
"Dith, maksud kamu apa dengan bilang tinggal buat daftr tamu yang diundang, kita belum buat persiapan lagi loh. Fitting baju, catering, bahkan pastor yang memberkati? Kamu yakin kita gak mau nyiapin itu semua?" Tanya Lira saat menyadari perkataan Radith. Lelaki itu terkekeh karna Lira akhirnya sadar, namun dia juga tidak menganggap serius apa yang dikatakan Lira.
"Ya sayang, semua udah siap, tinggal kamu bikin daftar tamu yang mau diundang karna aku gak ngundang siapa siapa kecuali keluarga besar aku dan keluarga besar Wilkinson yang udah berjasa buat aku. Kalau mau undang orang kantor, mending gak usah, kita bikin acara syukuran sendiri sama mereka, kasihan kalau mereka nyumbang, bingung nominalnya," celetuk Radith sambil tertawa.
"Maksud kamu? Udah siap semua? Tapi, kapan kamu nyiapinnya? Kan kamu ada di luar pulau, mana ketembak pula, kalau nanti gak pas atau gak sesuai sama selera aku gimana? Kan sayang uangnya, sayang momentnya juga seumur hidup sekali," ujar Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu tentu setuju dengan apa yang dikatakan Lira. Dia juga pasti akan merasa sayang jika adandi posisi Lira.
"Malam ini atau besok pagi kita pulang ke Bali, terus kamu coba semua yang udah aku siapin, kalau kamu gak suka, kita bisa ganti saat itu juga. Yah, kamu cuma tinggal ngecek aja apakah semua yang kamu pengen sudah ada di yang aku siapkan, gimana?" Tanya Radith yang diangguki oleh Lira. Sebenarnya wanita itu merasa ragu, namun Radith sudah menyiapkan semua ini, dia harus menghargainya.
"Aku gak mau kamu nikah sama aku cuma karna kasihan loh ya. Aku mau karna kamu beneran sayang sama aku, jadi kalau memang kamu gak yakin, kita selesaikan sekarang, aku mau kita udah beres dan bahagia setelah menikah. Ah sebelum itu, setelah sampai di Bali, kita harus ketemu pastor dulu, buat sekolah kilat tentang pernikahan juga," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Dia masih sedikit syok dan bingung dengan situasi ini.
"Kita harus saling mengenal dulu kalau kata romonya, terus juga kita mengakui apa yang jadi kekurangan kita, kalau kita bisa saling menerima, pernikahan bisa dilanjutkan, tapi kalau gak, kita harus selesai, karna sekali menikah, kita gak bisa bercerai," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka akan mempersiapkan semua dengan matang kali ini, takut sesuatu yang tak terduga akan terus terjadi.
"Wow, kalian akhirnya menikah beneran. Congrats buat kalian, akhirnya Sean bakal punya Sean junior, atau Seanwati, aku ikut senang kalau kalian senang, semua kalian selalu bahagia dan pernikahannya akan selalu diberkati Tuhan," ujar Lira yang selesai bermain dengan anak anak dan duduk di pangkuan Darrel karna tidak mau badannya kotor (padahal juga sudah kotor)
"Ya, terima kasih banyak untuk doanya. Aku senang bisa kenal orang orang seperti kalian, kalian yang mengubah hidupku menjadi lebih baik, lebih bermakna dan lebih berwarna. Aku gak pernah menyesal kenal sama kamu Luna, kita tinggal bareng dan sampai sejauh ini, aku bahagia, terima kasih dan semoga kamu mau jadi temen aku samoai seterusnya."
Luna mengangguk mendengar kata manis dari Lira. Mereka berpelukan dan saling memandang, seperti persahabatan mereka sudah terjalin sangat lama, padahal Lira hanya mengenal Luna karna Radith memintanya untuk menyamar menjadi penerjemah. Setelah itu pun merwka terpisah jauh dan sangat lama, namun hubungan keduanya tetap hangat seperti saudara, membuat orang yang melihat pasti berpikir mereka sudah saling kenal cukup lama.
