
Setelah membayar semua belanjaannya, Radith dan Lira kembali dan ternyata anak anak mereka sudah selesai bermain, bahkan sudah duduk di sebuah kedai es krim sambil menikmati makanan dingin itu. Radith tersenyum dan tak lupa mengucapkan terima kasih pada Angga dan Beni karena sudah membelikan Es krim untuk Sean dan Zia. Mereka duduk bersama dan beristirahat, sementara Angga dan Beni menggantikan Radith dan Charlie membawa troli untuk di bawa ke mobil mereka.
“Kenapa kalian tidak membelikan papa dan mami? Kalian tega sekali. Sini papa mau minta satu gigit aja,” ujar Radith yang memajukan kepalanya, Sean menyendok es krim itu dan menyuapi Radith tanpa menjawabnya, dia lalu menunjuk ke kedai es krim itu, membuat Radith bertanya apa yang ada di pikirannya. Sean malah menyengir mendapat tatapan itu yang tentu saja membuat Radith bingung.
“Papa bisa membeli satu kedai itu, jadi kenapa Sean harus membelikan papa? Papa beli saja satu kedai dan taruh di rumah kita pa, nanti kita bisa makan es krim setiap hari, kan enak,” ujar Sean yang membuat Radith tertawa keras. Dia tidak menyangka Sean akan mengatakan hal itu, sekarang Sean tahu jika papanya sangat kaya dan bisa membeli semua yang dia mau dan butuhkan.
“Nak, semua yang berlebihan itu gak baik, kalau Sean mau, kita beli untuk sekali makan. Tapi kalau nanti kita beli satu kedai, nanti pasti Sean bosan, kalaupun Sean gak bosan, es krim banyak banyak itu bisa merusak gigi, memang Sean mau masih kecil udah ompong? Memang Sean mau nanti kalau Sean mengunyah langsung kena ke gusi dan gak bisa dikunyah?” tanya Radith sambil tertawa.
“nanti semua makanan Sean harus diblender, dan menjadi bubur jadi Sean tidak perlu mengunyah dan langsung menelannya, hahaha,” celetuk Zia yang membuat suasana semakin ramai. Mereka melihat Angga dan Beni sudah berjalan kembali. Mereka memutuskan untuk makan bersama di sebuah restoran yang ada di sana dan melanjutkan perjalanan mereka, karena Zia ingin pergi ke pasar malam yang sedang berlangsung.
“Zia lihat di toktik, ada banyak orang yang melukis di kanvas, Zia mau melukis juga, sepertinya seru,” ujar Zia yang disetujui oleh mereka yang ada di sana. Lira menggendong dan memberi minum baby El yang kehausan, sambil menidurkan anak itu agar tidak rewel karena kelelahan. Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan dan mencari parkir untuk bisa masuk ke tempat itu. Angga dan Beni memastikan kondisi sekitar untuk mempelajari jika terjadi sesuatu.
“Tempat ini ramai dan berbahaya, apa tuan yakin akan membawa anak anak untuk main di sini?” tanya Angga dan Beni yang membuat Radith juga ikut khawatir. Dia tidak ingin anak anaknya kecewa, namun dia juga khawatir terjadi sesuatu pada salah seorang dari mereka, terutama Lira yang masih menggendong baby El yang tertidur, mereka tidak bisa bertindak gegabah.
“Minta pengawal lain untuk datang ke tempat ini. Angga fokus mengawasi Sean dan Beni mengawasi Zia. Charlie, kau melihat sekitar, jika ada yang berbahaya dan mencurigakan dan Dewa, kau ada di dekatku, menjaga Lira dan Nathan, untuk pengawal yang kalian panggil, berjaga di pintu depan agar tidak ada yang macam macam dengan mobil kita,” perintah Radith yang langsung diiyakan oleh mereka.
