Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Melepas kerinduan


__ADS_3

Frans memberi saran kepada Mery, Frans ingin Mery dan Sandy bersatu. Ia bisa melihat begitu banyak cinta di mata Mery untuk Sandy. Maski Sandy hanya adik tirinya, tapi Frans ingin Sandy bahagia.


Sejak ia menikahi Dona, ia melihat Sandy begitu sedih. Bahkan sampai sekarang, ia masih bisa melihat betapa Sandy belum bisa melupakan Dona istrinya.


Mungkin dengan ia mendekatkan Mery dengan Sandy, bisa membuat Sandy segera melupakan Dona.


" Kalau kamu mau ikutin saran aku maka kamu harus bekerja di perusahaan Sandy, bukankah kamu sudah selesai kuliahnya?"


" Iya kak, tapi gimana caranya aku bisa diterima di perusahaan kak Sandy? lagi pula aku nggak tau tentang perusahaan. Aku belum ada pengalaman bekerja di perusahaan." Ucap Mery sedih. Ia tidak yakin apa dirinya akan di terima kerja di perusahaan Sandy.


" Kalau soal itu kamu tenang saja, aku akan minta tolong mama untuk menjadikan kamu sekretarisnya Sandy, karena yang aku tau sekretaris Sandy mengundurkan diri."


Mery senang mendengar ucapan kakak ipar nya ini. Dia seakan mempunyai harapan baru agar bisa lebih dekat dengan lekaki pujaan hatinya. Lelaki yang sangat ia cintai semenjak dirinya masih duduk di bangku SMA.


Wajah Mery berubah ceria, kini terukir senyuman di wajah cantik gadis itu. Gadis itu merasa sangat senang jika Frans bisa membantunya untuk masuk ke perusahaan Sandy, apalagi menjadi sekretatisnya Sandy. Bahkan dalam mimpi pun ia tidak pernah membayangkannya.


" Kak Frans serius!" Ucap Mery senang.


" Iya aku serius, kamu lihat saja, dalam sekejab kamu akan segera menjadi sekretarisnya Sandy. Dengan begitu kamu bisa dekat dengan Sandy dan bisa mendapatkan hatinya." Ucap Frans dengan senyuman di wajahnya.


" Terimakasih kak, tapi jangan sekarang ya."


" Kenapa? Apa kamu masih ragu dengan tawaran aku? Ingat, kesempatan itu hanya datang sekali seumur hidup." Ucap Frans menegaskan.


" Bukan itu kak, aku hanya ingin bekerja setelah kak Dona melahirkan, aku ingin menemani kak Dona. Aku nggak tega melihat kondisi kak Dona saat ini." Ucap Mery sedih.


Gadis itu tau, jika selama ini Dona sangat kesakitan di masa kehamilannya ini. Apa lagi kondisi kandungannya yang sangat lemah, hingga membuat Dona tak seceria seperti itu dulu lagi. Hati Mery menangis saat melihat kondisi kakak nya yang seperti itu.


" Apa kamu sangat menyayangi kakakmu?" Tanya Frans dengan sedikit melebarkan senyumannya.


" Ya kak, aku sangat menyayangi kak Dona, aku nggak tega melihat kondisi kak Dona saat ini. Kak Dona seperti kehilangan keceriaannya." Ucap Mery lalu menundukan kepalanya.


" Apa orang hamil memang selalu seperti itu ya kak? apa akan sesakit itu?" Tanya Mery pelan tapi masih bisa di dengar oleh Frans.


Frans tersenyum, ia senang karena begitu banyak orang yang sangat menyayangi dan memperdulikan istrinya.


" Nggak semua orang hamil kondisinya seperti kakak kamu, tapi kamu nggak usah sedih. Kakak kamu orang yang sangat kuat. Aku yakin kakak kamu sanggup melewati semua ini. Kakak kamu bahkan sudah nggak sabar melihat anak kami lahir ke dunia ini. Jangan sedih lagi, kakak kamu nggak akan senang melihatmu bersedih seperti ini." Frans bisa melihat ada setetes air mata dari sudut kedua mata Mery. Frans menghela nafas panjang.


" Ya sudah, sekarang lebih baik kamu tidur, ini sudah larut malam." Sambung Frans lagi. Frans berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Mery.

__ADS_1


" Terimakasih Kak." Teriak Mery.


Frans tetap berjalan sambil mengacungkan jempolnya keatas. Ia melangkah menuju ruang kerjanya, ia kembali meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Setelah berjam-jam berkutat dengan laptopnya mata Frans mulai mengantuk. Lelaki itu menutup laptopnya dan keluar dari ruang kerjanya. Ia lalu masuk ke dalam kamarnya.


Frans melihat istrinya masih tertidur lelap, ia merebahkan tubuhnya disamping Dona dan memeluk tubuh Dona. Frans mengusap lembut perut Dona yang sudah mulai membuncit.


