
Setelah acara selesai, Radith langsung meninggalkan tempat acara tanpa mengajak bicara siapapun karna dia tak mau orang itu meminta maaf atau membuat alasan untuk kesalahannya. Dia akan merasa kasihan dan malah memaafkan orang itu, Radith langsung meminta untuk bertemu dengan Direktur perusahaan dan mereka berjanji untuk bertemu di perusahaan itu sebelum Radith bernar benar pergi dari sana.
“Aku tadi ngelihat wajah Ibu ibu itu dan rasanya kasihan banget dith, dia kayak lemas sambil neglus perutnya, aku jadi ngerasa bersalah gitu udah bikin dia begitu. Tapi dia juga salah sih, kenapa coba nyenggol aku sama kamu, aku jadi kayak bingung mau ngapain,” ujar Lira yang membuat Radith mengangguk, dia tahu Lira memilki hati yang lembut, dia akan memaafkan orang dengan mudah meski orang itu menyakitinya.
“Kalau kita langsung maafkan dia, dia gak akan pernah belajar dari kesalahannya. Jadi, aku bakal cari cara biar dia tetap dihukum dengan manusiawi, aku juga sebenrnya gak mau bawa masalah pribadi ke perusahaan, tapi aku gak bisa biarkan pegawai aku punya karakter yang sebusuk itu apalagi sama aku. Besok aku mau ketemu sama direkturnya buat memastikan sesuatu, setelah itu baru aku kasih tahu rencana aku ke kamu.”
“Kamu mau mindahin dia terus menurunkan pangkatnya kan? Aku setuju kalau memang begitu sih, gak kejam, tapi dia juga belajar,” ujar Lira yang diangguki lagi oleh Radith, tentu saja Lira mengerti isi pikirannya, Lira sudah menjadi bagian dari hidup Radith selama bertahun tahun, Lira tahu kemana Radith akan melangkah hanya dengan menatapnya atau menyimak apa yang Radith katakan.
“Ah, kita jemput Lira sama Sean dulu aja, aku udah kangen sama mereka,” ujar Radith yang diangguki oleh Lira. Mereka pergi ke hotel tempat Sean dan Zia bermain, memerlukan waktu setengah jam untuk sampai ke sana. Radith menggunakan waktu itu untuk tidur di paha Lira yang masih memakai gaun, membuatnya merasa hangat dan nyaman. Lira sendiri mengelus kepala suaminya dengan lembur agar dia bisa tidur dengan nyenyak.
“Suami rasa anak check,” ujar Lira yang memainkan wajah Radith namun pelan agar lelaki itu tidak terganggu, namun Radith adalah orang yang bisa mendengar atau merasakan sesuatu meski hanya sedikit atau pelan, jadi dia tahu apa yang sedang Lira lakukan. Dia tahu Lira sedang memainkan hidungnya untuk didekatkan pada hidung gadis itu. Eh terbalik, Hidung Lira yang didekatkan ke hidungnya. Radith merasa geli mendapat perlakuan itu. Dia ingin memberikan kasih sayang pada wanita itu juga.
Radith segera membuka mata dan mencium bibir wanita itu, Lira terkejut dan tidak bisa melakukan apa apa. Dia hanay terdiam, namun Radith segera bangun dan mencium Lira lebih lekat lagi, membuat wanita itu terkejut dan meronta. Dia hendak melepaskan Radith, namun lelaki itu menahannya dan sampai napasnya bahkan memburu ingin mengejar sesuatu dari Lira, sesuatu yang sudha dia tahan sekian lamanya.
“Tolong aku,” lirih Radith dengan parau. Lira merasa kasihan padanya dan tangannya otomatis bergerak mengikuti nalurinya. Dia menggerakkan tangannya di atas celana lelaki itu, membuat Radith mengerang tertahan. Dia menutup jendela yang menghubungkan mereka ke supir, dan Lira langsung mengeluarkan adik kecil yang sudah membesar itu. dia memegang dengan tangannya dan mulai mendekatkan kepalanya seperti yang dia lihat di film kala itu.