Setelah memastikan sedikit kondisi dan dirasa aman, Radith menggandeng Zia dan Sean untuk masuk ke dalam sana dan langsung pergi ke tempat yang Zia sebutkan, ternyata di dalam banyak pedagang yang menawarkan untuk melukis, sepertinya memang masih menjadi trend dan viral, yah, memberikan rejeki untuk para pedagang ini, Radith langsung membeli alat lukis sekaligus medianya.
“Sean mau yang minion, Sean mau melukis itu,” ujar Sean dengan semangat. Radith membeli Minion untuk Sean dan putri Cinderella untuk Zia. Mereka duduk di kursi kecil yang disediakan sambil fokus membubuhkan warna ke media itu. Radith juga ikut senang melihat anak anaknya duduk dengan fokus seolah mereka sedang berlomba untuk mewarnai kanvas itu. Lira bahkan terlihat sangat tertarik.
“Sayang, mana baby El biar aku yang gendong, kasihan kamu nanti merasa berat. Kamu tuh ikutan anak anaknya melukis, kamu kok kelihatan pengen banget, hahaha, gih, mana baby El nya biar papa yang gendong,” ujar Radith yang tanpa bertanya dua kali langsung menerima baby El dari gendongan Lira. Benar saja, Lira memang ingin bermain juga, namun dia tidak bisa karena menggendong anaknya.
“Yah, kalian ini. Ternyata darah memang sangat kental ya, bisa bisanya tiga orang punya sifat yang sama, hahaha, lihat tuh El, mami dan kakak kakakmu, serius sekali mereka melukis, apa El juga mau? Iya nak? Mau nak? Besok ya kalau El sudah besar, kita borong semua dan El melukis sepuasnya ya nak,” ujar Radith pada baby El yang sebenarnya tertidur, dia hanya melakukannya untuk meledek istri dan anak anaknya.
__ADS_1
“Papa tidak bisa melukis, jadi papa meledek kita, ayo kita tunjukkan kalau kita bagus dalam melukis dan nanti kita pamerin ke papa, oke anak anak?” ajak Lira yang disetujui oleh Zia dan Sean. Mereka benar benar menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama. Zia dan Sean sudah seperti saudara kandung yang pergi bersama orang tua mereka ke pasar malam, seperti keluarga pada umumnya.
Radith melihat raut bahagia keluarganya, dia merasa sangat beruntung bisa memiliki keluarga sebahagia ini, sekaligus merasa kesal karena sudah sejak lama dia memiliki keluarga ini, namun baru kali ini dia merasa seperti keluarga pada umumnya. Mereka tidak memerlukan budget yang tinggi untuk bisa bahagia, mereka hanya perlu mengunjungi pasar malam, duduk dan membeli kanvas untuk diwarnai.
“Dith, lihat, aku udah selesai. Kasih penilaian dari 1 sampai sepuluh,” panggil Lira yang membuyarkan lamunan Radith, dia melihat lukisan Lira dan tidak bisa mengontrol tawanya, bahkan baby El sampai terkejut dan menangis, sehingga dia harus menenangkan anak itu untuk kembali tidur, baru dia bisa merespon apa yang Lira tunjukkan kepadanya, dia tidak menyangka Lira sekreatif itu.
“Komentar apa yang kamu harapkan? Sejak kapan Minion menjadi anak metal yang punya rambut punk dan tindik di kupingnya? Apakah dia Minion yang suka tampil di CFW CFW itu? Astaga, kamu itu udah besar masih aja iseng, tuh lihat anak-anak, mereka mewarnainya sehar loh gak kayak kamu, hahaha,” ujar Radith yang tidak menyangka Lira akan memiliki Ide untuk hal gila itu, dia bahkan tidak kepikiran.
