
Clarisa memutuskan untuk menghindari Evan sementara waktu. Dia ingin mencoba menghilangkan rasa cintanya kepada Evan. Selain itu kedua orangtuanya selalu mendesaknya untuk bertunangan dengan Tino.
Tino adalah putra dari rekan bisnis Papa nya Clarisa. Tino lebih dewasa dari Clarisa, dia baru saja menyelesaikan pendidikan S1 nya. Demi menghilangkan rasa cintanya kepada Evan, Clarisa menyetujui permintaan kedua orangtuanya, menerima pertunangannya dengan Tino.
Walau terasa sulit bagi Clarisa untuk memulainya, tapi dia sudah bertekad untuk menjalaninya. Tino juga menyandari jika Clarisa hanya terpaksa menerimanya, tapi dia tetap menunggu hingga Clarisa bisa sepenuhnya membuka hati untuknya.
Tino sengaja mengajak Clarisa makan malam untuk menghilangkan kesedihannya. Dia tau jika selama ini Clarisa menahan kesedihannya sendiri.
"Aku nggak ada niat apa-apa, aku hanya ingin menghilangkan kesedihan kamu."
"Siapa bilang aku sedih, aku nggak sedih kok." Elak Clarisa.
"Iya..ya..ya, kamu nggak sedih. Kalau gitu aku ganti deh alasannya," Tino seolah-olah sedang berfikir, dia menepukan jari telunjuk kekeningnya.
"Gimana kalau aku ganti dengan alasan aku mau mengajak kamu kencan."
Clarisa membulatkan kedua matanya sembil menatap Tino.
"Apa! Kencan!" Seru Nena.
"Emm...salah lagi ya." Tino mengaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal.
Clarisa menghela nafas panjang.
"Terserah kamu mau bilang apa! Kita mau kemana?"
Tino menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Beneran ni kita kencan." Tanya Tino memastikan.
"Terserah kamu mau mengartikan apa, aku cuma bosan dirumah dan ingin jalan-jalan."
"Siapp!"
Clarisa masuk kedalam mobil, Tino juga masuk kedalam mobil. Tino melajukan mobilnya meninggalkan rumah Clarisa.
"Kita makan malam dulu ya, habis itu aku akan mengajak kamu kesuatu tempat."
"Hemm."
"Boleh aku bertanya sesuatu sama kamu?"
"Apa?" Ucap Clarisa sambil terus menatap keluar jendela mobil.
"Kenapa kamu mau menerima pertunangan ini? bukannya kamu selalu menolak jika aku ajak bertemu?"
"Aku berubah pikiran aja, lagian Papa dan Mama sangat menyukaimu." Sahut Clarisa dengan malas.
"Apa kamu juga menyukaiku?"
Clarisa menatap Tino sekilas lalu kembali menatap keluar jendela.
"Kok diam, apa kamu nggak menyukaiku?" Tanya Tino lagi.
__ADS_1
"Apa itu penting? bukannya yang terpenting aku mau menerima pertunangan ini?" Sahut Clarisa asal.
Tino menghentikan mobilnya disebuah restoran. Mereka turun dari mobil dan masuk kedalam restoran.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Tino sambil melihat buku menu.
"Spageti aja."
Tino memanggil pelayan lalu dia memesan makanan dan minuman. Tino melihat orang yang sangat familiar untuknya.
"Om Frans!" Teriak Tino sambil melambaikan tangannya.
Clarisa membulatkan kedua matanya saat mendengar Tino memanggil nama Frans. Dia menengok kearah belakang, ternyata benar, Evan dan keluarganya juga sedang makan malam di restoran itu.
"Ais..sial!" Gerutu Clarisa.
"Sa, bagaimana kalau kita gabung sama Om Frans?"
Clarisa menggelengkan kepalanya.
"Bukannya itu Evan, teman kamu itu?" Tanya Tino saat melihat Evan sedang berjalan kearah meja mereka.
"Hai Sa, kamu lagi makan malam disini juga ya?" Sapa Evan sambil menepuk bahu Clarisa.
Clarisa menyingkirkan tangan Evan dari pundaknya.
"Kamu bisa lihat sendirikan." Sahut Clarisa ketus.
Tino bisa melihat, sedang ada masalah diantara Evan dan Clarisa.
"Jangan lama-lama." Ucap Clarisa dengan mencemberutkan bibirnya.
"Kenapa? belum juga aku pergi, udah kangen ya." Goda Tino.
"Kalau lama, nanti aku tinggal!" Ancam Clarisa.
Clarisa bahkan tidak memperdulikan keberadaan Evan disampingnya.
"Cuma bentar kok sayang." Ucap Tino dengan ditambahi embel-embel sayang.
Tino mengusap puncak kepala Clarisa lalu melangkahkan kakinya menjauh.