" Maafin aku sayang, kamu harus menderita karena kehamilan kamu ini. Aku janji, aku akan selalu di samping kamu melewati semua ini. Setelah anak kita lahir, semua penderitaan kamu ini akan berubah menjadi kebahagiaan yang tak akan bisa kamu lupakan seumur hidup kamu, karena kamu sudah menjadi seorang ibu. Meski kamu harus berjuang dengan sekuat tenaga kamu. Aku mencintaimu." Ucap Frans pelan.


Keesokan harinya..


Sang fajar sudah mulai menampakan cahayanya yang masuk melalui jendela kamar Dona, dengan perlahan Dona mulai membuka kedua matanya.


Dona melihat Frans yang masih tertidur lelap. Dengan pelan Dona mencoba menyingkirkan tangan Frans dari atas perutnya. Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai mandi Dona berjalan menuju lemari pakaian.


Frans mulai membuka kedua matanya dengan perlahan. Ia melihat Dona baru saja selesai mandi. Dona terlihat begitu cantik dengan rambutnya yang basah dan tergerai dengan indah.


" Sayang kamu sudah bangun?" Ucap Frans sambil menyandarkan tubuhnya ke punggung ranjang.


" Iya, sekarang kamu gantian mandinya, kamu kan harus segera ke kantor, nanti kamu kesiangan ke kantornya." Ucap Dona lalu duduk di meja rias. Dona mengeringkan rambutnya dengan handuk.


" Sayang aku kangen banget sama kamu." Bisik Frans di telinga Dona.


" Sayang maafin aku ya karena kamu harus menahannya selama ini." Ucap Dona merasa sangat bersalah.


Dona merasa bersalah karena selama masa kehamilannya ia nggak bisa memenuhi kewajibannya sebagai istri. Ia tau betapa sulitnya bagi suaminya menahannya selama ini.


" Nggak apa-apa sayang, demi kamu dan anak kita aku rela berkorban. Walau pun aku harus menahan diri aku saat melihat kamu yang cantik seperti ini, kamu seakan mengoda sedang mengodaku ya." Ucap Frans sambil memeluk erat Dona.


" Siapa juga yang mengodamu, melihatmu menahan diri saja membuat aku sedih." Ucap Dona lalu membalikan tubuhnya menatap kedua mata indah suaminya.


" Apa kamu benar-benar menginginkannya?" Sambung Dona lagi.


" Kenapa sayang? Walau pun aku sangat menginginkannya tapi aku masih bisa menahannya." Ucap Frans lalu mengecup kening Dona.


" Kita bisa kok melakukannya sekarang jika kamu memang menginginkannya."


" Tapi kondisi kamu kan sangat lemah sayang, aku nggak mau menyakiti kamu dan anak kita."

__ADS_1


" Nggak apa-pa sayang asal kita melakukannya dengan pelan. Aku nggak tega melihat kamu seperti ini." Ucap Dona sambil mengusap lembut pipi Frans.


Sebenarnya Frans ingin sekali melakukannya karena sejak kehamilan Dona Frans tidak pernah melakukannya lagi.


" Tapi sayang, apa benar-benar nggak apa-apa?"


" Iya sayang lagian badan aku sudah sehat kok."


" Tapi semalam tubuh kamu sangat lemas." Ucap Frans cemas.


" Itukan tadi malam, aku juga sudah istirahat." Ucap Dona dengan senyuman di wajahnya.


Frans tersenyum lebar mendengar kata-kata Dona yang membuat Frans menjadi semakin bersemangat.


" Kalau begitu aku akan melakukannya dengan pelan, nanti kalau terasa sakit kamu bilang ya maka aku akan mengakhirinya."


" Baiklah, tapi kamu mandi dulu."


" Siap."


Frans bergegas berjalan menuju kamar mandi, setelah selesai mandi Frans menghampiri Dona yang kini tengah duduk di tepi ranjang.


" Sayang kamu yakin ingin melakukannya?" Tanya Frans sambil berjongkok di depan Dona.


Dona menatap wajah Frans dan menganggukan kepalanya. Frans berdiri dan duduk di samping Dona.


" Karena kamu juga menginginkannya maka aku nggak akan segan-segan lagi melakukannya. Aku sangat merindukan kamu sanyang." Ucap Frans lalu mengecup kening Dona.


Pagi yang indah pagi yang cerah. Frans melepaskan kerinduannya kepada Dona yang telah dia pendam selama hampir tujuh bulan. Karena Frans tidak ingin menyakiti Dona dan juga anak dalam kandungan Dona.


" Terimakasih sayang, maaf jika aku tadi dengan tidak sengaja menyakiti kamu." Ucap Frans lalu mengecup kening Dona. Frans mengusap lembut perut buncit Dona.


" Nggak apa-apa sayang, maaf ya karena kamu harus menunggu selama ini."


" Demi kamu dan anak kita aku akan melakukan apa pun."


" Terimakasih, aku bangga mempunyai suami seperti kamu." Ucap Dona sambil tersenyum manis.


🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


__ADS_2