
Lira datang ke rumah Nesya dan langsung disambut amarah oleh wanita itu. Lira kaget dengan akting Nesya yang begitu natural, dia langsung memandang Lira dengan tatapan dingin. Namun agak lucu karena seharusnya Nesya tidak tahu jika Lira adalah istri Radith, jadi seharusnya dia tidak langsung marah seperti ini, Nesya melupakan sedikit detail itu, namun Lira masih mencoba mengimbangi agar pengawal percaya.
“Saya datang ke tempat ini dengan niat yang baik, dan saya harap anda bisa menyambut dengan baik juga. Saya tahu suami saya sudah melakukan hal yang jahat terhadap suami anda, namun perlu anda tahu, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan jadi tidak sepenuhnya itu salah dia, dia juga mengalami tekanan mental yang luar biasa karena membunuh suami anda,” ujar Lira yang tak dipedulikan Nesya.
“Apa peduliku, entah kau, suamimu, papaku, siapa pun di dunia ini, jika kalian sudah membunuh, kalian seharusnya mati, tapi bahkan suamimu masih bisa hidup dengan layak, makan dengan enak dan bernapas dengan baik, suamimu layak untuk mati, dan kau, lebih baik kau pergi dari sini karena aku tidak akan pernah memaafkan suamimu karena perilakunya,” ujar Nesya yang hendak menutup pintu.
“Tunggu dulu, saya datang ke tempat ini dengan niat yang baik, saya ingin suami saya mendapatkan maaf dari anda, dia sangat menderita, dia tidak bisa hidup dengan nyaman, tidur dengan nyenyak bahkan dia kesulitan menelan makanannya jika sedang berada di rumah, apa yang harus saya lakukan agar anda bisa memaafkan suami saya? Sekali lagi, suami saya tidak ada niat untuk melukai siapa pun,” ujar Lira dengan sedih.
“Masuk dan aku akan memberitahu apa yang harus kau lakukan, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk memaafkan suamimu,” ujar Nesya yang sebenarnya membuat Lira ragu, bagaimana jika dia benar akan dicelakai oleh wanita ini? Namun karena Radith memintanya untuk percaya, dia akhirnya masuk ke dalam rumah Nesya, meninggalkan tanda tanya besar bagi pengawal yang ada di depan sana.
“Kau tidak perlu takut, aku tidak ada niat untuk menyakitimu, tenang saja, aku dan Radith hanya teman biasa, kau tidak perlu berpikir macam macam,” ujar Nesya yang sudah duduk di sofa yang ada di sana. Dia memastikan tidak ada pengawal yang berani masuk ke dalam rumahnya. Dia meminta Lira untuk duduk di sofa yang ada di sana dan mereka menatap satu sama lain untuk beberapa waktu.
“Lo cantik, pantas saja radith jatuh cinta banget sama lo. Dia bangga banget punya lo sebagai istrinya dia, bahkan dia jauh lebih bangga punya lo daripada punya Luna dulu, yah, gue emang kembaran dia, tapi lo jangan salah sangka, gue gak ada di pihak dia, dia itu terlalu gak asik buat dibelain, jadi gue males belainnya,” ujar Nesya yang mencoba untuk mencairkan suasana.
“Kalau gitu, boleh kan gue pakai lo gue juga ke lo? Biar lebih enak aja ngomongnya,” tanya Lira yang diangguki oleh Nesya. Mereka tidak ingin hubungan mereka menjadi kaku karena pertama kali bertemu satu sama lain, Lira mencoba untuk tidak kaku dan menatap ke arah Nesya dengan tatapan yang ramah, Nesya sendiri tidak membuat suasana menjadi canggung, dia duduk dengan santai seolah mereka sering berkomunikasi.
“Radith gak bisa datang ke sini dan emang dia gak boleh, makanya gue yang minta buat datang ke tempat ini, maaf kalau memang kesannya gue ikut campur. Ada hal yang gak bisa gue ceriakan ke Radith, jadi emang mau gak mau gue yang harus turun sendiri,” ujar Lira yang kini membuat Nesya menjadi was was, jika Lira tidak bisa jujur pada suaminya sendiri, itu pasti hal yang gawat.
“Oke, kalau lo gak bisa ngomong sama Radith, bisa gak lo ngomong sama gue? Karena gue yakin nih, ini pasti menyangkut gue juga. Gue gak akan bocor ke siapa juga kok, lo bisa cerita ke gue,” ujar Nesya yang kini membuat Lira jadi panik, namun dia ingat pesan Kelvin, dia tidak bisa memberitahu siapa pun termasuk Nesya dan dia tahu, dia harus mengikuti apa yang Kelvin katakan untuk kebaikan bersama.
