Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 98


__ADS_3

Lira dan Radith keluar kamar, mereka langsung menuju kamar Sean, tak lupa mengetuk pintu karna ada dua gadis dewasa di sana. tak lama, Beta membukakan pintu untuk mereka dan mempersilakan mereka masuk, karna mengira medeka akan memenui Sean, namun Lira langsung menghampiri Anna yang berbaring di kasurnya dengan selimut sampai ke leher.


Lira memegang leher gadis itu dan merasakan tubuhnya hangat cenderung panas. Beta sendiri tak tahu kenapa Anna tiba tiba sakit seperti itu. Lira yang sudah tahu kejadiannya langsung menduga gadis muda ini terlalu syok sampai dia mendadak demam seperti itu. Dia menghampiri Radith yang gelisah, sampai memainkan ujung bajunya.


"Minta ke pengawal buat nyari dokter, bidan, atau apa ajalah yang bisa bantu obatin demamnya Anna, kasihan kalau sampai dia demam pas lagi liburan begini, ya?" Pinta Lira yang diangguki oleh Radith. Lelaki itu langsung berlari dari kamar Sean dan pergi ke pengawalnya, melakukan persis seperti yang Lira minta. Lalu berdiri di sana untuk menenangkan dirinya.


Sementara itu Lira mengelus kepala Anna pelan dan dengan rasa sayang. Entah kenapa dia menganggap Anna dan Beta sebagai adiknya sendiri karna dia sangat menghormati tapi juga santai pada mereka berdua. Dia tidak mau status majikan dan asisten jadi penghalang keduanya untuk tetap dekat (ah, bahkan ketiganya, bukan lagi keduanya


"Anna, kamu masih bisa dengan saya kan? Kamu gak papa kah?" Tanya Lira yang mencoba melihat apakah Anna dalam keadaan sadar atau benar benar tak sadar karna demamnya. Ternyata gadia muda itu mengangguk, dia masih sadar dan bisa mendengar apa yang Lira katakan. Lira tersenyum dan masih mengelus kepala anak itu.


"Saya tahu kamu anak yang baik, anak yang cantik dan tentu saja kamu gak jahat sama siapapun. Saya mau minta maaf, pak Radith minta maaf, tadi itu bukan sengaja. Kalau memang kamu merasa gak nyaman, saya dan pak Radith bakal nyari hotel dulu buat sementara waktu, saya gak mau kamu sampai sakit seperti ini."


"Kamu juga pasti gak sengaja kan? Kamu sampai syok dan demam begini. Tapi gak papa, saya gak marah atau salah paham ke kamu. Begitu juga pak Radith, jadi kalau kamu mau dan bisa, kita lupakan masalah ini dan bertindak seolah tidak terjadi apapun, boleh?" Tanya Lira yang membuat Anna bangun dan duduk dengan susah payah.


"Bu, saya benar benar gak sengaja, saya kira kalian berdua tidur, dan saya lupa tidak membawa baju karna terbiasa di rumah kan kamar mandi dalam, terus saya kira gak akan ada yang lihat, karna kan pak Radith bilang dua jam lagi baru keluar kamar. Jadi ya saya keluar saja pakai handuk, tapi, tapi ternyata.."


"Iya, saya sudah dengar kelanjutannya, kamu dan suami saya sama sama gak nyaman ada di posisi ini, jadi saya gak akan menyalahkan kamu atau menyalahkan suami saya, ini semua kan murni kecelakaan. Saya malah kasihan sama kamu sampai sakit begini karna kaget. Jadi udah ya, kalau bisa gak usah dibahas bahas lagi," pinta Lira yang tentu langsung diangguki oleh Anna karna dia juga tak nyaman dengan ini.


"Saya sudah panggilankan dokter. Eh bukan ding, minta Radith buat minta ke pengawal agar membawa dokter ke sini, jadi kamu tiduran dulu aja, nanti kalau dokternya datang, kamu diperiksa dan paling dikasih obat penurun demam, jadi kamu istrihat dulu aja ya. Kita mau liburan, masak yang lain senang senang kamu malah sakit, kan gak adil," ujar Lira yang diangguki oleh Anna.


