Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 47..


__ADS_3

Deo masuk kedalam kelas, dia menyapa sahabat-sahabatnya dengan senyuman di wajahnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Deo menghela nafas panjang lalu duduk disamping Carlos.


Evan, Carlos, Nena dan Clarisa merasa heran melihat sikap Deo yang terlihat begitu santai.


"Sebenarnya ada apa? kenapa ada kabar yang tidak mengenakan seperti ini?" Tanya Evan sambil menepuk bahu Deo.


Atas bujukan Clarisa, Evan sudah terlihat lebih tenang, dia mencoba menyikapi masalah sahabatnya ini dengan kepala dingin.


"Nggak ada apa-apa, itu semua hanya omong kosong, Sasa. Dia tidak mau aku putusin, jadi dia membuat ulah seperti ini." Sahut Deo dengan santainya.


"Tapi ini bukan masalah yang sepele, kamu aja sampai di panggil pak kepala sekolah. Papa kamu juga sampai datang ke sekolah ini." Ucap Carlos.


"Betul kata Carlos, kalau sampai kamu dikeluarkan dari sekolah bagaimana?" Clarisa ikut berkomentar.


"Kalian tenang aja, masalah ini sudah beres, Papa aku udah membereskan semuanya, aku juga nggak bakalan dikeluarin dari sekolah." Ucap Deo.


Evan masih merasa penasaran dengan kabar burung yang menyebar di lingkungan sekolahnya, yang membuat sahabatnya menjadi bahan perbincangan hangat di sekolahnya.


Evan tidak habis pikir, kenapa sahabatnya ini menanggapinya dengan begitu santainya, padahal dirinya sudah seakan naik darah mendengar berita itu.


Sasa masuk kedalam kelas dengan kedua mata yang sembab, dia menatap Deo dengan kedua mata sendunya. Dia mengabaikan yang lain, yang kini juga tengah menatapnya.


Nena menyengol lengan Clarisa.


"Aku kasian melihat, Sasa. Masa, Sasa berani berbohong hanya karena tidak ingin diputusin oleh Deo?" Bisik Nena pelan.


"Kita nggak tau apa yang sebenarnya terjadi, aku udah lama curiga sama Sasa, dia seperti sedang merahasiakan sesuatu tentang kehidupannya." Bisik Clarisa pelan.


Evan dan Carlos menengok kearah Nena dan Clarisa yang sedang berbisik-bisik dibelakang mereka.


"Kalian lagi pada ngomongin apa sih, pakai acara bisik-bisik tetangga segala." Ucap Evan mengejutkan Clarisa dan Nena.


"Emm..bukan apa-apa kok." Ucap Clarisa sambil menyengir kuda.


Sasa mengambil tas lalu keluar dari dalam kelas. Dia terus berjalan tanpa menatap Deo maupun yang lainnya.


Deo beranjak dari duduknya, dia hendak pulang ke rumahnya.


"Aku pulang duluan ya, maaf hari ini aku pulang duluan." Pamit Deo sama teman-temannya.


"Kamu beneran nggak apa-apa?" Tanya Evan cemas.


Deo menganggukan kepalanya sambil menepiskan senyumannya. Deo berjalan keluar dari kelas, ternyata dia sudah ditunggu oleh pengawal Papa nya Deo.


"Kan aku udah bilang, tunggu aku di mobil!" Seru Deo kesal.


"Maaf tuan, ini semua kemauan Bos dan saya tidak bisa membantah." Ucap pengawal itu sambil menundukan kepalanya.


Deo terus mengerutu dan melangkahkan kakinya melewati lorong demi lorong, semua anak satu sekolah pasti sudah tau desas desus tentang masalah yang sedang menimpa Deo.


Belum ada 3 jam, tapi kabar itu sudah menyebar hingga satu sekolah. Deo menghela nafas berat.

__ADS_1


"Apa sebegitu burukkah citra aku didepan mereka semua? aku memang brengsek tapi aku nggak pernah melecehkan cewek, justru mereka yang dengan senang hati naik keatas ranjang aku, tentu dengan imbalan yang mereka inginkan. Justru dalam kasus ini aku lah yang diperalat untuk memenuhi kemauan mereka," Deo menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi penumpang.


"Sa, kenapa kamu tega menfitnah aku seperti ini? apa karena aku nggak bisa menuruti permintaan kamu, hingga kamu tega melakukan semua ini sama aku? Brengsek!" Teriak Deo keras.


Pria yang mendampingi Deo hanya menggelengkan kepalanya melihat tuan mudanya sefrustasi ini. Sebenarnya dia juga merasa iba, tapi Deo sekali-kali harus dikasih pelajaran. Papa nya menyuruh Deo untuk tinggal dirumah sementara waktu dan tidak boleh pergi kemana-mana. Bahkan gerak-geriknya diawasi selama 24 jam, sudah seperti tahanan rumah.


Deo merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Dia menginggat kembali kejadian saat dirinya membawa Sasa kerumahnya.


[ Flash back ]


Setelah selesai makan, Deo dan Sasa keluar dari restoran. Deo berniat mengajak Sasa ke rumahnya, karena selama mereka pacaran, Deo tidak pernah mengajak Sasa kerumahnya.


"Mampir kerumah aku dulu ya, nanti aku akan mengantar kamu pulang, sekalian aku ingin tau rumah kamu."