"Mami, Papa, lihat, ada orang berenang sambil melambaikan tangannya, dia sangat ahli," ujar Sean yang tiba tiba saja sudah muncul di hadapan mereka. Radith, Lira, Luna dan Darrel reflek melihat ke arah laut dan langsung memelototkan matanya karna orang yang dimaksud Sean bukans edang akrobat, namun tenggelam.
Radith yang masih memiliki luka di tubuhnya tidak bisa masuk ke dalam air, dia akan merasakan sakit yang luar biasa jika air garam itu terkena lukanya. Akhirnya Darrel yang berenang menyelamatkan orang itu, orang itu pasti mengalami darah tinggi setelah ini karna menelan air garam yang banyak, yah, paling tidak merasa pusing dan sesak?
"Kamu gak papa? Kiat ke rumah sakit sekarang?" Tanya Darrel yang melihat orang itu tampak collaps, namun orang itu menggelengkan kepalanya, dia bertatuk batuk dan mengeluarkan air dari mulut dan hidungnya, namun dia masih bisa sadar dan bahkan duduk, dia menatap Radith yang tidak masuk ke dalam air dengan tatapan aneh, namun hanya sekejap, dia segera menatap ke arah Darrel.
"Terima kasih banyak, saya tidak mengira ada orang yang melihat dan menolong saya, saya kira saya akan mati hanyut atau tenggelam, tapi saya selamat berkat anda, terima kasih banyak," ujar orang itu yang memegang tangan Darrel. Dengan sopan Darrel melepaskan tangan itu karna dia tahu Luna tidak akan menyukainya. Benar saja, Luna tampak memancungkan bibirnya melihat kejadian itu.
__ADS_1
"Apa kita pernah bertemu? Kau tak tampak asing?" Tanya Radith yang tiba tiba menyahut. Orang itu langsung menatap Radith lagi, namun dengan wajah yang bingung, dia menggelengkan kepalanya dan Radith tampak tak puas dengan jawaban itu. Lelaki itu merasa tak asing dengan wanita di hadapannya ini.
"Ah, mungkin pernah bertemu di jalan atau sebagainya, entah juga, ini pertama kalinya saya ke Lombok, jadi tidak mungkin kita bertemu di sini kan? Hehehe," kekeh orang itu sambil merapikan rambutnya. Radith menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengingat dimana dia pernah melihat wanita ini, namun dia tidak ingat apapun, mungkin benar wanita ini hanya bertemu dengannya di jalan.
"Ah, kalau gitu kamu perlu diantar ke rumah sakit? Atau hotel kamu? Kami gak akan tinggalkan kamu di sini sendiri dalam keadaan seperti ini," ujar Darrel yang mengambil alih percakapan, namun orang itu menggelengkan kepalanya dan langsung berdiri, meski akhirnya limbung dan jatuh di tangan Radith. Lelaki itu sigap menangkap si wanita yang ambruk.
"Maaf, saya hanya sedikit pusing. Terima kasih sudah menangkap saya, anda cukup kuat sebagai pria, padahal anda belum begitu pulih," ujar orang itu dengan sikap wajar. Dia segera bangun dan pamit dari sana, meninggalkan Radith yang langsung menggandeng Sean dan Darrel Luna menggandeng anak anak mereka, tidak mau anak anak ini menjadi tenggelam atau mengalami sesuatu yang buruk lainnya.
"Dith, lo pernah ketemu dia gak? Karna bukan cuma Lo yang ngerasa aneh sama dia, gue juga. Lo sadar gak pas dia gue tolongin, dan setelah dia batuk batuk dia gak langsung bilang makasih, tapi dia ngelihatin Lo dulu, dan tatapannya ngeri Dith, gak ada yang sadar akan hal itu," ujar Darrel pelan saat anak anak ada di tangan Ibu mereka.
