
Pagi menyapa, Radith bangun dengan malas dan melihat jam di samping tempat tidurnya. Roy meminta dia datang ke alamat rumahnya pukul 12 siang. Apa yang akan mereka lakukan di siang bolong seperti itu? Entah itu adalah undangan biasa, ujian, atau jebakan, Radith tidak bisa menebak arah pikiran Roy mengundang ke rumahnya.
“Kalau gue bawa senjata dan dia cuma ngetes, gue akan mati saat itu. Oke, sama sama akan mati, gue akan coba percaya dia lagi ngundang gue dan ngetes apakah gue berbahaya atau enggak,” ujar Radith yang memutuskan untuk mandi dan sarapan. Dia sudah membayar mahal, tidak mungkin dia melewatkan waktu sarapan di sini.
Setelah selesai, dia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 11 pagi, dia kembali ke kamarnya untuk bersiap. Dia benar-benar menyiapkan mentalnya untuk datang ke rumah Roy. Dia tidak bisa bertindak mencurigakan, dia juga harus berlatih untuk menjawab semua pertanyaan yang Roy berikan agar tidak menimbulkan kecurigaan. Apakah bahkan lelaki itu masih mengingat masa lalu mereka?
“Astaga, gue dulu udah serang dia habis habisan untuk belain Lunetta, dia masih dendam gak ya sama gue? Kenapa gue malah keinget yang dulu-dulu sih? Radith, tenang, semua akan baik-baik aja, gak mungkin dia serang lo di tengah bolong begini, dia pasti mikir sampai ke sana. Dia gak akan sebodoh itu.”
“Ta.. tapi dia kan dulu sebodoh dan seaneh itu? Gak lucu kan dia langsung nge dor gue di siang bolong? Huftttt, kenapa gue jadi panik begini sih?” tanya Radith pada dirinya sendiri. Tangannya mulai bergetar dan dia tidak bisa mengendalikan gerakannya.
Untung saja saat itu Angga masuk ke dalam kamarnya dan melihat Radith yang sedikit kejang di kamar. Dia segera memberikan obat Radith yang tersimpan di laci. Obat itu membantu Radith untuk rileks dan tenang.
Radith akhirnya mulai bisa mengatur napasnya dan getaran di tubuhnya mulai berhenti. Angga tahu ada yang tidak beres dengan Radith.
“Tuan, apakah tuan mengalami sesuatu yang membuat tuan seperti ini? Tuan bisa mengatakan pada saya apa yang terjadi agar saya dapat membantu, tuan tidak bisa memikirkan semuanya sendiri,” desak Angga agar Radith mau cerita, karena sejak tadi saat sarapan, lelaki itu hanya diam meski tampak jelas di wajahnya banyak pikiran.
“Roy mengundangku untuk makan di rumahnya, aku harus datang agar dia tidak curiga, namun aku bingung dan takut jika ini akan menjadi akhir hidupku. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, otakku membeku dan tidak bisa berpikir lagi,” keluh Radith yang langsung membuat Angga berdiri dan memberikan dia air putih.
“Saya dan Tim akan menjaga dari jauh. Tuan tidak perlu membawa senjata, karena mungkin memang mereka mengundang tuan untuk berterimakasih karena kemarin tuan membayar tagihan makan bersama nona Danesya. Tuan bisa memakai rompi anti peluru sebagai gantinya, karena jika memang terjadi kecelakan atau kesengajaan, tuan masih bisa sedikit memiliki perlindungan. Kami akan berjaga di luar, jadi kami akan langsung bertindak jika terjadi sesuatu,” ujar Angga yang diangguki oleh Radith.
“Aku harap kalian bisa menjaga diri dan jangan sampai menimbulkan kecurigaan, karena seperti yang kita tahu, Roy memiliki banyak sekali pengikut, kita tidak bisa lengah sedikit saja,” ujar Radith yang diangguki oleh Angga.
Akhirnya Radith sudah selesai bersiap dan berangkat ke rumah Nesya dengan berjalan kaki karena dekat. Dia menekan bel depan pagar dan pagar itu otomatis terbuka. Radith kagum dengan teknologi yang dimiliki rumah ini, namun dia juga merinding, karena tidak ada orang sama sekali, siapa yang tahu ternyata semua ini hanyalah ranjau?
Namun ternyata dia bisa sampai ke depan pintu rumah Nesya dengan selamat. Dia menekan kembali bel yang ada di sana, kali ini pintu tidak terbuka otomatis. Dia menunggu tuan rumah membuka pintunya. Tak selang berapa lama, Nesya membuka pintu dan mempersilakan Radith untuk masuk ke dalam rumahnya.
“Gue gak nyangka lo beneran mau ke rumah ini. Gue seneng banget waktu Roy bilang dia ngundang lo ke sini untuk makan malam sebagai ganti lo udah bayarin makanan gue semalam. Gue udah pesan banyak makanan, ayo kita makan bareng,” ujar Nesya dengan senyum yang merekah. Dia segera menarik tangan Radith dan menutup pintu rumahnya.
