
"Hentikan!" Teriak Deo keras.
Para pengawal itu melepaskan kerah baju Evan dan Carlos. Wajah Evan dan Carlos penuh luka.
"Akhirnya kamu keluar juga brengsek!" Seru Evan yang sudah tidak sanggup menahan emosinya.
"Van, cukup, sebaiknya kita pulang, aku nggak mau mencari keributan disini." Bujuk Carlos sambil menahan Evan yang ingin berjalan mendekati Deo.
"Aku nggak akan pergi dari sini, sebelum aku menghajar cowok brengsek ini!" Teriak Evan keras.
Deo tidak mengerti dengan maksud perkataan Evan, dia berjalan mendekati Evan.
"Apa kamu tidak apa-apa, Van?" Tanya Deo sambil menyentuh bibir Evan yang berdarah karena pukulan pengawal Deo.
Evan menepis tangan Deo. Deo sangat terkejut melihat sikap Evan kepadanya. Deo tidak tau apa yang sedang terjadi, hingga membuat Evan begitu emosi.
"Jangan sok perhatian kamu, dasar brengsek!" Seru Evan emosi.
"Apa maksud kamu? aku benar-benar tidak mengerti? sebenarnya ada apa ini? kenapa kamu tiba-tiba marah nggak jelas seperti ini?" Tanya Deo sambil mengeryitkan dahinya.
"Jangan sok pura-pura kamu ya, apa karena bantuan dari Papa kamu, sekarang kamu bisa merasa tenang, hah!" Seru Evan.
"Van, kamu ini bicara apa? aku benar-benar tidak mengerti, lalu apa hubungannya dengan Papa aku dengan kemarahan kamu?" Ucap Deo semakin binggung.
"Sekarang aku tanya sama kamu, apa yang sudah kamu lakukan sama Sasa? apa kamu benar-benar sudah memperkosanya?"
"Aku nggak melakukan apa-apa? aku kan udah bilang sama kamu, semua itu hanya fitnah, aku nggak memperkosa Sasa." Sahut Deo.
"Aku nggak menyangka sampai sekarang kamu masih mengelak dan tidak mau mengakui kesalahan kamu. Kamu memang brengsek Deo, aku nggak sudi mempunyai sahabat brengsek seperti kamu."
Evan menarik kerah baju Deo. Carlos mencoba memisahkan mereka tapi Evan malah mendorong tubuh Carlos hingga jatuh tersungkur. Deo melarang para pengawalnya untuk ikut campur dengan urusannya.
"Sekarang katakan apa maksud kamu?" Ucap Deo.
"Kamu cowok terbrengsek yang pernah aku kenal, kamu sudah memperkosa seorang gadis tapi kamu nggak mau mengakuinya, bahkan sampai gadis itu meninggal, kamu tetap tidak mau mengakuinya, hah!" Seru Evan.
Evan melayangkan satu pukulan hingga Deo jatuh tersungkur.
Deo membulatkan kedua matanya, dia mencoba mencerna kata-kata Evan.
"Apa maksud kamu, Van? siapa yang meninggal?" Tanya Deo sambil mencoba berdiri.
"Wah..hebat kamu Deo, setelah dia meninggal, kamu baru perduli padanya." Ucap Evan dengan senyuman sinisnya.
"Van, katakan! siapa yang meninggal!" Teriak Deo.
"Sasa, dia meninggal bunuh diri, dia merasa malu karena harus menanggung aib yang dia alami, bahkan dihari terakhirnya pun, dia tidak mendapatkan keadilan dari apa yang telah menimpanya. Sedangkan cowok brengsek yang telah memperkosanya masih hidup dengan tenang." Ucap Evan.
Deo menjatuhkan tubuhnya, setelah mendengar penjelasan dari Evan, tubuhnya seakan lemas.
__ADS_1
"Sasa! dia sudah meninggal, nggak! nggak mungkin! dia nggak mungkin melakukan hal bodoh itu, aku yakin Sasa nggak mungkin melakukan itu. Dia tau betul aku nggak melakukan apa-apa sama dia waktu itu, tapi kenapa kamu bisa melakukan itu? kenapa, Sa, kenapa?" Guman Deo dalam hati.
"Jangan sok kaget kamu, apa sekarang kamu sudah puas, apa kamu puas sudah menghancurkan hidup orang lain, bahkan sampai dia mengakhiri hidupnya sendiri? aku nggak menyangka kamu akan tega melakukan ini sama Sasa, dia itu gadis yang baik, tapi kenapa kamu tega melakukan itu kepadanya? kenapa?" Seru Evan keras.
Deo meraup wajahnya dengan kasar, dia mencoba untuk berdiri. Deo tertawa sarkas, yang membuat Evan dan Carlos terkejut dibuatnya.
"Itu bukan urusan kamu, Van, sejak kapan kamu mulai ikut campur dengan urusan pribadi aku. Sasa meninggal itu nggak ada hubungannya sama aku, kenapa kamu menyalahkan aku, hah!" Teriak Deo.
"Apa kamu bilang, nggak ada hubungannya dengan kamu! jadi kamu nggak mau mengakui kesalahan kamu, bahkan setelah kamu tau kalau Sasa sudah meninggal?" Tanya Evan geram.
"Walau Sasa sudah meninggal, aku nggak akan pernah mengakui hal yang tak pernah aku lakukan." Sahut Deo dengan santai.
"Dasar brengsek!" Teriak Evan keras.
Bugg..bugg..