“Gue gak bisa bilang juga, intinya gue minta lo buat tunggu aja, masalah ini akan gue coba buat bantu selesaikan tanpa Radith tahu dan lo juga berpura pura gak tahu, sebenarnya gue mau menyampaikan pesan aja dari Radith soal Roy. Dia sudah ada di Korea untuk operasi plastik dan nanti dia bakal balik ke Indonesia pakai identitas baru, kalau nanti dia udah di Indonesia, gue akan kabarin lo lagi,” ujar Lira yang kini membuat Nesya terdiam.
__ADS_1
“Ro- Roy udah kasih kabar? Suami gue? Dia udah kasih kabar? Astaga, gue udah gak bisa tidur beberapa hari ini, dan sekarang gue dapat kabar dari suami gue, lo tahu? Gue lega banget. Makasih, makasih lo udah mau sampaikan kabar ini, gue bahagia banget,” ujar Nesya yang mulai berkaca-kaca, Lira ikut merasa sedih melihat Nesya yang sebegitu tertekannya dengan keadaan ini.
“Maaf karena gue gak bisa bantu banyak, gue akan bantu semaksimal yang gue bisa, tapi gue mohon lo bisa sabar dan gak bertindak gegabah ya, karena seperti yang lo tahu, bokap lo saiko, dia bisa bunuh keluarga gue dan keluarga lo juga, jadi gue mohon ke lo, jangan kasih tahu siapa pun dulu, termasuk dengan alasan gue mau bantu kalian, gue yakin lo bisa dipercaya,” ujar Lira yang diangguki oleh Nesya.
“Gue paham, gue gak akan bilang ke Radith apa yang kita omongin di sini. Sekarang karena lo masuk ke rumah ini untuk menerima hukuman kan ceritanya, lo datang ke sini setiap pagi ya, buat bersihin rumah ceritanya, nanti lo bisa pura pura aja bersihin halaman gitu,” ujar Nesya yang kali ini membuat Lira melongo, dia tidak pernah diminta orang untuk membersihkan rumah orang lain itu.
“Ini satu satunya cara biar mereka gak curiga dan lo bisa ke sini setiap hari, kalau lo ada ide lebih baik, lo bisa kasih saran ke gue, karena gue cuma bisa nemu ide ini,” ujar Nesya yang kali ini membuat Lira berpikir. Dia memang tidak bisa menemukan alasan lebih baik untuk mereka bisa datang dan berdiskusi, jadi mau tidak mau Lira menuruti apa yang Nesya minta meski sebenarnya dia enggan melakukannya.
*
*
*
“Roy sudah ada di Indonesia dan dia memang baru selesai proses operasi plastiknya. Gue dapat kabar dari orang juga kalau Roy bakal terbang ke Bali juga. Lo gak usah kasih tahu Radith dulu, karena Radith juga gak tahu tentang hal ini, gue dapat informasi ini dari orang lain,” ujar Lira mewanti wanti Nesya. Namun pernyataan itu membuat Nesya menjadi penasaran akan hal itu.
“Ada orang lain yang tahu masalah ini? Dan lo gak kasih tahu suami lo tentang hal itu? Dari mana lo tahu orang itu bisa dipercaya? Bagaimana kalau orang itu mata mata yang malah mau mancing biar kita ketahuan dan bokap membunuh Roy beneran?” tanya Nesya dengan panik, Lira menggelengkan kepalanya dan meyakinkan Nesya jika orang yang memberikannya informasi adalah bersih dan tidak ada kaitannya dengan mereka.
“Gue gak bisa kasih tahu lo, maaf banget tapi emang gue gak bisa kasih tahu lo karena gue udah janji sama dia juga. Yang jelas dia ada di pihak kita, dia kasih semua informasi yang akurat bahkan selama suami gue ada di Hawaii, dia punya informasi yang tepat. Dia gak mau ada orang yang tahu identitasnya dan dia jadi gak aman, jadi dia cuma mau kasih tahu ke gue.”
“Lo naif banget ya Ra? Kalau dia gak ada hubungannya dan dia gak ada untung rugi di sini, ngapain dia repot banget buat cari informasi buat lo? Lo gak mikir sampai ke sana? Dia gak ada kepentingan, tapi dia mau buang uang, waktu dan tenaga buat bantuin kita menyelesaikan semua? Malaikat dari surga mana dia?” tanya Nesya yang kini membuat Lira terdiam, dia baru memikirkan hal itu.
__ADS_1
“Gue sebenarnya juga gak tahu dia saipa dan motifnya apa. Tapi gue yakin dia orang baik, dia gak pernah kasih informasi yang salah atau pun menjerumuskan gue. Kalau dia mata mata, dia sudah tahu tentang Roy bahkan sebelum Radith ketemu sama Roy, dia bisa aja lapor kan? Kenapa dia malah kasih tahu gue dan sampai saat ini kita masih aman aja? Itu alasan yang cukup buat gue percaya sama dia.”