__ADS_1
Rumah Nesya tampak sepi, tidak ada siapapun selain mereka di dalam sana. Rumahnya juga sangat hening, pantas saja Nesya merasa sangat kesepian jika berada di rumah, tidak ada apapun, tidak ada siapapun yang bisa dia ajak berkomunikasi. Namun masih ada pertanyaan besar di kepala Radith saat ini.
“Roy undang gue ke sini, dia mana? Kok kayaknya sepi banget? Gak ada orang?” tanya Radith sedikit berhati-hati. Nesya malah mengangguk begitu saja, dia meminta Radith untuk duduk sementara dia mengeluarkan semua makanan yang sudah dia beli dan hangatkan ke hadapan Radith. Nesya mengambil piring kosong dan gelas dan meletakkannya di hadapan mereka.
“Tadi pagi ada urusan terus pergi ke luar negeri dulu katanya buat beberapa hari ke depan. Karena sudah terlanjur mengundang dan gue beli makanan, ya udah deh tetep makan kita. Gak papa kan? Atau lo ngerasa gak nyaman karena makan sama gue cuma berdua?” tanya Nesya dengan pelan dan hati-hati.
Radith tampak terkejut dengan pertanyaan itu, namun dia segera menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Tentu saja dia tidak keberatan, hanya saja semua terjadi di luar ekspektasi dia, dia tidak menyangka hanya akan berdua dengan Nesya dan bahkan dalam situasi setenang ini, jauh dari semua pikirannya yang mengira dia akan dikelilingi banyak ajudan seperti tadi malam.
“eum, maaf ya kalau anak buah Roy tadi malam bikin takut. Roy juga marah banget sebenarnya karena gue pergi gak pamit dulu sama dia, tapi dia gak berniat jahat sama lo kok, dia cuma mau minta nomor lo buat kenalan lagi, walau sebenarnya kalian udah saling kenal kan?” tanya Nesya yang diangguki oleh Radith.
“Tapi kayaknya gue meninggalkan kesan gak baik buat Dai, yah, gue harus melakukannya sih, kalau gak malah nanti makin banyak orang terluka,” ujar Radith yang diangguki oleh Nesya, wanita itu meneguk air putih yang ada di hadapannya, dia menyelesaikan makannya.
“terus, lo kesini karena mau balas dendam ke suami gue yang udah ganggu adik kembar gue kah?” tanya Nesya yang tentu saja membuat Radith tersedak. Lelaki itu tidak menyangka Nesya akan menanyakan hal tersebut, namun Radith dengan cepat menggelengkan kepalanya untuk menyangkal semua itu.”
“gak ada alasan buat gue balas dendam ke dia, gue gak ada masalah kok sama dia, jadi ya kenapa gue harus balas dendam? Masalah dia sama Lunetta juga udah selesai kan? Sudah lama berlalu juga,” ujar Radith sesantai mungkin karena dia tidak mau menimbulkan kecurigaan lebih lagi, namun nyatanya Nesya tidak senaif yang dipikirkan Radith.
“Kalau gitu, bokap gue minta hal yang lain ke lo buat datang ke negara ini yang kebetulan banget, gue sama suami gue stay di sini setelah banyak kejadian janggal di Indonesia,kebetulan banget kan?’ tanya Nesya yang sebenarnya sangat santai, namun entah kenapa Radith merasa terintimidasi oleh perkataan wanita itu.
“lo udah tahu kok apa yang kami lakukan. Lo harus tahu gak sebodoh itu suami gue. Lo kira di hutan yang panjang itu, gak dipasang cctv saat lo ngabisin anak buah suami gue dan lo tukar baju itu?” tanya Nesya yang membuat Radith melotot, dia bahkan sudah tidak bisa melanjutkan makannya lagi.
“Lo ngomong apa sih? Gue gak ngerti deh lo ngomong apa?” tanya Radith yang kali ini tidak bisa lagi menyembunyikan rasa paniknya. Nesya tertawa melihat Radith yang begitu panik, dia menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan pisau dengan tangan kirinya dan pistol dengan tangan kanannya. Radith berdiri dari sana dan mengulurkan kedua tangannya agar Nesya tidak menembak.
“lo tahu, gue bisa aja bunuh lo disini, dan gak ada yang bisa nolong lo. Tapi lo juga harus tahu, gue udah menyelamatkan nyawa lo dua kali. Rekaman cctv di hutan, gue udah hapus dan suami gue gak tahu,” ujar Nesya yang tentu saja membuat Radith mengerutkan keningnya, apakah ini jebakan yang lain?
“dan hari ini, gue gak akan bunuh lo walau lo datang ke negara ini buat bawa suami gue ketemu sama bokap gue, karna gue mau menawarkan negosiasi, biar gak ada yang terluka,” ujar Nesya yang masih tidak membuat Radith berkutik, dia masih merasa ngeri dengan senjata yang dipegang oleh Nesya.
