
Evan keluar dari kamarnya sambil mengendong tas sekolahnya, ia berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan. Ia melihat Carlos yang kini juga tengah menatapnya. Di tarik kursi di sebelah Carlos untuk didudukinya.
Carlos merasa Evan masih marah padanya, ia mengurungkan niatnya untuk menyapa Evan, karena ia takut akan kembali menyingung perasaannya. Dona dan Frans hanya menggeleng melihat tingkah anak-anaknya yang masih malu-malu untuk saling bertegur sapa.
Setelah selesai sarapan Frans mengantar Evan dan Carlos ke sekolah, sekalian ia berangkat ke kantor, setelah berpamitan dengan Dona, mereka berjalan keluar menuju mobil.
Evan membiarkan Carlos untuk duduk disamping Papa nya, tidak seperti biasanya, Evan yang selalu ingin duduk disamping Papa nya.
" Ada apa dengan Evan? Apa semua ini berhubungan dengan ucapan aku tadi malam yang memintanya untuk mengalah kepada Carlos?" Guman Frans dalam hati.
" Ayo Pa berangkat, kenapa Papa malah bengong?" Ucap Carlos sambil mengoyang-goyangkan lengan Frans.
Frans tersenyum lalu melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang rumahnya. Dalam perjalanan menuju sekolah, Frans selalu memikirkan tentang permintaanya kepada Evan.
" Apa permintaan aku sudah kelewat batas?aku hanya meminta Evan untuk mengalah, bukan berarti dia harus bersikap seperti ini. Bukannya dari dulu dia selalu suka duduk disebelah aku, tapi sekarang--" Guman Frans dalam hati sambil melihat Evan dari kaca spion yang ada didepannya.
Frans melihat Evan tengah menatap keluar jedela. Sesampainya di sekolah, Evan dan Carlos mencium tangan Papa nya lalu keluar dari mobil. Evan sama sekali belum menyapa Carlos begitu juga dengan Carlos, Reza yang biasanya selalu melihat keakraban mereka merasa curiga.
" Apa mereka sedang bertengkar ya? kenapa sejak tadi mereka tidak saling bicara? biasanya mereka berdua yang paling heboh di kelas?" Guman Reza dalam hati.
Semenjak satu tahun yang lalu Reza sudah bisa menerima kehadiran Carlos dan kini mereka sudah berteman akrab. Bahkan Carlos sudah tidak segan-segan meluapkan kekesalannya jika dengan tidak sengaja Reza menyingung perasaannya.
Bel berbunyi tanda jam istrirahat.
Reza mengajak Evan dan Carlos untuk makan di kantin, tak ada penolakan dari keduanya. Mereka mengikuti Reza ke kantin. Seperti biasa mereka memesan semangkuk bakso dan juga es jeruk. Itu sudah menjadi menu makanan mereka setiap jam istrirahat.
Reza menyantap bakso di depannya sambil sesekali melirik Evan dan Carlos yang masih saja terlihat diam. Reza memberanikan diri untuk bertanya, apa yang sebenarnya terjadi diantara kedua sahabatnya itu.
" Apa kalian sedang bermusuhan?" Tanya Reza sambil menatap Evan dan Carlos secara bergantian.
" Enggak." Sahut Evan dingin.
Carlos hanya menggelengkan kepalanya sambil terus menatap Evan. Tapi Reza tidak langsung begitu saja percaya dengan ucapan sahabatnya itu. Reza semakin yakin jika telah terjadi sesuatu diantara kedua sahabatnya itu.
" Aku nggak percaya." Ucap Reza lalu memasukan bakso ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Reza mengunyah bakso itu, " buktinya kalian tidak saling bertegur sapa dari tadi." Sambungnya.
" Itu karena aku lagi malas bicara aja, tapi aku nggak lagi marahan sama dia." Ucap Evan sambil melirik kearah Carlos.
Carlos ingin segera mengakhiri permasalahan diantara mereka, walau Evan bilang tidak marah dengannya, tapi Carlos tau masih ada rasa kesal di dalam hati Evan.
" Aku benar-benar minta maaf Van, aku benar-benar tidak sengaja menjatuhkan tablet kamu. Jangan membenciku ya." Pinta Carlos meminta maaf kepada Evan sambil menundukan wajahnya.
Reza membulatkan kedua matanya, " Maksud kamu tablet kebanggaan Evan?" Tanya Reza penasaran.
Reza juga tau kalau Evan begitu sangat menyukai tablet pemberian dari Oma nya itu. Evan bahkan tidak mengizinkan dirinya untuk meminjamnya walau hanya sebentar. Carlos menganggukan kepalanya dengan rasa bersalah yang masih menyelimuti hatinya.
" Sudahlah, lagian aku juga sudah nggak suka sama tablet itu. Papa udah berjanji akan membelikan aku yang lebih bagus dari itu, jadi kamu nggak usah merasa bersalah seperti itu. Aku juga udah memaafkan kamu." Ucap Evan tanpa menatap Carlos.
