Bossy Bos

Bossy Bos
Bab 23


__ADS_3

Radith duduk di sebuah kursi yang ada di sebuah taman. Dia teras memikirkan perkataan Lira. Apakah pada akhirnya Luna memang akan menikah? Setelah semua pengharapan dan perjuangannya, apakah akhirnya Luna akan memilih Darrel? Apakah dia sudah kalah dan benar – benar tak ada nama Radith lagi di hati Luna? Hal itu terus menghantui pikiran Radith.


"Apa selama ini Gue udah keterlaluan? Apa selama ini Gue terlalu terobsesi sama Luna? Kenapa? Kenapa baru sekarang Gue ngerasa sedih banget? Bukannya udah biasa kayak gini? Paling nanti juga nikahnya batal kan? Terus Gue harus ada di sana buat hibur dia, iya, Gue harus ada di sana," ujar Radith sambil tersenyum, namun dia bisa merasakan hangatnya ir yang mengalir ke pipinya.


Setelah semua yang terjadi, Radith masih mengira Luna menyukainya, menyimpan paling tidak sedikit hati untuknya. Padahal dulu dia yang berharap Luna bisa melupakannya dan hidup bahagia. Dulu dia yang selalu merasa kurang dan tak bisa membahagiakan Luna. Sifat insekyur yang membuatnya hanya mampu menjaga Luna tanpa Luna tahu isi hatinya.


"Gak, Gue gak boleh lemah gini. Gue gak akan biarin perasaan kayak gini bikin Gue kalah. Selama Luna gak bilang sendiri ke Gue buat pergi, Gue gak akan pergi. Gue yakin sampai saat ini dia masih bingung suka sama siapa, sekarang waktunya Gue bilang ke dia kalau Gue suka sama dia."


"Gue harus bisa, Gue harus bisa tentuin jalan Gue dan Gue harus bisa hadapi semua konsekuensinya. Gue bakal kehilangan semua dan bahkan Gue bakal bermusuhan sama Darrel, tapi Gue harus ungkapin perasaan Gue atau Gue bakal mati karna perasaan ini."


Radith membulatkan tekadnya dan memilih untuk menghubungi Luna. Lelaki itu memita Luna untuk bertemu dan pergi bersama, sekalian untuk bernostalgia, kebetulan ada sebuah pasar malam yang buka saat ini, tempat yang dulu sering mereka datangi hanya untuk mencari gula kapas, hal itu bisa dijadikan alasan oleh Radith untuk bertemu Luna.


Semebari menunggu malam, Radith memutuskan untuk kembali ke kantor. Meski dia bingung harus menghadapi Lira bagaimana, dia tidak mungki nmeminta maaf atau menjelaskan apapu pada Lira. Dia harus bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi, dia akan memerintah Lira sepetti biasanya. Dia akan membuat suasana menjadi tidak canggung.


"Lira, kamu ke ruangan saya sekarang. Ah ya, bawakan saya coklat bubble, di kantor tidak jual, kamu harus membeli di luar. Itu salah satu tugas kamu sebagai asisten saya, cepat lakukan." Radith langsung menutup panggilan telponnya tanpa mendengar jawaban Lira. Dia bahkan tak mau tahu kemana Lira mencari minuman yang sulit di dapat di sekitar sini.


Sementara itu Lira yang merasa diperlakukan tak adil tidak bisa membantah apapun. Dia harus menahan semua tindakannya karna dia tahu Radith dalam kondisi psikis yang tak sehat. Lelaki itu bisa aja bertindak nekat untuk memenuhi keinginannya. Selama barang itu bisa dicari oleh Lira, Lira akan membawakannya utnuk Radith meski mulutnya terus mengomel


"Tuh orang lama – lama gila karna gak dapat cintanya. Coklat, coklat, Gue bawain psikiater harusnya. " Lira mengambil ponselnya, dia memesan lewat aplikasi pesan antar yang biasa dia gunakan. Mungkin Radith berniat mengerjainya, sehingga dia harus lebih cerdas dari lelaki itu agar bisa menghadapinya.


Radith yang mengamati Lira lewat ponselnya tentu saja merasa bingung gadis itu tak tambah kesusahan dan bahkan masih bisa duduk santaidi kursinya. Radith menelpon dan menanyakan kenapa Lira belum berangkat dan gads itu langsung berdiri keluar ruangan dan mengatakan dia akan segera berangkat.


Lira pikir dia bisa mengelabuhi Radith, naun tidak, Radith sudah memasang alat pelacak di ponsel yang digunakan Lira saat ini. Lelaki itu tahu Lira hanya duduk di lobby dan menunggu pesanannya. Lelaki itu cukup takjub dengan cara yang digunakan oleh Lira. Bahkan dia tak memikirkan cara itu, yah, sekali lagi, Lira bisa sedikit mengobati rasa sedihnya.


"Enak juga ternyata mainin nih anak. Gue harus kasih dia tugas yang bikin dia gak bisa nyantai kayak gini. Apa? Tapi apa? Ah, Gue tahu." Radith kembali menelpon Lira dan menegatakan sembari Lira membeli, Lira harus mampir ke rumah Radith dan mengambilkan kemeja miliknya, Lira bahkan diberitahu sandi kamar apartemen Radith.