Wanita itu melempar pistol dan pisau ke meja di hadapan Radith, menandakan dia serius dengan apa yang dia lakukan dan katakan. Melihat itu, Radith kembali duduk dan mendengarkan apa yang diinginkan oleh Nesya, wanita itu tersenyum dan mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
“Lo mau bawa suami gue karena bokap gue bilang dia pria yang jahat, haus darah, pengedar, dan sebagainya. Itu jadi dasar lo berpikir kalau suami gue pantas untuk mati kan? Ini penawaran gue, selama lo di sini, lo coba buat mengenal Roy lebih lagi, kalau lo menemukan dia gak seperti yang bokap bilang, lo harus sudahi misi gila itu, karena semua gak sesuai kan?” tanya Nesya dengan santai.
“Kenapa gue harus percaya sama lo? Gimana kalau ini cuma jebakan dan gue bakal dibunuh sama suami lo itu? Sejak kenal dia, gue juga gak merasa dia cowok yang waras?” tanya Radith skeptis. Nesya kembali tertawa mendengar hal itu.
“Emang lo waras?” pertanyaan singkat itu sangat menusuk relung hati Radith. Benar juga, kondisi kejiwaan Radith juga tidak begitu stabilnya, dia bahkan harus mengkonsumsi obat penenang agar tubuhnya tidak kejang dan tidak mendapat serangan panik seperti tadi pagi. Namun dia tidak menyangka Nesya akan mempertanyakan hal itu.
“Definisi waras menurut kalian itu apa? Bokap yang membunuh semua orang yang menghalangi dia? Lunetta yang ninggalin cinta pertamanya buat hidup sama orang yang sebenarnya gak dia cinta tapi sampai punya anak 3? atau bang Jordan yang bahkan mau jadi kuping, kaki, tangan bokap tanpa dia punya tujuan hidup sendiri setelah pacar pertamanya mati?”
“Yang kayak apa? Atau kayak Darel yang rela ngejar dan maksa Luna buat jadi pacar dan istrinya padahal dia tahu Luna gak pernah cinta sama dia? Atau seperti Lira yang sudah dikhianati berkali-kali, dibuat hamil lalu ditinggalkan, tapi masih mau nunggu cowok yang berdarah dingin kayak lo?”
“definisi waras menurut kalian itu apa? Karena yang gue lihat, kalian semua gila, di jalan kalian sendiri. Jadi atas dasar apa lo dan kalian semua menentukan kalau suami gue satu-satunya orang yang pantas mati?”
Pertanyaan itu membuat Radith membatu, dia tidak bisa melihat celah dari apa yang Nesya katakan. Semua yang wanita itu katakan benar, hidup Radith sangat kacau, bahkan hidup orang di sekitarnya sama kacaunya.
“Maaf, gue harus melakukan itu buat melindungi keluarga gue, jadi, gue harus melakukan itu,” ujar Radith yang masih tak ingin goyah dengan apa yang Nesya katakan.
“Buat keluarga lo? Gimana dengan keluarga gue? Apa seegois itu kalian sampai gak mau mikirin hal lain dan cuma fokus sama diri kalian sendiri?” tanya Nesya yang kali ini matanya sudah berkaca-kaca.
“Kalau gitu lo harus bunuh gue sebelum gue bunuh suami lo,” sahut Radith dengan dingin dan memberikan pistol itu kepada Nesya lagi.
“lalu kapan semua berakhir? Kalau gue bunuh lo, bokap gue bakal kirim orang lagi buat melakukan hal yang sama, tragedi ini gak akan pernah berakhir Dith, pada akhirnya kita gak akan beda sama hewan di luar sana, saling membunuh buat bertahan hidup,” ujar Nesya yang kali ini membuat Radith melunak.
“Gue gak minta lo kasihan sama gue atau suami gue, gue juga gak pengen lo mati karena gue tahu lo punya istri dan 3 anak yang masih kecil, gue tahu hidup lo udah cukup berat dan lo melakukan ini di luar kuasa lo, gue tahu,” ujar Nesya yang kini benar-benar tidak bisa dijawab oleh Radith.
“Gue cuma minta lo buat tahan, lo coba masuk ke kehidupan Roy, dikit aja, terus lo coba buat mengenal dia, kalau lo udah kenal dia dan menurut lo dia pantas mati, gue gak akan menghalangi, bunuh aja,” ujar Nesya tanpa beban.
“Setidaknya, lo bunuh dia karena memang lo tahu, dia pantas buat mati, bukan hanya karena lo diminta bunuh dia tanpa lo tahu dia siapa, dia seperti apa. Lo sama kayak algojo dong kalau begitu,” ujar Nesya dengan lembut. Entah kenapa Radith luluh dengan perkataan itu.
__ADS_1
“Gue gak akan minta lo buat jawab sekarang, lo bisa pikirkan dulu, karena seperti halnya lo mau melindungi keluarga lo, gue juga mau melindungi keluarga kecil gue Dith, gue harap lo bisa mempertimbangkan hal itu dengan bijak ya,” ujar Nesya pelan.
Radith bingung dan mencoba mencerna, dia tidak menemukan kesalahan dari setiap yang Nesya katakan. Apakah dia harus menerima tawaran itu? Namun bagaimana nasib keluarganya di negara asalnya?