
Dona bangun dari tidurnya dari pancaran matahari yang menelusup masuk dari celah celah jendela kamarnya, tubuhnya terasa sakit semua,tapi dia merasa hangat.
Dia membuka matanya dan melihat Frans masih terlelap sambil memeluknya. Dona dengan pelan menyingkirkan tangan Frans dari perutnya. Dona menatap wajah Frans dan mengingat kembali kejadian tadi malam.
Dona bangun dan turun dari ranjang, badannya terasa lemas, dengan segala upaya dia berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi Dona keluar dari kamar mandi. Dona mengambil pakaian dan memakainya.
Dona keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
" Mantu Mama udah bangun." Ucap Mona.
" Pagi Ma." Sapa Dona dengan suara lemah.
" Kamu kenapa sayang?" Tanya Meysa.
" Ah..nggak apa-apa kok Ma." ucap Dona sambil duduk di kursi meja makan.
" Mey, masa kamu nggak tau, semalamkan mereka habis selesai melakukan ritual malam pertama, jadi wajar dong kalau Dona terlihat lesu." goda Mona.
" Ehhh iya ya, bagaimana sayang, lancarkan?" goda Meysa balik.
Meysa dan Mona saling memandang dan tersenyum.
" Apaan sih Ma, Dona kan malu." ucap Dona sambil menyenderkan kepalanya di kursi.
" Kalau dilihat dari kondisi kamu pasti semalam kalian melakukannya sampai pagi." goda Mona lagi.
Dona tidak menjawab, tubuhnya terasa lemas tiada berdaya. Mona dan Meysa melihat kearah leher Dona yang penuh dengan tanda merah, Mona dan Meysa tertawa..
" Mama kenapa tertawa kayak gitu?" tanya Sandy sambil menarik salah satu kursi dan mendudukinya.
" Nggak ada apa-apa.." jawab Mona dan Meysa bersamaan.
" Kamu kenapa Don? kok lemas gitu." tanya Sandy.
Sandy mengambil nasi dan lauk dan diletakkan di atas piring.
" Sayang, masa kamu juga nggak tau." Ucap Mona.
" Apaan sih Ma,,Sandy beneran nggak tau, apa Dona lagi sakit?" Ucap Sandy bingung.
Sandy benar-benar tidak tau maksud pembicaraan Mama nya.
" Coba kamu lihat leher Dona, kamu pasti tau maksud Mama." Ucap Mona sambil melirik kearah leher Dona.
Sandy melihat kearah leher Dona, Dona penasaran kenapa semua orang menatap ke lehernya.
" Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu?" Tanya Dona bingung.
" Ah, nggak apa-apa kok." Ucap Sandy.
Hati Sandy terasa begitu sakit setelah melihat begitu banyak tanda merah di leher Dona, itu berarti Dona sudah menjadi milik Frans seutuhnya.
" Sebenarnya ada apa sih Ma, kok pada menatap leher aku, ada yang aneh ya di leher aku?" tanya Dona bingung.
" Masa kamu nggak tau sayang, apa tadi kamu nggak bercermin?" tanya Meysa heran.
" Nggak sempet Ma, tadi Dona buru-buru, niatnya mau bantuin Mama memasak, tapi malah kesiangan bangunnya." Ucap Dona.
__ADS_1
Dona menyentuh lehernya, dia tidak menemukan hal ganjil di lehernya.
" Mama maklum kok kalau kamu bangun kesiangan, kaliankan masih pengantin baru." goda Meysa.
" Frans sudah bangun belum sayang?" Tanya Mona.
" Belum Ma, dia masih tidur, aku nggak tega membangunkannya, karena dia baru tidur jam 03.00 pagi." Ucap Dona keceplosan.
Dona sontak langsung menutup mulutnya dengan jemarinya.
" Apa! jadi beneran kalian melakukannya sampai pagi!" seru Mona dan Meysa bersamaan.
" E--nggak Ma, Mama apaan sih." ucap Dona gugup karena malu.
" Dasar ini mulut nggak bisa dijaga." gerutu Dona.
Sandy sudah tidak tahan mendengar percakapan mereka, dia jadi kehilangan selera makan.
" Ma Sandy pergi dulu." ucap Sandy sambil berdiri dan meninggalkan meja makan.
" Kamu nggak jadi sarapan sayang?" teriak Mona.
" Males Ma, Sandy lagi nggak nafsu makan." teriak Sandy sambil terus berjalan keluar.
" Ada apa lagi dengan anak itu." guman Mona.
