
" Kamu lagi ngelamunin apa?" Tanya Tari. Dona masih tetap diam, dalam pikirannya hanya dipenuhi oleh lelaki yang sudah menarik hatinya.
" Woy..ditanya malah diam aja!" Seru Tari sambil menepukan kedua tangannya.
" Tadi aku lagi mikirin Frans, aku kasian sama dia, sekarang dia lagi sibuk karena pekerjaannya begitu menumpuk dan itu semua gara-gara aku." Ucap Dona lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya.
" Maksudnya? kok gara-gara kamu, memangnya kamu ngapain?" Tanya Tari binggung.
" Dua hari yang lalukan Frans pergi ke Bandung untuk menemui aku, dia pergi mencariku tanpa menghiraukan perkerjaanya, jadi sekarang kerjaannya jadi menumpuk seperti sekarang ini. Aku merasa sangat menyesal. Andai waktu aku nggak egois dan memikirkan diri aku sendiri." Ucap Dona menyesal.
" Ya itukan juga bukan salah kamu Don, waktu itu kan kamu juga dalam keadaan panik dan takut. Apalagi mama kamu yang di rawat di rumah sakit. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri."
" Tapi tetap saja aku merasa bersalah, seharusnya setelah mama sadar aku langsung memberitahu Frans, tapi karena rasa bahagia aku karena mama telag sadar, aku sampai melupakan semuanya."
Dona mengingat saat mama nya sudah sadarkan diri, gadis itu sampai lupa untuk mengaktifkan kembali ponselnya. Bahkan dirinya juga tidak mengabari lelaki yang sangat mencemaskan keadaannya.
" Sudah nggak usah dipikirkan, aku yakin Pak Frans pasti bisa menyelesaikannya." Ucap Tari sambil menepuk bahu Dona.
" Sudah waktunya makan siang, lebih baik sekarang kita ke kanti, aku udah lapar banget ini, cacing diperut aku kayaknya udah pada demo," Ajak Tari. Dona menganggukan kepalanya, ia juga merasa sangat lapar.
Sesampainya di kantin Dona dan Tari memesan soto dan es jeruk, mereka makan sambil berbincang-bincang.
" Tar kamu duluan aja, aku mau pesan makanan untuk Pak Frans dulu. Aku takut dia nggak sempat makan siang."
Terlihat jelas kekhawatiran dari raut wajah Dona. Tari mengerti apa yang tengah Dona rasakan. Ia juga akan melakukan hal yang sama jika dirinya berada di posisi Dona saat ini. Apa lagi Tari tau kalau mereka saling mencintai.
" Ok..aku duluan ya." Ucap Tari lalu berjalan meninggalkan Dona.
Dona memesan makanan dan membawanya keruangan Frans. Kini gadis itu tengah berdiri didepan pintu ruangan Frans. Dona mengetuk pintu.
Tokk..tokk..tokk..
__ADS_1
" Masuk." Sahut Frans dari dalam.
Dona membuka pintu dan masuk kedalam ruangan Frans. Gadis itu melihat pujaan hatinya masih sibuk dengan laptopnya. Dona menaruh makanan diatas meja, ia berjalan menuju meja kerja Frans.
" Lebih baik sekarang kamu makan siang dulu, kerjaannya dilanjut lagi nanti." Ucap Dona sambil menyentuh pundak Frans.
" Bentar lagi sayang..ini sudah mau selesai." jawab Frans yang masih sibuk dengan laptopnya.
" Udah, terusin nanti aja, kamu makan dulu. Aku nggak mau kamu sampai sakit."
Frans menutup laptopnya, ia tatap gadis yang kini berdiri disampingnya. Ia genggam tangan gadis itu lalu di kecupnya.
" Aku mau makan asal kamu suapin aku,"
" Siaappp bos!" Ucap Dona senang.
