
Hai,mohon Maaf setelah ini akan menjadi Kacau, silakan langsung melompat ke Chapter 136
Terima kasih banyakkk atas pengertiannya
--------------------------000000----------------------
Radith sudah puas bermain dengan anak anaknya, namun dia merasa ada sesuatu yang kurang. Setelah mengingat beberapa saat, dia baru ingat jika dia belum menghubungi Lira, dan lebih buruk lagi, dia lupa jika ponselnya masih di mode pesawat, jadi tidak ada panggilan atau pesan yang masuk ke ponselnya. Dia lekas mematikan mode pesawat itu dan ingin menghubungi Lira.
Setelah ponselnya menyala, dia melihat Lira sudah mengirim banyak pesan. Dia membuka pesan itu satu persatu, isinya ungkapan rindu Lira padanya. Radith tak menyangka Lira akan sebucin itu, hormon Ibu yang baru saja melahirkan anak membuat Lira tidak bisa jauh dari Radith.
Radith membaca satu persatu pesan dengan eajah yang tersenyum. Sampai dia membaca salah satu pesan yang membuat senyum di bibirnya luntur seketika. Dia membawa pesan yang ada di ponselnya dengan serius. Dia langsung menegang setelah melihat apa yang tertulis di sana. Dia bisa membaca semua pesan yang Lira sampaikan, rupanya puluhan pesan itu, hanya sedikit yang pesan rindu, sisanya pesan meminta tolong.
"Bodoh, kenapa aku tidak membaca pesan Lira dari tadi? Astaga. Aku bodoh. Mba Anna, Mba Betta, kalian jaga anak anak dan lanjutkan liburannya. Saya harus kembali ke Indonesia. Mereka akan dikawal dengan pengawal, jadi kalian tidak perlu khawatir, saya harus pulang ke Indonesia saat ini juga," ujar Radith yang membuat Beta dan Anna bingung, begitu juga dengan Zia dan Sean yang tak mengerti kenapa Radith seperti itu.
__ADS_1
"Kalian baik baik dengan Mba Anna dan Mba Betta. Papa harus pulang sekarang, kalian kembali ke rumah dan tinggal di sana untuk sementara waktu ya, nanti papa akan kirim kabar untuk kalian. Kalian jaga anak anak, jangan sampai pergi kemana mana paling tidak sampai situasinya aman," ujar Radith cepat, namun Sean menahan tangan Radith.
"Kalau papa pulang, Sean ikut pulang saja pa, kenapa Sean harus tetap liburan kalau papa pulang ke Indonesia? Apalagi papa panik seperti ini," ujar Sean yang dijawab gelengan kepala oleh Radith. Dia sedang buru buru, namun tentu saja dia tidak mengijinkan Sean ikut dan malah menjadi bahaya untuk mereka semua karna rokus Radith akan terbelah dan itu berbahaya untuk keluarganya.
"Nak, kamu dan papa tidak bisa ada di pesawat yang sama saat ini. Kamu jangan pulang ke Indonesia dulu. Kamu di sini bersama Zia ya, ada rumah yang udah papa siapkan, kamu tinggal sama Zia di sana untuk sementara. Zia kalau nanti tante Jenny datang, papa minta kamu jangan pergi dulu ya, di rumah dulu untuk beberapa waktu, kalian mengerti?" Pesan Radith yang diiyakan oleh anak anaknya.
Lelaki itu langsung memesan pesawat khusus yang akan membawanya ke Indonesia tanpa tiket, yah, meski harga yang dibayar jauh lebih mahal dari tiket sih. Dia dan 10 anak buahnya segera pergi dari tempat itu ke bandara untuk naik pesawat. Pesawat yang hanya dia gunakan jika dalam keadaan darurat. Dia tidak bisa membawa Sean, karna tidak mau anaknya terserey dalam masalah ini.
