Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 2


__ADS_3

Selama tinggal di rumah Dona, Carlos selalu tidur bersama dengan Dona dan Frans. Carlos tidak akan pernah bisa tidur jika tidak di peluk oleh Dona.


" Sayang, kamu belum tidur?" Tanya Dona lalu duduk di tepi ranjang.


" Carlos nungguin Mama, Carlos nggak bisa tidur Ma." Sahut Carlos lalu memeluk Dona.


Evan yang berdiri di depan pintu kamar Mama nya hanya bisa melihat dari luar kedekatan Mama nya dengan Carlos. Evan yang berniat ingin meminta Mama nya untuk menemainya tidur pun akhirnya mengurungkan niatnya.


Frans yang berada dibelakang Evan hanya bisa melihat anak semata wayangnya dengan mata sendunya. Frans tau Evan merasa tersisih setelah kehadiran Carlos.


" Evan!"


Evan berbalik dan menatap Papa nya. Ia berjalan menghampiri Papa nya lalu memeluknya.


" Ada apa? Kenapa kamu nggak jadi masuk ke dalam kamar?" Tanya Frans lalu berjongkok di depan Evan.


Evan menggelengkan kepalanya. Frans bisa melihat ada setetes air mata di kedua sudut mata Evan.


" Mau Papa temani tidur?" Evan menganggukan kepalanya.


Frans mengandeng tangan Evan menuju kamar Evan. Lelaki itu merebahkan tubuhnya disamping anak kesayangannya. Anak yang telah ia perjuangkan selama masih didalam kandungan. Ia masih ingat betul bagaimana sulitnya perjuangan Dona untuk menjaga dan mempertahankan kandungannya hingga saatnya sang buah hati lahir ke dunia.


" Kamu rindu sama pelukan Mama?"


" Mama sekarang sudah nggak sayang lagi sama Evan, Mama selalu saja mendahulukan Carlos dari pada Evan." Ucap Evan pelan.


Frans mengecup puncak kepala Evan, " Mama sayang sama kamu, tapi untuk saat ini kamu harus bisa mengerti keadaan Carlos. Bukankah kamu sangat menyayangi Carlos?" Evan menganggukan kepalanya.


" Sekarang lebih baik kamu tidur, Papa akan menemani kamu tidur." Ucap Frans lalu memeluk Evan.


Dona melihat Carlos sudah tertidur lelap. Dengan sangat hati-hati, ia menyingkirkan tangan Carlos dari perutnya. Dona bangun dan turun dari ranjang. Ia bergegas keluar dari kamar untuk menemui Evan.


Saat Dona membuka pintu kamar Evan, ia melihat Evan sudah terlelap dalam pelukan Frans. Dona berjalan menuju ranjang lalu naik keatas ranjang. Ia mengecup kening anak semata wayangnya.


Frans yang belum sepenuhnya tidur membuka matanya secara perlahan. Ia melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang. Frans mengajak Dona untuk duduk di sofa.


" Carlos sudah tidur?" Tanya Frans lalu menarik kepala Dona dan menyandarkan kebahunya.


" Sudah, kenapa Papa ada di kamar Evan? Bukannya Papa tadi ada diruang kerja?"


" Papa tadi sebenarnya ingin mengambil berkas yang ada di kamar, tapi saat Papa sudah sampai di depan pintu, Papa melihat Evan sedang berdiri di depan pintu. Evan seperti takut untuk masuk ke dalam kamar." Frans menghela nafas berat.


" Maafin Mama ya Pa, Mama sudah gagal menjadi ibu yang baik buat Evan. Mama merasa menjadi ibu yang jahat." Ucap Dona dengan menitikan air mata.


" Mama sayang sama Evan Pa, tapi Mama nggak tau bagaimana caranya membagi kasih sayang Mama ke Evan dan Carlos. Sedangkan Carlos saat ini sangat membutuhkan kasih sayang penuh." Sambung Dona.


" Jangan menyalahkan diri Mama sendiri, Papa yakin Evan bisa mengerti. Evan itu anak yang baik, dia juga sangat menyayangi Carlos. Mama adalah ibu yang terbaik buat Evan dan Carlos." Ucap Frans lalu mengecup puncak kepala Dona.


