
Evan dan Carlos hanya diam membisu saat Deo menghampiri mereka. Mereka bersikap tidak seperti biasanya yang selalu berisik dan bercanda tawa saat Deo mulai bergabung dengan mereka.
" Kalian pada kenapa sih? aku ada salah sama kalian?" Deo memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman.
Carlos dan Evan tetap diam dan tidak mengubris ucapan Deo, mereka masih asyik menyantap makanan yang ada dihadapan mereka.
" Van, kamu yang biasanya cerewet kenapa diemin aku kayak gini."
" Kamu nggak liat aku lagi makan." Evan memasukan satu sendok penuh makanan kemulutnya.
" Ya setidaknya kalian jangan diemin aku kayak gini dong. Memangnya aku punya salah apa sama kalian?" Deo semakin penasaran dengan sikap kedua sahabatnya ini.
" Kamu pikir aja sendiri." Celetuk Carlos.
" Maksudnya? Gimana aku bisa mikir coba, sedangkan aku merasa nggak ada salah sama kalian."
Evan dan Carlos saling menatap,
" Benar juga kata Deo, memang dia nggak ada salah sama aku dan Evan." Pikir Carlos dalam hati.
" Udahlah, kita yang salah."
Evan menatap Carlos dengan tatapan tajam, dia tidak menyangka Carlos akan mengucapkan kata-kata itu.
" Tapi aku juga merasa kalian nggak ada salah sama aku." Ucap Deo semakin dibuat binggung. Evan memberi acungan jempol kepada Deo.
Clarisa hendak pergi ke kantin, tapi tiba-tiba ada yang memanggilnya.
" Sa..tunggu!"
Clarisa menghentikan langkahnya.
" Ada apa?"
Ternyata yang memanggil Clarisa adalah Karin si gadis cupu.
" Kamu mau menemui Most wanted kan?" Clarisa menganggukan kepalanya.
" Emmm..apa kamu juga dekat dengan Deo?"
" Dekat sih nggak, tapi kita temenan, ada apaan sih?" Tanya Clarisa penasaran.
" Emmm..itu..aku...aku...
Karin binggung ingin mengatakan isi hatinya.
" Kalau nggak ada yang penting aku pergi dulu."
" Tunggu!" Karin menarik tangan Clarisa.
" Tolong sampaikan salam aku untuk Deo ya." Ucap Karin pelan.
Clarisa membulatkan kedua matanya.
" Kamu! Kamu suka sama Deo!" Seru Clarisa.
__ADS_1
" Sttt..." Karin menutup mulut Clarisa dengan jari telunjuknya.
" Jangan keras-keras, nanti ada orang denger, aku kan malu." Wajah Karin seketika berubah memerah.
" Kalau kamu suka kenapa harus malu, tapi apa kamu nggak salah mencintai ni?"
" Maksud kamu apa?" Karin mengeryitkan dahinya.
" Kamu pasti sudah tau dong siapa itu Deo, dia itu playboy kelas kakap. Kamu nggak tau itu siswa jurusan IPS, diputusin sama Deo setelah dia tiduri." Karin menggelengkan kepalanya.
" Itu bukan salah Deo, dasar ceweknya aja yang kegatelan. Makanya Deo mutusin dia." Karin mencoba untuk membela Deo.
" Terserah kamu lah, nanti aku sampaikan sama Deo, kalau gitu aku pergi dulu."
Clarisa pergi meninggalkan Karin yang tengah senyum-senyum sendiri.
" Dasar gila, udah tau Deo sebrengsek itu tapi masih juga menyukainya."
Clarisa berjalan menghampiri Evan, Carlos dan Deo. Dia duduk disamping Evan, dia mengambil minuman Evan lalu meneguknya.
" Wah ciuman secara tidak langsung itu." Goda Deo.
Uhuukk...uhuukk..
Clarisa yang mendengar ucapan Deo tiba-tiba tersedak minumannya. Evan menepuk-nepuk punggung Clarisa.
" Emm..kamu nggak apa-apa?" Tanya Evan yang juga kelihatan gelapan saat mendengar ucapan Deo. Clarisa menganggukan kepalanya.
" Kamu kenapa Sa? aku kan cuma bercanda."
" Maafin ya.." Deo mengatupkan kedua tangannya. Clarisa menganggukan kepalanya.
" Kamu dapat salam dari Karin." Ucap Clarisa sambil mengusap mulutnya dengan tisu.
" Wa'alaikum salam." Sahut Carlos.
" Bukan kamu, tapi Deo."
" What! jangan bercanda kamu!" Seru Deo terkejut. Clarisa menggelengkan kepalanya.
Evan dan Carlos menyoraki Deo dengan ucapan selamat. Deo mengerutu kesal sambil mengepalkan tangannya.
" Bisa pada diem nggak!" Bentak Deo emosi.
" Cie..sang Badboy marah nie ye.." Goda Carlos. Deo menatap tajam kearah Carlos.
" Udah terima aja, kasihan si Karin, dia sudah suka sama kamu sejak pertama kali melihat kamu." Evan menyengir kuda memperlihatkan deretan gigi putihnya.