" Mon, kamu harus ngertiin Sandy dong, dia pasti merasa nggak nyaman dengan topik pembicaraan kita tadi." Ucap Meysa sambil menepuk bahu Mona.
" Tapi Mey, Sandy harus berusaha untuk melupakan Dona, karena Dona sudah menikah dengan Frans." Ucap Mona sedih.
Dia sebenarnya juga tidak tega melihat Sandy yang terlihat sangat sedih tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena Frans juga anaknya. Dia tidak bisa memilih satu diantara mereka.
Dia tau semua ini bermula karena dirinya.
" Itu bukan salah kamu kok sayang." Ucap Mona.
" Tapi tetap aja Ma, Dona merasa bersalah.." Ucap Dona.
" Udah nggak usah saling menyalahkan, mungkin memang sudah jalannya begini, kalian memang nggak berjodoh itu aja,," Ucap Meysa.
" Ya udah ayo kita sarapan dulu, nanti makanannya keburu dingin." Ucap Mona.
Mona memasukan satu suapan kemulutnya
" Meri dan Mira mana Ma?" tanya Dona.
Karena Mira dan Mery tidak kelihatan batang hidungnya.
" Mereka balik ke Bandung tadi pagi-pagi sekali, katanya ada tugas dari kampus yang harus segera dikumpulin." Ucap Meysa.
" Mereka naik apa Ma?"
" Tadi dianterin sama supir Frans."
" Oo ya udah kalau gitu Dona bisa tenang." Ucap Dona lega.
Mereka akhirnya selesai makan.
" Sayang, kamu bawain sarapan untuk Frans, kasian dia pasti lapar setelah tenaganya terkuras habis." Ucap Meysa.
__ADS_1
" Apaan sih Ma." ucap Dona malu.
Mungkin sekarang muka Dona udah memerah seperti kepiting rebus.
" Kenapa harus malu sayang, wajar dong kalian kan masih pengantin baru." Ucap Meysa.
" Ya udah Ma, Dona keatas dulu." ucap Dona sambil membawa nampan yang berisi makanan dan segelas susu hangat.
Dona membuka pintu kamar dan masuk kedalam kamar. Dona menaruh nampan di atas meja, dia berjalan menuju ranjang.
" Sayang ayo bangun, ini udah siang." ucap Dona sambil menggoyang-goyangkan tubuh Frans.
" Bentar lagi sayang, aku masih mengantuk." ucap Frans dengan mata yang masih terpejam.
" Cepetan bangun, mandi terus sarapan." ucap Dona sambil mencubit lengan Frans.
" Aww...sakit sayang." teriak Frans sambil membuka matanya.
" Makanya kalau dibangunin cepetan bangun." seru Dona.
" Tapi kan aku masih mengantuk, aku kan belum lama tidurnya." ucap Frans sambil memanyunkan bibirnya.
" Salah siapa tidur jam segitu."
" Salah kamu sayang, kenapa kamu begitu menggoda." ucap Frans sambil menarik tangan Dona.
Dona terjatuh dalam pelukan Frans.
" Sayang, lepasin nggak." ucap Dona sambil melepaskan diri.
" Nggak mau, sayang aku pengen lagi." Ucap Frans sambil terus memeluk Dona.
" Apaan sih." ucap Dona malu.
Dona melepaskan pelukan Frans dan berdiri..
" Kenapa kamu malu-malu gitu?" tanya Frans.
Frans menyandarkan tubuhnya ke punggung ranjang.
" Cepetan kamu mandi, bau kecut tau." goda Dona sambil melipat selimut.
" Masa sih, bau aku harum tau."
" Iya-iya harum, udah sana kamu cepetan mandi gih." Ucap Dona sambil menarik tangan Frans.
Dengan malas Frans turun dari ranjang, Frans memeluk tubuh Dona.
" Aku akan mandi, tapi kamu jangan kemana mana, tungguin aku sampai aku selesai mandi." ucap Frans ditelinga Dona.
" Udah sana cepetan mandi." ucap Dona sambil mendorong tubuh Frans.
Frans berjalan masuk kedalam kamar mandi..
" Ah sial, kenapa aku masih merasa malu sih, kita kan udah sah menjadi suami istri, jadi wajar dong kalau Frans meminta itu." ucapnya merutuki dirinya sendiri.
Dona kembali melipat selimut, dia menganti seprei kasurnya dengan yang baru. Frans keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit tubuhnya
Dona menatap kearah Frans, jantung Dona berdetak kencang, Dona kagum melihat tubuh Frans yang begitu putih mulus, dada yang bidang, perut kotak kotak, apalagi dengan rambut yang basah Frans begitu menggoda.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