
Dona menyiapkan sarapan untuk suami dan kedua anaknya. Tidak lupa Dona membuatkan susu hangat untuk Evan dan Carlos.
" Kita akan tinggal disini berapa hari Pa?" Tanya Evan.
" Besok Mama dan Papa udah balik ke Jakarta, kalian kalau mau masih disini juga nggak apa-apa. Kalian kan masih libur sekolah. Kalian puaskan dulu liburannya, jika kalian udah waktunya masuk sekolah nanti biar Papa dan Mama menjemput kalian atau besok biar Om Sandy mengantar kalian pulang ke Jakarta." Ucap Frans lalu memasukan satu suapan kemulutnya.
" Mama disini aja, biar Papa pulang sendirian. Carlos mau di temani sama Mama." Pinta Carlos sambil menatap Dona.
" Ya nggak bisa dong sayang, kalau Mama disini, nanti yang mengurus semua keperluan Papa siapa. Masa Papa harus tidur sendirian, belum lagi kalau Papa ingin makan, siapa yang akan menyiapkan makanan untuk Papa. Apa Carlos nggak kasian sama Papa." Ucap Frans sambil mengusap puncak kepala Carlos.
Carlos terlihat sangat murung, Dona dan Frans bisa melihat kesedihan di mata Carlos.
" Carlos kan udah besar, disini kan ada bang Evan, Monic, Om, Tante dan juga Oma. Jadi Carlos nggak akan kesepian." Bujuk Dona.
" Mama tenang aja, Evan akan jagain Carlos kok Ma, Pa." Ucap Evan.
" Itu baru anak Papa." Ucap Frans senang.
Setelah selesai sarapan Evan dan Carlos bermain bersama dengan Monic. Sedangkan Frans dan Dona berbincang di ruang tamu bersama Meysa dan Mona. Mona dan Meysa masih sangat merindukan anak-anaknya, mereka seakan tidak rela jika Frans dan Dona akan balik ke Jakarta secepat itu.
" Apa kalian nggak bisa tinggal disini beberapa hari lagi?" Pinta Mona.
" Maaf Ma, Frans ada pekerjaan penting yang nggak bisa Frans tunda. Apa lagi Frans juga harus memantau perusahaan Marcel yang hampir aja ada di ambang kehancuran." Ucap Frans.
" Mama tenang aja, cucu-cucu Mama akan tetap tinggal disini sampai liburan mereka selesai." Ucap Dona.
Meysa menganggukan kepalanya. Evan dan Carlos adalah pengobat rasa rindunya terhadap Dona dan juga Mira. Walau sudah satu tahun lebih Mira pergi meninggalkan dunia ini, tapi Meysa tetap belum sanggup untuk melepaskan kepergian anak keduanya itu.
Hampir setiap malam Meysa selalu menangisi foto Mira. Rasa sayangnya yang sangat besar, membuatnya dirinya seakan lemah saat mengenang semua kenangannya bersama dengan Mira.
" Mama kenapa sedih?" Ucap Dona lalu memeluk Meysa.
__ADS_1
" Mama teringat akan adik kamu Mira." Ucap Meysa dengan kedua mata yang sudah mulai mengenang.
" Mama masih tidak percaya adik kamu begitu cepat meninggalkan kita semua." Sambung Meysa. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya mengalir membasahi kedua pipinya.
" Mama harus bisa mengikhlaskan Mira, ini sudah satu tahun lebih Ma, mau sampai kapan Mama akan terlarut dalam kesedihan? Disini masih ada Dona dan Mery yang masih sangat menyayangi Mama. Biarkan Mira tenang Ma. Sekarang mendingan kita fokus kepada Carlos. Meskipun Carlos terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya ia sangat merindukan Mama dan Papa nya. Dona sering melihat Carlos menangis sambil memeluk foto Mama dan Papa nya." Frans menggenggam tangan istinya, pria itu tau saat ini istrinya juga sedang terlarut dalam kesedihan.
