
Hari yang ditunggu telah tiba, Dona sedang berada di kamar untuk dirias, dia sudah bangun pagi-pagi sekali.
"Sayang kamu cantik sekali." sanjung Meysa.
"Iya, kakak cantik banget, kak Frans pasti terpana melihat kecantikan kakak." ucap Mery.
Dona hanya tersenyum sambil menatap dirinya di cermin. Jam sudah menunjukkan pukul 08.30 pagi, acara akad nikah akan diadakan pukul 09.00 pagi.
"Sayang, Mama keluar dulu, Mama mau lihat keadaan diluar, Mama mau lihat apa pak penghulunya udah datang apa belum." ucap Meysa.
Dona menganggukkan kepalanya.
"Mery akan menemani kakak disini." ucap Mery.
"Baik sayang." ucap Meysa lalu keluar dari kamar Dona.
Sandy masuk kedalam kamar Dona. Dia kagum melihat kecantikan Dona.
"Seandainya aku yang akan menikah denganmu, rasanya pasti bahagia banget." Gumannya dalam hati.
"Kak Sandy, ngapain kakak berdiri disitu, ayo masuk." ucap Mira.
Sandy berjalan mendekati Mira, Mery dan Dona.
"Kamu cantik banget Don." puji Sandy.
"Makasih San." ucap Dona dengan senyuman diwajahnya.
"Don, maafin sikap aku kemarin ya, aku terbawa api cemburu, aku nggak bisa mengendalikan diriku." ucap Sandy menyesal.
"Nggak apa-apa kok San, aku mengerti kok, udah nggak usah dibahas lagi." ucap Dona.
Meysa membuka pintu dan masuk kedalam kamar Dona.
"Sayang, kamu sudah siap? Frans dan pak penghulu udah menunggu dibawah." ucap Meysa.
Dona menganggukkan kepalanya, Meysa mengandeng tangan Dona keluar dari kamar dan diikuti Mira, Mery dan Sandy. Meysa membawa Dona menuju pelaminan, Frans sudah duduk didepan pak penghulu.
Semua tamu undangan menatap kearah Dona, mereka kagum dengan kecantikan Dona. Jantung Dona berdebar-debar, dia merasa gugup, dia duduk di samping Frans. Frans menatap wajah Dona.
"Kamu cantik sekali sayang." puji Frans pelan.
Dona hanya bisa tersenyum mendengar pujian calon suaminya.
"Dengan mas siapa saya bicara?" tanya pak penghulu tanpa melihat buku nikah yang ada diatas meja.
"Frans Alberto pak." sahut Frans sambil menjabat tangan pak penghulu.
"Saya panggil mas Frans aja ya, gimana mas Frans sudah siapkah anda berumah tangga?" tanya pak penghulu.
"Siap pak." sahut Frans mantap.
Pak penghulu dan para tamu undangan tertawa mendengar jawaban Frans, Dona hanya tersenyum.
"Baiklah saudara saudara karena waktu sudah menunjukan pukul 09.00, bagaimana kalau ijab kabulnya segera dilaksanakan, gimana mas Frans, apa perlu latihan dulu apa langsung praktik?" tanya pak penghulu.
__ADS_1
"Langsung aja pak." sahut Frans tegas.
Dan acarapun dilanjutkan.
"Saya nikahkan engkau Frans Alberto bin David dengan ananda Dona Anggita binti Sahid dengan mas kawin emas seberat 100 gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Dona Anggita binti Sahid dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Frans dengan lantang.
"Bagaimana saksi, sah!" tanya pak penghulu.
"Sah..sahhhhhh." ucap para tamu undangan serempak.
"Baiklah, pengantin laki-laki silahkan memasangkan cincin pernikahannya dijari mempelai wanita." ucap pak penghulu.
Frans mengambil cincin dan memasangkan cincin itu dijari manis Dona, begitupun sebaliknya.
"Cium..cium..cium..cium." teriak para tamu undangan.
Frans menatap wajah Dona dan langsung mencium kening Dona, sebenarnya Frans ingin sekali mencium bibir Dona yang sensual tapi ditahannya. Frans merasa malu karena banyak mata yang menatap mereka.
"Selamat ya mas Frans dan mbak Dona, sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri." ucap pak penghulu.
"Terimakasih pak." ucap Frans dan Dona bersamaan.
Acara dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Frans dan Dona duduk di pelaminan, semua tamu undangan sedang menyantap makanan yang disediakan.
Sandy menatap kearah pelaminan, hatinya terasa begitu sakit, pupus sudah harapannya untuk bisa menikahi Dona. Sandy keluar dari ruangan itu.
