Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Kegelisahan


__ADS_3

"Siapa Frans?" Tanya Marcel penasaran.


"Dona."


"Apa ada masalah?"


Frans menggelengkan kepalanya.


"Tadi siang waktu datang ke kantor masih baik-baik aja, tapi tadi kok nada bicaranya kayak marah gitu ya, apa dia lagi PMS ya jadi mudah emosi?" Ucap Frans binggung.


"Ya mana aku tau, seharusnya kan kamu yang lebih tau." Ucap Marcel sambil menaikan kedua bahunya.


"Kenapa aku jadi nggak tenang gini ya, gimana aku bisa fokus kalau seperti ini." Ucap Frans sambil menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi.


"Kita cepat selesaiin ini dulu, habis itu kamu langsung pulang."


Frans menganggukan kepalanya. Frans mulai membicarakan pokok permasalahan dan apa yang harus dilakukan dalam kerja sama mereka.


"Bagaimana, kamu setuju sama ide aku?" Tanya Frans setelah mengakhiri penjelasannya.


"Ok, aku setuju, ide kamu ok juga, semoga semuanya bisa berjalan lancar."


"Ya udah, kalau gitu aku pulang duluan." Ucap Frans lalu berdiri lalu berjalan meninggalkan Marcel.


"Hati-hati pulangnya, jangan ngebut, ingat istrimu lagi menunggu dirumah." Seru Marcel


"Siap." Teriak Frans.


Frans keluar dari restauran dan berjalan menuju mobilnya, lalu melajukan mobilnya meninggalkan restoran. Setelah menempuh perjalanan selama dua jam ,akhirnya Frans sampai dirumah. Frans bergegas menuju kamarnya, dia membuka pintu kamar secara perlahan dan masuk kedalam kamar.


Frans melihat Dona sudah terlelap, dia bisa melihat ada sisa airmata dipipi Dona yang mulai mengering.


"Apa Dona tadi habis menangis? sebenarnya ada apa dengannya? apa aku melakukan kesalahan?" Guman Frans dalam hati.


Frans berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai mandi dia keluar dari kamar mandi. Dia berjalan menuju ranjang dan duduk di tepi ranjang.


"Sayang ada apa? apa kamu habis menangis?" Tanya Frans sambil mencium kening Dona.


Dona membuka kedua matanya secara perlahan, dia mengerjapkan kedua matanya sekali.


"Emmmm, kamu udah pulang."


Dona bangun dari tidurnya lalu duduk ditepi ranjang.


"Sayang kamu kenapa? kalau aku ada salah aku minta maaf." Ucap Frans sambil menggenggam tangan Dona.

__ADS_1


"Kamu nggak ada salah, mungkin aku nya aja yang kelewat khawatir."


"Memangnya kamu mengkhawatirkan apa? cerita sama aku."


"Emm, tapi kamu jangan marah ya." Ucap Dona sambil menundukan wajahnya.


"Mana mungkin aku bisa marah sama istri aku yang cantik ini." Ucap Frans sambil mencubit hidung mancung Dona.


"Emm, ini soal calon sektetaris kamu yang baru." Ucap Dona pelan.


"Terus, apa hubungannya itu sama kekhawatiran kamu?" Tanya Frans penasaran.


"Aku takutnya nanti Marcel mencarikan kamu sekretaris yang cantik dan sexy, aku juga takut kamu akan tergoda sama sekretaris baru kamu dan kamu akan meninggalkan aku." Ucap Dona tanpa sadar air mata menetes dikedua pipi Dona.


"Sayang, kok kamu bisa mikir kayak gitu, mana mungkin aku melakukan itu sayang." Ucap Frans sambil menghapus air mata Dona.


"Tapi aku takut, godaan itu pasti ada." Ucap Dona disela tangisannya.


"Sayang, lihat aku." Ucap Frans sambil memegang kedua pundak Dona.


"Percaya sama aku, aku nggak akan mengkhianati kamu, karena kamu adalah cinta pertama dan terakhir buat aku."


