Bossy Bos

Bossy Bos
Chapt 110


__ADS_3

Teng teng teng teng teng.


Bukan desember tiba. Tayangan televisi dipenuhi dengan keceriaan natal. Baik film yang menceritakan rumahnya dirampok, bayi yang diculik namun selalu beruntung, bahkan seorang pria yang memiliki pabrik coklat ajaib lalu membiarkan anak anak bermain di sana. Yah, siapapun akan senang duduk di depan televisi dengan semua tayangan itu.


Begitu juga Sean dan Zia. Mereka duduk sambil melihat penjahat yang saat ini kepalanya terbakar oleh pematik api karna hasil kerja dari seorang anak berusia 8 tahun yang ditinggal di rumah sendiri sementara keluarganya berlibur. Mereka menatap kagum seorang anak yang tak kenal takut itu, mereka juga menatap gemas ke arah penjahat yang saat ini terkena sial.


"Papa, kenapa rumah kita gak pernah dimasuki oleh pencuri seperti itu?" Tanya Zia tanpa memalingkan pandangannya dari televisi. Radith terkekeh mendengar pertanyaan itu, mungkin Zia sudah lupa kejadian kayat anjing yang diletakkan di kamar mereka tempo hari, yah, bagus lah, karna kenangan seperti itu memang lebih baik dilupakan.


"Tentu saja karna kuta punya banyak pengawal, lihat, di sana pengawal, di sini pengawal, mana mana pengawal, semua ada pengawal, rumah ini penuh pengawal, tidak akan ada yang befani menjadi pencuri," ujar Sean yang diangguki oleh Radith, dia setuju, jika bukan pencuri yang profesional dan hanya ingin menerornya, tidak akan ada yang bisa masuk ke rumahnya.


"Eum, jadi kalau mereka swmua liburan seperti di film ini, apakah rumah ini akan kemalingan?" Tanya Zia lagi. Sean menggelengkan kepalanya, lelaki kecil itu seolah sudah bisa menggantikan tugas Radith dalam memberi penjelasan pada Zia. Lelaki itu senang ada Sean yang bisa membantunya dalam hal ini, dia jadi tak perlu repot untuk menjawab.


"Tidak mungkin, Papa punya banyak sekali pengawal, jika salah satunya sedang berlibur, maka ada satu yang menggantikan, tidak akan pernah sepi, kau bukankah harusnya sudah tahu hal itu? Kita sudah di sini cukup lama bukan?" Tanya Sean yang membuat Zia menggelemgkan kepalanya.


"Tentu saja tidak, Zia tidak pernah memperhatikan hal itu," ujar Zia yang membuat Radith akhirnya gemas dengan anak anaknya, padahal tidak ada hal yang imut atau lucu yang mereka katakan, namun Radith merasa mereka sangat menggemaskan, dia bahkan memeluk anak anaknya dengan gemas.


"Kalian memang anak anak papa yang paling papa sayang, kalian anak anak papa yang paling baik, paling pintar, paling papa sayang. Ah, sebentar, papa harus melihat kondisi mama kalian, karna mama kalian sudah memasuki bulan ke 8, pasti perutnya sudah mulai sakit dan badannya lelah," ujar Radith yang tiba tiba teringat jika istrinya sedang hamil tua.


Radith masuk ke kamar dan melihat Lira yang kesulitan memakai dasternya. Istrinya itu kesulitan memasukkan baju ke kepalanya. Radith yang melihat itu langsung berjalan cepat dan membantunya. Dia berusaha menjadi suami siaga dan sayang pada Lira, bahkan sejak Lira memasuki kandungan 7 bulan, lelaki itu sudah menggantikan semua tugad Lira, bahkan rela menjadi asisten pribadi wanita itu.


"Sayang, apa gak sebaiknya kita ke rumah sakit aja? Kamu dirawat di sana, biar kalau ada apa apa kan langsung dirawat sama dokternya," ujar Radith yang dijawab gelengan kepala oleh Lira. Dia tahu biaya rumah sakit akan membengkak jika dia terlalu dini sampai ke sana, bagaimana tidak? Perkiraan kelahiran masih 1 bulan lagi, kenapa dia harus ada di rumah sakit dalam waktu satu bulan?


