Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 33..


__ADS_3

Evan sudah bersiap-siap untuk menjemput Nena. Dia sengaja berdandan lebih rapi dari biasanya. Dia menyisir rambutnya dengan rapi. Setelah merasa puas dengan penampilannya, Evan keluar dari kamarnya sambil bersiul.


"Wah..yang mau kencan." Goda Carlos.


"Kamu mau kencan sama siapa sayang?" Tanya Dona penasaran.


"Clarisa Ma, siapa lagi." Celetuk Carlos sambil menyomot tempe goreng lalu menggigitnya.


"Jangan dengerin Carlos Ma, orang Evan cuma mau menemani teman Evan nonton kok." Ucap Evan sambil mencium tangan Dona.


"Evan pergi dulu ya Ma." Sambungnya lalu berjalan meninggalkan Carlos dan Dona.


Evan melajukan mobilnya menuju rumah Nena. Dalam perjalanan ke rumah Nena, Evan terus bersiul ria.


»»»»


Nena kini tengah duduk didepan cermin, dia memoles wajahnya dengan sedikit make up. Dia ingin terlihat cantik didepan Evan. Setelah puas dengan penampilannya Nena keluar dari kamarnya.


"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Niken penasaran.


Niken melihat ada yang berbeda dengan putrinya hari ini. Nena yang sama sekali tidak suka berdandan, tapi demi Evan dia rela memoles wajahnya dengan make up.


"Mau jalan sama teman Ma." Sahut Nena.


"Teman cewek atau cowok nie." Goda Niken.


"Cowok Ma, tapi beneran cuma teman kok."


Tinnn...


Terdengar suara clakson mobil dari luar. Nena meminta izin sama Mama nya.


"Nena boleh pergi kan Ma?"


"Kenapa kamu nggak menyuruh teman kamu untuk masuk, Mama ingin kenal sama teman cowok kamu."


Nena mengaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menyengir kuda.


"Lain kali aja ya Ma, lagian kita juga baru temenan, nggak lebih kok Ma."


Niken menghela nafas panjang.


"Baiklah..kamu hati-hati, jaga diri kamu, Mama percaya sama kamu."


"Makasih ya Ma, Nena pergi dulu." Nena mencium tangan Mama nya lalu berjalan keluar.


Evan melambaikan tangannya saat melihat Nena keluar dari pintu gerbang rumahnya. Nena masuk kedalam mobil Evan.


"Kita mau kemana?"


"Terserah kamu, aku ngikut aja." Sahut Nena sambil menundukan kepalanya.


"Hari ini kamu terlihat berbeda, kamu berdandan ya?" Evan mendongakan wajah Nena agar menatapnya.


"Cantik." Sanjung Evan.


Wajah Nena seketika merona. Evan menatap Nena sambil memajukan tubuhnya semakin dekat....dekat dan dekat.

__ADS_1


"Evan mau ngapain ya, kenapa jarak kita sedekat ini? jangan-jangan dia mau menciumku lagi, a--ku harus bagaimana ini?" Guman Nena dalam hati.


Tanpa sadar Nena memejamkan kedua matanya. Evan mengeryitkan dahi lalu tersenyum.


Klik..


Evan selesai memasangkan sabuk pengaman ke tubuh Nena.


"Buka mata kamu." Evan menepuk bahu Nena.


"Ngapain kamu tutup mata segala, aku kan hanya mau memakaikan kamu sabuk pengaman." Sambungnya sambil tersenyum manis.


"Hah! Emm..nggak ada apa-apa, kayaknya tadi ada yang masuk kedalam mata aku." Ucap Nena sambil tersenyum kaku.


Evan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia melajukan mobilnya meninggalkan rumah Nena.


Evan mengajak Nena ke bioskop. Kini mereka sudah berada didepan bioskop.


"Kamu mau nonton film apa?" Tanya Evan sambil melihat promo-promo film terbaru.


"Gimana kalau film romantis, aku paling suka lihat film romantis."


"Ok, kamu tunggu disini dulu, biar aku beli tiketnya dulu."


Nena menganggukan kepalanya. Dia lalu pergi untuk membeli popcorn ukuran jumbo dan 2 pepsi dingin. Tak berselang lama Evan datang dengan membawa 2 tiket.


"Ayo masuk, sebentar lagi filmnya mau dimulai." Evan mengambil popcorn dari tangan Nena.


Evan berjalan masuk kedalam bioskop. Nena mengerucutkan bibirnya.


"Kirain mau mengandeng tangan aku, ternyata cuma mau membatu membawakan popcorn! Dasar cowok nggak ada romantis-romantisnya!" Guman Nena dalam hati.


