Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 69


__ADS_3

Radith pulang dari rumahnya dan mendapati Grace sedang tidur di sofa sambil bermain ponselnya. Dia tidak menyapa wanita itu dan ternyata wanita itu tidak menyadari kehadirannya. Radith membiarkan saja dan mencari keberadaan anak anaknya, namun tidak ada mereka di dalam rumah. Radith mencari ke belakang rumah, barangkali Sean dan Zia bermain di halaman belakang.


Halaman belakang rumah Radith sangat Private, hanya bisa dibuka oleh orang tertentu, kecuali orang itu memang berniat untuk membobol rumah Radith, yah, seperti wanita gila beranak satu itu, dia berencana untuk menutup halaman belakang itu dan menjadikannya kamar lain agar jika ada tamu, mereka punya tempat untuk menginap.


"Sean! Awas!" Pekik Radith yang langsung berlari dan menggapai bagian belakang baju Sean saat anak itu menengok ke arah air di kolam renang. Kolam itu memiliki kedalaman 2 meter, tentu saja kaki kecil Sean tidak bisa menggapai dasar. Sean juga tidak pernah diajari berenang, jadi anak itu akan kesulitan. Radith datang di saat yang tepat, terlambat sedikit saja bisa membuat nyawa anaknya dalam bahaya.


"Kamu ngapain sih sama Zia di sini? Di sini kan bahaya, kalau tadi gak ada Papa, kamu kecemplung gimana? Ini dalam loh, gak boleh main di sini tanpa ada orang tua, kan Sean tahu," ujar Radith yang cukup marah, dia kira Sean yang mengajak Zia untuk main di sini, karna Zia tidak mungkin bermain-main di sini tanpa diajak, apalagi ada pintu yang bersandi, dan hanya dia, Lira dan Sean yang tahu sandinya.


"Bukan, bukan Sean yang ajak, tapi Zia. Tadi tante yang mamanya Zia minta Zia untuk bermain di sini karna katanya menganggu mamanya lagi bermain ponsel. Terus kan dikunci, Zia dimarahin, katanya gak mau tahu harus masuk ke sini, Sean kasihan sama Zia Pa, jadi ya Sean bukakan pintu," ujar Sean dengan wajah polosnya.


"Terus kenapa Sean lihat lihat ke arah kolam? Kalau nanti Sean jatuh, siapa yang tolongin? Gak ada yang bisa buka pintu itu. Di sini itu bahaya loh nak, gak ada yang bisa masuk. Papa juga ke sini kalau benar benar mau berenang aja," tanya Radith yang membuat Sean menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa memberi alasan ataupun membantah, dia tahu jika itu salahnya.


Lira dan Radith selalu mengatakan pada Sean, jika dia tidak sqlah, jangan pernah takut untuk menyuarakan pendapatnya, tapi sebaliknya, jika dia sadar dia salah, dia tidak usah banyak bertingkah atau berbicara, cukup renungkan kesalahannya, meminta maaf dan jadikan itu pelajaran di kemudian hari. Anak itu menyerap dengan baik apa yang diajadkan orang tuanya.


"Zia, ayo sama Papa, kita keluar. Ini kan udah siang, Zia sama Sean udah makan belum? Mama kamu masak apa siang ini?" Tanya Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Zia. Radith tentu bingung dengan jawaban itu, Radith kan tidak memberi pilihan yang bisa dijawab dengan "ya / tidak" kenapa Zia menggelengkan kepalanya?


"Tante yang mamanya Zia itu cuma masak sarapan aja Papa, dia gak pernah masak makan siang. Biasanya Mami yang masak buat Sean sama Zia, tapi ini Mami lagi pergi, jadi gak ada yang masak. Sean laper Pa, ayo kita makan di luar aja, sama Mami juga," ujar Sean dengan wajah sedih imutnya. Radith kembali terkejut dengan apa yang dikatakan Sean.


Lira memberi tahu Radith jika temannya datang ke Bali dan mereka janji bertemu, makanya Radith pulang ke rumah di siang hari agar bisa melihat kondisi Sean dan Zia, namun dia mendapat fakta yang menarik, jika dia tidak pulang siang ini, eia tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di rumahnya saat dia tidak ada.


"Ayo kita pergi makan, kita lewat pintu rahasia aja, kita ketemu sama Mami, Ayo Zia, Zia mau makan kan?" Tanya Radith yang diangguki oleh Zia. Radith menggandeng tangan Sean dengan tangan kanan, dan Sean menggandeng Zia karna mereka harus berjalan menyusuri kolam renang yang dalam, jadi Radith yang berjalan paling kiri agar aman.


Setelah sampai di ujung lain kolam renang, Radith memencet tombol yang ada di sana (tombol itu terkoneksi dengan sidik jari Radith, jadi hanya Radith yang bisa membukanya) dan seketika tembok itu bergeser, memberikan jalan pada Radith, Sean dan Zia untuk keluar dari rumah tanpa ketahuan siapapun. Mereka pergi dan pintu otomatis tertutup san terkunci.

