
Clarisa masih merasa sangat kesal. Dia menarik kursi lalu mendudukan tubuhnya. Dia melipat kedua lengannya ke meja dan menenggelamkan wajahnya. Clarisa menghela nafas panjang.
"Kenapa aku bisa semarah ini? apa karena aku juga mencintai playboy seperti Evan yang tak jauh beda dengan Deo? tapi Evan nggak seperti Deo, dia tidak pernah mempermainkan wanita hanya demi kepuasannya sendiri." Gumannya dalam hati.
Karin masuk kedalam kelas, dia berjalan menghampiri Clarisa.
"Hai Sa." Sapa Karin menepuk bahu Clarisa.
Clarisa mendongankan wajahnya menatap Karin yang kini duduk disamping.
"Kamu udah menyampaikan salam aku kepada Deo?"
Clarisa kembali menenggelamkan wajahnya kemeja.
Karin mengeryitkan dahinya, dia binggung dengan sikap Clarisa yang hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
"Sa--"
"Jangan pernah mengharapkan cowok brengsek seperti Deo!" Seru Clarisa tanpa mendongakan wajahnya.
"Kenapa?"
"Dia nggak seperti yang kamu bayangkan."
"Maksud kamu apa? aku nggak mengerti ucapan kamu?"
Clarisa mendongakan wajahnya, dia membenarkan posisi duduknya menghadap Karin.
"Aku hanya nggak ingin kamu sakit hati, lebih baik kamu buang jauh-jauh perasaan kamu itu. Deo nggak akan pernah membalas perasaan kamu, lebih baik kamu menyerah dari sekarang."
Karin menggelengkan kepalanya, dia tidak percaya dengan ucapan Clarisa. Karin sudah bertekad akan tetap mencintai Deo meski Deo tidak pernah akan membalas perasaannya.
"Rin, Deo itu nggak pantas untuk kamu cintai, lebih baik membuang jauh-jauh perasaan kamu itu. Deo itu brengsek, dia bahkan sudah meniduri banyak wanita. Setelah merasa puas, dia langsung meninggalkannya."
"Aku nggak percaya, Deo memang playboy dan suka bergonta-ganti pasangan, tapi dia nggak mungkin sampai sebrengsek itu!" Seru Karin.
Clarisa menghela nafas kasar, dia tidak tau harus bagaimana lagi menasehati sahabatnya ini. Walau dia tidak terlalu dekat dengan Karin, tapi dia masih mempunyai rasa kepedulian terhadap Karin.
"Terserah kamu Rin, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk memperingatkan kamu," Clarisa menepuk bahu Karin, "kamu ingin tau apa tanggapan Deo setelah aku menyampaikan salam kamu?"
__ADS_1
Karin menganggukan kepalanya.
"Dia bilang, dia tidak sudi mempunyai cewek seperti kamu. Dia bahkan mengatakan, dia bisa memilih gadis manapun untuk dia jadikan pacar. Deo itu sudah memandang rendah kamu, aku aja yang mendengarnya merasa sangat emosi, tapi kamu--," Clarisa menghela nafas panjang, "dengan bodohnya kamu masih membela dan mencintainya, kalau aku jadi kamu, aku nggak sudi memberikan cinta aku untuk cowok brengsek seperti Deo."
Clarisa mengambil tas dari atas meja lalu berdiri dan melangkahkan kakinya meninggalkan Karin yang masih diam mematung.
"Sa, aku percaya Deo bisa berubah, aku akan tetap mencintainya mesti dia sudah menghinaku seperti itu!" Teriak Karin.
"Terserah!" Teriak Clarisa keras.
Evan sudah menunggu Clarisa di parkiran.
"Katanya cuma mau mengambil tas, kenapa lama banget, ngapain aja sih Clarisa!" Gerutu Evan sambil melipat kedua lengannya didada.
Evan menyandarkan tubuhnya ke badan mobilnya sambil melihat sekeliling parkiran.
"Maaf lama." Clarisa mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Ngapain aja sih kamu!" Seru Evan kesal.
"Karin..aku..habis bicara sama Karin." Nafasnya masih terengah-engah.
