Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 81


__ADS_3

"Sudah dipastikan jika mayat yang ada di mobil itu adalah Greselyn, tapi di sana tidak ada Zia. Dan kami juga tidak menemukan dimana anak itu, apakah anda ada saran pak agar kita bisa segera menemukan Zia?" Tanya Anak buah Radith yang membuat lelaki itu merasa pening. Dia tidak mengira akan terjadi sejauh ini. Dia bahkan tidak kepikiran sama sekali dimana mereka.


"Coba cari di panti asuhan tempat dia dulu dibuang, ke rumah sakit jiwa tempat Gracia dirawat, ke rumah orang tua mereka yang waktu itu kita datangi, dan ke rumah lama mereka. Cari ke semua tempat yang pernah Greselyn kunjungi. Lekas cari dan temukan anakku dengan keadaan hidup dan utuh, aku tidak akan mengancam kalian, tapi aku memohon, tolong temukan anakku," ujar Radith dengan lemas.


Anak buah Radith berpandangan satu sama lain. Baru kali ini dia melihat Radith yang sangat frustasi seperti ini. Dia tidak pernah memohon pada mereka, paling hanya meminta tolong, namun sepertinya Radith sudah sangat frustasi, apalagi dia ingat Zia tidak memiliki siapa siapa lagi di sini, pasti dia semakin khawatir. Radith tidak tahu dimana Zia berada, dia bahkan tidak mengira Greselyn melakukan misi bunuh diri tanpa mengajak Zia.


"Bagaimana keadaan Andre? Apakah dia sudah sadar? Terakhir kali dia kehilangan banyak darah," ujar Radith yang baru ingat dengan Andre. Lelaki itu yang memutus nyawa Greselyn dan menghentikan tragedi berturut, jika wanita itu masih hidup, satu persatu keluarganya akan dalam bahaya. Andre bahkan merelakan keselamatannya sendiri demi Greselyn. Namun karna terlalu fokus pada Zia, dia tidak bisa memikirkan soal Andre, membuatnya jadi merasa bersalah.


"Kondisinya sudah stabil, tapi belum sadarkan diri, ada kemungkinan dia akan koma jika dalam dua hari belum sadar. Tapi saya yakin dia akan sadar, tuan tidak perlu khawatir, tuan Andre bukan orang yang lemah walau sering ceroboh," ujar orang otu yang diangguki oleh Radith, meski dia tahu Andre akan bertahan, tetap saja, dia harus menjenguk orang yang sudah sejak lama selalu menolongnya, menjadi tangan kanannya yang berharga.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Tetap kirim orang untuk lakukan yang saya minta, jangan sampai lengah. Mereka tidak mungkin pergi dari negara ini karna aku sudah memblokir semua akses bandara, jika ada kemungkinan dia pergi dari pulau ini, dia memakai kapal, dan tidak mungkin dalam waktu singkat ini," ujar Radith yang langsung membubarkan mereka. Lelaki itu sangat lelah, dia tidak tidur sejak kemarin karna banyaknya hal yang harus dia kerjakan. Bahkan dia harus menyerahkan semua pekerjaan kantor ke asistennya.


"Tuan belum pulang ke rumah sejak kemarin, apa tuan tidak mau pulang dulu dan bertemu dengan nyonya? Sepertinya nyonya akan khawatir, apalagi sejak kemarin tuan juga tidak memberi kabar kepada nyonya," tanya salah satu pengawalnya yang lain, Radith menggelengkan kepalanya dengan lemas. Dia tidak bisa menemui Lira dengan keadaan seperti ini, dia akan merasa bersalah jika belum menemukan Zia, dia bahkan tidak berani memberi kabar tentang hal ini pada Lira.


"Kita ke rumah sakit dulu, saya mau pastikan keadaan Andre aman. Dia tidak boleh mati karna saya masih punya hutang tiket jalan jalan ke dia. Saya tidak mau dia mati dalam keadaan saya belum menepati janji itu, ayo kita berangkat," ujar Radith yang masuk ke dalam mobilnya. Dia menyenderkan kepalanya dan sesaat kemudian, dunia mimpi langsung menyambutnya saking dia merasa lelahnya.