" Kamu nggak bohongkan Van?" Tanya Carlos tidak percaya. Evan menganggukan kepalanya tapi ia masih enggan menatap Carlos.
" Nah begitu dong, rasanya nggak enak jika melihat kalian hanya diam aja, seperti ada kurang gitu." Goda Reza.
Evan dan Carlos hanya tersenyum mendengar ucapan Reza.
Evan hanya berdiam diri didalam kamarnya, Carlos mencoba untuk mengajak Evan bicara. Ia memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Evan.
Tokk..tokk..tokk..
" Van, boleh aku masuk." Ucap Carlos sambil terus mengetuk pintu kamar Evan.
Karena tidak segera mendapat sahutan dari dalam Carlos melangkahkan kakinya menjauh dari depan kamar Evan, tapi baru satu langkah tiba-tiba pintu kamar Evan terbuka.
" Ada apa?" Tanya Evan dengan wajah datarnya.
" Boleh aku masuk? kamu lagi ngapain? apa aku menganggu kamu?" Tanya Carlos memberanikan diri.
" Masuklah, aku cuma lagi mengerjakan tugas." Ucap Evan lalu kembali masuk ke dalam kamarnya dan diikuti oleh Carlos.
" Kamu benaran nggak marah sama aku kan Van?" Tanya Carlos yang masih tidak percaya dengan ucapan Evan waktu di kantin. Carlos menyandarkan tubuhnya pada tepi meja belajar Evan.
__ADS_1
" Apa kamu berharap aku marah sama kamu?" Tanya Evan yang masih sibuk mengerjakan tugasnya.
" Ya enggak gitu, tapi aku benar-benar menyesal." Ucap Carlos sambil memainkan kakinya menyentuh kursi yang diduduki Evan.
" Nggak usah di bahas lagi, lagian aku juga sudah melupakannya," Evan meletakkan penanya di atas buku, ia lalu memutar kursinya menghadap Carlos," bagaimana aku bisa marah sama adik aku, apa lagi sama adik kesayangan aku." Ucap Evan dengan senyuman di wajahnya.
Carlos terlihat sangat bahagia mendengar ucapan Evan. Ia merasa sangat bersyukur memiliki saudara sebaik Evan.
" Makasih ya." Ucap Carlos pelan.
" Untuk apa?"
" Untuk semua kebaikan dan kasih sayang kamu. Tanpa kamu aku mungkin nggak bisa setegar ini. Semua dukunganmu membuatku bersemangat untuk menjalani hari-hari aku." Ucap Carlos sambil menundukan wajahnya.
" Itulah gunanya seorang abang, ia harus bisa membuat adiknya selalu bahagia dan tidak membiarkannya bersedih." Ucap Evan sambil menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi, lalu ia menatap langit-langit kamarnya.
" Maafkan aku ya, jika aku sudah menyakiti hati kamu, tapi jangan pernah kamu masukan ke hati kata-kata aku, karena aku mengucapkan itu hanya karena aku sedang emosi. Aku nggak berniat untuk membentak kamu." Sambungnya lagi.
Carlos berdiri menghadap Evan lalu memeluknya, " Aku nggak pernah menganggap serius ucapan kamu, karena aku tau itu semua hanya luapan emosimu sesaat." Ia melepaskan pelukannya, " Makasih karena kamu sudah bersabar menghadapi sikap aku yang kekanak-kanakan."
" Teruskan saja belajarmu, aku mau menemui Mama, aku lapar." Sambungnya lagi lalu berjalan keluar dari kamar Evan.
Carlos membalikan tubuhnya, " kenapa kamu malah mengikuti ku, bukannya tadi kamu mau belajar?" Tanya Carlos sambil mengeryitkan dahi.
" Siapa juga yang mengikutimu, jangan GR ya, aku itu mau meminta Mama untuk menyuapi aku makan." Sahut Evan sambil menjulurkan lidahnya.
Carlos tersenyum melihat sikap Evan yang sudah kembali lagi seperti biasanya. Mereka berdua memang senang sekali saling meledek, tapi itu semua hanya sekedar candaan diantara mereka berdua.
Sikap itu lah yang memperat tali persaudaraan diantara Evan dan Carlos.
⭐⭐⭐⭐
Budayakan klik tanda jempol setelah selesai membaca ya, itu sangat berharga untuk aku. Dengan begitu kalian semua menghargai jerih payah aku. Jadikan juga novel ini sebagai novel favorit kalian, beri bintang 5 untuk novel ini. Jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian dengan cara memberi like dan juga coment, walau itu hanya sekedar kata Next..atau..lanjut..tulis kata penyemangat itu malah lebih bagus lagi. 😁😁
Terimakasih juga atas dukungannya selama ini, aku juga tidak akan bosan menginggatkan kalian untuk mampir juga ke season yang kedua. Jangan pernah merasa bosan dengan cerita-cerita aku ya.😘😘
__ADS_1
💞💞💞💞💞