"Tapi...tapi..aku takut."


"Emmm...emmm...tadi Mama melihat sinetron di tv dan ceritanya persis seperti yang aku alami saat ini." Sahut Dona pelan.


"Maksudnya gimana, aku kurang paham." Ucap Frans yang masih binggung.


"Disinetron itu menceritakan seorang sekretaris yang menikah dengan bos nya terus si bos itu mencari sekretaris baru, dan si bos itu selingkuh dengan sekretaris barunya." Jelas Dona.


Frans malah tersenyum mendengar jawaban Dona.


"Sayang, masa kamu percaya sama cerita dalam sinetron, itu kan nggak nyata sayang." Ucap Frans sambil menahan tawanya.


"Tapi kan aku takut, pokoknya aku nggak suka kamu punya sekretaris yang cantiknya diatas aku, aku mau kamu mencari sekretaris yang jelek." Titah Dona sambil cemberut.


"Kamu ini ya ada-ada aja, aku kirain kamu marah karena apa, eee...ternyata hanya gara-gara sinetron," Frans lalu tertawa.


"Kalau gitu kamu aja yang mencarikan aku sekretaris baru, kamu mau mencalonkan siapa?"


"Apa kamu setuju dengan pilihan aku?"


"Kalau masuk dalam kwalifikasi sih bisa aja."


"Aku ingin yang menjadi sekretaris kamu tetap Tari, dengan begitu aku nggak akan cemburu lagi." Usul Dona dengan senyuman diwajahnya.

__ADS_1


"Atas dasar apa kamu memilih Tari?" Tanya Frans sambil mengeryitkan dahinya.


"Ya, karena dia pintar, kompeten dan dia juga sahabat aku, jadi aku percaya sama dia."


"Kalau aku nggak setuju gimana?" Tanya Frans sambil melipat kedua lengannya di dada.


"Ya udah terserah kamu aja." Ucap Dona lalu merebahkan tubuhnya.


"Tu kan ngambek lagi." Ucap Frans lalu menghela nafas dengan kasar.


"Aku nggak ngambek." Elak Dona dengan bibir yang cemberut.


"Aku cuma bercanda sayang, sebenarnya aku juga puas dengan kinerja Tari selama menggantikan kamu, walau nggak sepintar kamu, tapi dia sudah cukup masuk kriteria untuk jadi sekretaris aku."


"Jadi kamu setuju kan sayang?" Tanya Dona lalu bangun dan duduk disamping Frans.


Frans menganggukan kepalanya.


"Makasih ya sayang." Ucap Dona lalu memeluk tubuh Frans.


"Kamu sudah nggak marah lagi kan." Frans menyentuh pipi Dona.


"Siapa yang marah, aku nggak marah kok." Ucap Dona pelan.


"Kamu ini ya, bikin aku khawatir tau, aku sampai buru-buru menyelesaikan pekerjaan aku demi ketemu sama kamu, eee...tau nya cuma masalah sinetron." Ucap Frans sambil mencubit pipi Dona.


"Maaf." Ucap Dona sambil memanyunkan bibirnya.


"Aku harus menghukum kamu." Ucap Frans sambil melipat kedua lengannya didada.


"Kamu mau menghukum aku apa? jangan yang berat-berat ya." Ucap Dona dengan menyengir kuda memperlihatkan deretan giginya yang putih.


"Nggak akan, hukuman kamu adalah kamu harus menuruti semua keinginan aku."


" Apa! tapi kamu jangan minta yang aneh-aneh ya."


"Ya itu resiko kamu." Ucap Frans sambil menjitak kening Dona.


Dona mengeryitkan dahi sambil menahan sakit dikeningnya.


"Terus apa yang kamu inginkan?" Tanya Dona sambil mengerucutkan bibirnya.


"Aku menginginkan kamu malam ini." Sahut Frans dengan senyuman di wajahnya.


🌟🌟🌟🌟

__ADS_1


__ADS_2