"Ya, gue gak asing banget. Mungkin gue bakal nyari tahu tentang dia nanti pakai kamera yang ada di pengawal gue, mereka pasti punya rekaman atau sesuatu yang bisa bantu untuk tahu siapa orang itu," ujar Radith yang berusaha mengingat, namun dia malah menyadari hal lain dan membuatnya merinding seketika. Dia berhenti melangkah dan menatap ke arah Darrel.
"Dia tahu Gue luka. Dia tahu gue tertembak dan belum pulih. Gue baru sadar kalau tadi dia bilang kalau geu kuat padahal gue belum pulih. Kalau dia memang orang asing, dia gak akan tahu hal itu, kan itu cuma misi rahasia keluarga Wilkinson dan Gue kan?" Tanya Radith yang merasa benar benar aneh, namun dia tidak bisa mengatai orang itu atau menuduhnya tanpa bukti.
"Ya, gue mungkin bakal tetap minta bantuan untuk hal itu kak, makasih karna lo udah kasih gue penawaran dulu. Gue gak masalah mungkin kalau gue yang kena, tapi gue gak mau Lira dan Sean juga kena imbasnya, padahal mereka gak tahu apa apa," ujar Radith cukup sedih dengan hal itu, namun dia tidak bisa melakukan banyak hal karna ruang geraknya yang terbatas setelah bergabung dengan Wilkinson.
"Apa perlu gue ngomong ke Bokap mertua gue tentang ini? Atau paling gak ngomong sama bang Jordan biar dia bisa bantu nemuin biang keroknya?" Tanya Dartel yang dijawab gelengan kepala oleh lelaki itu, dia tidak mau Jordan atau tuan Wilkinson tahu, karna bsia jadi ini hanya kebetulan dan masalah sepele, dia akan merasa tak enak merepotkan mereka.
"Jangan kak, kalau misal gue butuh bantuan, gue yang akan bilang sendiri, gue gak mau maslaah pribadi ini diketahui sama banyak oranh. Gue bakal rundingan sama Lira sendiri untuk baiknya gimana, yang jelas pernikahan gue kali ini gak boleh batal lagi, karna Sean udah mulai daftar sekolah semester depan, dia butuh surat resmi yang jelas," ujar Radith yang diangguki oleh Darrel.
"Yah, karna ini masalah Lo, lo yang paling berhak buat memutuskan apa yang akan terjadi, atau apa yang akan lo ambil untuk mengatasi orang itu, yang jelas kalau lo butuh gue, gue akan selalu siap nolong lo, apalagi kalau cuannya gede, gas aja lah pokoknya," ujar Darrel setengah bercanda, namun cukup membuat Radith merasa terhibur dan tidak terlalu tegang.
"Gue cuma takut orang itu udah gila dan bakal ngelukain Sean, beneran deh, gue takut banget," ujar Radith yang memandang Sean yang ada di gendongan Lira. Radith langsung berlari dan mengambil alih Sean karna Lira pasti merasa berat. Lira hanya tersenyum melihat Radith yang begitu manis padanya, seperti seorang suami yang tidak ingin kepergok selingkuh. Ah, tunggu dulu, selingkuh?
"Dith, kamu gak lagi selingkuh dari aku kan makanya kamu bersikap semanis ini dan sebaik ini, aku takut kalau ternyata kamu ada udang dibalik bakwan," ujar Lira sambil memicingkan matanya. Radith memutar bola matanya dan langsung memandang Lira sinis, hanya sebentar, lalu fokus lagi pada Sean yang bergerak untuk mencari posisi nyaman dalam tidurnya.
__ADS_1
"Kalau aku bersikao gak manis, nanti kamu marah marah, ngerasa aku gak peka, gak baik, gak perhatian, dan ngerasa kalau aku punya selingkuhan di luar sana yang aku perlakuan baik jadi kamu terlupakan. Nah sekarang aku udah perhatian dan sayang sama kamu, kamu malah ngerasa itu cuma buat nutupin kalau aku selingkuh. Aku gak pernah selingkuh, gak pernah sama sekali."