__ADS_1


"Gue pasti udah gila kasih sandi apartemen Gue buat dia. Selama ini Cuma Luna yang tahu sandinya. Ah gampang, Gue masih bisa ganti, yang penting Gue terhidur dengan ngerjain dia," ujar Radith memutar – mutar ponselnya dan membayangkan betapa kesalnya Lira mendapat tugas aneh seperti itu.


Lira yang ada di lobby langsung ebrdecak, dia bangkit dari duduknya dan memberi uang pada satpam, meminta satpam membayar pesanannya dan meminumnya, dia harus membeli lagi agar minuman itu tetap dingin dan Radith tak makin memberinya tugas yang aneh – aneh. Gadis itu langsung pergi dari sana dan menuju ke apartemen Radith dengan menggunakan mobil.


Saat turun dari mobil, Lira melihat orang yang tak asing keluar dari lift menuju Lobby dengan kepala menunduk dan syal yang menutup hidung. Negara ini, bahkan kota ini sangat panas, kenapa orang itu betah memakai pakaian seperti itu? Apalagi syal itu terlihat tebal.


~brukk


"Nah, kan." Lira tak bisa menahan mulutnya untuk berucap. Baru saja dia membatin, orang itu menabrak lelaki yang ada di hadapannya. Lelaki itu tampak marah, namun orang yang menabrak hanya menunduk tanpa mengucapkan apapun. Syal yang terjatuh membuat wajahnya terlihat. Lira langsung syok melihat wajah yang ada di hadapannya ini. dia langsung mengeluarkan ponsel dan memfoto orang itu.


Lira langsung mengirim foto itu pada Radith, namun saat dia sudah mendongak, orang itu sudah pergi, Lira sudah menyusul keluar, namun tetap tak bisa menemukan orang itu. Kecurigaan Lira langsung memuncak, gadis itu berlari masuk kembali dan langsung menuju kamar apartemen milik Radith. Gadis itu membuka sandi sesuai yang diberikan Radith dan masuk ke sana.


"Lah beego, Gue buru – buru masuk ke sini, emang Gua tahu apa yang ada di sini dan apa yang hilang? Ini aja pertama kali Gue masuk. Duh Lira, Lo tuh emang ya," ujar Lira pada dirinya sendiri. Lira langsung berjalan ke arah lemari dan mengambil kemeja santai berlengan pendek. Lalu langsung keluar dari dalam kamar itu.


'lekas langsung kembali ke sini, tidak sudah memana – mana lagi.' Untung saja Lira mengecek ponselnya, dia langsung masuk ke dalam mobil dan pergi menuju kantornya. Lira merasa seseorang mengikutinya dari belakang, instingnya yang kuat bisa merasakan hal itu.


"Pak Indra udah meninggal. Bukannya semua udah selesai? Kenapa Caroline masih ada di sini? Kenapa dia ada di apartemen Radith? Siapa yang dia incar?" tanya Lira dengan kepala yang tiba – tiba terasa pusing. Lira sudah tak memikirkan masalah pak Indra, namun melihat Karin membuatnya kembali memikirkan masalah itu.


"Gawat kalau misal dia ada niat jelek sama keluarga ini lagi. Gawat kalau ternyata dia mau celakain Luna, gak bisa Gue biarin. Gue harus cari tahu gimana bisa dia kabur dari keluarga Wilkinson." Lira langsung membuka ponselnya dan mulai menelusuri data perkembangan kasus Caroline yang dia tahu.


Radith yang menerima foto dari Lira juga tak bisa tenang. Dia langsung menghubungi Jordan dan menanyakan bagaimana Caroline bisa lepas dan berkeliaran. Apalagi Karin sampai ada di gedung apartemennya. Bagaimana jika orang itu melakukan sesuatu pada apartemennya? Memasang kamera atau menyadap ruangannya?


"Gue juga gak tahu. Gue terlalu fokus sama pak Indra, Gue gak tahu kalau dia bisa lepas. Kemungkinan yang jaga dia itu salah satu pengkhianat kita dan orang itu ngelepasin Caroline. Tenang aja, pak Indra udah tewas, dia gak punya kekuatan lagi," ujar Jordan yang sama sekali tak menenangkan Radith.


"Lo bisa santai karna Lo gak tahu kalau dia itu ada dendam pribadi sama keluarga Wilkinson. Dia punya niat buat celakain Luna. Yang masih Gue gak tahu, kenapa dia bisa ngincernya rumah Gue? Kenapa gak langsung ke rumah Lo aja?" tanya Radith yang kini membuat Jordan terdiam. Dia memikirkan sesuatu mengenai informasi tersebut.

__ADS_1


"Lo Cuma nangkap dia dan kasih dia buat Gue. Lo gak kasih tahu kalau yang dia incar itu Luna. Parah Lo baru kasih tahu Gue sekarang. Ya udah, Gue bakal cari cara buat cari dan lenyapkan dia sekalian kalau perlu, Lo tenang aja," ujar Jordan yang membuat Radith sedikit lega.