__ADS_1


Radith memanggil pengawalnya dan meminjam mobil mereka untuk pergi dari rumahnya, sementara nanti pengawal rumahnya memakai mobil Radith jika perlu. Mereka bertiga pergi dari rumah tanpa memberi tahu Grace, biarkan wanita itu kebingungan karna anak anak hilang karna dia bahkan tidak sadar Radith pulang kan? Radith ingin tahu bagaimana reaksinya saat Zia dan Sean menghilang.


"Sean coba telpon Mami, apa Mami bisa diganggu buat Lunch bareng, kalau gak bisa kita makan sendiri aja, nanti sekalian Papa check in ke hotel, malam ini kita tidur di hotel aja bersama," ujar Radith yang diangguki oleh Sean. Dia segera menelpon Maminya dan menanyakan persis yang diminta oleh Radith, ternyata Lira sudah selesai dan akan pulang, kebetulan Radith menelpon.


"Ayo, cari makan, sekalian teman kamu aja kita ajak makan sama suaminya juga. Aku tahu tempat yang enak, baru buka juga, pasti kamu suka," ujar Radith saat bertemu dengan Lira. Lira mengangguk dan mengajak temannya, namun ternyata mereka punya janji lain, jadi tidak bisa ikut. Sehingga Radith dan Lira pergi sendiri dengan anak anak mereka, setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa makan bersama di luar seperti ini.


"Eh Dith, mobil aku kan ada di parkiran pantai, kamu kirim orang buat ambil ya, aku lupa tadi aku ke sini naik mobil sendiri," ujar Lira yang membuat Radith menengok tak suka, dia sudah menyiapkan supir untuk Lira, kenapa Lira malah menyetir sendiri? Melihat itu pun Lira hanya bisa terkekeh dan meminta maaf.


Mereka pergi ke restoran bali dengan banyak masakan khas Bali, yang paling enak, temoat ini berupa buffet jadi mereka bisa mengambil apapun sepuasnya dengan harga banyak. Sean dan Zia karna berusia di bawah 6 tahun, mereka hanya dikenakan setengah harga, lumayan untuk menghemat kantong bukan? Meski kaya raya, tempat makan yang enak dan murah masih menjadi favorit bagi Radith.


"Mereka makan dengan nikmat dan bahkan mengambil semua makanan untuk dicoba, Lira sangat suka dengan masakan di sini, begitu juga Zia dan Sean, mereka makan dengan lahap dan saling bertukar makanan untuk dicoba, meski sebenarnya mereka bisa ambil sendiri sendiri sih, tapi biarkanlah, asal anak anak itu bahagia, haha.


Setelah makan, Radith membayar 5 ratus ribu untuk 4 orang, Radith dan Lira membayar 175ribu per orang, dan Sean - Zia membayar 75 ribu per orang. Radith sangat puas dengan masakan mereka, dia bahkan makan sangat banyak dan yakin akan membayar lebih mahal jika mereka memesan jumlah yang sama di restoran biasa. Jadi Radith merasa semua harga itu worth it.


"Loh, kok lewat sini, bukannya ini berlawanan arah sama rumah? Kamu mau bawa aku dan anak anak kemana?" Tanya Lira heran karna Radith melaju tanpa beban, terlihat Radith memang sengaja untuk menjauh dari rumah, memang kenapa? Hari sudah petang, Lira sudah merasa lelah dan ingin segera pulang ke rumah, namun Radith masih membawa mereka pergi.


"Nanti aja sampai sana aku kabarin, gak enak kalau ada anak anak. Biasalah, program bikin Sean Junior, atau Zia-wati," ujar Radith yang membuat Lira mencubitnya pelan, dia tidak enak jika Sean dan Zia mendengar, namun untung saja mereka sibuk bermain berdua, seperti kakak dan adek kandung, padahal mereka baru bertemu beberapa waktu.


Sesampainya di hotel, Radith memesan dua kamar, satu untuknya dan Lira, satu untuk Sean dan Zia, namun takut jika terjadi sesuatu, Radith mengirim salah satu pengawalnya untuk ikut tidur di kamar hotel Sean karna ada dua kasur di sana, jadi Sean bisa memilih mau tidur dengan pengawalnya, tidur dengan Zia atau tidur sendiri.


Sementara itu Radith yang satu kamar dengan Lira baru saja selesai mandi dan langsung ditagih penjelasan oleh istrinya karna alasan Radith tak masuk akal, kamar mereka di rumah bahkan kedap suara, kenapa lelaki itu jauh jauh pergi ke sini hanya untuk program Sean Junior? Tidak masuk akal.


Radith pun menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, apa yang dilakukan oleh Grace pada Zia dan Sean, bahkan pintu rahasia yang baru diketahui oleh Lira karna Radith sendiri tidak pernah menggunakannya, jadi Lira tidak pernah tahu akan hal itu. Tidak penting juga, masih ada pintu utama, kenapa harus memakai pintu rahasia?