“Loh, justru ini yang bagus Dith, karena kan kreatif, aku bisa berpikir out of the box, ya kan? Kamu mana kepikiran buat bikin kayak gini, kamu kan gak kreatif, kaku juga. Kalau anak anak, imajinasi mereka kan gak sedalam aku kalau masih kecil, jam kerja mereka belum jauh, jadi wajar, hahaha,” ujar Lira yang sama sekali tak menganggap maha karyanya adalah hal yang aneh. Radith sampai tidak tahu lagi harus mengatakan apa.
“Iya deh iya, kamu yang paling top pokoknya, dah kalau udah selesai berdiri, kasihan tuh pengunjung lain mau pakai juga kursinya. Lucu banget istrinya aku,” ujar Radith yang gemas dengan Lira. Lira yang dipanggil begitu tentu saja tidak senang, dia merasa malu karena Radith mengatakannya di tempat yang ramai. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian, meski sebenarnya sudah dari tadi dia menjadi pusat perhatian.
“Kalian ini cerminan keluarga cemara, keluarga yang bahagia. Apakah mereka anak kembar? Mereka sangat lucu dan pintar, terutama yang perempuan, dia pandai melukis, sangat indah,” ujar penjual yang menjual kanvas itu pada mereka. Lira tertawa mendengar pujian itu dan mengusap kepala kedua anaknya agar mereka tidak merasa kesal, terutama pada Sean yang tidak dipuji spesifik seperti Zia.
“Mereka kakak adik, memang seperti kembar. Kalau yang perempuan memang suka melukis dan menggambar, dia suka dan berbakat di bidang itu, kalau yang lelaki hanya menyukai saja, dia lebih berbakat di bidang akademik dan angka, mereka semua spesial dan istimewa, ya nak? Anak anak mami pasti istimewa,” ujar Lira yang membuat Sean tersenyum kembali setelah sebelumnya sedikit kesal.
“Apa anda tidak ada niat untuk memuji saya sebagai ayah mereka? Saya memberikan bibit yang baik, jika saya tidak memberikan bibit baik untuk anak anak saya, pasti mereka tidak sehebat sekarang, apa anda tidak mau memuji saya juga?” tanya Radith dengan nada merajuk. Penjual itu tertawa canggung karena tidak menyangka Radith akan iri dan ingin juga dipuji seperti itu, padahal dia hanya basa basi.
“kamu itu merusak suasana. Kalau gak ada aku dan perut aku yang bagus juga anak anak tidak akan pernah bisa dilahirkan. Bibit yang baik juga akan mati jika ditanam di tanah yang tidak baik, belum lagi kalau ada hama yang bikin tanaman gagal panen. Hayo, jadi lebih penting lahan yang baik, karena menghasilkan buah yang baik,” ujar Lira yang tentu saja membuat Radith tidak terima.
“Hei, kamu tidak bisa membantah perempuan, kamu ingat, itu pasal pasti, oke?” ancam Lira yang membuat Radith langsung terdiam. Interaksi itu membuat penjual kanvas menjadi tertawa, mereka sangat menggemaskan menurutnya, mereka bukan orang yang bodoh, mereka memiliki pengetahuan yang bagus, namun mereka masih bisa bergurau dan bahkan datang ke tempat seperti ini.
“Zia selesai,”ujar Zia yang mengangkat kanvas hasil karyanya, Radith sangat kagum dengan kemampuan Zia yang makin meningkat, dia tidak menyangka Zia bisa melukis dengan serapi dan seindah itu, padahal bukan hal yang mudah untuk melukis di tempat ramai dengan penerangan yang minim seperti ini, dia memang memiliki anak yang hebat.
__ADS_1
“Sean juga selesai,” ujar Sean yang juga berdiri dan menunjukkan hasil karyanya. Radith tertawa melihat hasil karya Sean yang ternyata sama saja dengan Ibunya, minion yang tadinya hanya memakai baju standar dia ubah menjadi rok dan memiliki rambut, Radith benar benar tidak menyangka Sean memikirkan hal itu, dia dan Lira sangat sama, memiliki pemikiran yang Radith sendiri tidak menyangka.
