Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 100


__ADS_3

Pagi menyapa. Radith meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Dia merasa sangat lelah karna tadi malam bahkan dia tak bisa tidur dengan nyenyak. Radith tidak tahu apa yang dia lakukan hari ini, sepertinya dia akan pergi ke tempat diving dan mencari pengalaman baru di sana, namun dia kembali teringat Lira yang rewel ingin ikut diving juga.


"Haih, gak tahu lah kalau emang Lira ngeyel, gak jadi punya anak gue, terserah nih anak satu aja mau gimana. Gue mau diving pokoknya," ujar Radith yang langsung bangun dari temoat tidurnya. Radith ingin melihat kondisi Sean dan Zia, namun dia teringat ada Beta dan Anna di sana, membuatnya mengurungkan niat dan langsung pergi ke pelataran.


"Hei, kalian belum gantian? Bukannya tadi malam kalian sudah berjaga? Apa kalian tidak mengantuk?" Tanya Radith pada kedua pengawalnya. Mereka terpaksa berjaga selama berjam jam karna teman mereka kelelahan tadi malam, sampai mereka belum bangun dan akhirnya dua orang ini yang menjaga sampai pagi.


"Ya gak boleh begitu. Kalian semua saya bebaskan untuk ikut, tapi ya harus ada tanggung jawab. Kamu, kamu pemimpin dari grub ini kan? Kasih tahu anak buahmu kalau bekerja ya harus tanggung jawab. Beri dia pengawal ini cuti panjang setelah pulang, dan bawa padaku orang orang uang malas itu, biar mulutku yang berbicara langsung dengannya."


Ketua itu menganguk dan langsung pergi dari sana. Dia tidak mengira Radith akan bangun sepagi itu dan langsung mengecek jadi ketahuan jika ada pengawal yang tidak bisa bangun untuk bergantian. Sebenarnya hal ini biasa terjadi dan mereka tahu Radith tak akan suka jika tahu, maka dari itu mereka berusaha menyembunyikannya dari Radith.


Setelah dua orang pengawal lain memakai celana boxer dan kaos oblong serta wajah yang lelah itu datang di hadapannya. Radith meminta pengawal yang sudah menjaga semalaman itu unuk istirahat, karna pasti mereka sudah mengantuk dan lelah, mereka tidak bisa tertidur saat bertugas.


"Kalian jaga di sini sampai nanti sore, tidak ada yang boleh menggantikan kalian, kalian bisa slaat bergantian jika kalian mau salat, pokoknya kalau saya kembali check dan ada yang gak beres. Kamu, kamu harus memecat semua, oke, semua orang yang ada di tempat ini. Oh, kalian mungkin ingat apa yang saya lakukan pada pengawal inti yang dipecat," ujar Radith yang sengaja menakut nakuti mereka semua.


"Baik pak Radith, saya minta maaf sudah teledor dan membiarkan pengawal ini tetap tidur karna lelah, saya memang berniat untuk memberi mereka istirahat karna jika mereka bertugas, mereka akan mengantuk dan tidak maksimal," ujar Orang itu yang tentu saja tidak membuat Radith merasa puas. Itu hanya alasan klasik yang menurutnya sangat tak masuk akal.


"Jika kau takut mereka lelah dalam menjaga, harusnya kau jadikan mereka tukang jual mia ayam agar lelah mereka karna membuat mie ayam, jangan jadi pengawal yang tugasnya mengawal!" Omel Radith yang membuat orang itu terdiam. Radith menaik turunkan dadanya untuk mencari sisa kesabaran yang ada di hidupnya.


"Lakukan yang saya minta dan iangan buat saya makin marah dan memperberat hukuman kalian. Saya mau masuk dulu, kalian pakai celana panjang dan jaket, di sini dingin," ujar Radith yang diangguki oleh mereka. Radith kembali masuk ke kamarnya setelah merasa di luar sangat dingin.


"Kalau kamu mau diving, gak papa kok, aku gak pengen ikut lagi, aku udah baca kalau itu emang resiko tinggi buat ibu hamil, bisa keguguran juga, jadi daripada aku tanya mereka dan malu, aku tahya google dulu, eh ternyata benar gak boleh," ujar Lira yang akhirnya bisa tenang. Radith tentu saja senang dengan jawaban itu, dia langsung bersiap agar bisa pergi diving siang hari ini.


"Eh yang, kalau kamu udah benar benar bangun, cek ke Sean sama Zia dong? Aku mau masuk malah takut kadna kejadian tempo lalu itu. Mending kamu aja yah yang masuk, pasti gak papa," ujar Radith yang membuat Lira terkekeh lalu mengangguk.

__ADS_1


"Iya, habis ini aku ke kamar mereka buat lihat mereka ngapain. Pasti mereka udah bangun sih, gak tahu kalau masih malas Malasan atau malah tidur lagi, hawanya enak banget buat tidur," ujar Lira yang tentu disetujui oleh Radith karna lelaki itu merasa ingin tidur lagi, namun karna sudah terlanjur bangun, tentu dia tak bisa langsung tidur dengan mudah, dia akan terus memikirkan banyak hal selama menutup matanya.