"Kamu nggak usah ikut campur urusan orang lain, cepetan masuk, aku udah lapar tau."
"Carlos kemana?"
"Dia pergi sama Deo, nggak tau kemana."
Evan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran.
Karin keluar dari kelas dengan muka ditekuk.
"Benarkah Deo seperti itu? aku tau dia memang playboy, tapi mana mungkin dia meninggalkan ceweknya setelah ia tiduri."
Karin menghela nafas panjang. Dia masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran.
Karin mencintai Deo sejak pertama kali masuk kesekolah itu. Dia sengaja mengambil jurusan yang sama seperti Deo agar bisa satu kelas dengan Deo.
Karin memang sudah mendengar dari teman-teman sekelasnya tentang sepak terjang seorang anggota Most Wanted yang bernama Deo. Sifatnya yang playboy, semua anak satu sekolah tau itu. Tapi entah mengapa Karin seakan menutup mata.
__ADS_1
Karin ingin mendengar itu semua dari mulut Deo sendiri. Dia pergi ke tempat biasa Most Wanted menghabiskan waktu mereka sepulang sekolah. Diam-diam Karin selalu mengamati kemana saja Most Wanted pergi.
Kini Karin berdiri disebuah cafe, dia masuk kedalam cafe dan mencari keberadaan Deo.
Carlos yang sedang asyik memainkan ponselnya melihat Karin masuk kedalam cafe.
"Ngapain Karin kesini? apa dia ingin menemui Deo? wah bisa gawat ini, Deo kan sedang emosi gara-gara Karin." Guman Carlos dalam hati.
Karin melihat kearah Carlos yang juga tengah menatapnya. Dia memberanikan diri untuk menemui Carlos dan Deo.
Carlos menarik-narik lengan Deo.
"Apaan sih!" Seru Deo.
Carlos menunjuk kearah Karin yang tengah berjalan kearah mereka.
"Ngapain itu cewek cupu kemari!" Seru Deo emosi.
Karin kini berdiri didepan Deo, dia memberanikan diri untuk menatap kedua mata Deo.
"Mau apa kamu kemari! apa Clarisa belum memberitahu kamu semuanya?" Tanya Deo sambil melipat kedua lengannya didada.
Carlos hanya bisa berharap tidak akan terjadi perang dunia didepan matanya.
"Clarisa sudah memberitahu aku semuanya, tapi aku ingin mendengarnya langsung dari kamu." Ucap Karin pelan.
Karin tidak tau kenapa setelah bertatap langsung dengan Deo, keberaniannya mulai menciut.
"Apa yang ingin kamu dengar dari aku?" Deo memiringkan senyuman sinisnya.
"K--kenapa kamu menolakku." Karin menundukan kepalanya.
Deo tertawa terbahak-bahak, seakan-akan pertanyaan Karin adalah sebuah lelucon. Tubuh Karin gemetar, keluar keringat dingin dari kedua tangan dan juga keningnya.
"Apa kamu nggak ngaca sebelum kamu menanyakan itu sama aku? setelah kamu ngaca, kamu akan tau kenapa aku menolakmu," Deo berjalan mendekati Karin lalu mendongakan wajahnya."lihatlah wajahmu, bagaimana kamu bisa berfikiran untuk menjadi pacar aku, sedangkan begitu banyak gadis cantik yang sudah mengantri ingin menjadi pacar aku. Mana mungkin aku akan melirik kamu sedangkan disekelilingku begitu banyak gadis cantik."
Air mata Karin luluh lantah, mengalir deras membasahi kedua pipinya. Carlos hanya diam melihat Karin dipermalukan oleh Deo, dia tidak mau ikut campur urusan Deo.
Karin memang tidak begitu mengenal Carlos dan Evan, walau dia satu kelas tapi yang Karin perhatikan hanya Deo. Dengan berderai air mata, Karin keluar dari cafe, hatinya benar-benar hancur mendengar semua kata-kata yang Deo ucapkan.
__ADS_1
Dia menyesali kenekatannya untuk menemui Deo secara langsung. Padahal dia tau, Deo bahkan tak pernah menatapnya saat mereka tidak sengaja berpapasan.
⭐⭐⭐⭐