"Nanti aja kalau udah kurang satu minggu dari perkiraan. Aku gak mau bosan di sana dan dijaga ketat sama pengawal, malu, enakan di rumah, aku bisa telanjang, bisa pakai daster aja begini, banyak, jadi aku gak bosan, aku gak papa kok, cuma pegal aja," ujar Lira yang membuat Radith berlutut dan memijat kaki istrinya.


"Surganya anak anak aku lagi direnovasi nih, jadi besar banget gini. Puji Tuhan lah, nanti anak anakku gak sempit sempitan di surga," ujar Radith yang membuat Lira mengerutkan keningnya, dan saat dia mengerti apa maksud Radith, wanita itu menendang muka Radith pelan, membuat Radith tertawa geli karna Lira terpancing olehnya.


"Jangan mancing emosinya orang hamil loh, kamu gak mau kan aku ngomong yang gak baik dan malah kejadian di anak kita? Aku mau anak aku terlahir sehat, utuh, cakep, bahagia, hidup makmur sampai akhir hidupnya," ujar Lira yang membuat Radith terkekeh. Dia tidak bisa marah meski Lira menendang wajahnya, dia hanya ingin Lira merasa nyaman.

__ADS_1


Lelaki itu kembali memijit kaki Lira, lalu duduk di belakang wanita itu dan memijit punggungnya, Radith tahu menjadi Lira sangatlah berat, dia tidak akan bisa membayangkan jika itu dirinya, pasti dia akan merasa sangat tersiksa, namun Lira, dia bahkan tidak mengeluh dan terus memuji bayi mereka setiap hari.


"Aku akan menyampaikan kalimat kalimat positif buat anak anak aku, terutama si dedek bayi, walau organnya belum berfungsi sempurna, aku tahu dia menyadari apa yang kita katakan, kadi aku sebisa mungkin mengatakan hal yang positif, apalagi saat usia kandungan aku cukup besar," ujar Lira yang selalu diingat oleh Radith.


Tak lama berselang, muncul Zia dan Sean yang masuk ke kamar Lira dan mulai ikut memijat Ibu mereka, mereka membagi tugas, Sean memijat kaki, Zia memijat tangan, lengan dan bahu, Sedangkan Radith memijat pinggangnya. Mereka membuat Lira merasa terharu dan senang memiliki keluarga seperti sekarang, dia adalah perempuan yang sangat beruntung, mungkin paling beruntung? Karna diperlakukan seperti Ratu oleh keluarganya.


"Ah, sayang sayangku sekalian, kalian sudah menulis harapan kalian kan ya kemarin? Kalian mau tulis apa emangnya? Kalian minta apa ke santa?" Tanya Lira yang membuat Sean dan Zia mengangguk, namun mereka tidak mau memberi tahu Lira dan Radith apa harapan mereka dan apa benda yang mereka inginkan sebagai hadiah.


"Tadi pagi Sean sudah lihat di bawah pohon natal, celengan Sean dan Zia sudah hilang, pasti pengawalnya santa klaus sudah datang untuk ambil surat itu dan besok saat natal akan datang membawakan hadiah yang menjadi pesanan Sean, semoga saja uangnya tidak kurang," ujar anak itu yang membuat Lira makin gemas, padahal memang Radith yang mengambil celengan mereka dan membelikan apa yang mereka inginkan.


"Mami juga mau buat keinginan ah tahun depan kalau nanti keinginan Sean dan Zia terkabul," ujar Lira yang melirik ke arah Radith. Lelaki itu hanya mengulum bibirnya dengan lucu dan menatap Lira dengan wajah datarnya.


"Mami mau minta pesawat terbang dan... aahhh"


Lira tiba tiba memegang perutnya yang terasa sangat kram, seperti ada sesuatu yang memukul dari dalam, namun sangat kuat.


"ASTAGA!'ITU AIR KETUBAN! YANG! KAMU MAU MELAHIRKAN!" Teriak Radith dengan heboh dan segera mengendong Lira untuk dia bawa ke rumah sakit.