“Apa kalian mau membeli lagi? Untuk kalian warnai di rumah? Ambil sebanyak yang kalian mau kalau kalian memang mau melukis lagi di rumah,” tawar Radith yang tentu saja membuat Zia bersemangat, dia meminta dua kanvas lagi yang kali ini bergambar Masha dan Upin ipin, dia ingin mewarnai dua gambar ini di rumah nanti, sementara Sean nampak enggan untuk mengambil lainnya.
“Sean tidak sanggup lagi, Sean tidak mau jika harus mewarnai lagi, tidak sanggup, sangat sulit dan mengasah otak Sean, tidak, tidak mau,” ujar Sean dengan dramatis. Radtih kembali dibuat tertawa melihat putranya selucu itu. Dia akhirnya membayar semuanya sekaligus memberi kelebihan pada penjual sebagai ungkapan terima kasih, mereka melanjutkan jalan mereka setelah itu.
“Papa, ada layang layang, ayo beli layang layang dan kita mainkan besok,” seru Sean saat melihat seseorang yang menjual berbagai mainan tradisional, dia melihat penjualnya sudah cukup tua dan mainan seperti ini kurang diminati di jaman sekarang ini. Pria tua ini juga tidak menyewa kedai, seperti tidak sanggup untuk menyewanya.
“Bapak, saya mau beli layang layangnya satu,” ujar Radith yang menunjuk sebuah layang layang besar yang indah. Bapak itu tampak senang sekali dan memberikan layang layang yang dimaksud kepada Radith untuk dilihat jika ada cacat ataupun tidak bisa terbang. Radith merasa layang layang ini cukup baik, dia mengeluarkan uang untuk membayar.
“Maaf Den, saya tidak punya kembalian, bisa berikan uang pas saja? Layang layang itu harganya dua puluh ribu. Saya belum menjual apapun jadi saya tidak punya kembalian,” ujar pria itu yang tentu saja membuat Radith menjadi iba. Dia melihat kaki pria itu juga sangat tidak terawat, sepertinya dia berjalan jauh setiap harinya.
“Bapak asli mana?” tanya Radith yang langsung membuat bapak itu menangis dan menceritakan semua. Tentang beliau yang merantau berharap bisa bekerja dengan baik, namun ternyata tidak seindah yang dia bayangkan, dia malah harus terpontang panting hidup di Ibu kota dan tidak bisa pulang karena kekurangan biaya, padahal keluarganya berharap dia bisa sukses di sini.
“Jika bapak mau pulang ke rumah bapak di kampung, saya akan bantu bapak untuk bisa pulang, saya juga akan atur dengan anak buah saya untuk masalah ini, apa bapak bersedia?” tanya Radith yang tentu membuat orang itu bersedia dan merasa sangat bahagia.
“Dewa, kau urus semua keperluan bapak ini untuk pulang ke kampung halamannya, sisanya akan aku beri instruksi selanjutnya,” ujar Radith yang diangguki oleh pria itu.
“Bapak ikut kami dulu, saya bukan orang jahat, jadi bapak bisa ikut kami, bapak bisa tinggal di rumah kami sampai nanti bapak pulang ke kampung halaman,” ujar Radith yang diangguki oleh pria itu.
Anak buah Radith membantu membawakan semua barang yang dibawa oleh pria tua itu, pria itu masuk ke dalam mobil anak buah Radith dan mereka pulang ke rumah.
“Kenapa papa mau membantu pria tua itu?” tanya Sean yang penasaran.
__ADS_1
“Rejeki yang kita dapat adalah rejeki mereka juga, kalau kita punya lebih, berikan pada yang kurang, karena dunia itu berputar, kita harus bisa membantu sesama manusia, asal hal itu tidak memberatkan kita, toh membantu dia gak bikin kita jadi miskin kan?”
Sean dan Zia mengangguk paham dan setuju. Mereka mendapat pelajaran baru hari ini.