“Kamu belajar dari mana? Kita gak pernah gini loh?” tanya Radith heran namun juga keenakan. Lira terkekeh dan melihat ke arah jam, ada 15 menit sebelum mereka sampai ke sana, jadi dia akan membantu Radith mengeluarkan semua sebelum 15 menit. Radith anya diam dan membiarkan lira yang bekerja meski dia penasaran darimana Lira belajar, namun dia memilih untuk konsentrasi dulu agar dalam 15 menit mereka sudah selesai dengan urusan ini.
10 menit kemudian, Radith merasakan ada sesuatu yang akan meledak dari dalam tubuhnya, dia mengerang dan secara reflek menahan kepala Lira di sana, membuat gadis itu mau tak mau menerima cairan putih dalam mulutnya. Dia hendak memuntahkannya, namun akhirnya dia menelan sebagian karna takut terserak. Radith berusaha menarik napas meski tersenggal-senggal. Dia merasa beban di tubuhnya sangat berkurang.
Radith melihat penampilan Lira yang snagat berantakan, dia jadi merasa kasihan dan mengambilkan lira tissue untuk membersihkan wajah dan tubuhnya yang terkena cipratan cairan itu. Radith mencium bibir Lira setelah dia selesai membersihkan wajahnya, Lira tampak jauh lebih berseri dari biasanya, dia baru tahu Lira memiliki sisi seperti ini dalam tubuhnya, tentu saja Radith sangat menyukai hal itu.
“Makasih banyak, kamu udah mau melakukan hal yang menurut aku agak menjijikan gini buat bantu aku. Semoga dedek ini bisa lahir dengan sehat ya, sebagai tanda pengorbanan papanya yang udah nahan nahan selama berbulan bulan. Tapi aku masih penasaran, kamu belajar dari mana sampai bisa begitu? Gak kena gigi sama sekali pula, kayak udah ahlinya.”
“Lima tahun aku gak sama kamu, ya aku mau gak mau main sendiri lah, aku juga udah jadi perempuan beranak satu yang punya hasrat juga. Jadi aku ya lihat video sambil main sendiri. Kamu tenang aja, aku gak pernah sama cowok lain, ini aku murni otodidak dari nonton dan praktek sendiri. Ah, aku malu kalau bahas ini, udah, kamu buruan pakai tuh celana bentar lagi nyampe,” ujar Lira yang membuat Radith terkekeh.
__ADS_1
Mereka merapikan penampilan mereka dan Lira juga menyemprotkan parfume ke tubuhnya dan tubuh Radith yang berbau tak enak, bau khas cairan putih itu, tercampur dengan bau keringat, dia tak mau Sean dan Zia menanyakannya dan malah membuat mereka bingung harus menjawab apa. Radith dan Lira sudah berpakaian dengan rapi dan wangi saat mereka sampai di sana untuk membawa Sean dan Zia pulang.
“Ah, ada apa ini? Kenapa kalian ada di sini?” Tanya Lira yang membuat Sean langsung berhambur ke arahnya. Lira bingung dan bertanya pada suster dan suster itu pun menceritakan kejadian yang dialami oleh Sean dan Zia.
“Apa kau menyesal sudah melakukan itu?” tanya Lira pada Sean yang diangguki oleh anak itu.
“Apa di masa depan, kau akan emndengarkan apa yang Mbak Anna katakan tanpa membantah jika itu merupakan hal yang baik?” tanya Lira lagi. Sean menangguk dan mengacungkan jari kelingkingnya untuk berjanji. Lira menggapai kelingking itu dengan kelingkingnya dan mengusap kepala Sean dengan penuh kasih sayang.
