Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Kebahagiaanmu kebahagiaan mama


__ADS_3

Dona terbangun dari tidurnya, dia membuka matanya dengan perlahan. Dona merasakan ada sesuatu yang melingkar di perutnya. Dona menengok kebelakang dan melihat Frans masih tertidur pulas.


"Oya..semalam kan aku tidur di kamar ini sama Pak Frans." Bathin Dona.


Dona menyingkirkan tangan Frans dengan perlahan dari perutnya. Dia beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi Dona keluar dari kamar mandi. Dona segera memakai pakaiannya. Dona dengan perlahan berjalan mendekati ranjang tempat Frans masih tertidur lelap.


" Pak Frans, tidurmu nyenyak sekali, kamu pasti sangat lelah dan kamu pasti kurang tidur karena mengkhawatirkan aku, maafin aku karena sudah bikin kamu begitu mengkhawatirkan aku." ucap Dona pelan sambil menatap wajah Frans yang masih terlelap.


Dona keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Dona dikejutkan oleh Meysa yang sedang berada di dapur.


" Pagi sayang, kamu sudah bangun?" sapa Meysa.


Dona berjalan menghampiri Meysa lalu mencium tangannya.


" Kenapa Mama ada disini? Mama seharusnya banyak istirahat, Mama kan belum pulih sepenuhnya."


" Mama sudah sehat kok sayang, Mama bosen kalau tiduran terus, mendingan buat gerak biar badan Mama nggak kaku juga."


Dona mengambil sayuran yang sudah di potong-potong oleh Mama nya lalu mencucinya. Dia tidak ingin Mama nya sakit lagi karena kecapekan.


" Sayang, boleh Mama bertanya sesuatu sama kamu?"


" Mama mau bertanya apa? " tanya Dona sambil masih mencuci sayuran.


" Apa hubungan kamu sama Nak Frans?"


Dona mematikan kran dan menatap Mama nya.


" Maksud Mama apa? Pak Frans adalah bos Dona Ma." Sahut Dona terkejut.


"Jangan bohong sama Mama, karena Mama tau semalam kamu tidur sekamar sama Nak Frans."


DEG..


Dona terkejut mendengar kata-kata Mama nya, Dona binggung harus menjawab apa. Dia berjalan mendekati Meysa.


" Ma..Dona bisa jelasin semuanya Ma, Mama jangan berfikir yang macam-macam ya Ma." ucap Dona sambil duduk disebelah Mamanya.


" Apa kamu ada hubungan sama Nak Frans selain sebagai atasan kamu?"


" Emmm..sebenarnya Dona dan Pak Frans..kita menjalin hubungan Ma. Kita..pacaran." Ucap Dona gugup.


Dona tidak berani menatap wajah mamanya. Dia takut Mama nya akan memarahinya.


" Sayang..kamu tau kan siapa kita dan siapa Nak Frans, apa Nak Frans bisa menerima kamu apa adanya? dia dari kalangan berada sedangkan kamu--, kita orang nggak punya, Mama takut nanti kamu malah sakit hati."


" Nggak kok Ma, Pak Frans bukan orang yang kayak gitu Ma, dia mau menerima Dona apa adanya, waktu Dona sakit dia selalu menjaga dan merawat Dona Ma. Dona sangat tersentuh atas semua perhatian dan kasih sayangnya. Mama nggak usah khawatir, Dona percaya sama Pak Frans."


" Mama hanya ingin kamu bahagia sayang, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Mama dan Mama nggak ingin kamu menderita, tapi jika itu sudah menjadi pilihan kamu, Mama bisa apa, Mama cuma bisa mendo'akan semoga kamu selalu bahagia."


" Percaya sama Dona Ma, pilihan Dona nggak akan salah. Terimakasih Ma, Dona sayang banget sama Mama." ucap Dona sambil memeluk Meysa.