__ADS_1


"Jadi dia ini rumah sendirian? Astaga, kasihan banget. Emang biasanya kalau siang aku yang masak buat anak anak, yah aku gak enak juga kalau dia yang lakuin semua. Dia kan bukan pembantu, tapi aku baru tahu kalau gak ada aku, dia juga gak masak sampai anaknya sendiri kelaparan, takjub banget aku sama dia."


"Nah, aku juga kaget, gak nyangka aja ternyata ada anak yang begitu. Aku sengaja gak ngabarin biar dia gak bisa nyusul, sampai di hotel ini baru deh aku bilang ke dia kalau kita semua pergi keluar dan nginap, aku pengen lihat ekspresi dia, tapi badan aku lengket, jadi mandi dulu deh," ujar Radith yang tidak dimengerti Lira. Radith langsung menunjukkan sesuatu di Ipad yang dia bawa dan melihat ke arah cctv yang dia pasang diam diam belum lama ini untuk mengawasi rumah.


"Aku gak percaya kamu udah lukai Zia, tapi aku gak punya bukti untuk memberatkan Grace. Apalagi dia tahu kalau kamu ada Bipolar dan kemungkinan gangguan lain, jadi dia manfaatkan itu. Aku gak bisa buktikan dia salah kan, jadi ya aku cari aja bukti sendiri, dan jadilah ini, maaf baru kasih tahu kamu sekarnang, aku lupa terus mau bilang ke kamu, jangan marah ya cantik," ujar Radith dengan senyum di wajahnya.


"Ya udah, ayo kita lihat dia ngapain di rumah kalau gak ada ornag begini. Pengawal juga sebagian besar kan ikut kita nih, jadi sepi kan, apalagi kalau gak ada makanan, astaga, kasihan," ujar Lira yang tertawa, berbanding terbaik dengan rasa kasihan yang dia ungkapkan. Radith pun ikut puas dan bahagia melihat Lira yang bahagia, walau orang lain di seberang sana harus menderita.


Radith bisa melihat Grace mengomel omel, entah apa yang dia katakan, namun wanita itu seperti menganiyaya telur yang ada di mangkok, dia mengata ngatai telur yang dia kocok, mungkin melampiaskan rasa kesalnya karna hanya dia yang ditinggal di rumah, dan alasan Radith karna melihatnya tidur dan tidak enak membangunkannya, jadi mereka pergi tanpa dia tahu.


"Dith, itu, itu foto yang pernah aku uplosd di Instasam, kok dia punya fisiknya sih? Padahal aku gak pernah upload loh," ujar Lira yang bingung lalu melihat ke akun instasamnya, dan memperlihatkan Radith foto yang dia maksud, rupanya sama persis dengan yang dibawa Grace, bedanya yang bentuk fisik itu tampak lebih kucel karna sering ditekuk.


Tak disangka, Grace mengambil pisau dan menusuk nusuk foto Lira dengan pisau. Wajahnya kejam dan dia bahkan tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Lira yang melihat malah jadi takut, apa yang dilakukan oleh wanita ini? Kenapa dia sampai seolah ingin membunuh Lira dengan pisau yang dia pegang?


"Kayaknya semakin lama dia tinggal sama kita, semakin nyawa kamu dan anak anak terancam. Aku bakal perjuangkan hak asuh Zia pakai video ini, kalau udah, aku bakal usir dia dari rumah, mungkin aku tetao hidupi dia, tapi aku gak akan biarkan dia dekat dekat sama kalian, terlalu berbahaya," ujar Radith yang sudah mengambil keputusan sejak melihat kejadian ini, Lira mengangguk dan menurut, ikut berpikir itu cara terbaik.


"Kamu pasang sejak kapan? Kalau sejak beberapa hari lalu, coba deh kamu setel tapi percepat, kita lihat apa yang dia lakukan ke Sean sama Zia kalau kita gak lagi di dekat mereka. Asli, aku masih gak terima dituduh mencelakai Zia, padahal pas aku datang, Zia udah pingsan, gak lama dia datang dan teriak, bikin aku ngefreeze dan linglung.


Radith mengangguk dan melihat, ternyata benar dugaannya. Grace sangat kasar pada Zia jika tidak ada yang melihat. Namun saat Sean atau Lira datang, dia akan bersikap baik seolah tidak punya kuasa. Benar benar akting yang luar biasa hebatnya.


"Waktunya menendang hama keluar dari rumah. Maaf udah gak percaya sama kamu ya, aku harus bersikap netral dan terbuka terhadap semua fakta, kalau gak, aku gak akan bisa adil, aku harap kamu ngerti ya," ujar Radith dengan lembut pada Lira.


"Ya, asal semua kembali ke tempatnya, dan aku kembali ke kamu, aku gak papa sih, tapi semakin cepat dia keluar, semakin baik, aku ngerti yang kamu lakukan buat kebaikan Zia dan Sean. Aku juga akan lakukan hal yang sama kalau di posisi kamu. Aku ngerti, aku selalu ada di pihak kamu Radith."

__ADS_1


"Love you My Lovely Wife."


"Love you too My Bossy Bos, My Perfect Husband."


__ADS_2