"Kak Sandy mau kemana?" tanya Mira.
"Kakak belum bisa melupakan kak Dona?" tanya Mira.
"Aku nggak bisa Mir, aku masih sangat mencintainya." ucap Sandy lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Kasian kak Sandy." ucap Mira sambil melihat kepergian Sandy.
Dona dan Frans berdiri sambil menyalami para tamu undangan.
"Selamat ya sobat, akhirnya kamu menikah juga." ucap Marcel sambil memeluk tubuh Frans.
"Makasih ya udah mau datang." ucap Frans sambil membalas pelukan Marcel.
"Selamat ya Don, semoga kalian bahagia sampai kakek nenek." ucap Marcel sambil menjabat tangan Dona.
"Bukan sampai kakek nenek, tapi sampai maut memisahkan." ucap Dona dengan senyuman di wajahnya.
Frans dan Marcel pun tersenyum mendengar ucapan Dona.
"Aku mencintaimu sayang." ucap Frans
sambil merangkul pinggang Dona.
"Udah,.mesra-mesraannya nanti aja." sindir Marcel.
Dona dan Franspun tersenyum.
__ADS_1
"Makanya cepetan nikah." ledek Frans.
"Nikah sama siapa, pacar aja nggak punya." ucap Marcel sambil mengerucutkan bibirnya.
"Yang sabar ya pak, saya do'akan semoga cepat dapet jodoh." ucap Dona.
"Pak Marcel cepetan dong, kasian yang dibelakang." teriak Tari.
"Iya-iya, bawel." ucap Marcel sambil berjalan turun dari pelaminan.
Tari dan Kevin mengucapkan selamat kepada Dona dan Frans.
"Makasih ya, Tar, Vin. Kapan kalian mau menyusul?" goda Dona.
"Masih menunggu jawaban Tari." ucap Kevin sambil melirik Tari.
"Kamu sudah melamarnya?" tanya Dona terkejut.
"Kalian lagi ngomongin aku ya." sahut Tari. Tari melirik kearah Kevin.
"Kalau aku masih lama Don, aku belum siap." sambungnya.
"Kita turun dulu, kasian yang dibelakang." ajak Kevin sambil menarik tangan Tari.
Sudah hampir dua jam mereka berdiri sambil menyalami para tamu undangan, akhirnya mereka bisa istirahat walau hanya sebentar.
"Kamu capek sayang, kamu haus nggak?" tanya Frans.
"Aku memang capek sayang, tapi rasa capek ini tidak seberapa dengan kebahagian yang aku rasakan sekarang." ucap Dona dengan senyuman diwajahnya.
"Aku juga bahagia sayang, akhirnya kamu sudah sah menjadi istri aku, menjadi nyonya Frans Alberto." ucap Frans sambil mengecup tangan Dona.
Akhirnya acara pun selesai, Dona dan Frans masuk kedalam kamar untuk beristirahat. Dona sedang menganti pakaiannya dan menghapus riasannya. Frans memeluk Dona dari belakang.
"Sekarang kita sudah sah, jadi aku bebas melakukan apa pun sama kamu." bisiknya pelan.
"Emm..aku mandi dulu, gerah banget." ucap Dona sambil melepaskan pelukan Frans dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah setengah jam akhirnya Dona selesai mandi, Dona keluar dari kamar mandi.
"Sekarang kamu mandi dulu." ucap Dona sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Frans menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kamar mandi.
Dona berjalan menuju lemari, dia mengambil lingery yang dibelinya waktu di Paris. Dia menatap dirinya di cermin, dia merasa malu saat melihat tubuhnya yang menggunakan lingery yang begitu tipis hingga memperlihatkan lekuk tubuhnya, dia berjalan menuju ranjang dan duduk ditepi ranjang.
Setelah selesai mandi Frans keluar dari kamar mandi. Dia melihat Dona sedang duduk ditepi ranjang dengan mengenakan lingery yang dia belikan waktu di Paris.
"Sayang kamu cantik sekali, kamu sungguh menggodaku." ucap Frans sambil menatap wajah Dona.
Dona hanya tersenyum sambil menunduk malu. Frans berjalan menghampiri Dona. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Kini mereka sudah sah menjadi suami istri.
"Aku mencintaimu sayang, terimakasih kamu sudah mau menikah denganku dan menjadi istriku." Bisik Frans di telinga Dona.
Malam ini menjadi malam yang panjang untuk Dona dan Frans. Suasana malam ini sangat mendukung karena hawanya yang sangat dingin. Tapi bagi Frans dan Dona malam ini akan menjadi malam yang panas.
__ADS_1
¤¤¤¤