Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Sakit hati ( Sandy )


__ADS_3

Sandy berjalan masuk dan menghampiri Mona dan Frans.


" Sandy, sini sayang duduk dekat Mama." Ajak Mona. Sandy langsung duduk di samping Mona.


" Sayang, Mama ingin kamu dan Frans berbaikan, Mama nggak ingin anak-anak Mama saling bermusuhan." Ucap Mona.


" Mama nggak usah khawatir, Sandy dan Frans nggak bermusuhan kok Ma, ini cuma salah paham." Ucap Sandy. Sandy berdiri dan mendekati Frans.


" Frans, aku minta maaf jika kedatanganku kesini sudah membuatmu kesal, aku kesini nggak ada niat apa-apa terhadap Dona, aku kesini hanya untuk mengantar Mama untuk bertemu denganmu, kamu nggak usah khawatir. Aku sudah ikhlas melepaskan Dona, mungkin Dona memang bukan jodohku." Ucap Sandy.


" Apa aku bisa memegang kata katamu?" Tanya Frans.


Dia masih tidak bisa mempercayai kata-kata Sandy karena, dia tahu Sandy masih sangat mencintai Dona.


" Tentu saja, lagian hubungan aku sama Dona sudah berlalu, itu semua hanya masa lalu." Ucap Sandy.


Frans mencoba untuk mempercayai kata-kata Sandy.


Sandy memeluk Frans dan Frans membalas pelukan Sandy. Mona tersenyum melihat kedua anaknya bisa akur.


" Nah gitu dong, Mama senang melihat kalian berdua bisa akur, walau kalian bukan saudara kandung tapi kalian berdua adalah anak-anak Mama." Ucap Mona.


Sandy memeluk erat tubuh Frans dan berbisik.


" Aku memang melepaskan Dona, tapi jika sampai kamu menyakiti Dona, maka aku nggak akan segan-segan untuk merebutnya kembali." Bisik Sandy ditelinga Frans.


Sandy melepaskan pelukannya. Dia manatap wajah Frans yang terdiam membeku setelah mendengar kata-katanya. Sandy menyunggingkan senyuman.


" Mulai hari ini aku akan memanggilmu kakak." Sambung Sandy sambil merangkul Frans.


Frans membalas rangkulan Sandy dan meremas pundak Sandy.


" Tentu saja adikku." Ucap Frans sambil menatap tajam Sandy.


Dona dan Meysa berjalan menuju ruang tamu sambil membawa minuman dan camilan.


" Akhirnya kalian akur juga." Ucap Dona sambil meletakan minuman diatas meja.


Frans dan Sandy langsung melepaskan tangan mereka. Frans berjalan mendekati Dona dan memeluk Dona dari belakang.


" Ma, ini calon menantu Mama, cantikan." Ucap Frans sambil mencium bahu Dona.


" Cantik sayang, Dona anak yang baik, dulu Mama berharap Dona akan menjadi menantu Mama dan kini harapan Mama menjadi kenyataan." Ucap Mona.


Sandy tidak suka melihat kemesraan Frans dan Dona. Dia mengambil minuman dari atas meja dan meminumnya sampai habis.


" Kamu kehausan ya San?" tanya Dona sambil melepaskan tangan Frans dari pinggangnya.


" Ya aku kehausan, kenapa hari ini rasanya panas banget ya?" Ucap Sandy sambil melirik kearah Frans.


" Nggak panas, Ac-nya udah aku nyalain kok." Ucap Dona heran.


" Sayang, mungkin cuma Sandy yang merasa kepanasan." Ucap Frans sambil kembali memeluk Dona dari belakang.


" Apa mungkin kamu lagi sakit San?" Tanya Dona.


Dona sama sekali tidak merasakan panas, hanya Sandy yang merasa kepanasan.

__ADS_1


" Ya aku sakit, sangat sakit." Ucap Sandy sambil duduk di samping Mona.


" Kamu sakit apa sayang?" Tanya Mona sambil menyentuh dahi Sandy.


" Tapi badan kamu nggak panas." Sambung Mona lagi.


" Yang sakit bukan badannya Ma, tapi hatinya!" Sindir Frans seraya menyunggingkan senyuman.


Dona mencubit tangan Frans dan matanya melotot menatap Frans.


" Aduh sakit sayang." Ucap Frans sambil melepas pelukannya dan mengusap usap tangannya yang merah karena kena cubit.


Dona duduk di samping Mama nya. Frans masih berdiri mematung sambil menahan sakit ditangannya.


" Sayang, ayo duduk disini, kenapa hanya berdiri saja." Ajak Mona sambil menepuk sofa disebelahnya.


" Baik Ma." Ucap Frans sambil duduk di samping Mona.


" Jadi besok kalian akan menikah?" Tanya Mona.


" Iya Ma, Frans harap Mama bisa mendampingi Frans."


" Tentu dong sayang, Mama akan mendampingi mu, Mama nggak akan melewatkan momen bahagia kamu." Ucap Mona sembari mengusap lembut pipi Frans.


