
Carlos berdiri didepan cermin, dia menatap dirinya dari balik cermin.
"Perfect, Nena pasti makin jatuh cinta melihat penampilan aku."
Carlos terus bergaya didepan cermin, sudah seperti model papan atas. Dia berjalan keluar dari kamarnya.
"Kamu mau kemana? udah rapi gitu." Tanya Evan sambil bersandar dipintu kamarnya.
"Aku mau mengajak Nena jalan-jalan, tumben kamu nggak pergi? biasanya kamu udah melesat duluan? kamu nggak mengajak Clarisa jalan-jalan?" Tanya Carlos sambil merapikan bajunya.
"Malas, lagian Clarisa juga pergi sama tunangannya." Sahut Evan sambil melipat kedua lengannya didada.
"Apa! Jadi kamu beneran udah menyerah sama Clarisa? kamu udah merelakan Clarisa untuk Tino? bukannya direstoran waktu itu ka--"
"Udah sana pergi, nggak usah banyak tanya." Ucap Evan memotong ucapan Carlos.
Evan hampir saja membongkar sandiwaranya sendiri didepan Carlos.
"Kamu jawab dulu, apa kamu dan Clarisa memang nggak bisa bersatu, bukannya Clarisa itu sangat mencintai kamu, tapi kenapa dia malah memilih bersama dengan Tino?" Tanya Carlos penasaran.
"Nggak ada yang perlu dijawab, aku sama Clarisa baik-baik aja, sudah sana, kasian Nena sudah menunggu kamu." Ucap Evan sambil mendorong pelan tubuh Carlos.
"Tapi--"
"Udah sana!" Seru Evan sambil mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Carlos pergi.
Carlos berjalan menuruni tangga.
"Dasar ini mulut nggak bisa dijaga, hampir aja aku keceplosan." Ucap Evan sambil memukul mulutnya sendiri.
Carlos masuk kedalam mobil, lalu melajukan mobilnya menuju rumah Nena. Sebelum ke rumah Nena, Carlos berhenti di toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar merah.
"Sepertinya aku benar-benar sudah tergila-gila sama Nena, sampai aku rela melukakan hal yang tidak pernah aku lakukan." Ucap Carlos sambil menatap sebuket bunga mawar ditangannya.
Carlos turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama. Carlos mengetuk pintu.
Tokk..tokk..tokk..
Asisten rumah tangga keluarga Nena berjalan menuju pintu.
"Maaf, cari siapa ya?" Tanyanya setelah pintu terbuka sepenuhnya.
"Nena nya ada bik?"
"Ada, mari silahkan masuk."
Carlos melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah Nena.
"Silahkan duduk, saya panggilkan non Nena sebentar."
Carlos menganggukan kepalanya dan duduk disofa.
"Siapa bik yang datang?" Tanya Nena sambil melihat kearah ruang tamu.
"Bibik lupa menanyakan namanya, Non, tapi kayaknya dia teman sekolah, Non."
__ADS_1
"Baik, makasih ya, bik, sekarang bibik boleh pergi."
Wanita paru baya itu membungkukkan tubuhnya lalu berjalan menjauh. Nena berjalan menuju ruang tamu.
"Carlos? ngapain dia kerumah aku?"
Nena berjalan menghampiri Carlos.
"Kok nggak ngabarin aku dulu kalau mau datang kerumah?"
Nena duduk disamping Carlos.
"Ini buat kamu, bunga mawar yang sangat cantik, tapi masih cantikan kamu sih." Goda Carlos sambil memberikan sebuket bunga mawar itu kepada Nena.
"Kamu bisa aja, makasih ya."
Nena menerima bunga mawar itu lalu mencium harum bunga mawar itu.
"Kedua orangtua kamu kemana?" Tanya Carlos sambil melihat keseluruh ruangan.
"Papa aku sedang dinas diluar kota, sedangkan Mama, tadi katanya mau pergi kerumah temannya," Nena meletakkan bunga mawar itu keatas meja.
"Aku kan pernah bilang sama kamu, jangan datang ke rumah aku, karena aku belum siap memberitahu kedua orangtua aku tentang hubungan kita." Sambung Nena.
Carlos menggenggam tangan Nena.
"Maaf, habis aku kangen banget sama kamu, aku ingin mengajak kamu jalan."
"Kamu mau mengajak aku kemana?"
"Terserah kamu, aku akan mengantar kemanapun kamu mau." Ucap Carlos sambil mengecup punggung tangan Nena.
Carlos menganggukan kepalanya. Mereka berjalan keluar rumah. Carlos melajukan mobilnya meninggalkan rumah Nena.
Dalam perjalanan Carlos terus menggenggam tangan Nena.
"Carlos, kenapa kamu baik banget sama aku? padahal aku selama ini cuma ingin memanfaatkan kamu saja untuk kepentingan aku sendiri. Tapi selama kita jadian, kamu selalu perhatian dan perduli sama aku, hingga membuat hati aku luluh. Kini aku baru menyadari jika aku telah jatuh cinta sama kamu. Bagaimana caranya aku mengakhiri semua sandiwara ini tanpa harus menyakiti hati kamu, karena aku nggak mau menyakiti hati kamu. Kamu pria yang sangat baik yang pernah aku kenal." Guman Nena dalam hati.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Carlos sambil mengecup tangan Nena.
"Nggak ada, aku cuma bersyukur mempunyai pacar sebaik kamu. Kamu begitu peduli dan perhatian sama aku, aku cewek yang paling beruntung didunia ini. Makasih ya, sudah mau mencintai aku." Ucap Nena dengan senyuman diwajahnya.
"Justru aku yang seharusnya bersyukur, kamu mau menjadi pacar aku."