“Lima juta harga yang cukup mahal untuk mendidik karakter kamu, tapi bagi mami itu gak masalah selagi kamu terus belajar hal baru, terutama jika kamu tahu, tidak baik melakukan hal itu lagi di masa depan. Mami akan lihat perubahan sikap kamu ke depannya. Sekarang kamu gak usah sedih lagi, Mmai memaafkan kamu,” ujar Lira yang membuat Sean mendongakkan kepalanya menatap ke arah Lira.
“Terima kasih Mami, Sean tidak akan melakukan hal ini lagi, Sean berjanji,” ujar anak itu yang diangguki oleh Lira. Lira juga memeluk Zia agar gadis kecil itu tahu, Lira juga mencintainya dan memaafkannya karna Zia dan Sean adalah anaknya.
“Udah, kalian sudah makan? Kalau belum, ayo semua makan di luar aja sekalian check out, Mbak Anna sama Mbak Beta juga, kalian gak puasa kan? Atau ada alergi makanan gak?” tanya Radith pada kedua suster anak anaknya.
“Tidak pak,” jawab mereka bersamaan.
Di tempat makan, Radith dan Lira hanya memesankan makanan untuk mereka semua karna Radith dan Lira sudah kenyang. Lira belum sempat berganti baju sehingga dia merasa sedikit malu harus memakai baju pesta seperti itu. Untung saja Radith juga memakai Jas yang senada, jadi mereka seperti sedang merasakan sesuatu di restoran keluarga ini.
Sean dan Zia makan dengan lahap. Mbak Anna dan Mbak Beta juga menikmati makanan yang sudah disediakan dengan nikmat. Mereka merasa bahagia bisa bekerja di keluarga Radith yang sangat baik dan memperlakukan mereka dengan hormat, dia menganggap mereka bawahan dan bahkan mereka makan di tempat yang sama di saat yang sama.
Pemandangan seperti itu sudah biasa dilihat, bahkan di rumah pun, mbak Anna dan Mbak Beta selalu makan bersama, Lira malah yang meminta mereka juga ikut makan bersama karna biasanya Radith keluar paling akhir, jadi mereka bisa memulai makan dulu dan Radith akan mulai makan saat mereka sudah selesai dan mengurusi Sean dan Zia, barulah Lira menemani Radith makan di meja itu.
"Kalian kalau mau nambah, gak papa loh nambah aja, saya sama bapak udah makan tadi, jadi gak makan lagi. Atau kalian mau bungkus buat di rumah, juga gak masalah," ujar Lira yang diangguki oleh mereka. Tentu saja mereka merasa segan melakukannya, mereka hanya menghabiskan makanan mereka dan tak lupa mengucapkan terima kasih lalu membantu Sean dan Zia untuk makan agar lebih cepat habis.
"Dith, liburan ini kita mau kemana? Aku merasa bosan di sini, pengen cari suasana baru. Dilu sih bahagia banget pas pindah, ngebayangin tiap haro liburan di pantai, eh sekarang juga jenuh banget pengen nyari suasana baru, atau paling gak ya pantai di daerah lain gitu Dith, kan seru tuh," ujar Lira yang membuat Radith menengok.
__ADS_1
"Eum, kita belum pernah ke Raja Ampat kan? Sean sama Zia kalau papa ajak ke Raja Ampat mau gak? Di sana ada banyak hal yang bagus dan menarik, Sean sama Zia pasti suka di sana. Kalau kalian mau, Papa bawa kalian semua ke sana," ujar Radith yang tentu diangguki oleh Lira. Dia juga belum pernah pergi ke sana.
Lira dan Radith sudah menjelajah pulau Bali, Lombok, dan Pulau Jawa, selain itu mereka hanya pergi ke luar negeri seperti Singapura atau Australia untuk berlibur. Namun banyak waktu mereka gunakan untuk bekerja, terutama Radith, jadi Lira dan Sean hanya mengelilingi pantai pantai yang ada di pulau Dewata ini. Radith sendiri menyadari hal itu dan ingin menyusuri semua wilayah di Indonesia untuk dikunjungi.