Pengawal yang merangkap jadi supir memelankan laju mobil dan lebih ke jalur kiri agar Radith merasa nyaman dalam tidurnya. Dia merasa kasihan pada Radith yang bahkan otaknya tak pernah berhenti bekerja. Mereka para pengawal bertukar shift, bergantian menjaga Radith, namun yang mereka jaga bahkan tidak pernah bertukar peran dengan orang lain dan tidak ada waktu untuk memejamkan matanya. Yah, menjadi orang kaya tak seindah kelihatannya.


Mereka setia dan bersikap baik pada Radith karna lelaki itu menganggap mereka sebagai teman. Radith memberi mereka bonus yang besar meski keadaan ekonominya tak stabil saat itu. Dia sangat menghargai orang lain dan berhati lembut. Melihat orang seperti itu menderita, tentu saja mereka tak tega dan rela membantu Radith sampai terkadang harus berkorban nyawa dan keselamatan.


"Tuan, kita sudah sampai di rumah sakit dimana tuan Andre dirawat," ujar pengawal itu yang tahu Radith akan marah jika tak dibangunkan. Lelaki itu membuka matanya dengan berat dan melakukan pergangan, melihat ke arah jam tangannya dan melotot, dua puluh menit sudah berlalu, kenapa pengawalnya baru membangunkannya? Dia hendak mengomel, namun sepertinya orang itu tahu jika hendak dimarahi.


"Maaf tuan, seharusnya bisa sampai dalam 10 sampai 15 menit, tapi waktu bertambah lama karna jalanan yang macet. Sesampainya di sini saya langsung bangunkan tuan," ujar orang itu yang sebenarnya berbohong, namun tidak ada pilihan lain. Paling tidak Radith sudah tidur meski hanya 20 menit dan dia juga tidak bisa jujur karna Radith akan tetap marah jika dia mengatakan bahwa dia sengaja melambat, yah, walau itu untuk Radith juga sih.

__ADS_1


"Ah, baiklah. Terima kasih banyak. Kau menyetir dengan lembut, aku bisa tidur walau sebentar. Terima kasih banyak. Kau bisa minta bawahanmu untuk menjaga tempat ini lebih ketat lagi, jangan sampai ada yang berani mendekati dan berbuat jahat pada Andre, aku tak segan mengambil nyawa orang yang berani melakuksn itu," ujar Radith yang diangguki oleh orang itu. Lelaki itu mengikuti Radith untuk masuk ke dalam sana dan menuju ruang VVIP dimana Andre berada.


"Astaga Ndre, lo berantakan banget, dih, kok sampai kayak gini sih lukanya dimana mana, sekarang udah cakep gue dibanding lo, sekarang gue gak was was kalau Lira ngobrol sama lo," ujar Radith bergurau, berharap Andre akan bangun dan menanggapi gurauan itu, meski bisa dibilang tak mungkin terjadi untuk saat ini, nakun dia tetap mencoba yang dia bisa untuk membangunkan Andre.


"Setelah semua ini selesai, gue bakal belikan semua tiket liburan yang lo mau, yah asal harganya masuk akal aja sih. Lo harus bangun tapi, gue cuma punya losebagai tangan kanan tapi juga akrab dan temenan baik sama gue. Kalau gak ada lo, yang bisa gue suruh suruh siapa coba? Yang bisa gue manfaatin otaknya siapa? Jangan lama lama yak tidurnya, lo harus bangun," ujar Radith lagi, meski dia bergurau, namun dia merasa matanya memanas.


"Anak gue hilang Ndre, dan mungkin cuma lo yang bisa temukan dia. Lo dan tim lo yang bener bener keren itu. Tapi kalau lo koma, siapa yang nemuin anak gue? Jadi lo gak boleh koma. Kalau lo tetap mau koma, gue yang bakal antar lo ke Tuhan, enak aja kerja sama gue malah banyak liburnya. Ayo ndre, lo pasti bisa lawan semua itu," ujar Radith sambik tersenyum lebar, namun satu tetes air mata jatuh dan membasahi pipi Andre.