" Kenapa Mira dan Marcel begitu cepat meninggalkan kita Pa? Apa lagi disaat Carlos masih sangat membutuhkan kasih sayang mereka. Mama masih belum bisa percaya mereka telah pergi meninggalkan kita. Mira dan Marcel adalah orang yang sangat baik, tapi kenapa nasib mereka seperti ini." Ucap Dona. Tangisan Dona semakin pecah, ia tidak bisa lagi menahan air mata yang terus mengalir deras membasahi kedua pipi nya.

__ADS_1


" Mama jangan sedih lagi, sudah satu tahun Mira dan Marcel pergi meninggalkan kita. Kita harus mengikhlaskan mereka, agar mereka bisa tenang disisi-Nya." Ucap Frans lalu menghapus air mata Dona.


" Kita tidak tau kita akan hidup berapa tahun lagi, itu semua sudah takdir. Kita hanya perlu menjaga dan menyayangi Carlos seperti anak kita sendiri." Sambung Frans.


" Bukan maksud Mama untuk menyalahkan takdir, tapi ini semua seperti mimpi Pa. Mama merasa baru kemarin kita pergi liburan sama-sama. Mama masih ingat betapa Mira sangat bahagia saat kita ajak dia berlibur ke Jepang." Dona menghapus air matanya yang terus menerus mengalir.


" Mira lah yang terlihat begitu antusias saat itu. Bahkan dia juga yang menyiapkan semuanya. Tapi sekarang semua itu hanya tinggal kenangan. Mama sudah tidak dapat lagi melihat senyuman dan tawa cerianya. Diantara kami bertiga, hanya Mira yang selalu ceria, dia nggak pernah mengeluh, dia selalu menerima kondisi keluarga kita saat itu. Apalagi setelah Papa meninggal. Mira bahkan rela tidak meneruskan kuliahnya. Dia bahkan ingin bekerja untuk membantu keuangan keluarga kita. Tapi Mama selalu melarangnya dan membujuknya untuk tetap bersekolah.


...Mira anak yang paling Papa sayangi, selain hatinya yang baik, dia juga anak yang penurut. Dia nggak pernah sekalipun membuat Papa dan Mama mengeluh atas sikapnya. Dia selalu membuat Mama dan Papa bangga padanya." Sambung Dona.


Frans memeluk Dona dengan sangat erat, ia bisa merasakan kesedihan yang kini sedang dirasakan istrinya. Dirinya juga merasa sangat kehilangan sahabat terbaiknya yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.


" Kita do'akan yang terbaik untuk Mira dan Marcel. Kita besarkan Carlos dengan penuh kasih sayang, kita nggak akan membiarkan Carlos kekurangan kasih sayang sedikitpun." Ucap Frans lalu mengecup kening Dona. Dona menganggukan kepalanya.


" Lebih baik sekarang Mama balik ke kamar, Papa takut nanti Carlos terbangun dan mencari Mama." Ucap Frans dengan senyuman diwajahnya.


" Tapi bagaimana dengan Evan, dia pasti sangat kecewa sama Mama." Ucap Dona sedih.


" Biar Papa yang menemani Evan. Mama nggak usah berfikiran yang macam-macam. Evan nggak pernah kecewa dengan Mama nya. Mama tenang saja, Papa bisa menjamin itu."


Dona menganggukan kepalanya. Sebelum Dona kembali ke kamarnya, ia mengecup puncak kepala Evan. Ia memeluk suaminya lalu berjalan keluar.


" Kamu adalah ibu yang terhebat sayang, Evan pasti akan bisa mengerti kondisi kamu saat ini. Dia nggak akan pernah membencimu, karena kamu adalah ibu yang sangat baik dan penyayang. Aku bersyukur mempunyai istri yang baik dan penyayang seperti kamu. Evan pasti bangga karena telah lahir dari rahim kamu." Guman Frans dalam hati.


Frans berjalan menuju ranjang lalu merebahkan tubuhnya disamping Evan. Ia peluk Evan dengan sangat erat.


»»»»»


Evan yang di bantu oleh Frans untuk bersiap-siap berangkat kesekolah. Sedang Carlos di bantu oleh Dona. Setelah selesai bersiap-siap mereka berjalan menuju meja makan.


