
Radith memakai kemeja hitam dan sepatu yang khusus diberikan oleh tuan Wilkinson. Di sepatu itu sudah terdapat GPS yang akan memantau mereka dimanapun mereka berada. Ansitipasi jika sesuatu terjadi pada mereka, mereka masih bisa ditemukan dan diselamatkan. Apalagi misi lali ini sangat berbahaya dan tuan Wilkinson hanya percaya pada Jordan, Darrel dan Radith.
"Pa, kalau memang si Asep itu udah pergi dari Indonesia bagaimana? Percuma juga kita obrak abrik markas dia kan? Apalagi kalau mereka perginya bawa barang bukti itu, kita gak akan dapat apa apa dong?" Tanya Darrel saat mereka berkumpul di sebuah ruangan dan terdapat peta di sana. Tuan Wilkinson mengangguk setuju pada pernyataan Darrel, semua akan sia sia jika mereka sudah kabur ke luar negeri dan membawa pergi bukti.
Yah, tuan Wilkinson sedang menyelidiki sindikat narkoba yang besar, dia diminta oleh orang yang terkait untuk membantu meminjamkan kekuataannya. Yang membuat menarik adalah, semua uang yang mereka temukan akan menjadi milik mereka, dan tentu identitas mereka tetap aman dan yang akan menjadi berita adalah orang itu membawa bukti narboka bukan sejumlah uang.
"Ya, jika dia pergi dan membawa semua uangnya, kita akan sia sia dan mungkin itu akan jadi misi bunuh diri, jadi aku ingin bertanya pada kalian sekali lagi, apa kalian yakin mau ikut dalam misi ini? Kalian tidak bisa mundur setelah ini karna sindikat yang akan kita tangkap cukup besar dan memiliki backing yang cukup kuat untuk menutupi semua, jadi kita benar benar sempurna dan tidak ada kesalahan," ujar tuan Wilkinson yang kembali menjelaskan peta di hadapan mereka.
"Radith, kamu dan tim A akan pergi ke daerah barat. Kamu cari semua sinyal dan kemungkinan mereka ada di kota daerah waktu barat. Darrel, kamu urus bagian tengah dan Jordan, kau urus bagian timur. Waktu kalian satu hari, aku akan memblokir semua penerbangannya agar dia tidak bisa kabur dari negara ini dengan mudah. Oke? Jika ada yang ditanyakan, tanyakan saja tahun depan," ujar tuan Wilkinson yang langsung pergi dari sana.
Darrel langsung mengambil ponselnya dan mencari semua tempat yang mungkin orang itu datangi di Indonesia bagian tengah. Lelaki itu merasa misi kali ini sangat berat, dia bahkan harus pergi sendiri ke daerah itu, meninggalkan anak istrinya yang nasuk ke Jakarta.
"Ah, iya, gue lupa kasih tahu Lo, lo tahu man Kalau Lira jadinya dipindah ke Indonesia bagian tengah? Dia bisa ke lombok atau NTT gitu. Tapi dia kayak gak senang, gak tahu deh, kalian kenapa dah?" Tanya Darrel pada Radith yang dijawab gengan kepala oleh lelaki itu. Darrel mengedikkan bahunya dan memilih untuk tidak ikut campur di antara masalah Lira dan Radith yang makin dewasa itu.
"Ya udah, pokoknya gue mau kasih info itu aja. Kayaknya Lira udah dijemput gitu mau pergi ke lombok, terus kalau Luna pindah rumah aja tapi masih tetap di Jakarta," ujar Darrel yang sebenarnya tidak ada niat jelek, namun Radith menjadi kesal saat tahu Luna tidak perlu pindah ke kota lain sedangkan Lira yang tinggal di Bali tidak bisa meminta dirinya untuk tetap tinggal do Bali. Radith merasa hal itu membuatnya kesal bahkan hanya dengan membayangkan bisa mendengar isakan istrinya.
"Aneh ya, ya emang sih Luna anaknya tuan Wilkinson jadi bebas aja, dan Lira itu orang luar, gue juga orang luar. Tapi kenapa Lira harus pindah sedangkan Luna enggak? Lira itu udah lama banget pengen tinggal di Bali, tapi begitu kami bisa pergi ke sana, dia disuruh pindah lagi ke pulau lain, gue gak ngerasa ini adil sih," ujar Radith pada Darrel yang membuat pria itu terkejut.
"Ah, ya bener ya, kalian kan dapat keuntungan. Ya udah, gue gak berhak buat iri atau apapun itu kan? Kalian bisa dapatkan semua, semuaa, kalau gue, gue bahkan harus mengorbankan keselamatan gue sendiri," ujar Radith yang semakin melantur, membuat Darrel gemas dan hendak memukul Radith, untuk Jordan berteriak tepat waktu.