Dia segera menyiapkan perlengkapan untuknya, Sean, Zia dan Lira. Meski ketiga orang ini tak bisa menyelam, barangkali mereka bisa naik perahu atau melakukan ssauatu di tempat ini. Radith sudah melihat beberapa destinasi yang mungkin bisa mereka jelajahi seperti desa wisata, air terjun atau mungkin pantai yang menyegarkan pikiran. Namun tetap saja yang utama adalah diving bagi Radith, dia ingin melihat langsung isi laut di pulau yang indah ini.


"Ini semua pengawal ikut aja kah? Atau ada satu dua yang ditinggal di sini?" Tanya Lira yang belum beranjak dari sana. Radith tampak bingung, dia juga tidak tahu harus menbawa semua dengan resiko kemalingan, atau meninggalkan beberapa dengan resiko mereka tak aman. Namun setelah dia berpikir ulang, opsi pertama jauh lebih baik.


"Yang barang berharga dibawa aja, nanti kita kunci aja rumah rumahnya, kalau memang masih dimaling, ya mereka juga bisa maling apa? Kan gak ada yang bisa dimaling juga kan?" Tanya Radith yang diangguki oleh Lira. Dia akan menyampaikan hal itu pada kamar lain di rumah ini agar tidak meninggalkan benda berharga di rumah ini.


Lira masuk ke kamar Sean dan melihat anak anaknya sudah bangun dengan pakaian yang rapi, sepertinya mereka bahkan sudah mandi, tidak seperti Lira yang masih memakai baju tidur. Lira mencium kedua anaknya dan menanyakan kabar mereka, mereka tentu saja baik dan bisa tidur nyenyak tadi malam.


"Mami, Sean tadi malam bermimpi, apa mami mau dengar mimpi Sean?" Tanya anak itu dengan wajah yang takut. Lira langsung mengajak Sean untuk pergi ke kamar Radith, barangkali hal ini penting, Radith akan mendengar langsung. Masih ingat kan dengan kemampuan Sean yang bisa memprediksi dimana Zia berada? Sepertinya Sean melakukan hal yang sama lagi tadi malam.


"Sean tadi malam mimpi kalau Ibu yang waktu itu datang ke tempat ini ada di sebuah tempat yang sepi, tangan kakinya diikat dan mulutnya ditutup kain Mi, Pa, Sean takut, Sean merasa kasihan dengan ibu itu," ujar anak itu dengan polos. Radith langsung memandang Lira yang juga memandangnya. Mereka tak bisa mengabaikan hal sepenting ini, apalagi jika ini menyangkut nyawa seseorang.


"Apa ada orang yang berbuat jahat Ibu yang menyewakan villa ini? Atau bagaimana? Tapi kalau kamu ingat, bukannya orang orang itu bilang kalau Ibu yang punya villa ini jahat, apa orang orang itu ada hubungannya dengan semua ini?" Tanya Radith pada Lira yang tentu tidak diketahui oleh Lira jawabannya.


Tak lama berselang, mereka sudah berkumpul di halaman dan masuk ke mobil masing masing. Kali ini dia pastikan pikiran dan apa yang dia lihat benar. Dia menanyakan pada Anna dan Beta apakah pengawal belakang mengikuti mereka. Kali ini orang orang itu benar mengikuti Radith untuk pergi ke tujuan wisata pertama. Menurut petunjuk, mereka hanya perlu menyusuri jalan ini sampai menemukan keramaian, jadi dengan sabar Radith mengendarai mobilnya mencari keramaian itu.


"Kita sarapan dulu ya di sini," ujar Radith memasukkan mobilnya ke salah satu warung yang sebenarnya sekelas restoran di daerah ini, karna tak banyak yang berjualan makanan di sini. Tentu saja pemilik warung senang melihat Radith sekeluarga, apalagi saat 10 pengawal yang ada di sana ikut turun untuk makan kadna Radith mengajak mereka.


"Wah, tamu dari luar hee, mau makan apa nona tuan yang manis ini? Di sini banyak makanan khas yang enak dan tentu saja sehat," ujar pemilik warung yang diangguki oleh Radith dengan ramah. Lelaki itu membiarkan pengawalnya untuk bergantian memesan dulu karna mereka harus kembali bertugas setelah makan, berbeda dengan Radith dan Lira yang tak punya jadwal tetap setelah makan.


"Wah, kalau boleh ya kami diberi saja makanan khas papua yang enak dan tentu saja cocok untuk lidah semua orang terutama saya yang orang Bali ini," ujar Radith yang disanggupi oleh pemilik warung. Pemilik warung memberikan makanan ke 10 pengawal yang Radith ajak dan kemudian membuatkan makanan untuk Radith sekeluarga.

