Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 74


__ADS_3

"Ndre, Gue nemu foto ini di kamarnya Grace, lu coba cek deh itu dimana. Kayaknya penting, gue ngelihat bangunannya gak kayak rumah, gede gitu, mungkin lebih gampang dicarinya," ujar Radith yang sudah bertemu dengan Andre di kantor. Andre memang selalu berangkat lebih pagi dari pegawai lain, jika tidak ada halangan, dia akan sampai bahkan saat Radith masih ada di rumah dan baru saja bangun tidur.


"Terus, gue nyari semua gedung di Indonesia ini gitu yang mirip kayak gini? Yang benar aja. Susah loh pak nyari kalau petunjuknya cuma ini," ujar Andre yang membuat Radith menghela napasnya. Betul juga yang dikatakan oleh Andre, memang tak akan mudah mencari jika petunjuknya hanya ini. Tapi mau bagaimana lagi?


"Gini aja deh, Lu cari yang ahli IT di orang orang kita, pasti nanti ketemu, gak gue kasih batas waktu, tapi kalau bisa nemu kurang dari 24 jam, gue bakal kasih hadiah yang besar. Ah bukan, sebutin aja, gue bakal beliin rumah buat orang itu, buat satu tim itu, jadi mereka bisa kerja sama buat nyari orangnya," ujar Radith yang langsung diangguki oleh Andre. Dia langsung semangat menelpon tim IT di antara orang orang mereka.


"Eh, tapi Lu gak include cuy, Lu mana mau disamain sama orang orang itu kan? Gak usah mendingan. Lu suruh mereka aja. Lagian bayaran lu udah bisa beli pulau pribadi buat lu dan keluarga lu," ujar Radith yang membuat Andre merengut, namun dia langsung memberikan sebuah brosur pada Radith, dan langsung dibaca oleh pria itu. Radith langsung berdehem dan mengembalikan lagi brosur itu pada Andre.


"Bisa bisanya kerja belum beres udah malak mau trip keliling eropa bareng pacar. Gila emang lu," ujar Radith yang membuat Andre langsung tertawa, dia tahu Radith juga akan membelikannya tiket full trip jika dia meminta. Andre kangsung pergi dari sana setelah ditatap tak enak oleh Radith. Dia langsung membuat sebuah tim dan mengumpulkan mereka dalam satu tempat.


Andre memiliki sebuah markas rahasia, sangat Rahasia bahkan mungkin Radith belum tahu tempat ini. Dia memang tidak memberitahu Radith, entah lelaki itu mencari tahu sendiri atau tidak, Andre tidak peduli, selagi Radith tidak mengganggu tempat ini dan privasinya, itu sudah cukup baginya. Andre mengumpulkan semua orang dengan cepat, lalu memasang wajah serius yang dia punya.


"Kita dikasih tugas penting, sangat penting tapi juga susah buat dilakuin. Kalian ada tugas untuk mencari lokasi ini, dan kalian harus mendapatkannya dalam waktu lima jam, lebih dari itu, kalian akan menbayarnya mungkin dengan kekayaan, gaji, atau nyawa kalian? Tergantung dengan suasana hati pak Radith, jika dia sedang baik, dia akan membuat kematian kalian mudah."


Mereka langsung meneguk saliva setelah mendengar ancaman itu. Andre memang menerapkan medote keras, jauh lebih keras dari Radith dan menciptakan kesan Radith adalah atasan yang sangat kejam agar mereka bisa bekerja cepat dan tanggap. Jika mereka tahu Radith orang yang ramah dan pengertian, mereka akan menyepelekan Radith, lelaki itu akan kehilangan wibawa dan kuasanya.


"Kalian silakan amati, kau cari rumah sakit, kau cari gedung dan kau coba cari mall atau apapun, terserah, kalian bagi sendiri. Aku juga akan membantu mencari, ingat, waktu kita hanya lima jam. Kalian boleh melakukan metode apapun untuk menyelesaikannya. Aku tidak akan membatasi apa apa. Jadi lakukan sesuka kalian," ujar Andre yang diangguki oleh mereka. Mereka langsug bubar saat Andre menyetel waktu mundur untuk mereka.


