Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 8..


__ADS_3

Mery saat ini sedang menyusui Ricart di dalam kamarnya. Ia usap dengan lembut pipi gembul Ricart. Sandy yang baru saja pulang dari kantor masuk ke dalam kamarnya. Pria itu meletakkan tas kerjanya di atas meja lalu berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa.


" Sayang, sini biar aku tidur kan Ricart. Kayaknya kamu capek banget." Ucap Sandy.


Sandy mengambil Ricart dari pangkuan Mery, lalu ia tidurkan di box bayi. Pria itu kembali menghampiri istrinya yang masih duduk di sofa.


" Apa kamu lagi ada masalah? aku lihat kamu kayak gelisah gitu." Tanya Sandy cemas lalu duduk disamping Mery.


" Nggak ada apa-apa kok Kak, Kak Sandy pasti capek. Lebih baik sekarang kak Sandy mandi dulu aja, biar aku siapkan makan malam." Ucap Mery sambil mengusap lembut pipi suaminya.


Sandy mengecup kening Mery lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Pria itu tau jika ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh istrinya. Sudah 6 tahun mereka menjalani bahtera rumah tangga, sudah 2 tahun pula mereka berpacaran. Pria itu kini bisa lebih mengenal sifat istrinya.


Mery adalah orang yang suka memendam masalahnya sendiri. Ia hanya akan membagi keluh kesahnya kepada Dona dan Meysa. Bukannya Mery tidak ingin terbuka dengan suaminya, tapi Mery tidak ingin membebani suaminya dengan segala masalahnya.


Mery menyiapkan makan malam untuk Sandy. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, pria itu keluar dari kamarnya menuju ruang makan. Pria itu menatap wajah istrinya yang terlihat sangat gelisah.


" Kalau kamu ada masalah, ceritakan sama aku. Aku akan membantu semua masalah kamu." Ucap Sandy sambil menggenggam tangan Mery.


" Beneran nggak ada apa-apa kak." Ucap Mery dengan menepiskan senyumannya. Mery menaruh makanan di depan Sandy.


" Jangan membohongiku, jika kamu masih menganggap aku sebagai suami kamu, ceritakan semua masalah kamu. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengetahui masalah kamu." Ucap Sandy.


Wanita itu menatap kedua mata indah suaminya. Ia ragu, apa Sandy akan benar-benar membantunya setelah mengetahui masalah yang ia hadapi saat ini. Mery mengambil nafas dan membuangnya perlahan. Ia akan mencoba membicarakan masalahnya kepada Sandy secara perlahan.


" Emm..gini kak, dua hari yang lalu Reni menelfon aku, dia meminta aku untuk menemaninya ke Bogor. Katanya Mama nya sedang sakit." Mery menatap raut wajah suaminya yang seketika berubah.


" Aku tau kak Sandy nggak akan pernah mengizinkan aku, makanya aku nggak bilang sama kak Sandy. Lagian aku juga udah bilang sama Reni kalau aku nggak bisa. Tapi kemarin dia menelfon aku lagi dan memohon-mohon sama aku, di Bogor Mama nya hanya tinggal sendirian, jadi Reni berniat ingin mengajak Mama nya untuk tinggal bersamanya di Jakarta." Sambung Mery lagi.


Sandy mengambil nafas dan membuangnya perlahan. Ia menggenggam tangan istrinya yang sudah menemaninya selama 6 tahun. Mery sudah menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang istri dan juga ibu. Mery juga tak pernah mengeluh saat suaminya bersikap protektif terhadapnya.


Mery tau sifat Sandy tidak akan pernah bisa berubah, sikap pencemburunya dan juga sikap protektifnya. Itu semua sudah seperti makanan sehari-hari untuk ibu dua anak itu. Tapi Mery tetap sabar menghadapi sifat pencemburu Sandy karena ia sangat mencintainya suaminya.

__ADS_1


" Sayang, aku akan mengizinkan kamu menemani teman kamu itu, tapi dengan satu syarat." Ucap Sandy.


" Apa itu Kak?"


" Aku ikut kamu ke Bogor, kalian kan wanita jadi harus ada seseorang yang menjaga kalian berdua." Ucap Sandy dengan senyuman di wajahnya.