Radith memanggil anak buahnya untuk mengambil mobil agar dia bisa membawa Lira ke rumah sakit. Radith menggendong Lira dan dan membawa istrinya untuk pergi ke Teras. Dia memanggil asisten rumah tangga dan juga memanggil pengaruh Sean dan Zia agar segera bersiap. Radith sudah panik dan bahkan tidak bisa berpikir Jernih.


"Tuan, tuan harus tenang, kita bawa nyonya Lira masuk ke dalam mobil dan membawanya pergi ke rumah sakit. Mba Beta dan mba Alfa, tolong jaga Sean dan Zia, nanti tuan Andre akan datang ke sini untuk menjemput Zia danSean bertemu dengan mamanya. Ayo tuan," ujar A yang langsung diangguki oleh Radith. lelaki itu mengikuti A untuk masuk ke dalam mobil.


"Mami, mami kenapa mba? Apa mami akan melahirkan dedek bayi? Apakah adik Sean akan lahir hari ini?" Tanya Sean yang tentu membuat mba Beta dan mba Anna juga bingung. Mereka hanya masuk ke dalam kamar Sean dan membawa dua pasang baju untuk Sean dan Zia, sementara Sean dan Zia masih tidak tahu harus melakukan apa.


"Sean dan Zia kalian pakai sepatu kalian ya, nanti kalau Om Andre datang, kita berangkat ke rumah sakit untuk bertemu sama mami dan dedek bayinya, ayo, kalian pakai sepatu dulu," ujar Mba Anna yang diangguki oleh keduanya. Sean dan Zia langsung berlari ke kamar mereka, memilih sepatu yang mereka ingin pakai dan kembali ke mba Anna.


"Apa mami akan baik baik saja? Papi terlihat panik sekali, papa terlihat khawatir," ujar Sean yang membuat Mba beta tersenyum tipis, wanita itu segera memeluk Sean dan Zia untuk menenangkan mereka, sementara Mba Anna membawa sedikit mainan agar mereka tidak bosan saat di sana. Mereka tidak tahu akan berada di sana berapa lama, jadi lebih baik mempersiapkan dulu.

__ADS_1


"Mami akan baik baik saja, karena kan ada papanya Sean, kalau mami sama papanya Sean, pasti semua baik baik saja, Mba Beta bisa jamin hal itu, jadi Sean tenang saja ya, kita mau ketemu sama dedek bayinya, udah dibawa semua belum barang kalian? Nanti sudah loh ambilnya kalau ada yang ketinggalan," ujar Mba beta yang membuat sean dan Zia menggelengkan kepalanya. Mereka sudah membawa semua barang yang diperlukan, yah, hanya diri mereka dan kantong berisi permen.


Tak lama berselang, Andre datang ke rumah mereka dan langsung melihat ke arah Sean dan Zia. Dia tampak terburu buru, sepertinya anak buah Radith langsung memberitahukan hal itu padanya dan dia langsung pergi ke rumah Radith untuk melakukan tugasnya. Padahal di kantor dia jugs masih memiliki banyak pekerjaan, namun dia tetap harus melakukan apa yang Radith minta.


"Sean dan Zia sudah siap? Kalau sudah kita pergi sekarang saja ayo, kita akan lihat adik kalian yang sudah pasti lucu," ujar Andre yang diikuti oleh Sean dan Zia. Mereka masuk ke mobil Andre dan Andre langsung melajukan mobilnya. Mba Annda dan Mba beta duduk di tengah bersama Zia, sementara Sean ada di depan bersama Andre. Andre terlalu tegang sampai tidak kepikiran untuk mengajak ngobrol sehingga suasana mobil hening sampai mereka sampai ke rumah sakit.


"Nak, kalian sama mba Beta dan Mba anna turun dulu, langsung saja cari pengawal papa kalian ya, om andre mau nyari tempat parkir dulu, nanti Om nyusuk juga. Oke?" Tanya andre yang diangguki oleh Sean dan Zia. Lelaki kecil itu segera turun dari mobil, begitu juga Zia dan dua pengasuh mereka.