"Pak, jika boleh tahu, ini gambar dengan petunjuk apa? Mungkin kami bisa meruncing jadi tidak perlu melebar kemana mana, tentu akan lebih mudah menemukan jawabannya jika kami sudah tahu apa yang harus kami cari," ujar salah satu di antara mereka, membuat Andre takjub karna mereka berinisiatif untuk bertanya, jika tidak bertanya, dia berencana tidak memberi tahu sama sekali, biarlah mereka menggunakan otak dalam mencari.


"Seseorang mungkin pernah tinggal di sini, atau melakukan pertengkaran, atau malah ada kenangan indah. Tapi jika dilihat bentuknya, mungkin ini adalah gedung dengan fasilitas umum, karna sngat besar dan luas, coba kalian cari meruncing ke rumah sakit atau mall," ujar Andre yang diangguki oleh orang orang itu, mereka segera kembali melakukan tugas dengan serius, tidak ada lagi yang bicara setelah itu, mereka bekerja dengan taruhan nyawa, siapa yang berani main main?


"Tidak ada mall yang bentuknya seperti ini. Apakah ini ada di Bali? Atau malah di Jakarta? Sepertinya saya tidak asing dengan bangunan ini," ujar salah seorang yang langsung membuat Andre menghampirinya. Orang itu segera mencari sebuah tempat yang dia ingat. Dia mengetikkan tempat itu dan langsung memperlihatkan layarnya ke Andre.

__ADS_1


"Wah, kau sangat hebat, bagaimana kau bisa menemukan tempat ini dengan sangat cepat? Semua, kita berhasil, kita akan mendapat hadiah yang besar dari pak Radith. Terutama kau, siapa namamu? Aku akan membuatmu mendapat promosi atau kenaikan gaji yang lebih dari yang lain. Tenang saja, kalian semua mendapat hadiah, hanya dia mendapat bonus lebih, itu saja."


"Darimana kau bisa ingat tempat ini? Bahkan ini bukan tempat yang umum dari biasanya. Apa kau pernah mengunjungi tempat ini?" Tanya Andre dengan senang, dia segera menghubungi Radith dan berkata mereka sudah berhasil menemukan tempat yang Radith cari.


"Yah, dulu ada musuh yang harus kita masukkan ke sana sebagai hukuman, pak Radith tidak tahu akan hal itu, karna dia hanya menyerahkan semua pada kami tanpa membunuh dan kami bisa mengawasinya, jadi ya saya mengambil keputusan itu, saya ingat karna bentuk bangunannya yang unik, mudah diingat," ujar Orang itu yang diangguki oleh Andre.


"Halo Om, saya udah ketemu nih tempatnya, saya kirim via email, silakan dilihat dan kami tunggu hadiahnya, sekian, terima berkat," ujar Andre yang langsung tertawa setelah mendengar jawaban Radith, dia segera menutup panggilan sebelum Radith mengamuk pada dirinya. Dia masih terkekeh, tidak sadar orang orang itu sudah menatap ke arahnya dengan bingung.


"Ah, ehem. Ehem oke, terima kasih untuk kefja keras kalian, saya sangat menghargainya. Kalian akan mendapat hadiah yang cukup besar, kalian teruskan saja kerja kalian dan tunggu. Terima kasih banyak atas kerja keras kalian," ujar Andre yang sudah kembali serius. Mereka mengangguk dan membubarkan diri, kembali ke pekerjaan mereka masing masing.


Sementara itu Radith yang mendapat email langsung tersenyum, dia tidak menyangka kerja anak buah Andre sangat cepat, dia langsung berpikir untuk merekrut anak buah itu menjadi kaki tangannya, namun rasanya tak adil bagi Andre jika dia harus memotong kaki tangannya. Radith sudah senang memiliki orang kepercayaan seperti Andre.


