
Dona dan Franspun selesai mandi. Mereka keluar dari kamar mandi, setelah selesai berpakaian Dona keluar dari kamar dan menuju ruang makan.
" Hallo kak,," sapa Meri dan Mira.
" Hallo adikku sayang,," jawab Dona sambil memeluk kedua adiknya.
" Gimana kuliah kalian?" tanya Dona sambil duduk di kursi meja makan.
" Baik kak..sebentar lagi kita akan lulus,," jawab Mira.
" Kakak beneran akan menikah dengan kak Frans? " tanya Mery.
" Betul..memang kenapa?"
" Bukannya dulu kakak sama kak Sandy." Tanya Mery.
" Iya kak, dan aku lihat kak Sandy juga sangat mencintai kakak." Ucap Mira.
" Itu semua masa lalu Mir..nggak usah dibahas lagi."
" Dulu kakak bahagia banget sama kak Sandy, kalau boleh tau kenapa kakak bisa putus sama kak Sandy?" tanya Mery penasaran.
" Sebenarnya itu semua karena salah paham, tapi karena hati kakak sudah terlanjur sakit jadi ya mending kakak akhiri saja. Mungkin kita memang nggak jodoh."
" Terus saat kakak menikah, kakak akan mengundang kak Sandy enggak?" tanya Mery
" Tentu..kakak sama kak Sandy belum lama ini ketemu, diakan teman kakak pastinya kakak undang dong."
" Kalian lagi ngobrolin apa?" tanya Frans dari arah belakang.
" Bukan apa-apa kok kak." jawab Mira.
" Sudah ayo makan nanti keburu dingin lagi." Ucap Meysa.
Frans pun duduk disamping Dona. Ia merasa ada yang disembuyikan oleh Dona.
Dona mengambilkan makanan untuk Frans dan meletakkannya di depan Frans.
" Terimakasih ya sayang" Ucap Frans tanpa menatap Dona.
Frans yang biasanya mengajak Dona berbicara, kini hanya diam sambil memakan makanannya. Sesekali ia menatap Dona yang tengah menikmati makanannya.
" Sayang, aku ke ruang kerja aku dulu." Ucap Frans lalu berdiri. Ia melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan.
" Sayang ada apa dengan nak Frans, mama lihat dia dari tadi diam aja?"
" Dona juga nggak tau Ma, coba nanti Dona tanya."
__ADS_1
" Ya sudah sekarang kamu ajak Frans bicara, biar mama dan adik-adik kamu yang membereskan semua ini."
" Tapi Ma--"
" Sudah sana." Ucap Meysa sambil mendorong Dona pelan.
Sebenarnya Dona juga penasaran dengan perubahan sikap Frans tadi di meja makan. Kini Dona berdiri di depan pintu ruang kerja Frans. Dengan ragu-ragu Dona mengetuk pintu.
Tokk..Tokk..Tokk..
Kalau Frans lagi ngambek, Dona mengeluarkan jurus andalannya, yaitu memanggil Frans dengan sebutan sayang.
" Sayang, boleh aku masuk."
Setelah mendapatkan sahutan dari dalam, gadis itu membuka pintu ruang kerja Frans. Dona masuk ke dalam ruang kerja Frans dan berjalan menghampiri Frans yang tengah duduk memeriksa berkas-berkas di meja kerjanya.
" Sayang kamu kenapa? kamu marah sama aku ya." Tanya Dona yang kini berdiri di samping Frans.
" Aku nggak marah, tapi aku mau kamu jujur sama aku." Frans berdiri dan berjalan menuju sofa.
" Maksud kamu jujur soal apa sayang?" Tanya Dona binggung. Gadis itu duduk di samping lelaki yang sangat ia cintai. Ia terlihat sangat binggung, ia masih belum mengerti maksud dari perkataan Frans.
" Tadi sebenarnya aku mendengar percakapan kamu dengan Mira dan Mery. Sebenarnya apa hubungan kamu sama si Sandy itu?" Tanya Frans sembari menatap tajam kearah Dona.
Dona hanya menanggapi pertanyaan Farns dengan senyuman di wajahnya. Frans mengeryitkan dahinya,
" Maaf, kamu cemburu ya sayang. Kita sudah mau nikah lo sayang, tapi kamu masih tidak percaya sama aku." Ucap Dona sambil menahan tawanya. Ia senang melihat Frans yang sedang cemburu. Wajahnya akan terlihat imut, meski umurnya sudah 28 tahun.
" Aku percaya sama kamu, tapi aku ingin tau semuanya tentang hubungan kamu sama Sandy, aku nggak mau ada yang kamu tutupi dari aku." Ucap Frans dengan nada serius.
