
Sudah satu bulan Nena sekolah di sekolah Evan, bahkan dirinya kini sudah akrab dengan anggota Most Wanted. Bagi Nena mereka semua orang-orang yang sangat baik dan ramah. Mereka selalu membantunya disaat Nena sedang dalam masalah. Seperti saat ini.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Evan sambil membantu Nena berdiri.
"Sialan itu jambret, kalau nanti ketemu lagi akan aku hajar habis-habisan!" Seru Deo emosi.
"Aku nggak apa-apa kok, makasih udah mau nolongin aku." Ucap Nena sambil menahan sakit disikunya.
Carlos mengembalikan tas Nena yang berhasil dia rebut dari si jambret.
"Makasih." Nena mengambil tasnya dari tangan Carlos.
"Ngapain kamu disini sendirian?" Tanya Carlos penasaran.
"Aku sedang menunggu supir untuk menjemputku."
Carlos melihat siku tangan Nena mengeluarkan darah.
"Pasti sakit ya rasanya?" Carlos memegang lengan Nena lalu membersihkan luka Nena dengan sapu tangannya.
Nena sangat terkejut dengan sikap Carlos. Dia menarik lengannya dari tangan Carlos.
"Emm..ini hanya luka kecil kok, bentaran juga akan reda sakitnya."
"Terserah!" Ucap Carlos lalu membuang sapu tangannya.
"Ayo kami antar pulang." Tawar Evan.
Nena menganggukan kepalanya. Mereka masuk kedalam mobil. Nena duduk dibelakang bersama dengan Carlos. Carlos melihat sepatu yang dikenakan Nena. Dia tersenyum melihat Nena memakai sepatu yang dia berikan sebagai hadiah waktu itu.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Tanya Nena penasaran.
"Nggak ada apa-apa." Ucap Carlos sambil menahan senyumannya.
"Aneh!" Nena menatap keluar jendela.
Evan terus menatap Nena dari kaca spion didepannya. Nena ternyata juga tengah mencuri-curi pandang menatap Evan.
"Na, rumah kamu dimana?" Tanya Deo sambil terus menatap kedepan.
"Lurus aja terus nanti belok kiri, rumahnya kanan jalan." Sahut Carlos.
Deo dan Evan saling menatap.
"Kok kamu tau!" Ucap Deo dan Evan bersamaan.
Carlos menatap Nena sekilas lalu menatap keluar jendela.
"Wah..jahat kamu Los, kamu diam-diam nikung aku dari belakang!" Seru Deo.
"..." Carlos tetap diam dan tidak mengubris ucapan Deo.
Evan dan Nena saling menatap. Nena penasaran dengan apa yang sedang di pikirkan Evan tentangnya.
Sesampainya di rumah Nena.
"Mau mampir dulu nggak?" Tawar Nena.
"Nggak usah, kita langsung balik aja." Sahut Evan datar.
Nena hanya tersenyum lalu membuka pintu mobil, dia bergegas keluar dari mobil. Deo melajukan mobilnya meninggalkan rumah Nena.
__ADS_1
Carlos merasakan aura yang begitu mencekam dari arah depan. Tentu saja aura itu keluar dari tubuh Evan dan Deo.
Kini mereka berada disebuah Cafe tempat mereka biasa nongkrong.
"Kamu mau bicara sendiri atau kita paksa kamu untuk bicara!" Seru Deo sambil melipat kedua lengannya di dada.
Carlos mengaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia merasa sedang di interogasi atas kejahatan yang sama sekali tidak dia lakukan.
"Waktu itu aku cuma kebetulan ketemu sama Nena di mall, dan saat itu ada sedikit insiden, jadi aku mengantarnya pulang." Jelas Carlos.
"Maksud kamu waktu kita pergi ke mall waktu itu, dan kamu pulang duluan tanpa mengabari aku, membuat aku dan Clarisa kelimpungan mencari kamu!" Seru Evan kesal.
Carlos menyengir kuda sambil mengucapkan kata maaf.
"Memangnya ada insiden apa yang mengharuskan kamu mengantar Nena pulang?" Tanya Deo penasaran.
"Waktu itu aku mentraktir Nena makan disalah satu restoran di mall itu, Nena lalu memesan kepiting, dan saat Nena memakan kepiting itu tiba-tiba dia langsung sesak nafas, jadi aku membawanya ke rumah sakit setelah itu aku lalu mengantarnya pulang." Jelas Carlos.