Nena menatap lekat wajah Carlos, lalu ia mengecup pipi Carlos.
"Ada apa? kenapa tiba-tiba kamu jadi romantis gini?" Tanya Carlos penasaran.
"Nggak ada, apa aku nggak boleh mencium pacar aku sendiri?"
Carlos menghentikan mobilnya. Dia menatap lekat wajah Nena.
"Kamu boleh melakukan apa pun yang kamu mau. Jiwa dan ragaku adalah milikmu." Ucap Carlos sambil menggenggam tangan Nena.
"Boleh aku menciummu?"
__ADS_1
Carlos menganggukan kepalanya. Nena mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Carlos. Carlos langsung menarik tengkuk Nena dan mengeksplor setiap sudut bibir Nena. Nena memejamkan matanya sambil menikmati setiap pangutan yang Carlos berikan pada bibirnya.
Nena membuka kedua matanya, dia melihat Carlos masih memejamkan matanya sambil menikmati pangutan mereka.
"Aku sangat mencintaimu Los, maaf, aku baru menyadari perasaan aku ini, tapi aku harus mengakhiri hubungan kita, aku nggak mau selamanya membohongimu kalau awalnya aku hanya ingin memanfaatkan kamu untuk membalaskan dendamku kepada Evan, walau akhirnya aku benar-benar jatuh cinta padamu. Maafin aku, ini adalah ciuman perpisahan dari aku, ini adalah hari terakhir kita bersama." Guman Nena dalam hati.
Carlos melepaskan pangutannya lalu menyandarkan keningnya kebahu Nena. Dia maupun Nena mengatur nafas mereka yang tak beraturan.
"Aku mencintaimu, Na, sangat mencintaimu." Ucap Carlos lalu mendongakan wajahnya menatap Nena yang masih memejam kan mata dengan nafas yang memburu.
Nena membuka kedua matanya, dia menatap Carlos yang kini juga tengah menatapnya. Carlos mengusap puncak kepala Nena. Dia kembali melajukan mobilnya.
Sesampainya di bioskop, Carlos mengantri untuk membeli tiket, sedangkan Nena menunggu sambil menikmati popcorn di tangannya. Sesekali Carlos menengok kearah Nena sambil melambaikan tangannya.
Nena hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Carlos, dia tidak menyadari jika dirinya kini menjadi pusat perhatian karena tingkahnya.
Setelah mendapatkan tiket, Carlos berjalan menghampiri Nena.
"Sayang, apa kamu nggak sadar jika dari tadi kamu menjadi pusat perhatian."
"Aku tau kok, tapi aku nggak perduli, yang penting aku ingin menunjukan perasaan aku ke kamu." Ucap Carlos dengan senyuman di wajahnya.
"Dasar!"
Nena merangkul lengan Carlos.
"Ayo kita masuk, aku udah nggak sabar ingin menonton film itu, film itu sangat romantis."
Mereka masuk kedalam bioskop. Carlos terus menerus menatap wajah Nena dalam redupnya pencahayaan lampu bioskop. Begitupun dengan Nena, mereka seperti pasangan yang sedang di mabuk cinta.
"Lihat filmnya, ngapain melihatku seperti itu?" Goda Carlos.
"Aku hanya ingin melihatmu, aku ingin menghabiskan waktu aku hanya berdua denganmu," Nena menatap kedua mata Carlos.
"Dari pada kita melihat film yang membosankan ini, lebih baik kita memanfaatkan waktu untuk bermesraan, aku ingin sekali menikmati bibir kamu itu." Sambungnya sambil menyentuh bibir Carlos.
"Kamu serius, ada apa sih dengan kamu hari ini, hari ini kamu itu selalu bersikap manja dan mesum." Goda Carlos sambil mencubit hidung mancung Nena.
"Karena ini hari terakhir kita bersama, aku ingin menikmati setiap waktu yang kita lalui. Aku nggak perduli, kamu mau mengatai aku cewek mesum atau apa pun itu. Aku hanya ingin membuatmu bahagia." Guman Nena dalam hati.
"Kok malah benggong, tadi katanya mau menciumku, aku udah siap ini." Ucap Carlos sambil memanyunkan bibirnya.
Nena mendekatkan wajahnya ke wajah Carlos lalu menyatukan bibir mereka. Tanpa Nena sadari air mata menetes membasahi kedua pipinya. Carlos mengakhiri ciuman mereka.
"Sayang, kenapa kamu menangis? apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Carlos sambil menghapus air mata Nena.
Nena menggelengkan kepalanya.
"Ini air mata kebahagiaan, aku bahagia bisa bersama dengan kamu hari ini, aku bahagia menjadi wanita yang spesial dihati kamu." Ucap Nena sambil menepiskan senyumannya.
⭐⭐⭐⭐
Hai para readers semuanya, gimana kabar kalian, baik kan..aku cuma mau bertanya nie, kok semakin aku lihat, jumlah like dan comentnya semakin menurun ya, masa likenya nggak nyampe 500 like, padahal aku udah usahain update setiap hari, bahkan 2 bab sekaligus. Aku bahkan sampai menunda novel aku yang lain hanya untuk meneruskan novel ini dan novel yang season 2, tapi kok responnya tidak memuaskan ya.
Aku minta dukungan kalian semuanya dong, tanpa dukungan dari kalian, novel ini tak ada apa-apanya. Aku hanya ingin mengingatkan, jangan lupa tekan tombol jempol setelah selesai membaca, dan tinggalkan jejak coment kalian, hanya itu. Atau sebagai bonus jangan lupa tekan simbol bintang, dan kasih bintang 5 untuk novel ini dan yang season 2..
__ADS_1
Terimakasih..
😘😘😘😘