Evan terus menghujani Deo dengan pukulan yang membabi buta, Carlos yang berniat ingin melerai, tapi dia juga terkena pukulan Evan. Perkelahian itu berhenti saat para pengawal Deo ikut turun tangan.
"Van, ayo kita pergi dari sini, lihat wajah kamu babak belur kayak gitu." Bujuk Carlos.
"Deo, kamu ingat kata-kata aku ini, mulai sekarang hubungan persahabatan kita sampai disini, jangan pernah muncul dihadapan aku lagi. Jika sampai aku melihatmu lagi, aku nggak akan segan-segan untuk menghajarmu, aku tidak sudi mempunyai sahabat sebrengsek kamu, tukang pemerkosa dan lepas tanggungjawab." Seru Evan sambil menatap tajam kearah Deo.
Deo hanya menanggapi ucapan Evan dengan senyuman menyeringai.
"Van, cukup! ayo kita pergi!" Ajak Carlos sambil menarik tangan Evan.
Deo mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
"Sasa, kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti itu? kenapa kamu mengakhiri hidupmu, kenapa?" Teriak Deo histeris.
Air mata mengalir membasahi kedua pipi Deo. Hatinya hancur, dia tidak menyangka Sasa akan mengakhiri hidupnya dan meninggalkannya untuk selama-lamanya. Bahkan kini sahabat terdekatnya juga membencinya dan menjauh darinya.
"Maafin aku Van, Los, aku nggak bisa memberitahu kamu kebenarannya, karena aku nggak mau kalian memandang rendah Sasa setelah kalian mengetahui yang sebenarnya. Lebih baik nama aku yang tercoreng, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahan aku kepada Sasa."
Deo menghela nafas panjang.
"Baiklah Van, jika itu mau kamu, mulai sekarang aku nggak akan muncul di hadapan kamu lagi, bukan aku yang memutuskan hubungan persahabatan kita, tapi kamu yang menginginkan semua ini, bukan aku."
Deo berdiri sambil menahan sakit diwajahnya, dia berjalan masuk kedalam rumahnya.
"Den Deo kenapa? kenapa wajah den Deo babak belur seperti ini?" Tanya bibi cemas.
"Aku nggak apa-apa kok bi, tolong jangan beritahu Papa ya, bi, aku nggak mau membuat Papa semakin khawatir karena masalah aku." Pinta Deo.
"Tapi den--"
"Aku mohon, bi, sekali ini aja, ya." Pinta Deo sambil mengatupkan kedua tangannya.
Wanita paru baya itu akhirnya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Makasih bi, kalau gitu aku mau ke kamar dulu, nanti kalau Papa mencari aku, bilang saja aku lagi nggak mau diganggu."
"Baik den."
Deo berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, Deo masuk kedalam kamar. Dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan bersandar pada pintu kamarnya. Deo mengambil kalung dari saku celananya. Dia tatap kalung itu dengan seksama.
"Maafin aku Sa, maafin aku. Aku udah menyakiti hati kamu, bahkan sampai diakhir hidupmu. Seandainya aku bisa memutar waktu, maka aku akan memberimu uang 100 juta itu. Kamu nggak perlu menanggung beban kamu sendirian seperti ini. Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi? siapa orang yang telah memaksa dan mengancam mu?"
»»»»»
Evan dan Carlos masuk ke dalam rumah. Dona terkejut melihat wajah Evan yang babak belur.
"Sayang, kenapa dengan wajah kamu? apa yang terjadi?" Tanya Dona cemas.
Dona menyentuh luka di wajah Evan.
"Awww..sakit Ma." Evan mendesis menahan sakit.
"Apa kamu berkelahi? sejak kapan kamu suka berkelahi? mau jadi sok jagoan kamu?" Ucap Dona marah.
"Bukan gitu Ma, ini cuma salah paham kok." Ucap Carlos.
"Kamu juga, kenapa kamu diam saja dan tidak menghalangi abang kamu ini?"
"Siapa bilang Carlos nggak menghalangi Evan, Mama lihat ni wajah Carlos jadi kayak gini, ini semua ulah Evan, niatnya ingin melerai, tapi malah kena tonjok." Ucap Carlos sambil mengerucutkan bibirnya.
"Papa kalian harus tau semua ini, dengan begitu kalian nggak akan berantem lagi." Ancam Dona.
"Jangan!" Teriak Carlos dan Evan bersamaan.
"Evan mohon ya Ma, jangan kasih tau Papa, Evan janji, ini yang terakhir, Evan nggak akan berkelahi lagi." Ucap Evan sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Mama kan, Mama terbaik sedunia, jadi Mama nggak akan mengadukan kita, kan, ya kan, Ma?" Rayu Carlos sambil memeluk Dona.
Dona menghela nafas panjang, mana mungkin dia akan mengadukan kedua anaknya kepada suaminya, Dona tidak tega melihat kedua anaknya dihukum oleh suaminya. Hukumannya terlalu berat, yaitu mobil dan ponsel disita, bahkan tak dapat uang jajan selama satu bulan penuh.
"Tapi kalau Papa kalian menanyakan tentang wajah kalian yang penuh luka seperti itu, kalian mau menjawab apa?" Tanya Dona binggung.
"Kita akan bilang, habis dihajar sama copet." Ucap Evan.
"Dasar!" Seru Carlos.
"Terus kamu mau bilang kalau kita berkelahi gitu, nggak mungkin kan." Ucap Evan kesal.
"Udah-udah, lebih baik sekarang Mama obati luka kalian, Mama takut nanti akan jadi infeksi luka kalian itu." Ucap Dona.
Evan dan Carlos menganggukkan kepalanya.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1