Nena bergegas menghampiri Evan. Mereka masuk kedalam bioskop. Didalam bioskop yang minim pencahayaan, Nena bisa sepuasnya memandangi wajah Evan.


"Aku udah tampan dari dulu, nggak usah kamu lihatin sampai segitunya."


Evan memiringkan wajahnya menatap Nena hingga membuat Nena salah tingkah karena jarak wajah mereka yang terlalu dekat. Jantung Nena berdetak dengan cepat.


"Jantungku, ada apa dengan jantungku, kenapa jantungku berdebar-debar?" Guman Nena dalam hati.


Evan menyentuh kedua pipi Nena lalu memiringkannya agar menatap ke layar monitor yang terpampang di depan mereka.


"Filmya udah dimulai, lihat kedepan, jangan menatap aku terus."


Evan mengambil popcorn lalu ia masukan ke dalam mulutnya. Nena hanya mencemberutkan bibirnya sambil terus mengerutu.


"Kencan..kencan..kencan apanya! Nggak ada romantis-romantisnya!" Nena terus mengerutu.


"Kamu bicara sesuatu?" Tanya Evan sambil memberikan popcorn kepada Nena.


Nena menggelengkan kepalanya sambil mengambil popcorn lalu ia masukan kedalam mulutnya.


Setelah 2 jam mereka keluar dari bioskop.


"Filmnya bagus ya ceritanya, kisah tentang dua saudara yang mencintai satu wanita. Sang kakak rela mengalah demi adiknya dan menyerah untuk cinta sejatintnya." Ucap Evan sambil mengingat kisah film yang baru saja dia tonton.


"Kalau aku malah salut sama pemeran wanitanya, dia rela melakukan apa saja demi sang pujaan hatinya, termasuk melepas kepergiannya." Nena menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Tapi kalau aku jadi wanita itu, aku nggak akan menyerah untuk mendapatkan cinta sejatinya itu. Dia tidak bisa memaksanya untuk mencintai adiknya, cinta itu tidak bisa dipaksakan." Sambungnya.


"Iya sih, cinta tidak bisa dipaksakan, tapi cinta bisa tumbuh karena keterbiasaan dan terus bersama." Ucap Evan sambil menatap kedua mata indah Nena.


Tatapan Evan membuat Nena salah tingkah. Nena berjalan meninggalkan Evan, Evan hanya tersenyum melihat tingkah Nena.


"Temani aku kesuatu tempat ya, ada tempat yang ingin aku datangi." Pinta Nena. Evan menganggukan kepalanya.


Mereka masuk kedalam mobil.


"Kamu mau aku temani kemana?"


"Kita cari makan aja dulu, aku lapar."


Evan melajukan mobilnya meninggakkan baseman. Nena terus menatap keluar jendela.


"Apa hari ini kamu bahagia?" Tanya Evan sambil fokus menatap kedepan.


"Hemm.."


"Kok cuma jawab hemm." Protes Evan.


"Singkat amat." Ledeknya.


"Bahagia sih bahagia, tapi sikap kamu dingin." Sindir Nena.


Evan hanya tersenyum mendengar sindiran Nena. Evan menghentikan mobilnya didepan sebuah restoran.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Evan sambil melihat buku menu.


"Aku mau nasi goreng spesial aja."


Evan memanggil pelayan dan memesan 2 porsi nasi goreng spesial dan 2 es lemon tea.


Evan terus menatap Nena yang asyik memainkan ponselnya.


"Aku udah tau kalau aku cantik, nggak usah menatap aku terus." Ucap Nena sambil masih fokus dengan ponselnya.


"Kamu jadi orang PD banget ya." Ceplos Evan tanpa saringan.


"Ya terserah aku dong, aku PD karena aku memang cantik." Ucap Nena sambil menjulurkan lidahnya.


"Dasar! lama-lama aku makan juga kamu!" Seru Evan.


"Memangnya kamu berani?" Tantang Nena.


"Kamu menantang seorang Evan nie! Wah...parah! Kamu pasti belum mengenal aku ya." Ucap Evan sambil mengelengkan kepalanya.


Baru pertama kali ini ada yang berani menantangnya tentang urusan cewek. Seorang playboy ditantang..malah bikin Evan semakin tertantang untuk mendapatkan Nena si primadona kelas.


"Aku tau siapa kamu, playboy kelas kakap seperti Deo kan?" Ledek Nena.


"Itu kamu tau!" Seru Evan menyombongkan diri.


"Jadi playboy aja sombong! untung kamu cakep, kalau nggak udah aku permaluin kamu didepan umum." Guman Nena dalam hati.


Tak berselang lama makanan yang mereka pesan datang. Mereka mengakhiri perdebatan mereka dan mulai menyantap makanan yang ada dihadapan mereka. Meski sesekali mereka saling mencuri-curi pandang.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2