Lira tersenyum mendengar itu, tentu dia percaya Radith tidak akan melakukan hal yang bodoh seperti selingkuh. Lelaki itu bahkan sangat menghemat hidupnya demi membeli apa yang dia butuhkan. Bahkan jauh lebih hemat dan pelit dari Lira yang merupakan mengatur keuangan. Jadi tidak mungkin lelaki itu rela mengeluarkan uang untuk selingkuh.
"Hari ini gue sama Luna pulang Dith, karna ada banyak hal yang harus kami lakukan di Jakarta, pekerjaan di sana gak bisa selesai dalam waktu cepat dan saat kita gak ada di sana, sedih, taoi mau gimana," ujar Darrel dengan lesu setelah menerima telpon dan mengobrol sebentar dengan Telepon itu.
"Ah begitu, besok gue pukang ke Bali, buat nyiapin semua, ah sebenarnya tinggal Lira cek aja sih, kalau udah beres baru kami mau ngurus undangan, kalian gak usah pakai undangan ya, kalian kabgsung datang aja. Jangan lupa bawa dua among tamu yang gagah berani, dan juga satu among tamu yang cantik seperti putri."
Mereka melakukan tos satu sama lain sebelum masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana karna Radith harus meminum obat dan mengganti perbannya. Sementara Darrel menunggu di luar untuk mencari udara segar.
Mata lelaki itu fokus pada bingkisan yang ada di sana, bingkisaj itu tampak indah dan mewah, membuat Darrel merasa penasaran, namun dia tahu tidak baik membuka hadiah orang lain, jadi dia membawa masuk hadiah itu agar Radith bisa membukanya sendiri di hadapan mereka semua.
Radith yang sudah selesai dengan pekerjaannya langsung memandang Darrel dan membuka isi kotak bertuliskan selamat menikah Lira dan Radith. Lelaki itu langsung membuang paket itu saat tahu apa isinya. Dia sampai gemetar melihat apa yang ada di dapan box itu.
Ternyata di dalam box itu berisi foto foto Lira dan Sea yang sudah dipotong kecil kecil? Bahkan bagian kepala keduanya digambar dengan gambar lidah yang menggunakan spidol, dan tentu kepala keduanya sudah terpotong dan berpisah dari tubuhnya. Radith merasa seram melihat semua hal itu.
"Maksudnya apa coba kayak gitu? Ini, ini bahkan gak imut sama sekali, apa mereka ngasih buat Lira ya? Kan Lira gak imut juga. Tapi kalau Lira tahu ini, dia juga jadi gak imut," rengek Radith yang langsung menelpon pengawalnya untuk datang dan melacak siapa yang memberikan kotak ini di rumah Radith.
"Siapapun dia, gue bakal kejar dia, walau sampai ujung dunia juga good aja sih," ujar Radith yang diangguki oleh Darrel. Radith mengira Darrel mendukungnya, namun ternyata lelaki itu hanya sedang menyaksikan pertandingan kota moyet dengan ayam.
"Ah, ya, terserah Lo aja, yang penting kabarin Lira, biar dia juga hati hati dan gak banyak tingkahnya, termasuk Sean juga, kalau perlu dan mau, kalian bisa tinggal sama kita di Jakarta, rumah Wilkinson kan banyak ruang tamunya," Tawar Darrel pada Radith yang lesu.
"Nanti dulu aja kak, masih banyak yang harus gue kerjakan atau bereskan tanpa melibatkan orang lain lagi selagi gue bisa sendiri, wish me luck aja ya kak," ujar Radith yang tentu diangguki oleh Darrel yang sudah sedikit pusing dengan maslah ini
"Semoga semua lekas terungkap dan kembali ke sedia kala," lirih Radith tanpa didengar oleh Darrel.
__ADS_1