" Mama." Panggil Evan.


" Ya sayang." Sahut Dona lalu berjalan mendekati Evan.


" Evan mau disuapi Mama, boleh kan?" Pinta Evan.


" Tentu saja sayang, sini Mama akan menyuapi anak kesayangan Mama ini." Ucap Dona sambil mengusap lembut puncak kepala Evan.


" Mama, Carlos juga mau disuapi ya." Pinta Carlos.


" Nggak boleh!" Seru Evan.


" Kenapa?" Tanya Carlos sedih.


Dona menatap kearah Frans, Frans menghela nafas berat. Ia berdiri dan duduk disamping Carlos.


" Sayang, mau Papa suapi?"


" Nggak! Carlos mau disuapi sama Mama." Rengek Carlos.

__ADS_1


Dona duduk disamping Evan. Ia berusaha untuk membujuk Evan agar memperbolehkanya menyuapi Carlos juga.


" Nggak mau Ma, semalam dia udah tidur sama Mama, sekarang giliran Evan yang mendapatkan perhatian Mama." Rengek Evan


Dona sangat terkejut mendengar ucapan Evan, ini lah yang sangat di takutkan Dona. Rasa iri yang ada di hati Evan, perasaan tidak lagi di perhatikan. Dona takut perasaan itu akan berubah menjadi kebencian untuk Carlos. Ia tidak ingin kedua anaknya saling membenci. Hatinya terasa amat sakit melihat kesedihan di mata anak semata wayangnya.


Frans akhirnya ikut turun tangan untuk membujuk Evan. Ia tau Evan tak akan pernah membatah ucapannya. Dona berdiri dan bergantian dengan Frans yang kini duduk disamping Evan.


" Bukannya semalam kamu bilang kalau kamu sayang sama Carlos. Tapi kenapa sekarang kamu melarang Mama untuk menyuapi Carlos juga. Carlos itu sekarang adalah adik kamu, dan kamu sebagai abangnya harus mau berbagi kasih sayang Mama. Kamu mau kan?" Tanya Frans sambil menatap kedua mata Evan.


Evan hanya bisa menundukan kepalanya lalu menganggukan kepalanya.


" Papa tau Evan anak yang baik, Papa berharap kalian akan selalu saling menyayangi. Jangan pernah membenci satu sama lain. Kalian berdua anak-anak Papa dan Mama." Ucap Frans lalu memeluk Evan.


" Maafin Evan Pa." Ucap Evan pelan.


Carlos berdiri dan mendekati Evan. Ia menggenggam tangan Evan.


" Aku sayang sama kamu, jangan pernah membenciku." Ucap Carlos.


Dona tak kuasa menahan air matanya yang sedari tadi sudah mengenang memenuhi kedua matanya.


" Ya Allah, terimakasih Engkau telah memberikan hamba anak-anak yang begitu baik, lembut dan pengertian. Mereka adalah anugerah terindah dalam hidup hamba." Guman Dona dalam hati.


Dona mengusap lembut puncak kepala Evan dan Carlos lalu memeluk mereka dengan sangat erat.


" Mama sangat menyayangi kalian berdua, kalian adalah anak-anak kesayangan Mama." Ucap Dona lalu mengecup kening Evan dan Carlos secara bergantian.


⭐⭐⭐⭐


Hai para riaders setia BoS Yang Angkuh..


Aku punya kabar gembira nie, Gimana kalau cerita Bos Yang Amgkuh aku lanjut lagi? Pada setuju nggak?.


Tapi aku punya syarat nie..


1) Jangan lupa like yang banyak ( biar aku nya semangat untuk nulis )


2) Kasih comen lah walau cuma nulis Next or lanjut ( aku nya udah seneng )


3) Jangan lupa itu pencet bintang dan kasih bintang 5 ( aku nya bersyukur banger ☺️ )


4) Jadiin novel BoS Yang Angkuh sebagai novel favorit kalian.


Kalau semua itu udah di lakukan, aku bakal lanjutin cerita ini, kasih semangat untuk Authornya dong..😘😘


Terimakasih,


😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2