Dona menyuapi Frans dengan penuh kasih sayang, bahkan sekarang Frans udah seperti bayi yang minta makan sama ibunya. Akhirnya makanan habis tak tersisa,
" Makasih ya sayang, kamu sangat perhatian sama aku. Aku bersyukur mempunyai kamu dalam hidup aku." Ucap Frans lalu mengecup kening Dona.
" Makasih sayang," Ucap Frans sambil menerima teh manis itu lalu meminumnya.
" Aku mohon sama kamu, kamu jangan terlalu menforsir tubuh kamu. Aku nggak mau kamu terlalu capek kerja, aku nggak tega melihatnya."
" Nggak kok sayang, semuanya sudah selesai. Makasih kamu sudah mengkhawatir aku." Frans menggenggam tangan Dona.
" Sayang aku butuh obat untuk menghilangkan rasa lelahku." Sambung Frans lagi.
" Memangnya obatnya apa? coba nanti aku beliin." Dona menanggapinya dengan tatapan serius.
" Obatnya nggak dijual sayang."
__ADS_1
" Kalau nggak dijual gimana aku bisa beliin buat kamu," Ucap Dona lalu mengeryitkan dahinya.
Frans mengeser duduknya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dona,
" Obatnya hanya bisa dikasih sama kamu sayang," Bisik Frans di telinga Dona.
" Maksud kamu apa?"
Frans menatap lekat kedua mata indah Dona, ia memajukan wajahnya hingga tak ada jarak lagi diantara mereka. Frans mulai menyatukan bibirnya dengan bibir Dona. Mata Dona membulat seketika, tapi ia langsung memejam kan kedua matanya saat Frans mulai melilitkan lidahnya kedalam mulut Dona. Dalam sekejab Dona dan Frans menikmati setiap pangutan pada bibir mereka.
Dengan nafas yang mulai tak beraturan, Frans mengakhiri pangutannya. Ia kecup kening Dona. Gadis itu membuka kedua matanya secara perlahan, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa setiap Frans mencium bibirnya jantungnya selalu berdebar-debar. Padahal ini bukan yang pertama kali ia lakukan bersama dengan Frans.
" Makasih sayang atas obatnya, lelah ku seketika lenyap." Ucap Frans dengan senyuman diwajahnya.
" Kamu ni ya, main cium aja. Ini kan di kantor. Kalau ada yg lihat gimana?" Ucap Dona sambil mengerucutkan bibirnya. Walaupun tadi ia juga menikmatinya tapi tetap saja ia merasa takut jika tiba-tiba ada orang yang masuk kedalam ruangan itu.
" Nggak akan ada yang lihat, mana ada orang yang sembarangan masuk keruangan aku,"
" Ya sudah aku mau balik kerja dulu, sekalian aku mau balikin piring kotor ini." Ucap Dona sambil menaruh piring kotor dalam nampan.
Dona membawa nampan dan berjalan keluar dari ruangan Frans. Frans kembali meneruskan pekerjaannya yang sudah hampir selesai. Setelah dua jam berkutik di depan laptop akhirnya pekerjaannya selesai.
" Akhirnya....selesai juga," Ucap Frans sambil bersandar di punggung kursi kerjanya.
Frans memeriksa kembali berkas-berkas yang tadi di bawa Dona. Setelah semua pekerjaannya selesai, Frans keluar dari ruang kerjanya. Ini adalah waktunya pulang kerja.
Frans membuka pintu ruangan Dona dan masuk kedalam ruangan.
" Sayang ayo kita pulang." Ucap Frans yang sudah berdiri di depan Dona. Dona menganggukan kepalanya lalu mengambil tas dan berdiri.
Frans mengandeng tangan Dona dan berjalan keluar ruangan. Mereka masuk ke dalam lif, lif terbuka di lantai 1. Frans mengandeng tangan Dona menuju mobilnya. Lelaki itu membukakan pintu mobil untuk gadisnya. Dona merasa sangat tersanjung.
__ADS_1
" Makasih ya, akhir-akhir ini kamu menjadi semakin romantis," Sanjung Dona dengan ciri khas senyuman di wajahnya.
⭐⭐⭐⭐