Radith sangat cemas dan ingin segera sampai ke negaranya. Namub dia tidak bisa menggunakan panggilan, nomor Lira juga terakhir mengirim pesan satu jam lalu, dia tak bisa membalas pesan itu karna jika Lira tertangkap, bisa saja ponselnya diambil oleh mereka dan Radith akan dijebak, karna bagaimanapun Radith tahu, Lira hanyalah umpan.
"Setelah ini, ambilkan laptop saya dan lacak keberadaan liontin Lira. Saya mau melacak benda itu terlebih dahulu, jika sudah ditemukan, langsung ke sana kirim orang, pastikan apakah Lira ada di sana atau itu hanya jebakan. Kalian hanya punya sedikit waktu dan pastikan anak istri saya bisa ditemukan dalam keadaan selamat," ujar Radith yang diangguki oleh mereka. Radith dan Anak buahnya berusaha untuk tenang saat ini karna mereka memerlukan waktu cukup lama untuk sampai ke Indonesia.
Radith membaca lagi pesan yang dikirimkan oleh Lira. Dia merasa jauh lebih frustasi semakin dia membaca pesannya. Apalagi pesan terakhir yang Lira katakan dan dia juga melihat ponselnya yang menyala nyala, tanda pintu ruang rahasia sudah dibuka. Radith merasa kesal sekaligus menyayangkan aksi yang diambil oleh Lira.
__ADS_1
"Seharusnya dia ikut masuk ke sana dan bersembunyi, pasti dia tidak akan dalam kesulitan seperti ini. Kenapa dia malah menjadikan dirinya umpan dan meninggalkan anak bayi di sana. Apa dia tidak berpikir anak bayi itu akan kelaparan? Dia sungguh bodoh jika sedang panik," ujar Radith yang merasa tak sabar dengan istrinya.
"A B C D, kalian siapkan mobil cepat agar saya bisa segera sampai ke rumah setelah sampai di bandara. Saya mau cepat sampai di rumah bersama kalian, E F G H, kalian lakukan tugas yang tadi saya sebut dan perintahkan. Sisanya, kalian berjaga di semua tempat yang akan membawa kalian ke luqr pulau, jaga jangan sampai Lira pergi dari pulau Bali.
"Baik pak," sahut semuanya dan langsung sibuk dengan urusan mereka masing masing. Radith juga berpikir dan berdoa semoga anaknya sudah minum susu tadi sehingga tidak akan terlalu lapar sampai dia pulang ke rumahnya. Dia akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu pada anak itu.
"Seharusnya gue gak pergi, harusnya gue tetap di Indonesia kalau tahu hal ini bakal terjadi. Ah, enggak, harusnya hal ini gak terjadi, harusnya gue gak ambil proyek itu. Cuma karna proyek besar, gue harus mengancam nyawa keluarga gue lagi, sial, kenapa jadi kayak gini sih?" Tanya Radith pada dirinya sendiri.
"Kalau sampai benar ini semua karna ulah tuh pesaing bisnis, jangan sampai orang itu masih hidup, pastikan dia mati mengenaskan dan bahkan sudah hilang sampai ornag tak tahu lahi tentangnya," ujar Radith dengan wajah yang serius dan kejam.
"J, kau hubungi Andre, coba cek dimana dia sekarang. Jika dia berada di Bali, pastikan dia bantu kita mencari Lira," ujar Radith yang diangvuki oleh J, orang itu berusaha menghubungi Andre, namun ternyata tidak bisa terhubung.
"Setelah pulang dari liburan, tuan Andre sulit dihubungi, dan bahkan sekarang tidak aktif sama sekali. Sekarang dia bahkan tidak tahu ada dimana," ujar J yang diangguki oleh Radith, namun sesaat kemudian Radith menyadafi sesuatu.
__ADS_1
"Ah, gak, gak mungkin, gak mungkin Andre kayak gitu," lirih Radith menepis semua pikiran buruk dalam kepalanya.