" Tapi Mama berpesan sama kamu. Kamu jangan sampai melewati batas, Mama nggak ingin kamu melakukan hal yang nggak seharusnya kamu lakukan. Kamu harus bisa menjaga harga diri dan kehormatan kamu."


Dona menganggukan kepalanya.


" Ya sudah ayo kita lanjutin memasaknya, sudah waktunya untuk sarapan." sambung Meysa lagi.


Mereka mulai memasak untuk sarapan. Dona senang Mama nya menyetujui hubungannya dengan Frans.


" Akhirnya selesai juga." ucap Dona sambil meletakan makanan diatas meja.


" Sayang coba kamu panggil Nak Frans untuk sarapan." pinta Meysa.

__ADS_1


" Baik Ma.."


Dona berjalan menuju kamar. Dia membuka pintu kamar dan masuk kedalam kamar. Dona melihat Frans masih terlelap, dia bingung membangunkan Frans.


"Aku bingung, harus panggil apa ya? kalau aku panggil Frans nggak sopan karena dia lebih tua dari aku dan dia juga atasan aku. Tapi kalau aku panggil Pak nanti dia marah. Kalau aku panggil sayang..aku malu. Ahh..jadi bingung sendiri deh!" Bathin Dona.


Karena saking binggungnya Dona tetap memanggil Frans dengan embel-embel Pak.


" Pak Frans ayo bangun!" Seru Dona sambil mengoyang-goyangkan tubuh Frans.


Frans tidak bergeming sedikitpun. Dona akhirnya mencium bibir Frans kemudian mengigit pelan bibir Frans, sontak Frans langsung terbangun.


" Sayang...sakit tau!" Seru Frans sambil menyetuh bibirnya yang terasa sakit dan perih.


" Habisnya dibangunin susah banget, cepetan mandi sudah ditunggu Mama untuk sarapan." ucap Dona sambil melipat selimut.


Frans turun dari ranjang dan memeluk Dona dari belakang.


" Temenin aku mandi ya." Bisik Frans di telinga Dona.


" Aku kan sudah mandi, sudah sana cepetan mandi, kasian Mama sudah menunggu dari tadi." ucap Dona sambil melepas pelukan Frans.


" Ya, ya...bawel." Ucap Frans sambil berjalan menuju kamar mandi.


" Aku tunggu dibawah ya, jangan lama-lama." Teriak Dona sambil berjalan keluar kamar.


" Iya sayang." Sahut Frans sambil masuk kekamar mandi.


Dona berjalan menuju meja makan, disana Mira, Mery dan Mamanya sudah menunggu.


" Dimana Nak Frans?" tanya Meysa.


" Dia lagi mandi Ma, sebentar lagi kesini." Sahut Dona sambil duduk.


Frans menyapa Meysa lalu mencium tangan. Meysa menyuruh Frans untuk sarapan dan duduk di samping Dona. Frans menganggukkan kepalanya. Meysa menyuruh Dona untuk mengambilkan makanan untuk Frans.


Dona mengambilkan makanan untuk Frans dan menaruhnya di depan Frans. Tanpa Dona sadari ia memanggil Frans dengan sebutan sayang.


" Ini sayang sarapannya."


" Makasih ya sayang." ucap Frans sembari menyunggingkan senyumnya.


Dia senang akhirnya Dona mau memanggilnya sayang, apa lagi di depan keluarganya.


Mira, Mery dan Mamanya terbengong-bengong mendengar Dona memangil Frans dengan sebutan sayang.


" Kenapa pada melihat kearah ku? memang ada yang aneh sama wajah aku ya? " tanya Dona bingung.


Tapi mereka semua hanya tersenyum mendengar pertanyaan Dona.


" Ditanya kok malah pada senyum sih! sebenarnya ada apaan sih?" Sambung Dona lagi karena begitu sangat penasaran.


" Kamu nggak sadar ya sayang." Tanya Frans sembari tersenyum.


" Maksud kamu apa? aku beneran nggak mengerti." ucap Dona semakin tambah bingung.


" Ihh kakak, masa nggak paham juga." ucap Mira.


