
"Aku udah minta orang buat nyuri rambut dia, nanti kita tes DNA dia sama Zia, emang Zia anak aku, tapi aku gak yakin kalau dia Ibunya Zia. Dari cara dia memperlakukan Zia aja udah keyahuan banget dia bukan ibu yang baik. Masak lima tahun Zia penuh dengan disiksa gitu, aku curiga," ujar Radith setelah mereka selesai melihat cctv.
"Ya mungkin Zia bikin Grace ingat sama luka yang kamu kasih? Semua kan mungkin. Tapi ya kalau memang kata hati kamu bilang gitu, dilakuin aja, gak rugi juga kan. Aku cuma minta kalau memang terbukti, kamu gak perlu nyangkal lagi, aku gak papa kok," ujar Lira yang tentu tidak disetujui oleh Radith. Dia sudah lihat sendiri Grace sangat berbahaya, tidak mungkin dia membiarkan Lira hidup dengan Grace.
"Sayang, kalau aku beli rumah lagi buat dia, menurutmu gimana?" Tanya Radith setelah memikirkan ide itu, namun Lira tak merasa itu ide yang baik, karna Grace akan menggunakan Zia untuk terus mengancam dan membuat Radith kasihan padanya, dia sudah bisa menebak kemana alurnya akan berjalan, jadi tidak perlu membuang buang waktu dan uang untuk itu.
"Aku sama Sean tinggal di rumah Alex aja, terus kamu lihat, kalau gak ada aku, apa dia masih kayak gitu, semisal dia berubah, ya berarti dia dibelikan rumah aja, mungkin dia cuma benci sama aku dan melampiaskan ke Zia. Tapi kalau emang gak berubah, yaa, kamu tahu lah harus apa sebagai papanya Zia," ujar Lira menaikkan kedua alisnya.
"Ya, aku tahu lah harus apa. Yang paling penting Tes DNA dia sama Zia sih. Aku juga udah minta Andre buat nyari tahu latar belakang dia, dia dulu sekolah dimana, hidup sama siapa, orang tuanya siapa, aku baru sadar, aku gak nyari tahu tentang tu saat dia membawa Zia," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Bukan ide yang buruk untuk tahu siapa Grace sebenarnya, apalagi wanita itu sudah sangat merugikan.
"Aku gak tahu dia bakal senekat apa, atau bakal segila apa. Jadi aku gak mau Sean kena imbasnya. Jadi benar, kamu sama Sean ke rumah Alex aja, nanti Sean sekolah di sana. Dan di sini, aku bakal nyari tahu. Aku minta kamu percaya sama aku ya, aku gak akan kecewakan kamu," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka sudah melewati banyak pasang surut, jadi Lira tidak khawatir lagi tentang Radith.
Setelah menceritakan banyak hal lain, Lira baru ingat kondisi Zia dan Sean, mereka belum memastikan kondisi anak anak itu. Lira dan Radith pergi ke kamar Sean dengan kunci yang dia minta dan mendapati dua anak itu sudah tidur, dengan posisi berpelukan. Sedangkan orang yang mereka minta untuk menjaga Sean dan Zia masih terjaga sambil menonton televisi.
"Wah, kalau mereka tumbuh berdua sama sama terus, mereka bisa saling menyayangi sih, aku seneng banget Sean gak masalah sama kehadiran Zia dan malah mau anggao Zia saudaranya, aku bangga banget sama anak aku," ujar Lira pelan karna tak mau membuat Zia dan Sean terbangun. Mereka kembali ke kamar mereka setelah memastikan Sean dan Zia aman.
"Semoga aja mereka saling menyayanginya ke arah yang benar Ra, agak ngeri juga kalau ke arah yang salah," ujar Radith pelan, namun masih bisa didengar oleh Lira. Perkataan Radith tentu membuat Lira tertegun juga. Dia tidak memikirkan ke arah sana, namun yang dibilang Radith ada benarnya, memang bagus jika mereka saling menyayangi, tapi cukuplah sebagai kakak dan adik karna mereka masih satu darah dari Radith.