"Andre masih liburan, aku gak berani bawa pengawal selain tim Andre kalau kita liburan. Menurut kamu aman gak di sana? Kalau niat liburan malah jadi petaka sih aku gak mau Ra," ujar Radith yang tentu membuat mbak Anna dan Beta bingung, mereka tidak pernah mendengar percakapan seperti itu sebelumnya. Namun mereka diam saja dan menyimak apa yang Radith dan Lira bicarakan.
"Gak usah bergantung sama dia, kamu kan punya pengawal sendiri sih sayang, ya kamu bawa aja pengawal kamu lah, ditambah 4 berarti buat mengawal Sean, Zia, mba Anna sama Mba Betta, terus aku dan kamu, aman pasti. Kamu kan udah gak kerja sama om Smith, jadi gak ada lah yang mau bikin onar," ujar Lira yang tetap menyembunyikan apa pekerjaan Radith di hadapan Anna dan Beta.
"Mbak Anna sama Mbak Beta kalau diajak liburan ke Raja Ampat mau gak? Atau mau ambil cuti buat liburan sendiri?" Tanya Lira yang tak lupa menawari suster anak anaknya, karna kehadirqn mereka tentunya sangat membantu Lira.
"Tetap dihitung hari kerja, karna kan kalian tetap kerja menjaga dan mengurus dua anak ini, jadi ya gaji kalian utuh, ditambah bisa liburan. Gimana? Enak kan?" Tawar Lira yang terkekeh karna merasa konyol sendiri menggunakan cara itu untuk menarik perhatian mereka agar bisa ikut.
"Tapi apa gak papa Bu? Pak? Kami merasa tidak enak baru bekerja sebentar sudah diajak ke Raja Ampat. Saya lihat tiketnya juga tidak murah, kami yang merasa tidak enak," ujar orang itu yang membuat Lira menghela napasnya. Mereka hanya memikirkan sesuatu yang tidak perlu. Jika uang adalah masalah bagi Radith, mereka tidak akan menyewa suster untuk merawat Sean dan Zia.
"Gak masalah, kan kalian kerja dan kami yang menawari, jadi ya kalau mau ikut, ya ikut aja. Masalah akomodasi gak usah dipikirkan, kalian hanya perlu membawa keperluan pribadi. Sama kayak biasanya aja, tapi ya pasti lebih lelah, karna biasanya mereka hanya diam di kamar, sekarang kalian harus menjaga mereka di luar ruangan. Kalau kalian oke, ya kita berangkat."
Anna dan Beta tak mungkin melewatkan tawaran itu, mereka memilih untuk ikut dalam liburan ini. Radith langsung menelpon salah satu orangnya dan meminta mereka menyiapkan segala keperluan sehingga dia hanya perlu berangkat dan bersiap untuk keperluan pribadi. Radith akan mengeluarkan banyak sekali biaya karna pengawal saja jauh lebih banyak dari mereka, dia harus memberi makan pengawal itu selama di sana
"Kita sewa Villa atau semacamnya aja ya, kita berenam satu rumah, pengawal satu rumah, jadi gak begitu boros daripada nyewa hotel, kayaknya di sana lebih mahal," ujar Radith yang langsung diangguki oleh Lira.
"Terserah mau gimana, yang penting aku liburan ke Raja Ampat, kita semua liburan ke Raja Ampat," ujar Lira senang sambil menatap ke arah kedua anaknya.
"Sean udah gak sabar mau liburan, tapi sebentar lagi ada ujian Mi," ujar Sean yang diangguki oleh Zia.
"Sean dan Zia kan pandai, kalian pasti bisa melewati ujian dengan baik, tapi ya itu, kalian tetap harus belajar, pasti nilainya baik," ujar Lira yang membuat Sean dan Zia semangat.
__ADS_1
"Oke Mami, Sean akan berikan yang terbaik!" Seru anak itu dengan riang.