Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 25..


__ADS_3

Clarisa binggung harus menjawab apa, karena dirinya hanya mengikuti nalurinya.


" Emm..itu..itu--"


" Kamu udah jatuh cinta sama Evan ya?" Carlos memotong ucapan Clarisa.


Uhuk..uhuk...


Mendengar ucapan Carlos entah mengapa Evan langsung terbatuk-batuk.


" Ini juga kenapa? Minum juga nggak, makan juga nggak, kenapa batuk-batuk gitu." Celetuk Carlos sambil menepuk punggung Evan.


" Kamu itu kalau mau ngomong dipikir dulu!" Seru Evan kesal.


Clarisa hanya diam membisu sambil menatap keluar jendela. Sebenarnya dia juga tidak tau apa yang telah dia lakukan tadi di restoran. Dia sadar, Evan hanya menganggapnya sebagai sahabat. Tapi Clarisa tak bisa memungkiri jika dirinya mulai tertarik dengan Evan.


Selama ini Evan memperlakukan Clarisa dengan spesial. Evan selalu ada saat dia butuhkan, selalu menjaga dan melindunginya dari cowok-cowok brengsek yang sedang mengodanya. Rasa nyaman yang Evan berikan membuat benih-benih cinta tumbuh dihati Clarisa.


Sampai sekarang Clarisa tidak pernah mengungkapkan perasaannya, karena dia tidak ingin merusak hubungan persahabatannya dengan Evan yang sudah dia jalin selama hampir 4 tahun. Dirinya sudah merasa puas bisa selalu berada disisi Evan. Walau kadang hatinya merasakan sakit saat Evan sering bergonta-ganti pacar.


Clarisa menyadari jika Evan tidak akan pernah bisa menetap pada satu hati. Dia tau Evan seorang playboy, tapi cintanya tulus, dia tidak akan pernah berpaling, meski dia hanya mencintai Evan dalam diam.


Evan menatap Clarisa dari spion mobilnya yang ada didepannya. Dia tau saat ini Clarisa sedang memikirkan ucapan Carlos. Dia merasa sangat bersalah karena telah menyinggung perasaan Clarisa.


" Sa, kamu nggak usah perduliin ucapan Carlos. Dia itu memang kayak gitu, kalau bicara nggak pernah disaring, jadi gitu deh, ceplas-ceplos." Evan menepiskan senyumannya.


Clarisa menatap Evan dari balik kaca spion. Dia hanya menanggapi ucapan Evan dengan senyuman diwajahnya.


" Aku kan cuma nanya aja, kok jadi serba salah." Ucap Carlos sambil mengerucutkan bibirnya.


" Ya salah lah! Kamu tau kan aku sama Clarisa selama ini cuma sahabatan, kita nggak mungkin saling jatuh cinta. Apa lagi Clarisa tau sifat aku yang nggak bisa menetap pada satu hati, sebelum aku benar-benar menemukan gadis yang benar-benar aku cintai." Ucap Evan kesal.


Evan meraup wajahnya dengan kasar. Dia merasa sangat takut, dia takut Clarisa akan menjauhinya hanya gara-gara ucapan Carlos yang ngasal.


" Udah nggak usah bertengkar, benar kata Evan. Mana mungkin aku jatuh cinta sama playboy kayak Evan, bisa makan ati aku tiap hari." Clarisa berujar sambil menahan sakit dihatinya. Namun Clarisa tetap berusaha menampakan senyuman diwajahnya.


" Itu dengerin kata Clarisa, makanya punya mulut itu dijaga!" Seru Evan emosi.


" Ya..ya..maaf."


Evan menghentikan mobilnya didepan rumah Clarisa.


" Makasih ya Van, kamu udah mau bantuin aku. Semoga aja Tino nggak menganggu aku lagi." Clarisa membuka pintu mobil.


" Sa tunggu!" Seru Evan.


Clarisa menatap kearah Evan.

__ADS_1


" Soal ciuman tadi, apa itu ciu--"


" Emm..maaf, aku masih ada urusan." Clarisa bergegas keluar dari mobil Evan lalu berlari masuk kedalam rumahnya.


Clarisa tidak ingin membahas itu sekarang, karena hatinya masih terasa sakit karena ucapan Evan tadi. Walaupun itu juga bukan salah Evan, karena sampai sekarang Evan belum menyadari cinta Clarisa.


Evan merasa ada yang aneh dengan sikap Clarisa.


" Ada apa ya dengan Clarisa? aku kan cuma mau menanyakan, apa itu tadi ciuman pertamanya, tapi kenapa dia seolah-olah ingin menghindar ya. Apa jangan-jangan benar yang dikatakan Carlos tadi? tapi itu tidak mungkin, Clarisa tau betul aku hanya menganggapnya sebagai sahabat aku selama ini." Gumannya dalam hati.


" Malah bengong! Mau pulang atau mau tetap disini!" Celetuk Carlos sambil menepuk bahu Evan.


" Bawel!" Evan melajukan mobilnya meninggalkan rumah Clarisa.