"Mereka kan masih kecil, nanti kalau udah besar juga gak gitu, kamu jangan nambah beban pikiran aku dong. Bagus kalau mereka damai dan Sean gak dendam ke Grace atau Zia walau dia hampir mati di tangan Grace. Jangan malah bikin aku khawatir dong kalau mereka dekat," protes Lira yang membuat Radith tertawa, dia meminta maaf dan mengajak Lira untuk segera tidur.
Pagi harinya, Mereka bangun dan pergi ke pantai untuk menikmati suasana. Sean sangat menyukai pantai, tidsk bosan melihat ke arah pantai meski setiap hari sudah melihat pemandangan yang sama. Radith cukup bahagia, karna tidak perlu membayar mahal untuk membuat Sean senang, mereka hanya perlu pergi sedikit dari rumah dan sudah bisa melihat hamparan laut yang luas.
"Zia, sini, kamu pernah main begini gak? Ini seru loh, sini," ujar Sean yang mengubur kakinya di dekat perbatasan pantai dan air, dia membiarkan tubuhnya tersiram ombak yang sudah menyusut saat sampai ke tubuhnya. Zia berlari dan mengikuti apa yang Sean lakukan, mereka berpegangan tangan saat ombak datang, seolah ombak itu akan menerkam mereka berdua.
__ADS_1
Radith dan Lira pun tidak melepaskan pandangan pada Sean dan Zia, karna jika tidak waspada, mereka akan berada dalam bahaya dan Radith maupun Lira tidak mau hal seperti itu terjadi. Sangat konyol membiarkan anak anak mereka celaka hanya karna bermain pasir di pantai. Meski suasana di pagi hari cukup dingin, sepertinya Zia dan Sean tidak merasa terganggu dengan hal ini.
"Dith, aku takut Sean sama Zia malah jadi flu, kita gak bawa baju ganti juga buat mereka. Kamu suruh mereka udahan gih, terus berjemur aja, mumpung masih matahari pagi, masih sehat, daripada mereka masuk angin kan," saran Lira namun tidak disetujui oleh Radith, dia senang melihat Sean bisa tertawa seperti itu.
"Kamu di sini aja, awasin anak anak, terus aku mau beli baju dulu buat kita semua, kasihan kalau disuruh berhenti, masih senang begitu. Aku pergi dulu, kamu hati hati juga ya, biarin mereka main sepuasnya baru nanti kita berjemur sama sama. Aku udah minta pengawal jaga pantai ini, jadi harusnya aman sih, tapi tetap hati hati ya, love you," ujar Radith yang langsung pergi setelah mencium kening Lira, dia membawa satu pengawal bersamanya dan meninggalkan sisianya di sini bersama Lira.
Lira menuruti perkataan Radith dan memilih bergabung dengan anak anaknya, bermain pasir dengan penuh kebahagiaan seolah sudah lama dia tidak bermain begini. Yah, jika dipikir memang sudah lama dia tidak bermain seperti ini sih, apalagi sejak mereka pindah ke Australia, tidak pernah dia berpikir untuk bersantai dan bermain.
Setelah selesai dan Radith kembali, mereka memakai baju yang baru dibeli oleh Radith dan mencari sarapan, lalu akan pulang ke rumah mereka karna Radith harus bekerja dan Lira juga harus menyiapkan berkas untuk Sean dan Zia sekolah, walau Lira belum meberitahu Sean jika mereka akan kembali pindah ke Jakarta dan hidup dengan Alex, dia tidak mau Sean merasa sedih akan hal itu.
