Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 48..


__ADS_3

"Ada apa Sa? apa kamu sedang ada masalah?" Tanya Deo sambil duduk disamping Sasa.


Sasa menatap wajah Deo.


"Apa aku harus melakukannya ya, kalau sampai aku nggak membawa apa yang Mama mau, bisa-bisa Mama akan menghajar aku lagi." Guman Sasa dalam hati.


"Sa." Seru Deo sambil menepuk bahu Sasa.


"Emm..nggak ada apa-apa kok." Ucap Sasa sambil menepiskan senyumannya.


Sasa mengambil minuman dari atas meja lalu meneguknya.


"Sa, aku punya sesuatu buat kamu," Deo mengambil sebuah kotak dari saku celananya.


"Semoga kamu suka." Sambungnya sambil menunjukan sebuah kalung yang sangat cantik.


Sasa membulatkan kedua matanya, dia sangat terkejut.


"Ini untuk aku!" Seru Sasa masih tidak percaya.


Deo menganggukan kepalanya dan memakaikan kalung itu di leher Sasa.


"Cantik." Sanjung Deo dengan senyuman diwajahnya.


Sasa menatap kalung yang kini melingkar dilehernya. Dia menatap Deo dengan mata yang berkaca-kaca. Bagi Sasa ini adalah hadiah terindah yang pernah dia terima sepanjang hidupnya.


"Kamu kok malah menangis?" Tanya Deo penasaran.


"Makasih ya, ini hadiah terindah yang pernah aku terima." Ucap Sasa dengan senyuman di wajahnya.


"Syukur deh kalau kamu suka, tadinya aku ragu saat mau membeli itu kalung, aku takutnya kamu nggak menyukainya."


"Tapi kenapa kamu mau membelikan aku kalung? kayaknya aku nggak sedang berulang tahun deh." Tanya Sasa penasaran.


"Ya, habisnya selama kita pacaran aku belum pernah memberi kamu hadiah. Biasanya aku juga nggak pernah melakukan ini, karena sebelum aku kasih, mereka sudah memintanya duluan. Tapi kamu beda dengan mereka, kamu nggak pernah meminta ini itu sama aku." Sahut Deo sambil menggenggam tangan Sasa.


Sasa menatap wajah Deo, mendengar kata-kata Deo menginggatkan Sasa dengan ucapan Mama nya.


"Emm..Deo, a--ku ingin mengatakan sesuatu sama kamu." Ucap Sasa ragu-ragu.


"Apa?"


"Tapi tidak disini."


Deo mengeryitkan dahinya.


"Terus kamu mau bicara dimana?"


"Kamar kamu aja." Sahut Sasa pelan.


Deo membulatkan kedua matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya.


"Ok."

__ADS_1


Deo mengajak Sasa kedalam kamarnya. Sasa kembali terkagum-kagum melihat kamar Deo yang begitu luas.


"Udah berapa banyak cewek yang tidur di ranjang itu?" Guman Sasa dalam hati sambil menatap kearah ranjang yang biasanya Deo pakai untuk tidur.


"Sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan sama aku?" Ucap Deo sambil duduk disofa.


Sasa berjalan menuju pintu dan menutupnya, Deo mengeryitkan dahinya melihat tingkah laku Sasa yang menurutnya berbeda dari biasanya. Sasa duduk disamping Deo.


"Aku punya sebuah permintaan sama kamu." Ucap Sasa sambil menatap wajah Deo.


"Apa itu?"


"Tapi kamu harus janji untuk mengabulkan permintaan aku." Pinta Sasa.


"Aku nggak bisa janji, tapi jika aku sanggup maka akan aku kabulkan permintaan kamu."


Sasa menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Deo.


"Sa, kamu mau ngapain?" Seru Deo saat melihat Sasa mulai membuka kancing bajunya satu persatu.


Sasa tidak mengubris ucapan Deo, dia terus membuka kancing bajunya satu persatu. Deo membulatkan kedua matanya, bahkan dia menelan salivanya berkali-kali saat Sasa berhasil menanggalkan seragam sekolahnya.


"Sa, aku nggak tau apa maksud dari semua ini, tapi apa kamu yakin ingin melakukan ini?" Tanya Deo sambil terus menatap tubuh Sasa.


"Aku akan melakukannya sama kamu, tapi kamu harus mengabulkan permintaan aku."


"Sebenarnya apa yang ingin kamu minta dari aku?"


"Aku butuh uang sekarang juga."


Deo mengeryitkan dahinya.


"Uang? berapa? untuk apa kamu membutuhkan uang?" Tanya Deo penasaran.


Ini pertama kalinya Deo alami, ada seorang gadis yang rela menyerahkan dirinya dan meminta uang kepadanya. Biasanya para cewek hanya minta dibelikan tas, sepatu atau perhiasan.


"100 juta, tapi aku nggak bisa memberitahukan alasannya."


Kini Sasa maupun Deo sudah bertelanjang dada. Deo bahkan tidak sudah tidak sanggup menahan gejolak dalam dirinya, tapi setelah mendengar nominal yang Sasa sebutkan membuat hasratnya menghilang seketika.