"Kenapa kamu ingin tau rumah aku? aku malu kalau kamu datang kerumah aku yang jelek, jadi kamu nggak usah mengantar aku pulang." Tolak Sasa.


"Memangnya rumah kamu sejelek apa sih, hingga kamu harus malu?" Tanya Deo penasaran.


Sasa menundukan kepalanya.


"Ya udah kalau nggak mau, sekarang ke rumah aku dulu, mau kan?" Tanya Deo sambil mendongakan wajah Sasa.


Sasa menganggukan kepalanya. Deo melajukan mobilnya meninggalkan restoran. Dalam perjalanan Sasa selalu menatap keluar jendela. Deo begitu sangat penasaran melihat tingkah Sasa yang dia rasa sangat berbeda. Sasa memang gadis yang pendiam dan tidak banyak bicara, tapi sejak dirinya mengenal Deo, dia menjadi gadis yang ceria dan juga cerewet.


Sasa hanya menunjukan sisi nya ini hanya didepan Deo, hanya Sasa yang paling lama menjadi pacar Deo. Biasanya Deo pacaran hanya dalam hitungan minggu, dan paling lama 1 bulan. Tapi dengan Sasa, Deo merasa ada yang berbeda, bahkan Deo tidak pernah menyentuh Sasa, jika Sasa tidak menginginkannya.


Selama berhubungan dengan Sasa, Deo sedikit berubah, dia sudah tidak lagi menanggapi para cewek-cewek yang menggodanya. Itu Deo lakukan hanya demi menjaga perasaan Sasa.


Sasa terkagum-kagum melihat kemewahan rumah Deo, ruang tamunya aja 2 kali lipat besarnya dari rumahnya.


"Kamu duduk disini dulu, aku akan suruh bibik untuk membuatkan kamu minuman."


Sasa hanya menganggukan kepalanya. Deo berjalan menuju dapur.


"Bik, tolong buatkan 2 jus jeruk, langsung bawa kedepan ya." Pinta Deo.


"Baik den."


Deo berjalan meninggalkan dapur dan menaiki tangga, dia mengambil sesuatu dari laci lemarinya.


"Sasa pasti menyukainya." Ucapnya sambil menatap benda ditangannya.


Sasa mengeksplor setiap sudut ruangan, dia terkagum-kagum melihat betapa indah dan mewahnya ruang itu.


"Aku nggak menyangka Deo akan sekaya ini, pantas saja banyak cewek-cewek yang mengantri ingin menjadi pacarnya. Tapi kenapa Deo malah tertarik sama cewek miskin seperti aku ini ya?"


Seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah asisten rumah tangga keluarga Deo, berjalan menuju ruang tamu sambil membawa nampan yang berisi minuman dan camilan.


"Silahkan di minum, Non." Ucap bibik sambil menaruh minuman dan makanan diatas meja.


"Makasih bik." Ucap Sasa dengan senyuman diwajahnya.


"Non cantik." Puji bibik.

__ADS_1


"Bibik bisa aja, emmm..bik, saya boleh bertanya sesuatu nggak?" Tanya Sasa ragu-ragu.


"Non, mau bertanya apa?"


"Apa Deo sering mengajak ceweknya pulang kerumah?"


Wanita paruh baya itu binggung harus menjawab apa, dia sudah disumpah oleh majikannya untuk tidak menceritakan soal kehidupan majikannya dengan orang luar.


"Bibik tidak tau Non, maaf bibik harus kembali kebelakang." Ucap bibik sambil membungkukan badannya lalu melangkah pergi.


"Aneh, apa kata-kata aku ada yang salah ya?" Ucap Sasa sambil menatap wanita paru baya itu pergi.


Sasa mendengar ponselnya berbunyi, dia mengambil ponselnya dari dalam tas. Dia melihat siapa yang menelfonnya.


"Mama!"


Sasa ragu untuk menjawab telfon itu, tapi akhirnya Sasa menjawab telfon itu.


"Ya, Ma." Sahut Sasa.


"Kamu dimana?"


" Dirumah Deo." Sahut Sasa pelan.


"Pacar yang kamu ceritakan sama adik kamu itu?"


"Hemm."


"Bagus, sekarang kamu lakukan apa yang Mama suruh semalam."


"Tapi Ma, Sasa nggak bisa melakukan itu." Tolak Sasa.


"Mama nggak mau tau, percuma kamu punya cowok kaya tapi tidak kamu manfaatin."


"Tapi Ma--"


"Mama nggak mau tau apa alasan kamu, Mama akan tunggu hasilnya, kalau sampai kamu gagal, kamu akan tau akibatnya." Ancam Mama Sasa lalu mematikan telfon.


"Ma..Mama!" Seru Sasa.


Sasa menghela nafas berat.


"Apa yang harus aku lakukan?"


Sasa terlihat sangat frustasi. Deo berjalan menuruni tangga, dia melihat Sasa yang terlihat murung.


"Ada apa Sa? apa kamu sedang ada masalah?" Tanya Deo sambil duduk disamping Sasa.


Sasa menatap wajah Deo.


"Apa aku harus melakukannya ya, kalau sampai aku nggak membawa apa yang Mama mau, bisa-bisa Mama akan menghajar aku lagi." Guman Sasa dalam hati.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2