Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 22..


__ADS_3

Mery dan Sandy mengunjungi Dona di Jakarta. Mereka membawa serta Monic dan Ricart. Mery berencana untuk menitipkan Ricart pada Dona dan Frans, karena dirinya dan suaminya harus sering pulang pergi ke LA mengurus pekerjaan Sandy.


Perusahaan Sandy bekerja sama dengan sebuah perusahaan di LA. Kerjasama ini akan menguntungkan bagi kedua belah pihak, oleh sebab itu Mery harus menemaninya. Pekerjaan itu membutuhkan waktu selama satu tahun.


Awalnya Mery ingin mengajak Ricart, tapi Sandy melarangnya dengan alasan Ricart baru berusia 3 tahun dan tidak mungkin jika harus diajak pulang pergi selama satu tahun penuh. Mery dan Sandy akan pulang satu bulan sekali.


" Kamu yakin mau menitipkan Ricart disini?" Tanya Dona memastikan lagi keputusan Mery.


" Iya kak, lagian itu juga keinginan Ricart. Katanya dia ingin bersama dengan abangnya. Awalnya aku ingin Mama yang menjaga Ricart, tapi Ricart nggak mau dan ngotot ingin bersama dengan Mami nya.


Ricart memang terbiasa memanggil Dona dan Frans dengan sebutan Mami dan Papi. Padahal Dona dan Mery tidak pernah mengajarkan Ricart untuk memanggil Dona Mami. Itu atas keinginan Ricart sendiri.


" Terus Monic gimana?"


" Monic akan tinggal sama Oma-Oma nya. Dia kan juga harus sekolah. Apa lagi dia baru aja masuk SD." Ucap Mery sambil memangku Ricart.


" Mami, bang Evan sama bang Carlos kemana?" Tanya Ricart dengan suara lucunya.


" Mereka di kamar sayang, Ricart mau main sama bang Evan dan bang Ricart?" Ricart menganggukan kepalanya.


" Ya udah kak, aku antar Ricart keatas dulu." Ucap Mery lalu mengendong Ricart dan berjalan menaiki tangga.


" Terus bagaimana dengan perusahaan kamu?" Tanya Frans.


" Aku sudah minta asisten pribadi aku untuk menghandle semuanya. Aku juga menyuruhnya untuk mengirimkan file-file penting lewat email." Sahut Sandy.


" Aku cuma bisa mendo'akan semoga kerjasama kamu dengan perusahaan itu sukses dan membuahkan hasil. Itu akan menjadi hadiah terindah untuk Ricart dan Monic yang harus berpisah dengan kedua orangtuanya." Ucap Frans sambil menepuk bahu Sandy.


" Makasih kak, aku titip Ricart ya. Aku juga nggak tau kenapa Ricart lebih suka tinggal disini ketimbang di Bandung sama Oma-Oma nya." Ucap Sandy heran.


" Mungkin karena Ricart sangat dekat dengan Evan dan Carlos." Ucap Dona.


" Mungkin juga, karena dirumah Ricart juga jarang main sama Monic, karena Monic sibuk ikut les. Maklum, dia lagi suka-sukanya belajar." Ucap Sandy.


Dona menyusul Mery kekamar Evan. Dia melihat Ricart sedang asyik bermain dengan Evan dan Carlos.


" Kak, aku titip Ricart ya, maaf aku sudah merepotkan kakak." Mery menatap Ricart yang sedang asyik bermain dengan Evan dan Carlos.


" Kakak nggak merasa direpotkan kok, kakak malah senang jadi ada yang nemenin saat Evan dan Carlos sekolah. Kakak jadi nggak kesepian lagi. Lagian Ricart anak yang penurut dan nggak rewel. Udah kamu tenang aja, Ricart akan aman disini." Ucap Dona sambil menepuk bahu Mery.


" Baru kali ini aku jauh dari anak-anak aku kak. Mana satu tahun lagi." Ucap Mery sedih.

__ADS_1


" Tapi kan tiap bulan kamu dan Sandy pulang, kalian juga bisa vidio call tiap hari. Jadi nggak usah cemas gitu." Ucap Dona mencoba menenangkan Mery.


Setelah menyampaikan niatnya dan berbincang-bincang, Mery dan Sandy pamit pulang. Mery memeluk Ricart dengan sangat erat, begitu juga dengan Sandy.


Tapi anehnya Ricart sama sekali tidak menangis saat melihat kedua orangtuanya pergi meninggalkannya dirumah Dona. Ricart memang anak yang penurut dan tidak rewel. Dia juga tidak ingin menyusahkan kedua orangtuanya bila bersikap nakal dan manja.


Dona terus mengawasi Ricart, Evan dan Carlos bermain. Meski Dona percaya Evan dan Carlos bisa menjaga Ricart, tapi Dona tetap menjaga mereka.


" Sayang, jaga Ricart ya, Mama akan membantu Papa dulu."


" Baik Ma." Ucap Evan dan Carlos bersamaan.