"Gue gak tahu kalian ribut apa dan gue juga gak mau tahu urusan pribadi kalian. Tapi tolong jangan sekarang deh. Kalian bisa bikin agenda biar kalian ribut sampai salah satu dari kalian mati, gak masalah. Tapi kalau kalian mati di misi ini, kalian sama aja membunuh banyak orang," ujar Jordan yang melerai keduanya dan mengajak Darrel untuk pergi dari sana.
"Kalau Lo emang gak mau Lira pindah, gak papa, dia tetap di Bali. Pertimbangan gue karna keluarga Lo masih kecil, pasti gampang diintai. Dan yah, kita belum pernah ada yang sampai ke luar pulau terutama daerah sulawesi, atau Lombok gitu. Jadi itu tempat yang aman buat Lira dan Sean. Lo harusnya tahu dong kalau Gue gak akan pernah berlaku gak adil?" Tanya Radith yang tidak puas dengan jawaban Jordan akan masalahnya.
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu Lira tetap di Bali aja, gak ada yang jagain, dan yah, Lo bahkan gak bisa jaga dia karna Lo area barat dan Lira tengah, kalian gak bisa saling menjaga. Kalau Lira ada di Timur, gue yang tanggung jawab atas keselamatan Sean, jadi gimana? Lo tetap ingin?" Tanya Jordan yang kini membuat Radith terdiam. Lelaki itu memandang ke arah Jordan dengan tataoan ragu.
"Gue yang usulkan hal itu, karna gue tahu, Lira masih jadi tanggung jawab gue juga selagi Lo pada masih mikir masalah komtrak sama perusahaan itu, lebih baik kalian stop aja di erminal dan gak ikutan ini," ujar Jordan yang membuat Radith khawatir. Dia akhirnya membiarkan Jordan membawa Lira ke lombok.
"Tapi bang, Lira itu lagi proses pemulihan dan terapi. Kalau dia di bawa ke sana dan jadi stres gimana? Gue gak mau dia susah buat sembuh atau tambah beban pikiran karna Gue. Sebenarnya aja gue juga gak mau ikutan lagi, tapi bokap bener bener pengen gue ikut sampai telpon gue sendiri," curhat Radith dengan lesu. Dia tidak merasa tak enak pada Jordan meski lelaki itu anak kandung tuan Wilkinson.
"Percayalah, bokap minta Lo buat ikut adalah pilihan terakhir yang kami punya. Lo harus ikut, karna Lo yang tahu tentang masalah ini. Ibaratnya Lo itu jadi navigator, jadi ya Lo harus ikut. Bahkan kalau Lo gak mau, bokap ada rencana buat turun langsung nemuin Lo di kantor, apa gak makin pusing Lo kalau beneran itu?" Tanya Jordan yang mengedikkan bahunya geli, membayangkan sikap papanya yang memang semenyebalkan itu.
Mereka akhirnya sepakat dengan keputusan awal. Radith muali bergerak dan tidak memikirkan Lira sama sekali karna tahu wanita itu dan anaknya akan aman dan selamat di tangan Jordan. Dia mencoba melacak keberadaan mereka, namun memang cukup sulit, meski dia sudah bisa memprediksi mereka ada di sebuah kota di Indonesia.
"Gue bakal misi bunuh diri. Kalian pantau terus ya, dan please banget kirim bantuan. Gue ada di kota M dan Gue lagi ngikutin mobil yang sepertinya punya bos mereka, karna diikuti gitu dari belakang," ujar Radith melalui ponsel khusus yang mereka gunakan di misi kali ini. Namun belum sempat Radith selesai bicara. Sebuah mobil menabraknya sangat keras dan membuat mobilnya menabrak tembok.
Lelaki itu melempar ponselnya keluar dari mobil agar mereka tidak tahu untuk siapa Radith bekerja. Setelah itu Radith pura pura pingsan, namun dia menjatuhkan sebuah gantungan kunci yang sangat sebagai tanda dia pernah ada di sana. Dia tidak tahu akan di bawa kemana, namun dia tahu pasti tidak akan baik.
"Kalian jaga orang ini, gue harus telpon bos dulu. Pastikan tuh obat obat masuk keranjang, atau apapun itu lah, kita angkut nanti malam ke kargo, gue udah bayar semua, jadi lunas dan kita bisa pergi setelah kita dapat informasi dari orang ini, kita lempar dia ke laut buat makanan ikan nila " ujar orang itu yang membuat Radith mendesis. Dia melakukan hal yang salah, untuk apa dia sampai melakukan aksi bunuh diri ini untuk pegawai saja? Orang itu bahkan tidak penting sama sekali menurut Radith.
Radith merasakan sepatu yang dia pakai cukup berisik, namun dia tahu sepatu ini sedang menunjukkan kegunaannya. Lelaki itu tahu tuan Wilkinson melacak dan sedang mencoba bertanya. Namun orang orang itu tidak penting semua, dia harus mencegah tuan Wilkinson datang ke tempat ini, bisa jadi masalah besar kalau sampai benar. Radith memikirkan cara agar bisa berkomunikasi dengan bagus.
