Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 50


__ADS_3

Sudah satu minggu semenjak kejadian itu, seluruh sekolah masih terus membicarakan Deo dan Sasa. Sahabat-sahabat Deo merasa sangat geram, mereka tidak terima sahabatnya di hina seperti itu, sedangkan mereka tidak tau masalahnya dengan pasti.


Evan menarik kerah baju salah satu teman sekelasnya.


"Jaga mulut kamu ya, Deo bukan orang yang seperti itu. Sekali lagi aku mendengar mulut kamu bicara yang bukan-bukan tentang Deo, aku nggak akan segan-segan untuk menghajar mu." Seru Evan penuh emosi.


"Kamu nggak usah membela sahabat kamu yang cabul itu, dia sudah memperkosa cewek baik seperti Sasa, dia sudah menghancurkan masa depan Sasa dan sekarang malah lepas tanggungjawab. Apa itu memang hobby kalian para orang kaya, suka mempermainkan cewek tidak baik-baik." Ucap siswa itu dengan nada sinis.


"Kamu!"


Evan siap melayangkan tangannya ke wajah siswa itu, tapi dengan sigap Carlos menghalanginya.


"Van, cukup, apa kamu ingin menambah masalah baru." Ucap Carlos mencoba melepaskan tangan Evan dari kerah baju siswa itu.


"Brengsek! Pergi kamu dari hadapan aku!" Teriak Evan keras.


Semua siswa menatap kearah mereka, Carlos menarik tangan Evan dan membawanya pergi menjauh.


"Cukup Van, kita harus menyikapi masalah ini dengan kepala dingin." Bujuk Carlos.


Evan mengepalkan kedua tangannya, dia sudah tidak sanggup lagi menahan emosinya yang sudah memuncak, dia ingin melampiaskan kekesalannya dengan menghajar seseorang, tapi Carlos menghalangi keinginannya.


Clarisa dan Nena berlari dengan tergesa-gesa menghampiri Evan dan Carlos.


"A--da kabar duka." Ucap Clarisa dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Siapa yang meninggal!" Seru Carlos terkejut.


Clarisa dan Nena mencoba mengatur nafasnya yang tak beraturan. Setelah nafasnya kembali normal, Clarisa mulai menceritakan apa yang tadi didengarnya saat dia dan Nena melewati ruang guru.


"Sasa, d--dia telah meninggal." Ucap Clarisa.


"Apa! jangan bercanda kamu, Sa!" Seru Carlos dan Evan bersamaan.


"Clarisa benar, tadi kita tidak sengaja mendengarnya, semua guru sedang membicarakan itu, katanya Sasa bunuh diri." Jelas Nena.


Evan dan Carlos semakin terkejut mendengar kabar mengejutkan ini. Masalah Deo belum selesai, tapi kini Sasa telah memilih untuk mengakhiri hidupnya.


"Van, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Carlos binggung.


"Sayang, ini menurut aku ya, sepertinya Deo memang melakukan itu sama Sasa, jika tidak, untuk apa Sasa mengakhiri hidupnya. Mungkin Sasa tidak sanggup menanggung beban itu sendiri, apa lagi kesuciannya sudah direngut oleh Deo dan Deo sama sekali tidak mau bertanggungjawab, karena malu akhirnya Sasa lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya." Ucap Nena.


"Sayang, jaga ucapan kamu, Deo nggak mungkin melakukan itu kepada Sasa!" Seru Carlos.


"Maaf, itu kan cuma dugaan aku aja." Ucap Nena sambil mengerucutkan bibirnya.


"Van, jangan kamu dengerin ucapan Nena, aku yakin Deo bukan cowok seperti itu." Ucap Carlos mencoba menenangkan Evan.

__ADS_1


"Nggak Los, mungkin yang dikatakan Nena itu benar, kita selama ini telah salah menilai Deo, kita telah salah membelanya." Ucap Evan sambil mendudukkan tubuhnya.


"Kita cari tau dulu kebenarannya, jangan langsung mengambil kesimpulan." Bujuk Carlos.


"Nggak perlu lagi, semuanya sudah terjawab dengan kematian Sasa." Evan berdiri lalu mengambil tasnya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Carlos sambil menarik tangan Evan.


"Aku mau memberi pelajaran kepada cowok brengsek itu!" Seru Evan emosi.


"Kamu jangan gegabah, apa kamu mau menghancurkan persahabatan kita selama ini?" Ucap Carlos.


Evan tertawa dengan keras.


"Apa kamu bilang, persahabatan! sahabat macam apa yang berani memperkosa pacarnya sendiri dan lepas tanggungjawab. Aku nggak sudi mempunyai sahabat yang nggak bermoral seperti itu!" Seru Evan lalu keluar dari kelas.


"Los, kamu ikuti Evan, aku takut terjadi apa-apa dengan Deo dan Evan." Pinta Clarisa.


"Clarisa benar, Evan tadi terlihat sangat emosi, nanti kita akan menyusul setelah dari pemakaman Sasa." Ucap Nena.


Carlos menganggukan kepalanya, dia mengambil tasnya dari atas meja, lalu bergegas mengejar Evan.


»»»»»


Deo yang merasa bosan didalam kamar terus, akhirnya dia keluar dari kamar. Dia merasa hatinya sangat gelisah, hatinya terasa sakit.


Deo menjatuhkan tubuhnya diatas sofa ruang tengah. Dia benar-benar merasa sangat bosan, dia bahkan tidak bisa kemana-mana, karena dia selalu diawasi 24 jam.