Sesampainya di rumah, Lira langsung meminta Sean dan Zia untuk mandi air hangat agar tubuh mereka kembali bersih, karna dia tidak yakin air di dekat pantai itu sudah bersih. Dia meminta mereka untuk mandi dan kemudian belajar bahasa. Sean akan mengajari Zia berbahasa Inggris, Lira juga sudah mengundang guru kursus bahasa untuk anak belia agar mudah dan ceoat dimengerti.
Sementara itu ada seorang wanita lain yang tentu tidak suka saat melihat anaknya memakai baju bermotif sama dengan Ibu tiri dan saudara tirinya. Dia tidak mau anaknya merasa terlalu nyaman dengan mereka dan nantinya malah dia yang akan dibuang, sedangkan Zia adalah senjata satu satunya baginya untuk bertahan di rumah dengan kehidupan mewah ini. Dia tidak mau pergi begitu saja, dia akan tetap menggunakan Zia untuk bertahan.
"Zia, Zia ikut mama yuk, Kita belajar di kamar kamu aja. Kan udah lama kamu gak belajar sama Mama, ayo nak," ajak Grace yang tentu langsung dicegah oleh Lira karna Lira sudah mendatangkan guru privat yang tentu jauh lebih berkompeten, namun kenapa Grace malah menolak? Bukankah seharusnya dia senang Zia diajari oleh orang yang peofesional?
"Zia ini anak saya, jangan karna kamu itu istri Radith, kamu jadi merasa berhak atas Zia. Saya tidak pernah mencampuri urusan Sean, jadi kamu jangan pernah mencampuri urusan Zia. Kamu bukan ibunya dia, dan tidak akan pernah jadi Ibunya dia," ketus Grace tidaj terima karna Lira mencegahnya.
"Mengejutkan kau membaktu seperti ini. Apa kamu lupa di rumah siapa kamu sedang menginjakkan kaki? Apa aku perlu bilang, jika aku mengatakan pada Radith untuk mengusirmu, dia akan mengusirmu, dan bahkan bisa saja membuatmu terbungkam selamanya," ujar Lira yang berani menentang Grace karna masih tidak terima sudah dituduh tempo hari.
"Haha, lakukan saja. Memang Radith akan percaya pada wanita yang punya masalah mental? Dia akan mengatakan dia percaya padamu, padahal sebenarnya dia hanya merasa kasihan, lalu dia akan memohon padaku untuk memaafkanmu. Seharusnya kamu yang takut, aku bisa aja membuat Radith mengusirmu, membawamu ke rumah sakit Jiwa jika aku mau," sombong Grace yang tak takut sama sekali dengan ancaman Lira.
"Jika kau sangat meyakini itu, ya berusahalah. Mungkin kau akan berhasil suatu hari nanti, selamat mencoba," ujar Lira santai yang membawa Sean pergi dari sana ke ruang belajar karna gurunya sebentar lagi datang. Sementara Grace sudah tidak minat mengajari Zia sehingga membiarkan Zia pergi bersama dengan Sean ke ruang belajar itu.
__ADS_1
***
Radith sudah menyerahkan semua hasil lab pada Andre dan meminta Pria itu untuk segera melaporkan hasilnya sementara dia sibuk dengan pekerjaannya dan Andre yang sedikit terbengkalai. Dia mencoba untuk fokus agar tidak perlu merevisi dan semua klien merasa puas dengan hasilnya. Akhirnya semua selesai dan dia bisa beristirahat dengan sedikit santai.
Saat dia hendak tidur, ponselnya berbunyi dan nama Andre ada di sana. Dia mengangkat panggilan dari Andre dengan gugup, dia masih meyakinkan dirinya sendiri jika Grace bukan Ibu kandung Zia, namun entah mengapa dia merasa firasatnya buruk, mungkinkah Zia benar benar anak wanita jahat itu?
"Pak, hasil sudah keluar dan Zia memang anak Grace. DNA mereka cocok, jika masih tidak yakin, bisa lakukan tes DNA dengan darah, tapi menurut saya hasilnya akan sama karna tempat ini snagat akurat, jadi kecil sekali kemungkinan salah," tidak diduga, rupanya Zia memang anak Grace, tapi kenapa wanita itu tidak pernah peduli pada Zia?
