
Lira bangun dari tidurnya. Dia melihat kondisinya yang mengenaskan, gadis itu (ah, apa masih bisa dibilang gadis setelah malam yang panjang ini?) bangkit dari tempat tidur dan memungut pakaiannya lalu memakainya. Lira duduk di sofa dan menatap Radith yang tidur dalam damai. Dia merasa malu, sedih, marah dan kecewa mahkota yang dia jaga hilang begitu saja dalam waktu singkat.
"Kalau aja Lo lakuin atas dasar Lo lihat Gue, mungki nGue gak akan semarah ini. tapi bahkan Lo lakuin sama Gue, pikiran Lo Cuma Luna, yang ada di mata Lo adalah Luna waktu lihat Gue. Gue gak bisa gak kecewa Dith, Gue gak bisa," ujar Lira sangat pelan karna dia tahu Radith memiliki telinga yang peka.
Lira terdiam dan menerung, dia memikirkan apa yang akan dia lakukan. Apakah dia akan meminta pertanggung jawaban dari Radith? Tapi kan lelaki itu tak sengaja melakukannya. Lira juga tak ingin Radith terpaksa untuk bersamanya padahal hatinya untuk orang lain.
"Oke Lira, Lo bakal jadi cewek paling bodoh di dunia ini. Gue harap Lo gak akan menyesal sama keputusan Lo ini," ujar Lira pada dirinya sendiri dan bangkit dari duduknya untuk mencari ponsel Radith. Dia tahu lelaki itu menyimpan semua akses cctvdi ponselnya dan tak ada back up di tempat lain.
Dengan tangan yang gemetar Lira membuka aplikasi untuk melihat rekaman cctv dan dalam beberapa sentuh, semua jejak rekaman kemarin sudah hilang. Lira menghilangkan itu agar dia dan Radith baik – baik saja. Lira mengorbankan dirinya kali ini agar dia tidak berakhir dengan ikatan apapun. Anggap saja semua yang terjadi kemarin adalah mimpi.
Lira mengambil tas dan semua barangnya agar tak meninggalkan jejak. Dia langsung keluar dari kamar Radith setelah itu. Lira berjalan dengan susah payah karna nyeri di antara kedua kakinya. Lira mencari taksi dan segera pergi sebelum Radith menemukannya, mungkin dia harus pergi ke tempat yang jauh agar Radith tak bisa menemukannya lagi.
"Kali ini Lo butuh waktu yang lama Ra, Lo udah memutuskan untuk gak ada hubungan sama cowok itu, tapi kenapa Lo balik dan malah berakhir seperti ini? kenapa hidup Lo gak pernah bahagia dan makin ke sini makin suram? Apa Lo diciptakan buat kasih contoh ke dunia untuk bersyukur karna ada orang yang sangat malang kayak Lo ini?"
"Mbak maaf, bukannya saya ikut campur. Tapi menurut saya, tak ada sesuatu yang terjadi di dunia ini terjadi tana alasan. Jika Mbak belum menemukan alasan itu, bukan berarti mbak gak akan menemukannya selamanya. Mbak harus percaya sesuatu yang baik sudah disiapkan Tuhan buat Mbak."
Lira terkejut saat menyadari dia masih berada di dalam taksi. Lira tersenyum tipis atas dukugnan moril itu, setidaknya orang tak dikenal justru memberinya semangat untuk meneruskan hidup. Lira mengucapkan terima kasih dan meminta orang itu mengantarnya ke bandara. Lira tahu ini bukan keputusan bijak, namun dia harus melakukannya untuk saat ini.
__ADS_1
"Maaf Lex, mbak haus egois kali ini. Mbak harus lakukan ini untuk kebahagiaan kita semua. Mbak janji mbak akan kembali, tapi gak dalam waktu dekat ini, tunggu mbaak kembali ya," ujar Lira yang mengusap air matanya. Lira tak membawa apapun, namun dia membawa buku tabungan yang dia simpan, dia akan menggunakan tabungan itu untuk modal dan keperluan hidupnya di luar negeri.
*
*
*
Radith bangun dari tidurnya dan merasakan pusing luar biasa. Lelaki itu langsung terkejut melihat kondisinya. Dia berusaha mengingat apa yang sudah terjadi, namun dia sama sekali tak ingat karna kemarin dia mabuk berat ditambah efek obat yang membuat kesadarannya menurun.
Lelaki itu langsung mencari ponselnya, hal yang pertama dia periksa adalah cctv, bagaimana dia sampai ke kamarnya dan bagaimana dia dalam posisi tak berpakaian sama sekali. Dia pernah lebih mabuk daripada ini, namun dia tak sampai melepas semua pakaiannya.
Lelaki itu berlari keluar setelah memakai pakaian, berjalan ke arah customer service dan bertanya apakah dia bisa melihat rekaman cctv di lantainya dengan alasan sesuatu dalam kamarnya hilang. Mereka langsung percaya dan membawa Radith ke ruang keamanan agar bisa melihat rekaman cctv yang dia minta. Radith menahan napasnya karna dia takut.