Lelaki itu langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Lira, dia sudah sangat merindukan Lira, padahal belum lama mereka bertemu, namun setelah menikah dengan Lira, entah kenapa dia selalu merindukan Lira. Dia langsung melakukan video call pada istrinya, dia juga ingin melihat Anaknya, dia ingin memastikan Sean tidak membencinya.


"Sayang, aku bahagia banget hari ini, aku mau ajak kamu jalan jalan, sama Sean juga. Besok aku ke Jakarta ya, mau ketemu sama Kamu sama Sean, aaa, aku bahagia banget, rasanya mau terbang, mau peluk kamu," ujar Radith dengan riang yang membuat Lira melongo.


"Kamu habis minum obat atau gimana? Atau kamu lagi mabuk ya? Kenapa kok aneh banget sih?" Tanya Lira heran, dia tidak biasa melihat Radith yang seriang itu, padahal Radith belakangan ini tampak sendu dan gelap, karna banyaknya pikiran dan pekerjaan, namun melihat Radith sebahagia ini.


"Bentar lagi aku bakal bawa kamu sama Sean ke Bali, kita bakal bisa kumpul lagi, tapi tunggu, paling lama satu bulan lah, satu bulan lagi semua udah selesai," ujar Radith yang membuat Lira tersenyum, dia sudah tahu, Radith tidak akan mengambil waktu lama untuk menyelesaikan masalah yang ada di hidupnya, apalagi jika itu berkaitan dengan keluarganya.


"Aku bakal tunggu, mau lama atau sebentar aku sih bisa tunggu aja, aku juga udah nunggu 5 tahun, aku sih malah gak yakin kamu yang bakal sabar nunggu, kamu yang uring uringan pas aku di Jakarta, haha, aku sih malah lebih khawatir sama kamu loh," ujar Lira yang membuat Radith mengangguk mantab, dia sudah tidak malu atau canggung lagi di depan Lira, dia bisa jujur berekspresi pada istrinya itu.


"Aku gak tahan banget, kayak kalau tidur gak ada yang peluk tuh gimana gitu loh, apalagi kita kan mau buat Seanwati, gak enak aja," ujar Radith yang membuat Lira melongo karna malu, namun karna mereka tidak bersebelahan, Lira bisa lebih santai dan tidak sekaku sebelumnya. Lira mengerutkan keningnya dan langsung menunjuk ke arah Radith dengan tatapan curiga.

__ADS_1


"Kamu selama di sana gak ada aku, udah ngapain aja sama dia? Kamu kan ganjen, pasti kamu udah ngapa ngapain kan sama dia?" Tanya Lira yang membuat Radith tersedak, dia tampak kaku dan tegang, Lira langsung terdiam, padahal niatnya hanya bergurau, tapi ternyata Radith malah menganggapnya serius.


"Kamu udah ngapa ngapain sama Dia Dith? Gak bercanda kamu? Ya astaga, aku bakal marah banget nih kalau sampai kamu ngapa ngapain sama dia, gak bisa tahan banget jadi laki, gak asik banget ih mainnya gitu," ujar Lira yang tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya. Radith langsung menggelengkan kepalanya cepat melihat respon Lira.


"Enggak, gak gitu, aku tuh ya sebenernua ada sesuatu tadi malam, tapi gak kayak yang kamu pikirin. Gini deh, besok kan aku ke sana, aku jelasin semua, kalau lewat telpon gini aku takut belepotan atau malah gak tersampaikan dengan baik, aku gak mau nambah daftar panjang salah paham di masalah kita. Oke? Besok aku jelasin semua," ujar Radith sambil berharap Lira mau menunggu sampai besok.


"Oke, besok, kalau besok kamu gak bisa kasih jawaban yang bagus, aku gak tahu sih bakal kecewa kayak gimana, karna berarti udah ada apa apa di antara kalian," ujar Lira yang langsung mematikan panggilan dan membuat Radith meraup wajahnya dengan frustasi. Bagaimana bisa Lira bertanya tepat sasaran seperti itu? Apakah salah Radith karna terlalu banyak mengoceh yang tidak perlu?