"Tuan muda, nona muda, silakan lewat sini, tuan besar Radith ada di dalam sini," ujar seseorang yang Mereka langsung tahu itu adalah pengawal. Sean dan Zia segera berjalan cepat mengikuti pengawal itu, mereka langsung sampai di deoan ruang bersalin, sepertinya belum terlambat bagi Lira untuk melahirkan secara normal. Radith ada di dalam sana, sementara anak anak menunggu dengan sabar di luar. Sean dan Zia mendengar teriakan Lira yang sepertinya sangat kesakitan.


"Apakah mami kesakitan? Kenapa mami sampai berteriak seperti itu? Kenapa mami sampai berteriak seperti itu? Apakah mami akan baik baik saja?" Tanya Sean yang diangguki oleh Mbak Anna. Wanita itu mengajak Sean untuk duduk di pangkuannya agar anak itu bsia nyaman. Anna menyenderkan kepala Sean ke pundaknya, membuat Sean menurut saja.


"Untuk melahirkan seorang anak ke dunia, untuk membuat dedek bayi lahir, seorang Ibu, yah, mami Sean ini harus merasakan sakit yang luar biasa nak, perjuangan mami sangat besar untuk mengeluarkan dedek bayi dari perut mami, namun hal itu sangat sebanding dengan cinta mami untuk dedek bayi, jadi mami akan rela untuk sakit," ujar Mbak Anna yang membuat Sean berwajah kesal.


"Kalau begitu, Sean tidak suka dengan dedek bayi, dedek bayi itu jahat Mbak, kalau dia tidak jahat, dia tidak mungkin membuat mami jadi sakit begitu. Dedek bayinya nakal, Sean tidak suka lagi dengan dedek bayi," ujar Sean yang membuat mbak Anna mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Eum, begini sayang, kalau Sean bilang dedek bayi jahat, apakah menurut Sean, Sean ini anak yang nakal dan Jahat? Tidak kan? Sama dengan dedek bayi, dulu Sean juga begitu nak, mami Sean sangat berjuang untuk Sean bisa ada di dunia ini, ya sama seperti ini, jadi Sean harus baik dan sayang sama Mami, jangan jadi anak yang jahat," ujar Mbak Anna yang membuat Sean menatapnya.


"Apakah Sean juga seperti itu? Apakah Mami juga sangat kesakitan saat melahirkan Sean? Apakah Artinya Sean bukan anak yang baik? Sean tidak mau lahir jika harus membuat mami kesakitan seperti itu, apakah Sean membuat mami seperti itu?" Tanya Sean yang diangguki oleh mbak Anna.


"Sean anak yang baik, anak yang pintar, anak yang ganteng. Mami Lira memang harus merasakan sakit saat melahirkan Sean ataupun dedek bayi, namun jika itu bisa membuat Mami Lira melihat anak yang tampan dan pintar seperti Sean, pasti mami bahagia. Mami sangat bahagia memiliki Sean," ujar Mbak Anna yang membuat Sean terdiam.


"Kalau begitu, Sean tahu siapa yang jahat, Sean tahu siapa yang nakal," ujar Sean dengan wajah yang sangat serius, tentu saja hal itu membuat Mbak Anna penasaran, apa yang akan dikatakan oleh Sean? Anak ini sangat ajaib dan selalu mengatakan hal di luar ekspetasinya.


"Papa! Papa yang nakal!" Ujar Sean dengan lantang dan yakin, tentu saja hal itu membuat 3 orang yang ada di sana mengerutkan keningnya, tidak mengerti kenapa Sean menyebut Radith lah yang nakal di sini.


"Ya! Yang nakal itu Papa, karna waktu itu mama bilang, Papa yang sudah membuat Mama menggendong dedek bayi, berarti kan semua karna papa, kalau papa tidak nakal, mami tidak perlu merasa sakit," ujar Sean yang membuat Mbak Anna dan mbak Beta melongo.

__ADS_1


"Astaga, kamu pintar ya nak, hahahaha," tawa Mbak Anna pecah di tengah rasa tegang yang ada di sana, mbak Anna tak menyangka Sean akan kepikiran sampai ke sana.


__ADS_2