"Ah, jadi kau bukan bos besarnya? Sial, seharusnya gue ada di bos besar kalian, kalian itu takut dikatain sama orang yang jauh jauh lebih baik dari gue bakal datang ke sini dan Gudbyein akun si supir aja, ah, kenapa gue buang buang waktu sih."
Dorr
"Arrrkhh," Radith mengerang saat kakinya langsung di tembak oleh orang itu tanpa peringatan apa apa. Lelaki itu takut dirinya sudah ketahuan, namun sepertinya mereka hanya melakukannya untuk menggertak Radith dan membuat lelaki itu mengaku. Namun Radith tahu, jika tuan Sanjaya tak lekas sampai, dia akan sungguh sungguh tewas di hadapan orang ini, dan bahkan mungkin tak diberi kesempatan untuk bicara lagi.
__ADS_1
"Gue gak main main dan gue bakal tembak kepala Lo kalau Lo gak mau ngaku siapa Lo sebenarnya. Gue gak akan pernah bilang siapa si Bos, dan yah, Lo mungkin lebih baik jadi anak buah Gue, tapi dengan satu kaki, Lo gak akan bisa lebih baik dari anaknya anak buah gue, jadi lebih baik kalo ngaku sekarang."
"Lo cuma sebut nama, gue bakal janji kalau Gue gak akan nyakitin Lo di sisa umur Lo. Gue akan buat kematian Lo jadi mudah dan yah, gue harap Lo tahu dan mengerti kalau gud gak bisa kasih hidup buat Lo ya."
Radith tidak menjawab apapun. Dia tidak berharap tuan Wilkinson akan datang untuk menolongnya karna sejak awal memang dia harus menjadi penyerang tunggal yang dikorbankan, jika memang ditolong pun, Radith tidak akan puas. Dia akan merasa menjadi beban yang merepotkan yang lain.
Namun dia juga tidak bisa mati konyol di tempat ini, dia harus mengatur strategi. Jika mereka memang ingin pergi, itu artinya waktu hidup Radith sedang terancam, karna mereka pasti akan membunuhnya setelah selesai semua persiapan, Radith memutar otak untuk bisa mengerti semua situasi yang terjadi dan memikirkan solusinya.
"Kalian kenapa pilih bisnis kayak gini sih? Narkoba, obat, uang haram, astaga, kalian mau kasih makan keluarga kalian pakai uang ini? Kalian gak takut keluarga kalian di rumah sakit perut atau kena gentayangan orang orang yang kalian bunuh?" Tanya Radith yang ingin mengulur waktu. Untung saja orang itu terpancing dan malah duduk di sebelah Radith, meski dengan senjata yang masih dia bawa.
"Keluarga gue kan gak tahu apa yang gue lakukan, jadi ya Gue biasa aja, mereka makan pakai duit, duit darimana ya urusan gue. Lagian gue gak dosa, gue cuma jualan obat kan? Negara aja yang kocak, orang mau beli obat kok malah ditangkap?" Logika orang ity membuat Radith tak habis pikir dengan sikapnya itu.
Daarrr
Orang itu menembak lengan Radith tanpa aba aba sama sekali. Perlahan Radith meringkuk karna kakinya terasa sangat sakit dan darahnya masih mengalir, kini malah bagian tanggannya terasa sakit dan panas. Dia merasa semakin lemah karna darahnya terus mengucur jelas. Lelaki itu memegang sepatunya dan melepas alat pelacak untuk di tempel ke keranjang yang akan dikirim. Semoga saja itu bisa membantu sebenarnya dimana hos mereka berada.
"Kita disergap! Kita disergap! Bos, kabur, kita udah bawa barang semua ke kapal dan siap berangkat, lebih baik kita berangkat dan biarin dia di sini mati kehabisan darah, yang penting kita segera pergi dari sini," ujar salah seorang anak buah yang membuat orang itu mengangguk panik dan mengangkat keranjang “terakhir dan pergi dari sana, meninggalkan Radith yang sudah mulai tak sadarkan diri.
Lelaki itu mulai membali teringat dengan masa dimana dia dan Lira pertama bertemu, apa yang dia lakukan pada Lira. Lima tahun setelahnya mereka bertemu lagi dan hidup bersama, lelaki itu reflek menangis saat mengingat semua itu, terutama janjinya pada Lira untuk segera menyelesaikan misi ini dan memulai bisnis dengan nyaman dan tentu saja aman.
"Radith! Lo masih hidup kan? Heh! Lo masih hidup kan?" Radith bisa mendengar suara samar itu namun dia sudah tidak bisa menahannya. Dia memejamkan matanya dan tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
"Lira, Sean," lirih Radith saat dibawa ke rumah sakit karna menahan sakit luar biasa.
__ADS_1