
"Aku kesini niatnya mau mengajak kamu makan siang, tapi sekarang jadi nggak mood." Sahut Dona sambil cemberut.
"Kok gitu, kamu masih marah?" Tanya Frans sambil mengeryitkan dahi.
"Nggak tau ya." Sahut Dona ketus.
"Jangan gitu dong sayang, aku paling nggak tahan kalau lihat kamu gambek, nanti aku nggak dapat jatah lagi." Ucap Frans sambil menggenggam tangan Dona.
"Ya itu resiko kamu, salah siapa bikin aku marah." Ucap Dona lalu melepaskan genggaman tangan Frans.
Dona melipat kedua lengannya di dada.
"Jangan gitu dong, kamu kan tau aku paling nggak bisa menahan diri, terus gimana nanti nasib aku." Ucap Frans sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya kamu harus bisa menahannya, karena aku nggak akan kasih jatah kamu selama satu minggu."
"Hah! kok lama banget, bisa mati berdiri aku sayang." Rengek Frans.
Frans menggenggam tangan Dona.
"Aku minta maaf jika aku sudah menyakiti hati kamu, tapi itu kan bukan kemauan aku, itu cuma salah paham sayang, masa aku harus dihukum seberat ini, sehari aja aku udah nggak kuat gimana aku harus menahannya selama satu minggu." Pinta Frans sambil memanyunkan bibirnya.
"Ya mau gimana lagi, sudah jalannya seperti itu." Ucap Dona sambil menatap wajah sendu suaminya.
"Maksud kamu apa? kalau kamu nggak marah sama aku, kan aku bisa tetap dapat jatah aku." Tanya Frans binggung dengan sikap Dona.
"Aku udah nggak marah sama kamu, tapi kamu tetap nggak dapat jatah selama satu minggu." Ucap Dona sambil mengusap lembut pipi suaminya.
"Kenapa? apa kamu sakit lagi? waktu kamu sakit aku udah nggak dapat jatah selama tiga hari, masa sekarang nggak dapat jatah lagi, satu minggukan lama banget, pokoknya aku nggak mau, malam ini pokoknya aku akan minta hak aku." Ucap Frans sambil melipat kedua lengannya di dada.
"Ya nggak bisa gitu dong, nanti dosa lo."
"Kamu kan istri sah aku jadi terserah aku dong." Ucap Frans ketus.
"Nggak bisa ya tetap nggak bisa." Ucap Dona kekeh.
"Kenapa sih? apa kamu sudah bosan ya sama aku dan mau mencari yang lain yang lebih kuat dari aku mungkin." Tanya Frans kesal.
"Ya ampun sayang, kok kamu mikirnya kayak gitu, mana mungkin aku cari yang lain, satu aja udah bikin aku lemas, masa aku mau cari yang lain."
__ADS_1
Frans menghela nafas panjang.
"Terus kenapa? ngomong dong sama aku kalau aku ada salah."
"Kamu nggak salah apa-apa kok, tapi sekarang aku lagi kedatangan tamu."
"Siapa? cowok mana yang berani menemui istri Frans Alberto, aku akan bikin perhitungan sama dia!" Seru Frans marah.
"Bukan tamu itu yang aku maksud, tapi tamu bulanan aku." Ucap Dona sambil tersenyum.
"Maksud kamu, kamu lagi itu." Tanya Frans sambil menatap wajah istrinyan
Dona menganggukan kepala.
"Aduh sayang, kenapa nggak bilang dari tadi, bikin aku emosi aja, kalau itu sih aku usahain aku akan menahannya, karena itu tidak dapat diganggu gugat." Ucap Frans sambil tersenyum.
"Yakin bisa menahannya." Goda Dona.
"Semoga bisa, asal kamu nggak mengoda aku." Ucap Frans sambil memeluk tubuh Dona.
"Aku nggak akan mengoda kamu, tapi malahan kamu yang mengoda aku." Ucap Dona sambil membalas pelukan Frans.
"Oya sayang, kamu mau kan menemani aku untuk menghadiri pernikahan Selin, sekalian kita pergi honeymoon, walau nggak ke Paris sih."
"Ok, aku akan menemani kamu, aku nggak akan membiarkan kamu pergi kesana sendirian."
"Memangnya kenapa sayang?" Tanya Frans penasaran.
"Siapa tau nanti kamu disana malah bernostalgia sama si Selin itu." Sahut Dona sambil cemberut.
"Ooo...ceritanya kamu lagi cemburu sama Selin, mana mungkin aku melakukan itu, bisa-bisa aku dikroyok sama bodyguardnya si kutu buku itu."
"Memangnya siapa sih si kutu buku itu?" Tanya Dona penasaran.
"Namanya Edward, dia itu anaknya pengusaha terkemuka di Australia, sebenarnya Edward itu orangnya pendiem, baik dan sopan, dia itu sering jadi bahan candaan teman-temannya, tapi nggak ada satu pun orang yang berani menyentuhnya karena kemana-mana dia selalu di dampingi oleh bodyguardnya." Jelas Frans.
"Terus kenapa Selin lebih suka sama kamu ketimbang sama si Edward?" Tanya Dona penuh selidik.
"Ya mana aku tau, padahal Selin itu adalah idolanya kampus. Marcel aja sampai klepek-klepek dibuatnya."
__ADS_1
"Selin kan cantik, kenapa kamu nggak tertarik sama dia?" Tanya Dona penasaran.
"Karena dulu aku nggak percaya sama yang namanya cinta, dulu aku nggak tau gimana rasanya jatuh cinta, yang aku pikirkan dulu itu hanya belajar dan gimana caranya agar aku bisa sukses."
"Aku nggak percaya, kalau kamu nggak percaya sama cinta, tapi kenapa sekarang kamu bisa jatuh cinta sama aku?"
Dona menatap lekat wajah suaminya yang semakin hari semakin bertambah ketampanannya.
"Aku sendiri juga binggung, entah mengapa sejak pertama kali aku melihat kamu ada sesuatu yang lain dalam diri aku, wajah kamu itu selalu muncul dipikiran aku, sehari aja nggak ketemu rasanya kangen banget dan aku paling nggak suka melihat kamu dekat sama cowok lain."
"Berarti aku ini cinta pertama kamu dong sayang?" Tanya Dona bangga.
"Ya, kamu itu cinta pertama dan terakhir buat aku." Ucap Frans lalu mengecup kening Dona.
"Tapi maaf sayang, kamu bukan cinta pertama aku." Ucap Dona pelan.
"Nggak apa-apa sayang, yang terpenting aku adalah cinta terakhir buat kamu." Ucap Frans sambil menggenggam tangan Dona.
"Aku mencintaimu sayang."
"Aku lebih mencintaimu, jangan pernah meninggalkan aku." Ucap Frans lalu mengecup punggung tangan Dona.
"Aku nggak akan pernah meninggalkan kamu karena kamu adalah separuh jiwaku."
"Kayak judul lagu sayang, separuh jiwaku." Goda Frans sambil tersenyum.
"Kamu kan memang seperti lagu yang selalu membuat hari-hari ku bahagia." Rayu Dona.
"Kamu ternyata bisa mengombal juga ya." Ucap Frans sambil mencubit hidung Dona.
"Sayang aku lapar." Ucap Dona sambil mengusap perutnya.
"Kamu mau makan apa sayang?"
" Terserah kamu aja."
"Ya udah ayo kita pergi makan." Ajak Frans sambil mengandeng tangan Dona.
Mereka keluar dari ruangan.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