"Ciye nangis ciye. Astaga terharu gue ditangisin sama lo," ujar Andre yang tiba tiba saja membuka matanya, membuat Radith reflek kaget dan memukul kepalanya, meski pelan, tentu sangat menyakitkan bagi Andre yang masih terbaring lemah itu. Radith tidak tahu jika Andre ternyata sudah bangun dan malah memilih untuk mengerjainya seperti ini.


"Gue udah bangun dari tadi pagi. Sengaja bilang ke orang gue buat ngabarin kalian gue belum bangun, karna gue pikir lo bakal nyari Zia dan gak ke sini, jadi gue bisa istirahat dulu. Eh malah lo ke sini, ya jadilah gue pura pura belum sadar. Tapi pas tahu lo nangis buat gue, ah, rasanya terharu dan gak tega buat lanjutin bohong ke lo, jadi ya gue bangun," ujar Andre tanpa dosanya. Radith sampai menggelengkan kepalanya takjub dengan apa yang dilakukan oleh Andre untuknya.


"Gue gak akan minta lo kerja dengan posisi lo yang sekarang. Lo bahkan gak bisa bangun pakai kaki yang dua duanya patah ini. Gimana lo mau kerja? Yang ada malah nyusahin gue," ujar Radith dengan ekspresi kesal. Sungguh, dia tidak menyangka Andre mengerjainya, jika tahu, dia tidak akan mengatakan hal hal yang manis itu di depan Andre dan tidak perlu menahan malu seperti ini.


"Itu tadi kan pancingan biar lo bangun aja. Gue mah baik hati Ndre. Yang penting Lo gak bikin gue kesal aja. Udah itu aja syaratnya, enak banget syaratnya," ujar Radith yang membuat mereka berdua terkekeh. Radith dan Andre mengobrolkan banyak hal dan bahkan membahas dimana kemungkinan Zia dibawa oleh Lira?


"Menurut gue, dia udah keluar dari pulau ini. Kalau pakai pesawat gak bisa, berarti mereka pakai kapal. Nah Greselyn bunuh diri itu buat mengulur waktu. Yah dia berhasil, lebih dari 24 jam, dan kita masih muter muter di sini tanpa menemukan apa apa." Radith baru menyadari ada transportasi selain pesawat di dunia ini.


"Tapi kalau tujuan dia uang, kenapa dia malah jadi misi bunuh diri buat itu? Kenapa dia gak cuma culik Zia aja? Gue gak bisa nyampe ke sana otaknya, beneran deh," ujar Radith yang membuat Andre menutup wajahnya dengan frustasi. Inilah sebabnya Radith tidak boleh berpikir lebih dari kapasitas otaknya, dia juga tidak boleh merasa panik yang berlebih. Banyak yang tidak boleh Radith alami karna masalah mental di masa lalu.


"Oke, gini, gue juga gak tahu kenapa dia sebodoh itu. Tapi bisa jadi emang dia mau membuat Zia hilang, jadi fokus kita nyari Zia dan lupa sama dia, sedangkan dia yang tahu Zia dimana kan? Dia bisa manfaatkan itu. Tapi ternyata dia ketangkap, dan dia gak nyangka gue bakal nabrak dia sampai mati. Dan yah, salah gue juga, seharusnya dia gak mati, jadi kita bisa nemuin Zia. Sekarang kita gak bisa apa apa lagi."


"Gak, gak kalau pun lo salah dengan itu, gue gak akan hukum lo kok, karna lo udah melakukan pekerjaan kotor gue, jadi gue gak perlu berlumuran darah dia, makasih lo selalu ambil keputusan buat nguntungin gue, lo emang sahabat gue yang paling baik," ujar Radith yang membuat Andre memicingkan matanya. Dia terlalu tidak biasa dengan pemandangan seperti ini. Rasanya aneh sekali jika dilihat.

__ADS_1


"Lo gak mau ngebatalin tiket liburan gue atau ngirim gue ke wakanda kan? Serius, gue bakal nyari Zia sampai ketemu, tapi jangan cabut lah tiketnya. Gue udah ngomong sama pacar gue nih, bisa dianggurin satu bulan kalau gue batalin. Bisa batal nikah juga," keluh Andre yang membuat Radith memutar bola matanya. Yah, dia memang tidak biasa sweet dengan Andre, jadi pasti malah mencurigakan bagi anak itu.