Deo mendorong tubuh Sasa pelan, dia beranjak dari duduknya.


"Maaf, Sa. Aku nggak bisa mengabulkan permintaan kamu, kalau kamu benar-benar butuh uang, kamu bisa menjual kalung yang tadi aku berikan. Kalung itu senilai 15 juta."


Deo mengambil t-shirt lalu dia kenakan kembali.


"Tapi Deo, aku butuh 100 juta, bukan 15 juta!" Seru Sasa kecewa.


"Maaf, Sa. Aku kira kamu beda dengan mantan pacar-pacar aku, tapi ternyata kamu nggak ada bedanya dengan mereka."


Sasa berdiri lalu memeluk Deo dari belakang.


"Kok kamu bilang kayak gitu, aku beda dengan mereka, aku nggak pernah tidur dengan cowok manapun, kamu adalah pria pertama yang melihat tubuh aku."

__ADS_1


Deo melepaskan pelukkan Sasa, dia merasa risi saat dada Sasa menyentuh punggungnya. Bukannya bernafsu, tapi Deo seakan merasa jijik. Walau pun Deo sering melakukan itu dengan mantan-mantan pacarnya, tapi entah mengapa dengan Sasa, dia malah merasa jijik.


Apa itu karena Deo udah terlanjur sayang sama Sasa dan mengira Sasa berbeda? Entahlah, hanya Deo yang tau, apa yang kini tengah dia rasakan.


"Lebih baik sekarang kamu baju kamu, setelah itu aku akan mengantar kamu pulang."


Sasa menarik tangan Deo.


"Kenapa kamu menolakku? bukannya kamu sering membawa cewek-cewek kamu untuk tidur di ranjang kamu? bukankah kamu sudah meniduri semua mantan-mantan pacar kamu? tapi kenapa sekarang kamu menolakku? bukankah uang segitu tak ada artinya buat kamu?" Seru Sasa.


"Sa, ini bukan masalah uang, sebenarnya ada apa denganmu? apa kamu benar-benar ingin menjual tubuh kamu hanya untuk uang 100 juta itu, hah! apa harga diri kamu semurah itu?" Seru Deo dengan exspresi wajah penuh kekecewaan.


"Terserah kamu mau bilang apa, jika kamu menuduh aku menjual diri, lalu apa sebutan untuk para mantan-mantan kamu?"


"Kamu dan mereka berbeda, Sa. Mereka rela menyerahkan diri mereka karena mereka sudah nggak suci lagi, tapi kamu--"


"Aku memang masih suci, tapi setelah kita melakukan itu, maka aku nggak akan suci lagi, terus apa bedanya?" Tanya Sasa sambil menyentuh dada Deo.


"Sa, cukup!" Teriak Deo sambil mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


"Maaf, Sa. Sepertinya hubungan kita harus berakhir sampai disini, aku nggak bisa melanjutkan hubungan kita. Maaf." Ucap Deo lalu berjalan keluar dari kamarnya, meninggalkan Sasa yang masih mematung.


Sasa menjatuhkan tubuhnya ke lantai, dia menyesali apa yang telah dia lakukan.


"Deo, maafin aku, aku terpaksa melakukan ini, jika aku nggak melakukan ini, Mama pasti akan menghukum aku, sekarang apa yang harus aku lakukan? jika aku nggak mendapatkan uang itu, Mama pasti akan marah besar."


Air mata yang sedari tadi menggenangi kedua mata indah Sasa, akhirnya mengucur deras membasahi kedua pipinya.


Sasa memakai kembali pakaiannya, dia menghapus air matanya lalu berjalan keluar dari kamar Deo. Sasa melihat Deo yang tengah duduk diruang tamu dengan raut wajah yang penuh kekecewaan.


Sasa berjalan menghampiri Deo. Deo beranjak dari duduknya lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya menuju mobilnya. Deo bahkan tidak menatap wajah Sasa.


Sasa masuk kedalam mobil Deo.


"Tunjukan dimana rumah kamu, aku akan mengantar kamu pulang." Ucap Deo dingin.


Sasa menganggukan kepalanya, hatinya terasa sakit dengan sikap dingin Deo. Deo melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya. Dalam perjalanan tidak ada percakapan antara Deo dan Sasa, hanya suara Sasa yang terdengar untuk menunjukan arah rumahnya.


Sesampainya dirumah Sasa.


"Deo, aku--"


"Mulai besok, anggap saja kita nggak pernah kenal." Ucap Deo dingin.


"Tapi aku--"


"Maaf, Sa. Itu keputusan akhir aku, sebaiknya kamu keluar dari mobil aku sekarang." Ucap Deo tanpa menatap wajah Sasa.


Sasa menghela nafas panjang, dia membuka pintu dan keluar dari mobil Deo. Setelah Sasa keluar dari mobilnya, Deo bergegas melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sasa.


"Deo, maafin aku, aku sangat mencintai kamu, maafin aku." Ucap Sasa sambil melihat mobil Deo yang semakin menjauh.


⭐⭐⭐⭐

__ADS_1


__ADS_2