"Saya kira Bu Lira akan memecat saya karna berperilaku tidak sopan pada Ibu dan Bapak, ternyata Bu Lira malah baik sekali pada saya. Saya gak pernah mengira bisa dapat majikan sebaik Ibu dan Bapak. Sekali lagi saya mohon maaf ya bu," ujar Anna yang diangguki oleh Lira. Dia tidak menganggap ini masalah besar dan memang tak perlu dibesar besarkan.


"Saya mengerti ketakutan kamu. Jadi saya gak akan marah atau bertidak apapun. Satu lagi, jangan terlalu menganggap saya majikan, dan kamu bawahan. Kamu harus menghormati saya, tapi anggap saya sebagai teman juga, jadi gak kaku seperti ini, saya orangnya santai kok," ujar Lira yang diangguki oleh Anna dan Beta.


"Saya mau pesan makanan buat kita semua, jadi kalian tunggu aja ya, kalau nyari kayaknya gak mungkin, kasihan Anna kalau harus perjalanan jauh," ujar Lira yang kembali diangguki oleh Anna dan Beta. Wanita itu keluar dari kamar dan mencari suaminya yang tak kunjung kembali, entah kemana suaminya pergi, apakah lelaki itu kembali ke kamar karna alasan konyol tadi?


"Nah, aku nyari kamu kemana mana, kamu dari depan? Kenapa lama?" Tanya Lira yang tidak dijawab oleh Radith. Wanita itu mencoba mengerti dan menggandeng Radith untuk masuk ke kamarnya lagi. Dia tidak mau lelaki itu menjadi trauma dan malah kondisi psikologisnya terganggu.


"Kejadian di masa lalu sampai kamu punya Zia, itu bukan salah kamu, kamu bukan sengaja melakukan itu pada Gracia. Dan kamu juga harus bisa berdamai sama diri kamu sendiri tentang masalah ini. Sampai kapanpun masa lalu gak bsia diubah, tapi kita punya pilihan untuk menjadi seperti apa masa depan nanti."

__ADS_1


"Kalau aku, aku pilih untik berdamai sama diri aku sendiri, aku yang punya Bipolar, aku yang udah, aneh dan aku yang yah yang begini, aku berdamai sama semua dan memilih untuk mengubur semua itu. Aku berhadap kamu bisa lakukan hal yang sama. I told you, ini gak mudah, tapi kita harus bisa."


"Kejadian sama Gracia dan Zia akan selalu kamu ingat sekarang dan seterusnya. Kamu gak bisa lakukan apapun dengan itu karna itu diluar kuasa kamu. Kamu gak akan bisa lupa selagi alam bawah sadarmu ikut mengingat dan merasa bersalah. Jadi ya semua balik lagi ke diri kamu, kalau kamu jadi trauma begini ya mental kamu bakal kena sebentar lagi, wong di dunia ini banyak perempuan kok, dan pasti ada waktu dimana kamu ketemu perempuan lain tanpa aku kan?"


Semua yang dikatakan Lira sangat masuk akal, namun Radith tak bisa melakukannya meski dia ingin. Lelaki itu hanya terus menyalahkan dirinya sendiri untuk semua yang terjadi di hidupnya. Namun bukan berarti dia tak akan mencoba apa yang Lira katakan. Dia akan tetap berusaha mencoba dan berdamai dengan dirinya sendiri.


"Makasih kamu udah ada di titik terberat aku, makasih udah jadi alasan buat aku bangkit, makasih buat semua yang kamu kasih buat aku, aku bersyukur punya kamu," lirih Radith yang diangguki oleh Lira.


"Sekarang kita cari makan aja yuk? Kasihan Anna kalau harus diajak keluar, mana jauh kan? Mending kita yang belu terus dibawa pulang," ajak Lira yang diangguki oleh Radith.


"Ya udah, aku ambil mobil dulu," ujarnya yang langsung pergi dari sana.


