Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 49..


__ADS_3

[ Flash off ]


"Sasa, selama ini aku tulus sayang sama kamu, aku bahkan rela merubah sifat aku hanya demi kamu, tapi apa yang aku dapatkan, kamu memfitnahku dan menuduhku dengan hal yang sama sekali tidak aku lakukan. Sebenarnya apa mau kamu?"


Deo mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Dia tidak menyangka Sasa akan tega melakukan ini padanya. Kurang baik apa coba, Deo memperlakukan dia selama ini, Deo bahkan rela membelikan kalung seharga 15 juta hanya untuk Sasa, dia bahkan rela menghancurkan imagenya didepan cewek-cewek yang selalu di godanya, itu semua demi menjaga perasaan Sasa.


Sepulang sekolah, Evan dan Carlos berencana untuk mengunjungi Deo. Mereka masih tidak percaya dengan desas desus yang beredar di sekolah mereka. Mereka ingin mendengar penjelasan langsung dari Deo.


Evan dan Carlos kini berdiri didepan rumah Deo. Evan mengetuk pintu rumah Deo.


Tok..tok..tok..


Asisten rumah tangga keluarga Deo berjalan menuju pintu. Wanita paru baya itu membuka pintu.


"Deo nya ada, bi?" Tanya Evan saat pintu terbuka sepenuhnya.


"Ada den, tapi--"


"Tapi apa, bi?" Tanya Carlos cemas.


"Tuan melarang siapa pun untuk menemui den Deo, bahkan den Deo tidak diperbolehkan keluar rumah."


"Kenapa bisa seperti itu, bi? sebenarnya apa yang terjadi, bi?" Tanya Evan cemas dan penasaran.


Wanita paru baya itu menggelengkan kepalanya dan meminta maaf karena tidak bisa membantu Evan dan Carlos.


"Ya udah, bi. Kalau begitu kami permisi dulu." Pamit Evan.


Wanita paru baya itu mengganggukan kepalanya lalu menutup pintu. Evan dan Carlos kembali berjalan menuju mobil.


"Van, sebenarnya apa sih yang terjadi antara Sasa dan Deo? apa perlu kita mendatangi rumah, Sasa?" Tanya Carlos yang juga sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.


"Rumah, Sasa aja kita nggak tau."


"Kita tanya Clarisa aja, siapa tau dia tau." Ucap Carlos memberi saran.


Evan mengganggukan kepalanya dan melajukan mobilnya menuju rumah Clarisa. Dalam perjalanan Carlos terus mencoba menghubungi Deo tapi tetap tidak bisa.


"Seperti ponsel Deo disita oleh Papa nya, dari tadi aku hubungi tidak bisa." Ucap Carlos sambil terus menghubungi Deo.


"Hanya Sasa satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaan kita semua. Semoga aja Sasa mau mengatakan yang sebenarnya." Ucap Evan sambil menghela nafas berat.


Sesampainya di rumah Clarisa, mereka turun dari mobil dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


"Itu Clarisa sedang duduk di teras." Ucap Carlos sambil menatap kearah Clarisa yang tengah duduk di teras sambil mendengarkan musik di ponselnya.


"Kalian! Ngapain kalian ke rumah aku! tumben!" Seru Clarisa sambil mematikan musik di ponselnya.


"Kamu tau rumah, Sasa?" Tanya Evan to the points.


"Tau, tapi untuk apa kamu mencari rumah, Sasa?" Tanya Clarisa penasaran.


"Nggak usah banyak tanya, lebih baik kamu antar kami sekarang?" Seru Carlos.


Mereka masuk kedalam mobil. Evan melajukan mobilnya menuju rumah Sasa.


"Kok kamu bisa tau rumah, Sasa?" Tanya Carlos penasaran.


"Ya, dulu aku pernah mengikuti dia diam-diam, karena aku penasaran sama, Sasa." Sahut Clarisa pelan.


"Dasar! Kepo!" Seru Evan sambil menyentil kening Clarisa.


Clarisa mengerucutkan bibirnya sambil menahan sakit di keningnya. Sesampainya di rumah Sasa.