Asisten rumah tangga keluarga Deo berjalan menghampiri anak majikannya.


"Ada apa, bi?" Tanya Deo penasaran.


"Tadi ada yang mengantar surat ini untuk den Deo." Sahut wanita paru baya sambil memberikan sepucuk surat kepada Deo.


"Makasih ya, bi, sekarang bibi boleh pergi." Ucap Deo sambil menerima surat itu.


Wanita paru baya itu membungkukan badannya lalu melangkahkan kakinya menjauh. Deo melihat surat yang ada ditangannya.


"Ini surat dari Sasa! kenapa Sasa mengirimi aku surat?"


Deo membuka surat itu.


"Ini kan kalung yang aku berikan kepada Sasa waktu itu?"


Deo mengambil kalung itu, dia membuka surat itu lalu membacanya.


Dear Deo,

__ADS_1


Hai Deo, bagaimana kabar kamu, baikkan? kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku mengirimi kamu surat, padahal aku bisa langsung datang menemui kamu. Aku memang bodoh ya..hehehe..


Deo, soal kejadian di rumah kamu waktu itu, aku minta maaf. Kamu pasti sanga penasaran, kenapa aku sampai berbuat nekat seperti itu. Aku nggak bisa menjelaskan itu semua kepada kamu, yang pasti itu bukan kemauan aku, aku melakukan itu karena terpaksa.


Mungkin kamu sekarang sangat kecewa sama aku dan membenci aku, apa lagi aku sudah memfitnah kamu dan membuat nama kamu menjadi tercoreng. Bahkan kamu sampai diskors hanya gara-gara aku.


Jujur, aku merasa sangat bersalah terhadap kamu, tapi aku juga nggak bisa memperbaiki semuanya. Aku merasa sangat malu untuk bertemu kalian semua. Sebenarnya aku nggak bermaksud melakukan itu, aku melakukan itu juga karena terpaksa, aku diancam, tapi aku nggak bisa memberitahu kamu siapa orang yang telah mengancam aku.


Deo, niat aku mengirim surat ini hanya untuk meminta maaf sama kamu, mungkin setelah kamu menerima surat ini, kita tidak akan bertemu lagi. Mungkin surat ini surat yang pertama dan yang terakhir aku kirim.


Deo, selama ini aku merasa sangat bahagia, karena aku bisa mengenalmu. Apa lagi aku bisa merasakan kasih sayang dan perhatian kamu, banyak cewek-cewek diluar sana yang begitu menginginkan cinta dan perhatian kamu, tapi kenapa kamu malah memilih gadis miskin seperti aku ini.


Meskipun begitu, aku merasa sangat bersyukur karena kamu telah memilihku.


Deo, meskipun kamu sangat membenciku, tapi aku sama sekali tidak pernah membencimu, sampai sekarang aku masih sangat mencintai kamu. Aku minta maaf, karena aku nggak bisa membantu kamu untuk membersihkan nama baik kamu, bukannya aku tidak mau, tapi aku udah terlanjur malu dengan perbuatan aku.


Deo, kamu bisa meyakinkan semua teman-teman kita kalau kamu nggak bersalah dengan menunjukan surat ini, dengan begitu mereka akan percaya. Mereka mungkin akan mencaci dan menghina aku seumur hidup, tapi aku nggak perduli dengan semua itu. Yang terpenting bagi aku sekarang ini adalah reputasi dan nama baik kamu.


Bilang sama teman-teman kalau aku lah yang menggoda mu, akulah yang berniat menjual diri aku demi uang 100 juta.


Deo, semua ini salah aku, jadi aku lah yang harus menanggung akibatnya. Kamu sama sekali tidak bersalah.


Deo, aku kembalikan kalung yang kamu berikan ke aku waktu itu, aku nggak pantas menerima hadiah seindah itu. Makasih atas semua kebaikan kamu selama ini, makasih kamu sudah mengisi hari-hari ku dengan kebahagiaan. Selamat tinggal Deo, mungkin setelah kamu menerima surat ini, aku sudah nggak ada disisi kamu lagi. Tapi satu hal yang harus kamu tau, aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Selamat tinggal Deo, selamat tinggal.


Salam sayang dari ku,


Sasa.


Deo menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa.


"Sa, apa maksud semua ini? kenapa kamu nggak bilang dari awal kalau kamu diancam, siapa yang telah mengancam mu? maafin aku Sa, karena aku telah berprasangka buruk kepada kamu, aku juga sangat mencintaimu, jika kamu memberitahu aku dari awal, maka hubungan kita nggak akan berakhir seperti ini. Masalah ini nggak akan ada dan kamu nggak perlu dikeluarkan dari sekolah, kenapa Sa, kenapa kamu baru memberitahu aku sekarang, kenapa?"


Deo menatap kalung yang ada ditangannya.


"Kenapa kamu mengembalikan kalung ini? aku memesan kalung ini khusus buat kamu, bahkan nama kamu terukir di kalung ini."


Wanita paru baya berjalan menghampiri Deo.


"M--maaf den, didepan ada den Evan dan den Carlos, mereka sedang beradu mulut dengan para penjaga suruhan tuan besar." Ucap wanita paru baya itu sambil menundukkan kepalanya.


"Apa!" Teriak Deo.


Deo bergegas berjalan menuju pintu utama.


"Hentikan!" Teriak Deo keras.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2