Di sepanjang jalan, Radith tidak melihat ada penjual makanan di sini, sepertinya memang jarak antar daerah cukup jauh. Bahkan penjual bahan bakar pun tak tampak sepanjang jalan. Dia hanya berharap bahan bakar mobil ini tak habis di tengah hutan saat mereka berangkat atau pulang, meski ada pengawal yang siap bertukar mobil, tetap saja rasanya tak nyaman dan tak mengenakkan.


"Eh, kamu udah ngelisy belum mau ngapain atau mau kemana aja besok? Aku masih gak tahu mau kemana, mungkin kalau kamu belum, kita bisa tanya Ibu pemilik Villa di sini rekomendasi tempatnya dimana. Aku pengen nyoba diving sekali kali, aku mau nyari tahu tempat diving," ujar Radith yang diangguki oleh Lira.


"Sayang, apa kamu lupa kamu lahi gendong bayi yang umurnya udah 6 bulan di perut kamu? Yakalik kamu mau pakai baju diving yang ketat dan bahkan gendong oksigen yang berat, gak boleh," ujar Radith ketus. Dia tentu khawatir dengan kondisi istrinya yang bisa saja jadi bahaya saat gadis itu nekat melakukan sesuatu.


"Loh, aku kuat kok, kalau di dalam air ya Dith, aku aja bisa gendong kamu loh. Ayolah, aku juga pengen, kan kita ke sini mau liburan bareng, bukan nganter kamu liburan. Lagian masak gak boleh sih kalau hamil ngediving? Emang ada larangannya?" Tanya Lira dengan polosnya.


"Kalaupun gak dilarang, aku yang bakal larang kamu. Aku gak mau ya kamu neko neko begitu. Nurut sama suami, biar makin cantik," ujar Radith yang membuat Lira mengerucutkan bibirnya dan langsung membuang muka. Dia merasa tak adil karna Radith boleh melakukannya sementara dia tidak. Padahal Lira juga ingin melakukan hal yang menyenangkan di sini.


"Kamu googling deh yang, pasti gak boleh kalau lagi hamil diving, nanti itu meningkatkan resiko keguguran. Kamu mau karna masalah begini aja kita kehilangan bayi kita yang udah besar itu? Kalau kamu gak percaya sama kata aku, coba tanya google, biar kamu percaya kata google," ujar Radith dengan kesal karna Lira tak mau menurut padanya.


"Ah, gak tahu ah, terserah kamu aja mau gimana, udah biasa juga kamu selalu bossy ke aku, males ah, turunin aku aja sekarang," ujar Lira yang tiba tiba ngegas. Radith tentu saja terkejut dengan hal itu, dia segera menghentikan mobilnya dan diam, lalu melihat ke arah Lira.


Melihat itu tentu membuat Lira jadi berkaca kaca, apakah Radith benar akan memintanya untuk turun di tengah hutan begini? Apakah lelaki itu terlalu tega padanya? Namun karna gengsi, Lira tetap berniat untu turun. Tanpa dia tahu, Radith sudah mengunci semua pintu agar wanita itu tak bisa keluar dari salam mobil bagaimanapun caranya.


"Aku bersikap tegas ke kamu, itu demi kamu. Aku gak suka kalau kamu malah panggil aku bossy saat aku benar benar khawatir sama kamu Ra, tolong, jangan seperti itu," ujar Radith yang membuat Lira benar benar terisak. Radith tahu, istrinya sedang dalam mood swing yang cukup parah.

__ADS_1


Tadi saat terjadi insiden, Lira snagat bijak dan santai, nakun kini wanita itu menangis seolah paling tersakiti hanya karna masalah yang sepele. Radith tidak tahu harus melakukan apa, karna Lira menolak untuk disentuh. Lelaki itu hanya menunggu Lira untuk tenang dan nanti mereka akan bicara.


"Kalau udah lega, kabarin aku aja. Aku mau tidur dulu nunggu kamu selesai nangis," ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Wanita itu terus menangis dan Radith benar benar tidak menghiburnya atau bahkan menenangkannya sedikit. Lelaki itu malah memejamkan matanya dan seolah tidur, atau mungkin lelaki itu benar benar tidur?