Radith masih berharap semua yang dia ingat hanya mimpi, dan dia melepaskan semua pakaian karna gerah. Namun saat layar menampilakn seorang gadis yang masuk ke kamarnya. Napas lelaki itu tercekat. Kepalanya langsung pusing, bahkan dia harus berpegangan agar tidak terjatuh. Lelaki itu menghembuskan napasnya berkali – kali untuk menenangkan diri.
"Pak, minta tolong lihat juga buat rekaman pagi ini pak," ujar Radith yang diangguki oleh petugas itu. orang itu memutar sesuai permintaan Radith. Benar saja, dia melihat Lira keluar dari kamarnya dengan tangis di pipinya. Lelaki itu langsung berterima kasih dan kembali ke kamarnya. Dia mencari lagi ponselnya dan berusaha menelpon nomor Lira yang baru, namun nomor itu tak aktif.
__ADS_1
"Gak, gak mungkin. Gak mungkin Gue lakuin itu. Gue pantang ngerusak anak orang. Astaga, gak, gak mungkin, pasti dia Cuma masuk ke kamar gue, ngerawat Gue, udah," ujar Radith yang meremas kepalanya. Lelaki itu berjalan lagi ke kasurnya dan menyibakkan selimut.
"Mati Gue, kali ini Gue benar- benar tamat." Kini Radith tahu dia benar – benar tamat. Sprei kasurnya yang berwarna putih, kini beberapa bagian di sprei itu berwarna pink dan merah. Radith terduduk di lantai karna lemas. Dia merasa stres luar biasa setelah mendapatkan fakta ini. dia harus menemukan Lira secepatnya.
"Kalian, bagaimana bisa kalian kehilangan jejaknya? Dia pergi kemana? Cepat cari dia, kalian tidak berguna. Gue kasih waktu sampai jam dua belas siang, kalau Lo gak bisa temuin dia kepala kalian semua yang akan jadi bayarannya," ujar Radith penuh emosi. Dia kembali menundukkan kepalanya, baru kali ini dia merasakan takut yang luar Biasa.
"Kenapa Lo harus lari? Lo harusnya datang ke Gue, kasih semua bukti, peras Gue dan paksa Gue buat hidup sama Lo, kenapa Lo malah menghindar? Lo mau buat Gue merasa bersalah seumur hidup? Itu yang Lo mau? Lo mau balas semua sikap jahat Gue dengan cara ini Ra?" tanya Radith pada bayangannya di cermin besar yang berada di hadapannya.
"Gak, Gue gak bisa Cuma diam aja kayak gini. Kalau dia mau main kucing – kucingan, Gue bakal ikutin permainan dia. Gue bakal temuin Lo Lira, bahkan kalau harus sampai ke ujung samudra. Lo terlalu meremehkan Gue," ujar Radith yang kemudian pergi dari kamarnya.
Ponsel yang biasanya tak pernah dia perhatikan kini selalu ada di genggamannya. Pukul sebelas lebih lima belas, ponsel itu berbunyi dan Radith langsung engangkatnya. Akhirnya dia mendapatkan informasi dimana Lira berada. Dia segera pergi ke bandara, dan langsung menelpon orang lain lagi untuk menyiapkan tiket pesawat.
"Cepat siapkan tiket pesawat ke Australia. Aku harus pergi ke sana segera. Berikan empat tiket, aku harus membawa tiga rang bersamaku," ujar Radith yang langsung menutup pangilan. Dia menelpon orang terbaiknya dan meminta mereka untuk mengikuti dirinya. Dia harus segera menemukan Lira, dia takut gadis itu melakukan hal bodoh dan semua akan menjadi dosanya.
Radith dan tiga orangnya sampai ke negeri kanguru itu dan Radith segera memberi instruksi agar mereka berpencar dan harus menemukan Liora sebelum malam. Jika orang – orang itu gagal, mereka tahu persis apa yang harus kalian bayarkan. Radith sendiri langsung menanyakan kedatangan Lira ke petugas bandara.
Untung saja Radith memakai nama keluarga Wilkinson hingga dia bisa melihat apa yang sebenarnya tak boleh dia lihat. Dia jadi tahu Lira sampai ke tempat ini sekitar empat jam yang lalu. Makin sulit untuk menemukan gadis itu karna dia bisa ada dimanapun. Lelaki itu makin stres dan semua pikiran buruk itu makin menguasai otaknya.
__ADS_1
"Permisi,ijinkan saya bertanya, apakah anda tahu kemana turis pergi jika sampai ke negara ini? Atau dimana orang biasanya memulai untuk hidup baru seperti membuka bisnis?" tanya Radith menggunakan bahasa inggris dengan penduduk lokal, namun tak ada satupun yang tahu karna klue yang diberikan Radith sangat ambigu.
"Gue mohon, kasih kesempatan buat Gue ketemu sama Lo Ra, Gue mohon jangan biarkan Gue jadi cowok Bangst yang gak bertanggung jawab."