Evan dan Carlos terkejut melihat kondisi rumah, Sasa.


"Ini beneran rumah Sasa?" Tanya Carlos terkejut.


"Udah ayo kita cari Sasa, kondisi rumah nggak penting!" Seru Evan.


Mereka berjalan menuju rumah Sasa.


"Kok kayaknya rumahnya sepi ya, Van." Ucap Clarisa sambil melihat sekeliling rumahnya.


"Itu ada nenek-nenek, ayo kita coba tanya sama nenek itu." Ucap Evan.


Mereka berjalan menghampiri seorang nenek yang sedang duduk didepan rumahnya.


"Permisi Nek." Ucap Evan sopan.


"Ada apa ya Nak?" Tanya Nenek itu.


"Saya mau tanya, Nek. Apa nenek tau dimana Sasa sekarang?" Tanya Evan.


"Maksudnya keluarga Dirja?"


Clarisa mengganggukan kepalanya.

__ADS_1


"Mereka sepertinya sudah pindah, Nak."


"Nenek tau rumah mereka yang sekarang?" Tanya Carlos.


"Maaf, Nak, nenek tidak tau, keluarga itu begitu tertutup. Tapi setahu Nenek putrinya yang paling besar itu sangat baik, dia selalu membantu Nenek, tapi Nenek mendengar dia dikeluarkan dari sekolahnya. Nenek kasian melihatnya." Ucap Nenek itu sedih.


Clarisa, Evan dan Carlos saling menatap, entah apa yang tengah mereka pikirkan saat ini. Mendengar pernyataan Nenek tadi membuat mereka ragu dengan Deo. Apa isu ternyata benar? apa pihak yang dirugikan adalah Sasa?


Deo yang bungkam membuat para sahabatnya mulai meragukannya. Apa lagi jika melihat sifat Sasa yang pendiam dan tak pernah ikut campur urusan orang lain.


"Makasih ya Nek, kalau begitu kami permisi dulu." Ucap Evan.


Nenek itu mengganggukan kepalanya.


Setelah mendengar jawaban dari Nenek itu, mereka kembali kedalam mobil. Evan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sasa.


"Sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Carlos cemas.


Evan hanya diam sambil terus menyetir.


"Deo, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa kamu terus bungkam seperti ini? apa yang sedang kamu rahasiakan? dengan kebungkaman kamu, malah membuat semua orang membencimu, tanpa tau apa kebenarannya. Bagaimana kami bisa membantumu jika kamu terus bungkam seperti ini, bahkan Sasa sekarang tidak tau keberadaannya." Guman Evan dalam hati.


Setelah mengantar Clarisa pulang, Evan dan Carlos kembali ke rumah Deo, tapi mereka malah di usir oleh para pengawal yang mengawasi rumah Deo. Mereka akhirnya pulang ke rumah mereka.


Evan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia merasa tidak tenang, segala cara sudah dia lakukan tapi hasilnya tetap nihil. Evan mengambil ponselnya dari atas meja. Dia mengirim pesan kepada Deo.


[ Bagaimana keadaan kamu? ceritakan semua masalah kamu, jangan kamu pendam sendiri. Kamu masih punya teman-teman yang peduli sama kamu. Jika kamu masih menganggap kita teman, maka jangan merahasiakan sesuatu dari kami. ] Evan.


Evan meletakkan kembali ponselnya keatas meja, karena kelelahan, Evan akhirnya tertidur.


»»»»»


Setelah berdiam diri didalam kamar, Deo akhirnya keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju dapur, dia membuka pintu lemari pendingin lalu mengambil sebotol air mineral.


"Den, tadi den Evan dan den Carlos datang kesini."


"Terus sekarang mereka dimana, bi?" Tanya Deo sambil membuka tutup botol itu lalu meneguknya.


"Mereka langsung pulang Den, karena mereka dilarang masuk." Sahut wanita paru baya itu sambil menundukkan kepalanya.


Deo mengepalkan kedua tangannya hingga membuat botol yang dia pegang remuk dan air tumpah kemana-mana.


"Brengsek! kenapa Papa memperlakukan teman-teman aku seperti itu?" Seru Deo emosi.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2