"Kenapa kamu nggak menceritakan ini sama aku? kalau kamu memberitahu aku, aku akan datang menolong Nena dengan begitu dia akan merasa berhutang budi sama aku terus dia akan jatuh cinta sama aku deh." Ucap Deo sambil mengerucutkan bibirnya.
Evan menjitak kepala Deo.
"Udah ditolak masih juga berharap, memangnya stock cewek kamu menipis apa." Sindir Evan.
"Namanya juga usaha." Ucap Deo sambil menyengir kuda.
"Itu bukan usahanya namanya, tapi kamu merendahkan harga diri kamu didepan Nena, bukannya suka sama kamu, Nena malahan jadi invil sama kamu." Ucap Carlos sambil menggelengkan kepalanya.
»»»»»
Nena terus mondar-mandir didalam kamarnya, dia sedang memikirkan tentang tatapan Evan waktu didalam mobil Deo tadi.
Nena menguling-guling tubuhnya di ranjang, dia terlihat sangat bahagia.
"Mendingan sekarang aku telfon Evan aja, aku ingin sekali mendengar suarannya."
Nena mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghungi Evan.
Evan yang sedang asyik bercanda gurau dengan Deo dan Carlos merasakan getaran disaku celananya. Dia mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang menelfonnya.
"Nena! ada apa dia menelfonku?" Guman Evan dalam hati.
Evan menatap Carlos dan Deo, dia izin untuk ke toilet sebentar.
"Ada apa?" Sahut Evan sambil berjalan.
"Emm..aku cuma ingin mengucapkan terimakasih karena kamu udah mau mengantar aku pulang." Ucap Nena gugup.
"Hemm."
Cuma deheman yang keluar dari mulut Evan.
"Soal Carlos yang tau rumah aku, itu karena wak--"
"Aku udah tau, tadi Carlos sudah menceritakan semuanya sama aku dan Deo." Potong Evan.
Nena menghela nafas lega. Dia lega karena Evan tau yang sebenarnya dan tidak salah paham padanya.
"Besok aku jemput."
"Hah!...maksudnya!" Ucap Nena binggung.
__ADS_1
"Mau apa nggak!"
"Mau..mau."
"Besok aku jemput jam 13.00 WIB."
Evan langsung menutup telfonnya. Terlihat senyuman terpancar dari wajah Evan.
Nena juga sama bahagianya seperti Evan.
"Apa tadi Evan mengajak aku kencan?..
"Ye..ye..akhirnya Evan mengajak aku kencan, aku mencintaimu Van!" Teriak Nena keras.
¤
¤
Evan kembali menghampiri Deo dan Carlos.
"Ke toilet aja lama banget, ngapain aja sih kamu!" Seru Deo.
"Ingin tau aja urusan orang! kepo!" Ucap Evan lalu duduk disamping Carlos.
Carlos curiga dengan gerak-gerik Evan yang senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Wah..kesambet ni orang! senyum-senyum sendiri kayak orang gila." Ledek Deo sambil menggelengkan kepalanya.
"Kamu kali yang gila!" Seru Evan tidak terima.
"Ada yang sedang kamu rahasiakan dari kita ya?" Tanya Carlos penasaran.
Evan menggelengkan kepalanya.
"Terus apa yang membuat kamu sebahagia ini?"
"Aku biasa-biasa aja kok, kalian aja yang aneh." Ucap Evan lalu mengambil minumannya dan meneguknya.
Carlos dan Deo saling menatap, Deo menggerakan kedua bahunya tanda dia tidak tau apa-apa.
"Udah nggak usah kepo deh, aku senang karena tadi Clarisa menelfon aku, dan dia mau mentraktir aku nonton film, itu aja." Ucap Evan berbohong.
Dia terpaksa berbohong karena dia tidak ingin menyakiti perasaan Deo. Dia tau betul jika selama ini Deo masih mengharapkan Nena.
"Sialan! aku kira apaan, bikin orang penasaran aja." Ucap Carlos sambil menipuk Evan dengan ponselnya.
"Nggak kasian kamu sama ponsel kamu." Ledek Deo.
"Sialan! bukannya mengkhawatirkan kepala aku, tapi kamu malah mengkhawatirkan ponsel Carlos! teman apaan sih kamu!" Seru Evan kesal.
"Bercanda Van...bercanda." Ucap Deo sambil menahan tawanya.
Carlos mengambil ponselnya yang terlempar ke lantai.
"Untung tidak pecah." Ucap Carlos sambil mengusap-usap layar ponselnya.
"Ini juga, malah ponselnya yang diusap-usap!" Seru Evan semakin dibuat kesal.
Carlos dan Deo hanya tertawa melihat kekesalan Evan.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1