" Kita kerumah Deo ya, ada yang mau aku ambil." Carlos ingat kemarin Deo meminjam buku tugasnya. Evan menganggukan kepalanya dan melajukan mobilnya menuju rumah Deo.


Kini mereka berada didepan rumah Deo. Carlos mengetuk pintu rumah Deo.


Tokk..tokk..tokk..


Asisten rumah tangga keluarga Deo berjalan menuju pintu utama lalu membuka pintu.


" Eh..den Evan dan den Carlos." Sapa wanita paruh baya itu


" Deo ada Bi?" Tanya Carlos dengan sopan.


" Ada, den Deo ada dikamar. Mari silahkan masuk."


" Van--" Ucap Carlos pelan sambil menyengol lengan Evan.


" Apaan!"


Carlos membisikan sesuatu ditelinga Evan.


" Yang benar kamu!" Ucap Evan terkejut.


" Ssttt..jangan keras-keras!" Carlos menempelkan jari telunjuknya kebibirnya.


" Kalau nggak percaya kamu dengerin aja sendiri, suaranya aja kedengeran sangat jelas." Sambungnya.


Evan menempelkan telinganya ke pintu kamar Deo. Kedua mata Evan membulat seketika, dia ingin berteriak dengan sangat keras tapi dia tahan. Dia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


" Betulkan kata aku, udah ayo kita pulang, aku nggak mau melihat adegan syur kayak gitu. Nanti kedua mata aku jadi nggak suci lagi." Carlos menarik tangan Evan dan berjalan menuruni tangga. Evan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


" Kok nggak jadi den?"


" Emm..bik, Deo lagi ada tamu ya?" Tanya Evan.

__ADS_1


" Iya bik, siapa sih bik?" Carlos ikutan menimpali.


" Bibi juga nggak tau den, gadis itu baru pertama kali den Deo bawa pulang kerumah."


" Om dan Tante kemana bik?" Tanya Evan.


Mana mungkin Deo berani membawa pulang seorang gadis jika kedua orangtuanya ada dirumah.


" Tuan dan Nyonya sedang keluar kota den, 3 hari lagi baru pulang, ada apa ya den?"


" Emm..nggak ada apa-apa kok bik, nanti jangan bilang sama Deo kalau kami kesini ya bik." Pinta Evan.


" Memangnya kenapa den?"


" Pokoknya bibik jangan bilang kalau kami kemari." Ucap Carlos menegaskan.


Wanita paru baya itu hanya bisa menganggukan kepalanya. Sebenarnya dia juga penasaran dengan apa yang dilakukan anak majikannya didalam kamar dengan seorang gadis. Tapi dia tidak berani bertanya, karena Deo melarangnya untuk melewati kamarnya.


Carlos dan Evan keluar dari rumah Deo dengan perasaan yang sangat kacau. Mereka tau semua sifat Deo, mereka juga tidak mau memcampuri urusan pribadi Deo.


" Van, apa kamu akan tetap diam saja?"


" Aku nggak mau ikut campur urusan Deo."


" Tapi dia udah keterlaluan."


" Biarin aja, nanti dia juga akan kena getahnya." Evan tidak mau ambil pusing memikirkan sifat Deo yang suka bermain wanita.


" Dulu Deo nggak seperti itu, tapi kenapa sekarang dia berubah?" Tanya Carlos penasaran.


" Aku tau, itu karena dia pernah disakiti sama pacar pertamanya. Deo sangat tulus mencintai gadis itu, tapi gadis itu membalas cinta Deo dengan pengkhianatan. Deo memergoki gadis itu sedang melakukan ML dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu Deo sudah bertekad akan membalas dendam atas sakit hatinya kepada semua gadis yang menjadi pacarnya." Evan menceritakan semua yang dia tau tentang Deo.


" Tapi kan nggak semua gadis sifatnya seperti mantan pacarnya itu."


" Deo nggak memperdulikan itu, dia hanya ingin membalas sakit hatinya, itu yang aku tau." Evan menghentikan mobilnya lalu keluar dari mobil.


Carlos tidak menyangka Deo pernah mengalami hal buruk seperti itu. Tapi dia masih tidak habis pikir, kenapa Deo melampiaskan kemarahannya kepada semua pacar-pacarnya yang sama sekali tidak tau apa-apa.


⭐⭐⭐⭐


Biasakan klik tombol jempol ya setelah selesai membaca, jangan lupa kasih bintang 5 untuk novel ini. Aku lihat rating novel ini mulai menurun😭😭.


Apa cerita aku kurang menarik ya hingga ada yang tega memberi penilaian buruk.😭😭


Aku udah usahain ini update tiap hari. 2 bab sekaligus lagi. Tapi kenapa hasilnya tidak memuaskan😭😭.


Minta tolong dong, kasih bintang 5 biar retingnya naik lagi.πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ™πŸ™

__ADS_1


Jangan lupa baca yang season 2 ya..ramaikan juga yang season 2..


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2