bahagia.


"Sayang, putri Mama yang cantik, selamat datang ke dunia sayang." Ucap Mery lalu mengecup kening anaknya.


Rasa sakit dan rasa lelah yang selama ini Mery rasakan sudah terbayarkan dengan hadirnya sang buah hati yang sangat cantik dan manis. Anugerah yang luar biasa yang Mery dapatkan.


"Sudah sayang jangan menangis lagi, kita harus bahagia menyambut kedatangannya di dunia ini."


"Iya kak, terimakasih karena kamu masih setia menemaniku sampai anak kita lahir."


"Iya sayang, aku hanya ingin menjadi sosok suami yang bisa kamu banggakan."


Setelah selesai Mery dipindahkan ke ruang rawat inap sedangkan bayinya sedang dibersihkan oleh para suster.


Semua keluarga berkumpul di ruang rawat inap Mery. Mereka tak henti-hentinya memberikan selamat kepada Mery dan Sandy. Mereka juga bahagia karena ibu dan anaknya dalam keadaan sehat.


Suster mengendong bayi Mery dan memberikan kepada Mery untuk mendapatkan Asi untuk pertama kalinya.


Mery mengendong bayinya dan langsung menyusuinya.


"Lihatlah sayang, anak kita menyusu dengan sangat kuat." Ucap Sandy senang.


"Mungkin dia merasa sangat lapar kak." Ucap Mery sambil mengusap pipi gembul anaknya.


"Akhirnya kamu menjadi ayah juga." Ucap Frans sambil menepuk bahu Sandy.


"Selamat ya San, Mer, atas kelahiran anak kalian, anak kalian terlihat sangat cantik, persis seperti kamu waktu masih bayi, ia kan Ma." Ucap Dona.


"Benar sayang, cucu Mama ini persis seperti ibunya waktu kecil." Ucap Meysa sambil mengusap lembut pipi cucunya.


"Boleh aku menggendongnya?" Tanya Mira.


"Tentu aja, ini." Ucap Mery.


Mira mengendong anak Mery dan menciumi kedua pipinya.


"Mama, Carlos juga ingin lihat dedek bayi." Rengek Carlos.


Mira duduk berjongkok didepan Carlos. Carlos langsung mencium pipi gembul nya.


"Evan juga mau." Ucap Evan dan langsung mencium pipi gembul dedek bayi.


Mery dan Sandy sangat bahagia karena begitu banyak yang menyayangi anaknya.


"Mau diberi nama siapa anak kamu sayang?" Tanya Mona.


"Aku belum memikirkannya Ma, tapi nggak tau kalau Mery."


"Namanya Monica Salsabila."


"Nama yang sangat cantik sayang, terimakasih sayang karena kamu sudah memberikan aku putri yang sangat cantik dan manis, aku sangat mencintaimu." Ucap Sandy lalu mengecup kening Mery.


¤¤¤¤


Maaf ya, untuk season ini cukup sampai disini ya guys..terimakasih sudah setia membaca novel aku ini. Tanpa dukungan kalian semua mungkin aku nggak akan sampai di season ini. Terimakasih banyak atas dukungannya selama ini.


Insyaallah aku akan lanjutkan season Versi Evan, Carlos dan Monic dewasa. Masih dalam tahap pengerjaan..semoga kalian semua masih mendukung dan mau membaca karya karya aku..

__ADS_1


✨✨✨🙏🙏🙏🙏🙏✨✨✨


__ADS_2