__ADS_1


"Terima kasih banyak kak, sepertinya lezat," ujar Radith yang mencicipi makanan di hadapannya. Matanya langsung berbinar dan menyantal dengan cepat makanan yang ternyata sangat enak itu. Radith, Lira, Anna dan Beta makan dengan lahap, berbeda dengan Sean dan Zia yang makan pelan karna lidah mereka kurang cocok dengan makanan ini, namun mereka tetap makan demi menghargai orang yang sudah menyiapkannya untuk mereka.


"Ini ada camilan juga yang tinggi protein dan sangat lezat, kalian pasti suka," ujar pemilik warung yang menyodorkan satu toples berisi beberapa plastik makanan ringan yang dianggap sangat lezat itu. Tentu saja Radith penasaran, dia mengambil satu dan mengamati 3 benda yang gendut dan panjang, namun kering. Setelah tahu apa itu, dia meminta Sean dan Zia untuk memakannya.


"Eum, ini enak, ini apa?" Tanya Sean dengan polos nya yang langsung memakan benda itu. Ssan tampak sangat menikmatinya dan tentu hal itu kembali membuat Radith merasa bahagia dan puas dengan apa yang dia lakukan. Jika sean tahu apa yang dia makan, lelaki kecil itu tak mungkin mau memakannya dan bahkan akan memuntahkan beberapa yang sudah masuk ke dalam mulutnya, Radith tak mau hal itu terjadi.


"Ulat sagu itu sangat enak, bahkan kami memakannya dengan lahap tanpa dimasak atau dikeringkan. Dia mengeluarkan rasa yang khas dan tentu saja membuat kami menyukainya, tapi kebanyakan orang luar tidak bisa menikmati ulat ini, karna mencarinya pun tak mudah," ujar Ibu pemilik warung itu yang diangguki oleh Radith dan Lira.


Mereka makan dengan lahap sampai habis dan langsung melanjutkan perjalanan, tidak ingin hari keburu siang dan mereka harus berpanas panasan di sini. Mereka segera pergi ke tempat wisata sebuah desa kecil dimana mereka bisa melihat pemandangan laut yang super jernih di sana. Radith juga langsung mendaftarkan diri untuk bisa ikut diving di sana.


"Kakak cantik, mau kami kepangkan rambutnya?" Tanya anak kecil yang merupakan penduduk lokal. Lira merasa tertarik dan mengijikan anak anak itu untuk mengepang rambutnya. Dia tahu mereka akan meminta bayaran, namun bagi Lira tentu uang yang tak seberapa itu bukan masalah selagi dia mendapat pengalaman baru juga bisa menyenangkan hati anak anak ini. Dia akan senang melakukannya.


"Mami, you look so beautiful," ujar Sean yang sedari tadi melihat prosesnya. Lira tertawa dan mengelus kepala Sean, dia tidak bisa banyak menengok jika tak mau kondisi kepang ini miring atau tak rapi, dia harus berdiri tegak dan kepalanya lurus.


"Yes, your Mommy is so beautiful and look more beautiful when I tie her Hair," ujar anak itu yang membuat Lira merasa kaget. Rupanya anak yang sedang mengepangnya ini bisa berbahasa Inggris, bahkan Sean sendiri juga kaget anak itu bisa menjawab apa yang dia katakan.


"Wah, kamu bisa bahasa Inggris dan bagus sekali bahasa Inggrisnya, belajar dari mana?" Tanya Lira takjub. Anak itu menjelaskan banyak bule yang datang ke sana, meski tak sebanyak Bali, namun biasanya mereka menjadi pemandu di tempat tempat yang indah yang ada di sini, mau tidak mau mereka harus memahami bahasa mereka dan lama kelamaan mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa mereka.


"Waw, kamu anak yang cerdas ya, lanjutkan apa yang kamu kuasai dan terus asah skill itu, saya doakan kamu akan meraih semua cita cita kamu jika kamu terus berusaha," ujar Lira dengan senang dan optimis.


Entah kenapa Lira baru menyadari hal ini. Bukan bermaksud merendahkan, putra putri Papua dipandang kurang pintar dibanding anak di pulau lain, padahal sebenarnya mereka juga pintar, hanya saja tenaga guru di tempat ini sangat kurang sehingga mereka kesulitan belajar. Bayangkan saja, apa yang mereka akan paham jika tidak diajarkan? Tentu tidak ada.


"Semoga suatu hari nanti pendidikan di Indonesia semakin merata dan semua orang memiliki hak yang sama untuk meraih potensinya. Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya 2 tipe, fasilitas lengkap namun malas, dan sangat rajin nakun fasititas kurang sehingga kurang berkembang," lirih wanita itu.

__ADS_1


"Sudah selesai kakak," ujar Anak itu yang membuat Lira merasa senang karna rambutnya sangat cantik. Lira memberikan 3 ratus ribu pada anak itu, membuat anak itu melompat kegirangan, mengucapkan terima kasih dan pergi dari sana sambil melompat lompat.


"senang bisa berbagi kebahagiaan," ujar Lira bangga


__ADS_2