"Duh, gak tahu deh, terserah gak tahu, terserah," ujar Radith frustasi lalu melempar ponselnya dan mengambil berkas kerja untuk segera dia periksa. Walau tak fokus, Radith berusaha menyelesaikannya dengan baik, dia ingin semua pekerjaannya selesai sehingga besok dia bisa bertemu dengan Lira sepuasnya, dia juga bisa datang ke tempat yang diberitahu Andre.


"Tapi kenapa ada foto gedung itu di buku harian Grace? Atau jangan jangan ada seseorang di sana? Atau malah Grace pernah tinggal di sana? Tapi kalau dia tinggal di sana, gimana bisa Zia..? Ah, gak tahu lah, makin gue berasumsi, makin gak karuan pikiran gue," ujar Radith pada dirinya sendiri.


Di tengah Radith memeriksa berkas, dia ingat akan janjinya pada Andre dan anak buahnya. Dia memanggil asisten pribadinya untuk masuk ke dalam ruangan dengan membawa berkas dan stempel. Radith menunggu orang itu datang sambil melihat lihat buku berisi rumah rumah yang dijual di pulau itu, dia akan membeli lima untuk anak buah Andre.


"Ah ya, aku ingin membeli rumah ini, beli sebanyak 5 unit, tapi sebisa mungkin kau harus membanting harganya karna kita langsung beli banyak unit, tentu kita harus dapat potongan yang besar. Aku akan memberikan surat kuasa dan stempel, jadi kau bisa mengurus semua," ujar Radith yang mencetak 5 buah surat kuasa.


"Untuk berkas yang diperlukan, kau bisa hubungi Andre, dia yang akan memberikan data pemilik rumah itu, dan hubungi yang bersangkutan untuk memberikan semua berkas persyaratan yang dibutuhkan. Apa kau bisa melakukan itu?" Tanya Radith yang diangguki oleh asistennya, Radith mempersilakan asisten itu pergi setelah menyelesaikan perbincangan ini.


"Ah ya, Andre minta paket liburan. Haissh, kenapa dia gak minta uang Cash terus pergi sendiri? Dia emang sengaja mau bikin gue repot harus nyari agen liburan yang sesuai," ujar Radith yang langsung merasa kesal, namun dia tentu tidak mau repot dengan semua ini, dia memilih untuk melakukan balasan pada Andre agar lelaki itu tak berani macam macam dengannya lagi.


Lelaki itu memainkan ponselnya dengan fokus, lalu mengambil tangkapan layar dan kembali ke aplikasi pesan. Dia mengirimkan tangkapan layar itu ke kontak Andre, dia juga tak lupa menuliskan pesan untuk lelaki itu. Dia tertawa dan meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali bekerja.


Andre yang sedang bersantai melihat ke arah ponselnya saat mendapati pesan dari Radith, dia langsung merengut kesal karna Radith malah balik mengerjainya. Bagaimana tidak? Andre minta dipesankan tiket liburan, namun lelaki itu malah mengirimkan uang kepada Andre sebesar 100 juta, dan dia harus menghabiskan semua uang itu.

__ADS_1


Parah? Tidak! Pesan yang di bawahnya lebih parah lagi. Lelaki itu meminta Andre untuk mengirimkan bukti dia benar benar pergi ke luar negeri untuk berlibur, dan Radith meminta semua pengeluaran Andre ada notanya, dan nominal itu harus klop dengan uang sisa. Bukankah ini hukuman? Bagaimana bisa Andre menotakan pengeluaran 100 juta rupiah untuk liburan?


"Salah Lo sendiri sih Ndre, kenapa pakai iseng ke dia segala. Nasib, nasib. Gak papa deh, yang penting bisa liburan gratis sama pacar," ujar lelaki itu yang mencoba berpositif thinking dan menerima uang itu dengan senang hati.


__ADS_2