Evan duduk didepan Clarisa.
"Kamu masih marah sama aku?"
"Nggak!"
"Terus apa maksudnya ini? kamu selalu menghindar dari aku, kamu bahkan nggak mau bicara sama aku. Apa kamu sudah nggak mau berteman denganku lagi?"
"Nggak! Nggak! Nggak!" Seru Clarisa.
"Aku minta maaf, Sa, jika aku ada salah sama kamu. Kamu boleh marah sama aku, tapi jangan mendiamkan aku kayak gini, aku nggak mau Sa. Rasanya aneh kalau nggak ada kamu." Ucap Evan sambil menggenggam tangan Clarisa.
__ADS_1
Evan melihat cincin yang tersemat di jari manis Clarisa.
"Jadi Clarisa benar-benar sudah bertunangan dengan Tino, pria pilihan Papa nya!" Guman Evan dalam hati.
"Kenapa kamu masih butuh aku? bukannya kamu sudah ada Nena?" Sindir Clarisa.
"Tapi kita ini sahabatan udah lama, Sa. Apa semudah itu kamu melepaskan persahabatan kita?"
"Aku nggak pernah melepaskan persahabatan kita. Aku cuma ingin menjaga jarak sama kamu. Aku masih butuh waktu Van, tolong kamu ngertiin aku." Pinta Clarisa.
"Apa ini cara kamu untuk menghindar dari aku?" Evan mengankat tangan Clarisa dan menunjuk cincin yang tersemat di jari manisnya.
"Clarisa belum memberitahu kamu ya, Van?" Tanya Tino sambil berjalan kearah mereka.
"Kita sudah bertunangan seminggu yang lalu, hanya pihak keluarga aja yang tau. Maaf ya, kita nggak bisa mengundang kamu waktu itu." Ucap Tino sambil memeluk Clarisa dari belakang.
Evan menampakan senyum palsunya. Bukannya Evan tidak bahagia dengan pertunangan Clarisa, tapi sikap Clarisa yang tidak memberitahunya tentang pertunangannya.
"Selamat ya untuk kalian, akhirnya kalian bisa bertunangan juga." Evan lalu berdiri.
"Kalau gitu, aku pergi dulu, silahkan lanjutkan makan malam kalian." Evan melangkahkan kakinya menjauh dari meja Clarisa dan Tino.
Tino duduk didepan Clarisa, dia bisa melihat ada air mata yang menetes dari sudut mata Clarisa.
Tak berselanglama makanan dan minuman yang mereka pesan sudah datang. Mereka mulai makan malam dengan diam.
Evan terus menatap kearah bangku Clarisa, dia masih belum mengerti dengan sikap Clarisa kepadanya.
"Dari pada kamu pentengin terus dari sini, mendingan kamu samperin sana. Ajak Clarisa bicara baik-baik." Carlos mencoba memberi jalan keluar untuk masalah Evan.
"Dia nggak mau bicara sama aku."
"Siapa yang kamu maksud sayang?" Tanya Dona penasaran.
"Clarisa Ma." Sahut Carlos.
"Oya Van, Papa lupa memberitahu kamu kalau teman kamu Clarisa itu sudah bertunangan dengan Tino. Papa Clarisa waktu itu memberikan undangan pertunangan Clarisa kepada Papa, tapi Papa lupa memberitahu kamu. Karena Papa ada meeting penting dengan kolega Papa jadi Papa nggak bisa menghadiri acara pertunangan Clarisa." Jelas Frans.
"Evan sudah tau Pa, tadi Tino memberitahu Evan." Ucap Evan lalu memakan stick yang ada dihadapannya.
"Padahal Clarisa kan masih kecil ya Pa, tapi kenapa kedua orangtuanya sudah buru-buru untuk menunangkan Clarisa." Ucap Dona penuh keheranan.
"Mereka hanya bertunangan dulu Ma, nikahnya nunggu Clarisa lulus kuliah katanya. Lagian Tino itu anak yang baik, dia juga baru saja menyelesaikan gelar S1 nya, dan rencananya juga akan mengejar S2nya." Jelas Frans.
Dona hanya manggut-manggut mendengar penjelasan suaminya.
Evan tidak mengubris penjelasan Papa nya, dia masih menikmati stick yang dia pesan. Tapi tidak dengan Carlos. Dia tau jika Evan sedang tidak baik-baik saja.
Carlos tau seberapa dekat hubungan Evan dengan Clarisa. Mereka sering disebut pasangan yang serasi di kelasnya, walaupun mereka hanya sekedar sahabat.
"Yang sabar." Ucap Carlos sambil menepuk bahu Evan.
"Memangnya aku kenapa? aku baik-baik aja kali." Ucap Evan sambil menatap kearah meja Clarisa dan Tino.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