"Tapi mungkin ada hal yang menarik, Kau akan menyukainya," ujar Andre yang membuat Radith kembali menyimak dengan harapan. Dia langsung mengangkat senyumnya saat tahu apa yang dikatakan Andre memang betul sangat berharga. Dia tidak menyangka Andre bisa menemukan hal yang berharga itu dengan waktu kurang dari 3 hari.
Radith memilih untuk pulang dan menunda tidurnya. Dia harus menjalankan rencananya, mengusir Lira dari rumahnya, membiarkan istri dan anaknya hidup dengan aman dengan adik iparnya. Dia tidak tahu apa yang akan Grace lakukan, namun penting baginya agar Grace lengah dan tidak curiga jika dia akan menyelidiki hal ini. Dia harus membuat Grace merasa bahwa dirinya adalah ratu, sehingga dia akan merasa sangat jatuh nantinya.
"Aku gak berpikir kamu akan cocok di sini sama Grace, aku sadar kalau kalian emang harus dipisah karna aku gak mau kehidupan di rumah ini jadi panas. Sebenarnya aku mau kamu yang ada di rumah ini, tapi aku sadar, Grace dan Zia gak punya siapa siapa lagi, mereka cuma punya aku, jadi aku gak bisa minta mereka keluar dari rumah ini," ujar Radith setelah menemui Lira dan Grace untuk menjalankan rencananya.
"Tapi aku kan juga sendiri, aku sama Sean juga cuma punya kamu. Kamu mau usir aku dari rumah ini? Aku istri sah kamu loh, aku dan Sean juga udah terlantar dalam waktu yang lama, tapi kamu? Kamu tega?" Tanya Lira dibuat buat, namun tampak sekali seperti nyata. Untung saja Radith berdiskusi dengannya tadi malam, sehingga dia langsung mengerti maksud Radith.
"Kamu masih punya Alex. Dia udah pindah ke Sumatra, kamu bakal tinggal di sana, aku etap biayain hidup kalian, tapi kamu tinggal di sana ya. Kasih Zia waktu untuk bisa merasakan cinta Papanya," ujar Radith mendramatisir. Seharusnya Grace curiga, namun wanita itu terlalu bodoh dan malah senang melihat Radith Lira berkelahi.
"Oke, kalau itu mau kamu. Aku gak tahu apa yang udah dikatakan sama cewek ular ini ke kamu, tapi kamu pasti akan menyesal udah buang aku sama Sean berkali kali. Kamu akan menerima karmanya," ujar Lira dengan marah dan masuk ke kamarnya untuk mengemasi barang yang sebenarnya sudah terkemas.
"Maaf udah buat Zia tersiksa sama Lira. Aku gak mau Zia terluka sama Lira ke depannya, jadi aku kirim Lira pergi. Sekarang dia gak bisa lukain kamu atau Zia. Aku juga berharap semoga aja kondisi mental dia membaik kalau bertemu dan hidup sama adik kandungnya," ujar Radith yang langsung berubah lembut di delan Grace yang tersipu karna ucapannya. Sangat menjijikkan untuk dilihat oleh Radith.
"Gak papa, terima kasih kamu udah melakukan hal yang besar untuk Zia. Aku bahagia akhirnya Zia punya keluarga yang utuh, lengkap dan gak lebih, aku takut dia akan betanya tanya kenapa Ibunya ada 2, tapi untuk sekarang, aku gak perlu khawatir untuk itu," ujar Grace dengan manis dan lembut.
__ADS_1
"Ya, mari wujudkan keluarga yang utuh, sehat dan bahagia untuk Zia," ujar Radith yang mengacak Rambur Grace lalu pergi ke kamar Sean untuk mengecek kondisi dan barang barang anak itu.