" Cih...aku sama itu anak cupu! Mendingan aku nggak punya pacar seumur hidup." Hina Deo.
Clarisa tidak menyukai cara Deo menanggapi niat baik Karin.
" Deo, seharusnya kamu bersyukur ada gadis baik seperti Karin yang mau mencintai kamu dengan tulus. Dia mau menerima pria brengsek seperti kamu!" Seru Clarisa yang sudah tersulut emosi.
Evan mencoba menenangkan Clarisa. Dia tau sahabatnya ini sedang emosi karena teman sekelasnya telah dihina oleh Deo.
__ADS_1
" Aku memang brengsek, tapi aku juga pilih-pilih dalam mencari pacar. Semua cewek akan bertekuk lutut dihadapan aku, jadi aku nggak perlu susah-susah mencari. Aku tinggal tunjuk siapa yang akan jadi pacar aku." Ucap Deo dengan sombongnya.
" Sombong kamu!" Seru Clarisa sambil beranjak pergi menjauh.
Evan berdiri mengejar Clarisa. Dia terus berteriak memanggil-manggil nama Clarisa, tapi Clarisa tidak mengubris teriakan Evan dan terus melangkah pergi. Evan menarik tangan Clarisa.
" Kamu ini kenapa sih? bukannya kamu udah tau sifat Deo, tapi kenapa kamu masih tersulut emosi."
" Aku nggak suka Van, cara Deo merendahkan Karin."
" Tapi kan itu juga hak Deo untuk menolak pernyataan cinta Karin. Kamu juga nggak bisa memaksa Deo untuk menerima cinta Karin."
" Aku tau, tapi dia nggak seharusnya menghina Karin seperti itu. Cukup bilang Sampaikan pada Karin kita temanan aja.. apa susahnya sih." Clarisa mengerucutkan bibirnya.
" Jangan manyun kayak gitu dong, jadi pengen aku cium itu bibir." Goda Evan dengan senyuman diwajahnya.
Clarisa langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia melangkahkan kakinya kebelakang. Evan tersenyum melihat tingkah Clarisa.
" Kamu kenapa? Segitu takutnya aku cium. Bukannya kamu yang nyosor nyium aku duluan." Sindir Evan.
" Itu kan..aku--"
Evan merangkul pundak Clarisa dan mengajaknya ke parkiran. Evan menyuruh Clarisa masuk kedalam mobil.
" Mau ngapian kita disini Van?" Tanya Clarisa penasaran.
" Mau kencan." Evan mengedipkan salah satu matanya.
" Jangan bercanda kamu Van, aku nggak suka, ini nggak lucu."
Saat ini jantung Clarisa berdetak tidak karuan, nafasnya seakan sesak.
" Seharusnya aku yang bilang kayak gitu sama kamu, jangan bercanda Sa. Kenapa kamu mencium aku waktu itu? apa benar kata Carlos kalau kamu mempunyai perasaan ke aku?" Evan menatap tajam kearah Clarisa.
Clarisa menelan salivanya saat kedua mata Evan menatapnya dengan tajam. Dia binggung harus memberi penjelasan seperti apa kepada Evan.
" Kok diem, kamu nggak bisa jawab atau dugaan Carlos itu benar." Clarisa hanya bisa menggelengkan kepalanya.
" Aku butuh penjelasan bukan gelengan kepala kamu." Evan menyandarkan tubuhnya kepunggung kursi pengemudi.
" Sa, kita udah sahabatan selama 4 tahun, aku nggak mau persahabatan kita hancur hanya gara-gara salah satu diantara kita saling menaruh hati. Kamu tau kan selama ini aku hanya menganggap kamu sebagai sahabat aku. Apa lagi keluarga kita berhubungan baik, aku nggak mau kehilangan sahabat sebaik kamu." Evan menghela nafas panjang.
Clarisa meninju lengan Evan.
" Aww..sakit tau, kamu apa-apaan sih!" Seru Evan sambil menahan sakit dilengannya.
" Kamu yang apa-apaan, bisa-bisanya kamu mikir kayak gitu. Mana mungkin aku jatuh cinta sama playboy seperti kamu. Aku melakukan itu agar Tino percaya kalau kita itu pacaran. Jadi nggak usah GR ya."
Clarisa mencoba untuk mengelak. Dia tidak ingin Evan tau tentang perasaannya selama ini. Dia juga tidak ingin kehilangan sahabat sebaik Evan.
" Kamu nggak lagi bercandakan!" Clarisa menggelengkan kepalanya.
Evan menarik Clarisa kedalam pelukannya. Dia senang dugaan Carlos ternyata salah.
" Maafin aku Van, karena aku udah jatuh cinta sama kamu. Aku udah berusaha untuk menghilangkan perasaan ini tapi tetap tidak bisa. Tapi aku janji Van, perasaan ini akan aku simpan rapat-rapat. Cukup aku aja yang mencintaimu, kamu nggak perlu membalas cinta aku." Guman Clarisa dalam hati.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