" Terimakasih ya Ma." Ucap Frans lalu memeluk Mona.


Dona merasa dari tadi Sandy menatapnya. Dona melihat kesedihan di mata Sandy.


"Maafin aku San, mungkin ini memang sudah menjadi takdir kita." Gumannya dalam hati.


" Kamu lagi mikirin apa sayang?" Tanya Frans curiga, karena Frans melihat sedari tadi Dona dan Sandy saling mencuri pandang.


" Boleh juga itu ide kamu, Mama mau kan menginap disini?" Tanya Frans.


" Baiklah, Mama akan menginap disini, kamu mau kan sayang?" Tanya Mona kepada Sandy.


" Terserah Mama aja." Ucap Sandy datar.


DIa sebenarnya malas jika harus selalu melihat kemesraan Dona dan Frans.


" Ayo Ma, Frans antar ke kamar Mama." Ajak Frans sambil menarik tangan Mona dan berjalan menaiki tangga.


Meysa dan Dona berdiri dan berniat untuk pergi ke dapur. Sandy menarik tangan Dona.


" Ada apa San?" Tanya Dona.


" Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Ucap Sandy.


DIa melepaskan tangannya dari tangan Dona.


" Kamu ikut aku sebentar aja." Sambung Sandy lagi.


Dona mengikuti langkah Sandy dari belakang.


Sandy dan Dona duduk di kursi teras belakang rumah.


" Kamu mau ngomong apa San?" Tanya Dona.

__ADS_1


Dia menatap kedua mata Sandy yang terlihat begitu sendu.


" Don, apa kamu nggak bisa membatalkan pernikahan kamu dan kembali lagi sama aku?" tanya Sandy.


" Maksud kamu apa San?" Tanya Dona bingung.


" Aku nggak bisa melupakan kamu Don, aku masih mencintaimu." Ucap Sandy.


Sandy mencoba menggenggam tangan Dona tapi ditepis oleh Dona.


" San, kamu tau kan hubungan kita sudah berakhir dua tahun yang lalu, jadi untuk apa kamu ungkit-ungkit lagi?" Ucap Dona terkejut.


" Kita putus hanya karena salah paham, aku ingin kita kembali lagi seperti dulu." Ucap Sandy.


" Maafin aku San, aku nggak bisa, sekarang hati aku hanya milik Frans, kamu hanya masa lalu aku, sekarang aku hanya menganggap mu sebagai sahabat aku, aku mohon kamu hargai keputusan aku." Ucap Dona.


" Tapi Don, aku tersiksa bila harus melihatmu bermesraan dengan Frans, hati aku sakit Don." ucap Sandy.


" Kamu harus belajar untuk melupakan aku, kamu harus melanjutkan hidupmu San, carilah wanita yang benar-benar bisa mencintai kamu." Ucap Dona.


" Aku nggak mau wanita lain Don, aku hanya mau kamu." Ucap Sandy.


Sandy menggenggam tangan Dona lalu mengecup punggung tangan Dona.


" San, please jangan seperti ini, mana Sandy yang aku kenal dulu. Sandy yang kuat, Sandy yang tegar dan tak akan pernah menyerah dalam hidup." Ucap Dona.


Dona menepis tangan Sandy


" Sandy yang dulu sudah mati bersama dengan kepergian kamu waktu itu, kini yang ada hanya Sandy yang lemah, yang sangat membutuhkan kasih sayang kamu." Ucap Sandy.


" San, mau sampai kapan kamu seperti ini, kamu harus bangkit, jangan mengharapkan aku lagi, lupakan aku." Ucap Dona.


" Aku nggak mau." Ucap Sandy sambil menarik tangan Dona dan memeluk tubuh Dona.


" Aku nggak akan melepaskan mu Don, aku nggak bisa hidup tanpa kamu." Sambung Sandy lagi.


Sandy mempererat pelukannya.


" San, lepasin aku." Ucap Dona sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan Sandy.


" Don, aku mohon tetaplah seperti ini sebentar saja, aku merindukanmu Don." Ucap Sandy.


Sandy menyandarkan dagunya ke bahu Dona.


" San, jangan seperti ini, aku nggak tega melihatmu seperti ini, tolong lepasin aku." Ucap Dona sambil terus mencoba melepaskan diri dari pelukan Sandy.


" Sebentar saja Don, hanya sebentar aku mohon." Ucap Sandy sambil terus mempererat pelukannya.


Dona akhirnya menyerah, tenaganya tidak bisa menandingi tenaga Sandy.


Disisi lain Frans berjalan mencari keberadaan Dona.


" Mer, kakak kamu mana?" Tanya Frans.


" Kak Dona ada di teras belakang sama kak Sandy." Ucap Mery.


Frans terkejut mendengar ucapan Mery. Dia tidak suka Dona bersama dengan Sandy. Frans langsung berlari menuju teras belakang. Dia melihat Sandy memeluk Dona.

__ADS_1


" Apa yang kalian lakukan?" Teriak Frans keras.


¤¤¤¤


__ADS_2