" Carlos tidak ingin menunjukan kesedihannya di hadapan kita, karena Carlos tidak ingin kita bersedih. Dona sangat bangga bisa mempunyai anak seperti Carlos, apa lagi Mira dan Marcel, mereka sudah berhasil mendidik Carlos menjadi seperti sekarang ini." Sambung Dona lagi.
" Maafin Mama sayang, Mama sudah membuatmu bersedih." Ucap Meysa lalu memeluk Dona.
" Sebenarnya Dona juga sangat merindukan Mira Ma, tapi Dona berusaha untuk kuat. Karena Dona nggak ingin semakin terlarut dalam kesedihan ini. Evan dan Carlos masih sangat membutuhkan kasih sayang Dona." Ucap Dona sambil mempererat pelukannya.
»»»»»
Carlos dan Evan sedang duduk berdua di atas ayunan. Carlos masih terlihat sangat murung, ia tidak ingin berada disini jika tidak dengan Mama nya.
" Kenapa kamu sedih kayak gitu? Apa karena besok Mama dan Papa akan balik ke Jakarta?" Tanya Evan penasaran. Carlos menganggukan kepalanya.
" Tapi kan nggak ada Mama."
" Bukannya kamu sudah janji akan menjadi anak yang penurut. Apa lagi sekarang kamu sudah bisa tidur tanpa Mama. Kalau Mama bersama kita disini, nanti kasian Papa nggak ada yang menemani." Ucap Evan mencoba memberi pengertian kepada Carlos.
" Tapi--"
" Udah kamu tenang aja, besok kita minta sama Om dan Tante untuk mengajak kita jalan-jalan. Kamu mau nggak?" Ucap Evan menbujuk Carlos.
" Mau..mau." Ucap Carlos antusias.
Evan bisa melihat raut wajah Carlos berubah seketika saat mendengar ucapannya tadi.
" Dasar! cuma di iming-imingi kayak gitu aja udah seneng banget." Guman Evan dalam hati.
__ADS_1
" Van--"
Carlos menghentikan ucapannya, Ia ragu untuk melanjutkannya.
" Kamu mau bilang apa?" Tanya Evan penasaran.
" Nggak jadi." Ucap Carlos sambil menepiskan senyuman.
" Aku tau kamu mau mengatakan sesuatu sama aku, katakan saja. Aku akan siap mendengarkan." Ucap Evan sambil menepuk bahu Carlos.
" Aku cuma mau bilang, jangan pernah meninggalkan aku apa pun yang terjadi. Aku nggak mau kehilangan orang yang sangat aku sayangi. Aku sudah cukup kehilangan kedua orang tua aku." Carlos dan Evan saling menatap. Evan tau maksud dari ucapan Carlos.
" Aku butuh kamu Van, untuk menghapus semua kesedihan aku. Aku ingin kamu menjadi sandaran aku disaat aku membutuhkan tempat untuk bersandar. Tempat ku berbagi keluh kesahku. Aku ingin kamu menjadi orang pertama yang mengetahui kesedihan dan juga kebahagiaan aku." Sambung Carlos lagi.
Evan menganggukan kepalanya. Ia menarik Carlos kedalam pelukannya.
" Aku janji, aku nggak akan pernah membiarkan kamu bersedih lagi. Sudah cukup penderitaan kamu, aku akan mengganti penderitaan kamu dengan kebahagiaan." Guman Evan dalam hati.
Carlos melepaskan pelukannya lalu menatap Evan yang sedari tadi diam saja dan tidak menjawab pertanyaannya.
" Apa Evan tidak ingin menjadi tempat untukku bersandar ya? kenapa Evan hanya diam saja dan tidak merespon ucapan aku?" Guman Carlos dalam hati.
" Van--" Carlos menepuk bahu Evan.
" Ahh..ya, tadi kamu bilang apa?" Tanya Evan terbangun dari lamunannya.
" Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu nggak ingin menja--"
" Aku janji, aku akan menjadi tempat bersandar untukmu, aku akan selalu ada untukmu. Kamu akan menjadi prioritas utamaku setelah Mama dan Papa.
" Makasih ya Van, aku bahagia mempunyai sahabat, saudara yang baik seperti kamu." Ucap Carlos senang.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