" Ok..aku ceritain tapi kamu jangan marah ya," Frans menganggukan kepalanya.
" Ok aku janji aku nggak akan marah."
Dona mengambil nafas dan mengeluarkannya secara perlahan. Sebelum memulai hubungan yang lebih serius dengan Frans, Dona ingin menceritakan semua masa lalunya dengan Sandy. Ia tidak ingin menyimpan rahasia apa pun dari Frans.
" Sandy adalah teman kuliah aku, dia juga cinta pertama aku. Kita menjalin hubungan selama dua tahun. Kita dulu juga mempunyai mimpi untuk menikah. Sandy juga sudah dekat dengan keluarga aku, bahkan papa aku sangat menyukainya. Tapi suatu hari aku mendengar dari sahabat aku kalau Sandy telah melecehkannya, katanya Sandy telah merengut kesuciannya.
..Dan saat aku bertanya kepada Sandy perihal kebenarannya, dia mengelak. Dia memberi alasan kalau dia telah dijebak. Saat itu aku nggak tau harus berbuat apa, sebenarnya aku mau percaya dengan kata-kata Sandy, tapi aku nggak bisa karena teman aku mempunyai bukti foto mereka. Dalam foto itu aku melihat Sandy sedang tidur dengan sahabat aku, jadi mau tidak mau aku harus percaya dengan sahabat aku dan saat itu juga aku mengakhiri hubungan aku dengan Sandy." Dona mencoba menceritakan semua masa lalu yang telah ia pendam dalam-dalam.
" Tapi kenapa tadi kamu bilang sama Mery kalau ternyata itu semua salah paham?"
" Ya setelah sebulan kami putus, Sandy datang menemuiku kalau semua itu hanya jebakan sahabat aku agar kami putus, karena sahabat aku tidak suka aku pacaran sama Sandy."
" Sekarang gimana perasaan kamu terhadap Sandy?" Tanya Frans penasaran. Saat ini dirinya benar-benar takut jika kenyataannya Dona masih menyimpan perasaan terhadap Sandy.
" Sayang kamu nggak percaya sama aku? yang aku cintai sekarang itu kamu sedangkan Sandy hanya masa lalu aku." Ucap Dona sambil memegang tangan Frans.
__ADS_1
" Aku percaya sayang, tapi aku takut kamu akan kembali lagi sama Sandy." Ucap Frans lalu memeluk tubuh Dona.
" Aku nggak akan pernah meninggalkan kamu, karena aku sangat mencintaimu," Ucap Dona sambil membalas pelukan Frans.
" Sayang aku nggak bisa hidup tanpa kamu..kamu segala-galanya buat aku."
Dona melepaskan pelukannya dan menatap wajah Frans.
" Percaya sama aku, aku hanya milikmu selamanya, hanya kamu yang aku cintai." Ucap Dona sembari menyentuh kedua pipi Frans.
" Terimakasih sayang."
" Gimana sudah puas sekarang atau kamu masih cemburu sama Sandy?" Goda Dona sembari menepiskan senyumannya.
" Kamu ngeledekin aku ya sayang." Ucap Frans sambil mencubit pipi Dona.
" Aww..sakit tau." Ucap Dona sambil memegang kedua pipinya.
" Maaf..maaf, sini aku obatin." Frans lalu mencium kedua pipi Dona.
" Gimana masih sakit nggak?"
" Nggak," Ucap Dona dengan muka yang bersemu merah.
" Kamu ni ya..kalau muka kamu seperti ini lucu banget, muka kamu merah kayak buah tomat," Goda Frans.
" Ihh apaan sih." Ucap Dona lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Frans menarik tubuh Dona kedalam pelukannya.
" Aku mencintaimu..sangat-sangat mencintaimu." Bisik Frans di telinga Dona.
" Aku juga sangat mencintaimu." Ucap Dona sambil melepas pelukan Frans.
" Oya, selama mama disini aku tidur sama mama ya, aku mau menemani mama."
" Ok..aku juga nggak mau nanti mama kamu mikir yang nggak-nggak lagi kalau melihat kamu tidur sekamar sama aku"
" Terus soal undangan pernikahan kita, siapa aja yang mau kamu undang?"
" Yang jelas semua karyawan kantor."
" Emmm..aku boleh mengundang Sandy nggak?" Tanya Dona pelan. Ia takut Frans akan marah, jika ia menyinggung soal Sandy lagi.
" Terserah kamu, asal kamu jangan CLBK lagi sama Sandy," Ucap Frans sambil mengerucutkan bibirnya.
" Itu nggak akan terjadi, aku kan sudah cinta mati sama kamu." Ucap Dona lalu mencium kilas bibir Frans.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