"Iya tenang aja, kalau lo butuh sponsor buat nikahan juga gue mau jadi sponsor. Ntar souvenirnya kita kasih alat alat elektronika dari pabrik, terserah buat apa dah sama mereka," ujar Radith sambil tertawa. Mereka mengobrol santai setelah itu. Tidak mau memikirkan dengan berat semua masalah yang mereka hadapi. Namun meski keduanya sedang bergurau, otak Andre tetap bekerja untuk mencari cara menemukan Zia.


"Ah, gue tahu. Kita cuma perlu nyari info kapal yang berangkat di beberapa hari belakangan saat Greselyn ketahuan sama kita. Dan tinggal kirim orang buat ke pulau pulau itu, nyari Zia, pasti nanti bisa ketemu. Karna kan gak banyak juga kapal keluar dari Bali. Apalagi Zia masih kecil kan, bisa aja dia malah diamanin sama pihak Dermaga," usul Andre yang tiba tiba saja terpikirkan cara itu.


"Wah, kalau lo gak ada di pihak gue, mungkin gue udah hancur sih, kalah sama lo. Tapi walau kapalnya gak banyak pun, bukannya rutenya banyak ya? Dia bisa ada dimana aja," ujar Radith yang tampak tak yakin. Andre mengangguk, setuju dengan pernyataan itu karna dia juga berpikir hal yang sama. Memang tidak akan mudah.


"Sesulit sulitnya, orang orang lo masih bisa buat nyusurin pelabuhan pelabuhan di Indonesia. Selagi gak keluar dari negara ini. Karna gue ngerasa Zia udah gak ada di Bali, kita udah kirim orang ke seluruh pulau, tapi hasilnya Zonk. Semisal pun kita kekurangan man power, kita bisa minta tolong ke Bang Jordan? Ya kan?" Tanya Andre yang membuat Radith menghela napas panjang.


"Kita lakuin sesuai rencana Lo, gue bakal kirim semua orang kita buat ngikutin rute kapal yang berangkat dari Bali. Tapi opsi pinjam man power ke bang Jordan dan keluarga Wilkinson, kayaknya gak perlu, kecuali kalau kita kepepet banget. Gue gak mau ada hutang budi lebih lagi, gue bingung balesnya," ujar Radith pelan.


"Yah, gue tahu. Ah, coba aja Luna gak nikah sama Darrel. Pasti jalan ceritanya gak begini nih, gak serumit ini juga. Kayaknya Luna juga udah tenang tenang aja tuh di rumah, Darrel juga cuma jadi bos biasa dan semua keamanan mereka ditanggung Wilkinson," ujar Andre spontan.


"Yah, kalau Luna gak nikah sama Darrel, gue gak akan ketemu Lira, gak akan punya Zia dan Sean, dan mungkin gue akan selalu hidup dalam bayangan keluarga Wilkinson, gue gak akan bangga sih, gue bahagia sama keluarga gue sekarang. Gue gak menyesali apapun lagi," ujar Radith sambil tersenyum tipis.


"Maaf, gue gak maksud buat mengungkit masa lalu. Walau gue juga kesal banget sih saat tahu ceritanya. Kayak Luna bodoh banget tinggalin lo yang bahkan rela kalau harus korban nyawa buat dia, tapi dia ... ah, sorry, oke," ujar Andre yang tidak menyelesaikan perkataannya karna mendapat tatapan tak enak dari Radith.


"Fokus kita buat nyari Zia aja. Gak perlu mikirin yang udah udah, gue juga udah gak ada rasa apa apa ke dia, jadi yah, gak perlu diungkit lagi, gue gak mau dengar hal itu dibahas lagi," ujar Radith dengan santai namun terkesan serius dan peringatan untuk Andre.


"Gue kebelet pipis. Bantuin gue pegang pispot dong, biar gak meleber kemana mana," ujar Andre tiba-tiba setelah hening beberapa saat.


"Hah? Najis!" Tandas Radith yang membuat Andre tertawa keras dan renyah.

__ADS_1


__ADS_2