Mery menganggukan kepalanya lalu ia peluk tubuh pria yang sangat dicintainya.


" Makasih Kak, aku sayang sama kak Sandy, tiap hari rasa sayang itu semakin kian bertambah." Ucap Mery lalu mencium kilas bibir suaminya.


Sandy mengusap lembut puncak kepala istrinya. Pria itu sangat bersyukur mempunyai istri yang sangat penyabar seperti Mery. Meski dulu Mery tidak sesabar seperti saat ini. Apa lagi saat mereka masih pacaran. Mery maunya menang sendiri, dia sama sekali tidak mau mengalah dan merasa dirinya paling benar, begitu juga dengan Sandy dia juga sama-sama egois dan mementingkan diri sendiri. Apalagi sifat pencemburunya yang sudah kelewat batas hingga membuat Mery geram.


" Aku juga sangat mencintai kamu sayang, aku bersyukur mempunyai istri yang sangat baik dan pengertian seperti kamu." Ucap Sandy lalu mengecup kening Mery.


Setelah selesai makan, Sandy dan Mery kembali kekamar. Mery merebahkan tubuhnya di samping tubuh mungil gadis kecilnya, begitu juga dengan Sandy.


»»»»»


" Ma, Mery titip Ricart dan Monic ya, Mery dan Kak Sandy mau ke Bogor untuk mengunjugi Mama nya teman Mery." Ucap Mery lalu memberikan Ricart kepada Mona.


" Kalian akan pulang jam berapa?" Tanya Meysa.


" Belum tau Ma, tapi kalau jalanan nggak macet dan semuanya berjalan lancar kita akan pulang lebih cepat." Ucap Mery lalu mengecup pipi gembul Ricart.


" Sebenarnya kalian ada urusan apa ke Bogor?" Tanya Dona lalu mengambil alih mengendong Ricart.


" Kalau bisa jangan terlalu lama pulangnya, kasian Ricart." Sambung Dona.


" Iya kak, kami akan usahakan untuk pulang cepat. Kami hanya ingin menemani Reni untuk menjemput Mama nya yang sedang sakit. Titip Ricart dan Monic ya kak, susunya sudah ada di lemari pendingin." Ucap Monic.


" Kami pergi dulu." Ucap Sandy lalu mencium tangan Mona dan Meysa. Begitu juga dengan Mery.

__ADS_1


Setelah berpamitan mereka berjalan keluar rumah. Frans yang baru saja pulang lari-lari pagi bersama kedua anaknya tidak sengaja berpapasan dengan Sandy dan Mery.


" Udah pada rapi, kalian mau kemana?" Tanya Frans.


" Ke Bogor kak." Ucap Sandy.


" Wah..nanti pulangnya jangan lupa bawain oleh-oleh ya." Ucap Frans sambil menepuk bahu Sandy.


" Evan juga mau Om." Seru Evan.


" Carlos juga." Ucap Carlos ikut-ikutan.


Sandy duduk berjongkok di depan Evan dan Carlos. Pria itu mengusap lembut puncak kepala kedua keponakan kesayangannya.


" Tenang saja, nanti akan Om bawain banyak oleh-oleh." Ucap Sandy.


" Kalau kamu pergi, terus bagaimana dengan perusahaan kamu?" Tanya Frans.


" Aku udah handle semuanya, aku juga udah memberitahu asisten pribadi aku untuk mengurus semuanya." Ucap Sandy.


" Ternyata kita nggak jauh beda," Ucap Frans dengan senyuman di wajahnya.


Sandy dan Mery masuk ke dalam mobil. Sedangkan Frans, Evan dan Carlos masuk ke dalam rumah.


" Kak, makasih ya kamu mau menemani aku dan membantu Reni." Ucap Mery sambil menatap suaminya yang sedang fokus menyetir.


" Apa sih yang enggak buat kamu sayang?" Ucap Sandy sambil melirik Mery lalu kembali menatap ke depan.


Kini mereka sudah sampai di depan rumah Reni. Mery melihat Reni sedang berbicara dengan seseorang yang tak asing untuknya, begitu pun dengan Sandy. Seketika raut wajah Sandy berubah.


" Kak, aku nggak tau kalau--"

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2