"Dith, Radith. Mereka.. mereka siapa?" Tanya Lria yang langsung membuat Radith membuka matanya. Dia melihat mobil mereka sudah dikelilingi oleh beberapa orang yang berwajah khas wilayah timur Indonesia. Lelaki itu masih diam dan mencoba tenang, sementara Lira sudah memegang tangannya erat. Radith mencoba melihat dan ternyata sudah tak ada pengawal di sekitarnya.


"Pengawalnya udah pada dibawa mereka Dith? Kita harus gimana?" Tanya Lira dengan takut. Radith langsung meminta Lira untuk tenang, untung saja Radith sengaja mengirim mobilnya ke pulau ini terlebih dahulu sebelum mereka berangkat, jadi mereka pasti aman di dalam mobil ini.


Mobil yang Radith tumpangi sudah kebal terhadap peluru di seluruh mobilnya, termasuk kaca. Jadi tidak ada yang bisa menembus keamanan mobil ini, kecuali jika mereka di bom di dalam sini, pasti hancurlah mereka. Radith meminta Lira untuk tenang dan menatap ke arah orang orang itu. Radith memberanikan diri untuk memberi sinyal pada mereka dan menanyakan apa yang terjadi.


Salah satu orang yang ada di sisi pintu Radith langsung mengetuk pintu mobilnya. Tangan lelaki itu sudah bersiap untuk memencet tombol darurat yang mengirim sinyal pada semua pengawalnya yang tersebar dimana mana, jadi mereka bisa tahu lokasi terakhir sinyal yang dia pancarkan pada mereka. Hal ini bisa membantu kalau kalau orang ini ingin memalaknya atau bahkan membunuhnya di tempat ini.


Lelaki itu membuka jendela dengan tangan yang satu lagi dan tersenyum. Dia sudah sangat berdebar, entah apa yang akan mereka lakukan padanya. Dia bahkab tak masalah jika harus terluka, namun dia tak mau mengorbankan Lira untuk alasan apapun.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Radith dengan sopan. Lelaki itu menatap Radith dari atas sampai bawah, tak lupa menatap ke arah Lira yang sudah ketakutan. Radith hampir saja memencet tombol itu.


"Apakah mobil kakak mogok? Mau kami bantu dorongkan? Di sini tidak ada itu penjual bensin, masih jauh sekali di sana," ujar orang itu yang membuat Radith melongo, begitu juga dengan Lira. Rupanya orang orang ini sangat ramah dan bahkan mengira Radith dalam kesulitan sehingga mereka hendak membantunya.


"Ah, kebetulan kami memang sedang berhenti, bensin pun masih ada kak, terima kasih sekali sudah mau menghampiri dan mengkhawatirkan kami ya," ujar Radith yang membuat mereka semua tertawa ringan.


"Saya kemarin lihat itu kakak yang dari Villa bu Gloria to? Kakak harus hati hati ee karna Bu Gloria itu sulit sekali orangnya. Kami penasaran e, makanya kamu lihat ke villa itu tadi," ujar orang itu yang membuat Lira lega. Rupanya yang dia lihat adalah orang ini.


"Kami mau cari tempat makan, apakah kakak kakak ini bisa memberi tahu kami dimana tempat makan itu?" Tanya Radith dengan sopan.


"Hee, jangan sungkan, di sini sulit mendapat makanan dari restoran. Kami baru saja selesai melaut hari ini, jadi ayo kita makan saja bersama. Sa akan bawa semua ikan yang bisa dimakan untuk dimakan malam ini," ujar orang itu yang diangguki oleh Radith.


"Terima kasih banyak, kakak kakak ini sungguh baik," ujar Radith tersenyum sopan.


Radith segera putar balik dan melajukan mobilnya sangat pelan agar bisa menyeimbangi jalan orang orang ini agar sampai di villa tempat dia menginap.

__ADS_1


__ADS_2