Frans memanggil Dona untuk membantunya memeriksa berkas-berkas perusahaan Marcel. Meskipun weekend, Frans tetap selalu membawa pekerjaan kantor kerumah. Karena dia harus mengurus dua perusahaan sekaligus. Untung Frans mempunyai istri mantan sekretaris yang handal yang bisa membantunya dirumah.


" Mama memang malaikat penolong Papa." Ucap Frans sambil menggenggam tangan Dona.


" Udah seharusnya seorang istri membantu suaminya yang sedang kesusahan." Ucap Dona lalu mengecup punggung tangan suaminya.


Dona merasa senang bisa membantu suaminya, walaupun kerjaannya hanya mengecek berkas-berkas saja. Tapi itu juga sudah sangat membantu Frans.


»»»»


" Udah jangan sedih kayak gitu dong sayang?" Ucap Sandy sambil menatap kedepan.


" Bukan hanya kamu, aku juga nggak pernah jauh dari anak-anak, tapi kerjasama ini sangat penting. Jika aku membatalkan kerjasama ini secara sepihak, maka perusahaan akan mengalami kerugian yang sangat besar." Ucap Sandy mencoba memberi pengertian kepada istrinya.


" Maafin aku kak, aku nggak bisa mengerti posisi kakak saat ini. Seharusnya aku mendukung kak Sandy, bukan malah membebani kak Sandy seperti ini." Sandy mengusap lembut puncak kepala Mery dan mengecup punggung tangan Mery.


" Kamu sudah cukup mendukung aku kok sayang." Ucap Sandy dengan menatap Mery sekilas lalu kembali fokus menatap kedepan.


Hari itu juga Mery dan Sandy langsung berangkat ke bandara. Monic melepaskan kepergian kedua orangtuanya dengan deraian air mata. Ini pertama kalinya bagi Monic jauh dari kedua orangtuanya.


" Ayo kita pulang sayang?" Ajak Mona.


" Kapan Mama dan Papa akan pulang Oma?" Tanya Monic disela tangisannya.


" Mama dan Papa tiap bulan akan pulang untuk menemui kamu dan Ricart sayang?" Bujuk Meysa.


" Tapi Monic nanti kangen sama Mama dan Papa." Rengek Monic.


" Nanti Mama akan vidio call Monic, jadi Monic bisa melihat Mama dan Papa." Bujuk Mona.

__ADS_1


Setelah lama membujuk Monic akhirnya dia mau ikut pulang kerumah.


" Monic mau makan apa sayang, mumpung kita belum sampai dirumah." Tawar Meysa.


" Monic mau burger Oma, 2 ya Oma."


" Pak, kita mampir beli burger dulu ya." Ucap Mona kepada supirnya.


" Baik nyonya."


Mobil berhenti didepan sebuah MD. Mona memesan 2 burger cheese untuk dibawa pulang. Setelah pesanannya selesai Mona kembali kedalam mobil. Pak supir melajukan mobilnya menuju rumah.


Monic memakan burger itu dengan sangat lahap. Meysa dan Mona hanya menggelengkan kepalanya melihat porsi makan cucunya.


" Oma..nanti kalau Monic liburan sekolah, kita temui Ricart ya. Monic kan juga kangen sama Ricart." Pinta Monic dengan dua buah burger ditangannya.


" Iya sayang, kita akan temui Ricart nanti. Oma juga kangen sama Ricart." Ucap Mona sambil mengusap lembut puncak kepala Monic.


Sesampainya dirumah Monic tertidur didalam mobil. Meysa mengendong Monic dan membawanya masuk kedalam rumah. Meysa merebahkan Monic didalam kamarnya.


" Kasian Monic, dia pasti kelelahan seharian menangis." Ucap Meysa sambil mencium kening Monic.


Meysa keluar dari kamar Monic, ia berjalan menghampiri Mona yang tengah duduk diruang tengah.


" Rumah ini terasa sepi tanpa adanya Mery, Sandy dan Ricart. Ini pertama kalinya mereka meninggalkan rumah ini selama itu." Ucap Mona sambil melihat foto Sandy, Mery, Ricart dan Monic.


" Udah nggak usah sedih, kita sekarang harus fokus jagain Monic. Dia pasti nanti sangat merindukan Mama dan Papanya." Ucap Meysa mencoba menenangkan Mona.


" Betul kata kamu, Monic sangat membutuhkan perhatian kita, dia pasti juga sangat merasa kesepian, apa lagi dia harus jauh dari kedua orangtuanya dan saudaranya." Ucap Mona lalu menghapus air matanya.


Sebenarnya Meysa juga merasa sangat sedih harus jauh dari anak-anaknya. Tapi sekarang bagi Meysa adalah bagaimana membuat Monic bahagia dan tidak menangis jika merindukan Mama dan Papanya.


Meski mereka bisa melakukan vidio call, tapi rasanya beda jika kita bisa bertemu langsung.


⭐⭐⭐⭐


Budayakan klik tombol jempol ya, kasih rating bintang lima juga. Biar akunya jadi semangat untuk nulis.


Tak bosen juga aku meminta kalian untuk mampir ke novel yang season ke 2..ramaikan juga seperti yang season 1..


Terimakasih.

__ADS_1


😘😘😘😘


∞∞∞∞∞


__ADS_2