" Apaan sih Mir, jangan bikin kakak tambah penasaran donk." ucap Dona kesal.


" Sini aku bisikin." ucap Frans sembari mendekatkan wajahnya ke telinga Dona.


" Mereka tadi terbengong-bengong karena mendengar kamu memanggil aku sayang di depan mereka." Bisik Frans ditelinga Dona.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan Frans, Dona menundukkan kepalanya. Dia merutuki dirinya sendiri yang sudah keceplosan memanggil Frans dengan sebutan sayang. Karena malu wajah Dona berubah merah, sedangkan mereka semua tertawa melihat tingkah Dona.


" Sudah-sudah tertawanya, kasian kakak kalian, lihat itu wajahnya memerah sudah kayak kepiting rebus." Goda Meysa.


" Apaan sih Ma, Dona kan jadi tambah malu." Ucap Dona yang semakin malu karena ledekan Mamanya.


" Sudah ayo kita lanjutin makannya." ucap Meysa.


Setelah selesai makan Mira dan Mery berpamitan untuk berangkat kuliah. Mereka mencium tangan Meysa dan Dona.


" Kita berangkat dulu ya kak Frans." Ucap Mira dan Mery sambil mencium tangan Frans.


" Eehhhh..kok kalian panggil Pak Frans kakak!" Tanya Dona terkejut.


" Kan Pak Frans calon kakak ipar kita, jadi nggak apa-apa kan kita panggil kakak." Goda Mira.


" Nggak apa-apa kok, aku malah senang kalian mau memanggil aku kakak." Ucap Frans sembari tersenyum.


Mira dan Mery berjalan keluar rumah. Dona dan Meysa membereskan meja makan.


" Sini aku bantuin tante, tante istirahat saja, tantekan belum sepenuhnya pulih." Ucap Frans sambil mengambil piring kotor dari atas meja.


" Tapi Nak Frans, ini kan pekerjaan wanita." Tolak Meysa.


" Nggak apa-apa kok tante, kemaren saja waktu Dona sakit, aku yang mengerjakan semuanya dari memasak dan mencuci piring." Ucap Frans sambil melirik kearah Dona.


" Nggak kok Ma, dia bohong." ucap Dona sambil menatap tajam kearah Frans.


" Beneran tante, aku nggak bohong. Dona malah enak-enakan tidur dan nggak membantu aku sedikit pun." Goda Frans.


Dona merasa sangat kesal dan mengambil centong untuk memukul Frans. Frans yang merasa terancam akhirnya bersembunyi dibelakang Meysa.


" Awas kamu ya karena sudah mengadu sama Mama aku!" Seru Dona sambil berjalan menghampiri Frans.


" Tolongin aku tante dari amukan anak tante." Teriak Frans sambil bersembunyi dibelakang Meysa.


" Sayang, kasian Nak Frans, masa mau kamu pukul pakai centong."


" Mama belain dia, yang anaknya Mama kan Dona bukan dia." Ucap Dona kesal.


" Siapa bilang, Nak Frans kan juga anak Mama." Ucap Meysa sambil menatap Frans.


Frans terharu mendengar kata-kata Meysa. Dona juga terharu mendengar kata-kata Mama nya.


" Kenapa kalian diem saja, sini peluk Mama." Seru Meysa. Donapun langsung memeluk Mama nya.


" Dona sayang sama Mama." Ucap Dona sambil memeluk Mamanya.


" Nak Frans kenapa diam saja, nggak mau peluk tante ya?"


" Aku boleh meluk tante?" Tanya Frans dengan mata berkaca-kaca.


" Tentu saja boleh dong sayang, sini peluk tante."


Frans langsung memeluk Meysa.


" Mama sayang kalian berdua." Ucap Meysa sambil memeluk Frans dan Dona.


Frans menangis dalam pelukan Mama nya Dona.


¤¤¤¤


Kenapa aku nulis ini malah terharu sendiri ya 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2