Kini Radith baru teringkat Lira. Dia tiba -tiba saja khawatir dengan kondisi gadis itu. apakah gadis itu selamat? atau masih dalam kejaran orang tak dikenal? Lelaki itu melihat tab yang dia gunakan untuk melacak Lira. Dia bisa melihat Lira berada di jalur cepat, mengapa gadis itu sampai ke sana? Apakah dia masih tetap di kejar.


"Halo? Lo dimana sekarnag? Kenapa belum balik?" Radith langsung mengomel dengan panik saat Lira mengangkat panggilan ke empatnya. Gadis itu tak menggubris perkataannya, bahkan gadis itu tampak memberi intruksi pada supir dengan tergesa. Radith sampai terdiam dan tak mau menganggu gadis itu, terbesit rasa takut terhadap keselamatan gadis itu.


"Lo ikuti GPS yang Gue kasih. Gue ada jalan pintas deket lokasi Lo sekarang. Lo dengar Gue kan?" tanya Radith yang langsung mematikan ponselnya dan memberika peta pada Lira. Untung saja dia sudah mempersiapkan segala kemungkinan yang terburuk bila sesuatu terjadi padanya. Dia berharap Lira membaca pesannya dan bisa selamat.


Radith menunggu dengan tak sabar. Dia melihat lokasi Lira yang mengikuti petunjuk yang dia berikan. Mobil mulai pelan, kemungkinan Lira sudah lolos dari kejaran orang asing itu. Lira menuju ke kantornya lagi melalui jalan lain. Radith pun bisa meenunggu dengan lega kali ini. dia harus memasang wajah dingin dan galak agar Lira tak merasa dia peduli.


"Kalau dia tahu Gue peduli, nanti dia makin suka sama Gue, Gue yang pusing deh, mending engga Gue tanggapin dulu aja," ujar Radith yang melatih ekspresi di kaca. Dia tak pernah melakukan hal sekonyol ini, entah mengapa dia melakukannya hanya karna tak ingin terlihat peduli di depan Lira.


Tak lama berselang. Lira masuk ke ruangannya dengan penampilan yang usuh dan rambut yang berantakan. Radith sendiri langsung menatap gadis itu dengan tatapan yang tajam. Lira yang ditatap jelas merasa tak nyaman. Gadis itu masih berusaha untuk profesional dan memberikan kemeja yang Radith minta.


"Lo tuh harusnsya hati – hati, kalau orang itu bisa nyadap dan menang gimana? Untung Gue kasih map ke Lo, kalau gak Lo mau apa?" tanya Radith dengan nada tinggi. Lira langsung memejamkan matanya karna bentakan itu. dia masih terkejut dengan apa yang dia alami. Bahkan ini kali pertama dia mengalaminya, bukankah wajar Lira panik dan takut.


"Mana kemejanya? Saya harus pakai itu untuk bertemu Luna nanti malam."


"Ma.. maaf pak. Ini kemeja yang bapak minta, saya kembali ke ruangan saya," ujar Lira yang meletakkan keeja di sofa dan langsung keluar dari ruangan Radith. Lelaki itu langsung tersentak dengan sikap Lira. Dia hendak menyusul, untung saja dia ingat memiliki cctv di ruangan Lira.


Lira tampak meletakkan kepalanya di meja dan menangis sejadi – jadinya. Gadis itu mengeluarkan semua sumpah serapah pada Radith, dia bahkan sampai sesenggukan dan memukul – mukul dadanya sendiri. Radith bisa melihat tangan gadis itu bergetar. Dia sampai tak tega dan menyesal sudah membentaknya.


Dengan membuang segala gengsi, Radith segera keluar dari ruangannya dan langsung masuk ke ruangan Lira tanpa mengetuk. Dia menutup pintu ruangan Lira dan memeluk gadis itu dari belakang. Entah mengapa dia teringat Luna yang menangis parah karna ditinggal Darrel kala itu, dia merasa tak tega melihat Lira mengalami hal yang sama.


"Gue udah turutin semua yang Lo mau, Gue udah ambil kemeja yang Lo minta bahkan Gue nyaris mati karna dikejar orang yang Gue gak tahu siapa. Gue capek, Gue gak pernah kayak gini sebelumnya. Hidup Gue miskin, tapi tenang. Kenapa Gue yang disalahin terus?"

__ADS_1


Radith langsung mengelus kepala Lira sampai akhirnya suara gadis itu teredam di dadanya. Lira menangis sejadi – jadinya tanpa peduli yang di hadapannya ini adalah bosnya. Dia hanya manusia biasa, dan saat ini dia sedang sangat ketakutan dan frustasi, tak menyangka hidupnya akan jadi seperti ini.


"Maafin Gue, maafin Gue. Lo boleh nangis sepuasnya. Ini terakhir kali Lo ngalamin kejadian tadi. Gue bakal lindungin orang yang ada di sekitar Gue, termasuk Lo."


__ADS_2