“Ya terus motif dia apa? Gak murah Ra nyewa banyak orang buat dapat informasi, gak murah juga terbang ke Hawaii, balik lagi ke Indonesia dan terbang ke Korea cuma buat ngikutin kita. Motif dia apa? Kalau motif dia aja lo gak tahu, lo gak seharusnya percaya gitu aja sama dia, lo harus memikirkan bisa aja semua itu jebakan,” ujar Nesya yang gemas dengan Lira, wanita itu sangat ceroboh menurutnya.
“Di awal gue juga ragu, tapi habis itu dia bilang, dia melakukan itu untuk melindungi orang yang ingin dia lindungi jadi dia harus melakukan itu. Gue gak tahu siapa yang mau dia lindungi dan gue malah jadi gak kepikiran soal hal itu karena fokus gue ke Radith yang masih belum ada kabar saat itu, jadi gue gak kepikiran sama sekali,” ujar Lira dengan polosnya. Nesya bahkan sampai memijit pelipis matanya.
“Kalau lo yakin dia memang orang yang baik, ada di pihak kita dan memang berniat untuk membantu kita, gue akan percaya, tapi kalau ternyata dia menjebak kita semua, lo yang harus disalahkan, mungkin bukan sama gue, tapi sama diri lo sendiri karena membuat kita semua mati konyol di depan bokap gue,” ujar Nesya yang kembali membuat Lira terdiam, namun dia masih yakin Kelvin adalah orang yang baik.
“Ah, iya, karena gue udah dapat kabar Roy terbang ke Bali, kenapa lo gak siap siap aja buat ketemu sama dia? Kalian bisa susun skenario seolah kalian ketemu gak sengaja dan kenalan, wajah dia udah beda, jadi pasti pengawal lo gak akan curiga, pengawal lo cuma akan cari tahu siapa Roy dan dia sudah siapkan identitasnya, jadi kalian bisa berkencan dan menikah dengan normal, lalu kembali jadi satu keluarga.”
“Ya, dan akhirnya gue harus menikahi suami gue sendiri untuk kedua kalinya, agak lucu dan gak wajar, tapi gue harus melakukan itu kan? Gue udah cukup senang karena suami gue masih mau mengusahakan banyak hal itu untuk gue, gue bersyukur banget punya dia,” ujar Nesya yang diangguki oleh Lira. Mereka mempersiapkan rencana untuk bisa bertemu dengan Roy.
“Oke kalau gitu gue balik dulu, gue bakal sampaikan semua rencana itu ke Radith dan nanti biar dia yang atur, kalian bisa ketemu dan seolah kalian kencan lagi, oke? Gue balik dulu, lo jaga diri dan jaga kesehatan, dedek yang ada di kandungan lo harus tahu siapa bapaknya,” ujar Lira yang membuat Nesya mengerjapkan matanya beberapa kali. Hanya Radith yang tahu soal kehamilannya dan ia meminta lelaki itu untuk diam.
“Gue tahu dari orang itu juga kalau lo hamil dan Roy gak tahu kalau lo hamil, bukan dari Radith. Dia gak mau cerita tentang lo karena takut gue cemburu dan menganggap lo gak ada hubungannya sama rumah tangga gue. Itu juga alasan kenapa gue butuh dan percaya sama orang itu, karena dia tahu informasi yang bahkan Roy sendiri gak tahu, dia kayak mata yang mengamati semua orang.”
Lira pamit pulang setelah mengatakan hal itu, Nesya mengantar Lira sampai ke depan Gerbang dan wanita itu masuk ke dalam mobilnya, lalu pergi dari sana begitu saja. Nesya masih merasa takut dengan orang yang disebutkan oleh Lira, sepertinya orang itu bukan orang sembarangan dan dia tidak bisa menganggap remeh orang yang tahu informasi pribadinya.
“Kenapa gue harus lahir di keluarga dan kehidupan kayak gini ya? Ini tuh kayak gue harus mati berkali kali, ketemu sama pembunuh berkali kali dan otak gue bahkan gak bisa beristirahat. Huft, seandainya gue lahir dari keluarga biasa, menikah dengan orang biasa, apa gue akan bahagia dan gak sepusing ini masalah hidup ya?” tanya Nesya pada dirinya lagi.
Sementara itu Lira yang ada di dalam mobil tampak tegang. Dia tidak siap untuk menghadapi puncaknya, dia takut hadirnya Roy membuat orang yang disebutkan oleh Kelvin jadi curiga, tahu mengenai hal itu dan malah mereka jadi dalam bahaya. Lira sampai ke rumahnya dengan perasaan yang campur aduk.
__ADS_1
Saat dia membuka pintu, dia melihat sosok yang paling dia takuti untuk saat ini, sampai dia harus membeku dan tidak bisa mengatakan apa pun, dia hanya bisa memandang orang yang kini duduk bersama suaminya.