
Radith bersyukur saat ini Zia sudah sangat dewasa, bahkan lebih dewasa dari yang seharusnya. Gadis kecil itu mengerti kenapa mamanya meninggal dan kenapa radith masih menyayanginya seperti itu. gadis itu juga tak pernah menanyakan lagi soal Gresselyn yang entah dimana lagi baginya. Dia sudah cukup mengerti, jika orang itu tidak ada di sini, itu berarti orang itu jahat dan terlalu berbahaya ada di sini.
“Zia mau makan sama Papa gak? Zia mau makan apa?” tanya Radith saat mereka sudah ada di dalam mobil. Zia tampak berpikir, sebenarnya dia sedang tak ingin makan apa apa, namun akhirnya dia ingin makan di restoran cepat saji keluarga yang cukup terkenal di setiap negara. Yah, si bapak ayam, semua orang pasti sudah tahu restoran itu.
“Yah, bagus, oke kita ke sana, tapi Zia jangan makan terlalu banyak ya, Papa takut nanti Zia malah batuk atau sakit, karna kan kita gak tahu ayam cepat saji itu prosesnya bagaimana kok bisa cepat,” ujar Radith yang diangguki oleh Zia. Mereka pergi ke outlet terdekat dan langsung memesan seperti yang Zia ingingkan. Anak itu langsung memesan ayam, nugget dan burger, membuat Radith memandangnya dengan senang, tentu saja dia bahagia jika anaknya bisa makan dengan baik tanpa memilih milih makanan.
“Zia yakin bisa makan segitu banyak? Papa gak mau bantu loh kalau Zia gak habis, pokoknya harus habis ya nak, di restoran ini 24 jam, jadi nanti Papa bakal tunggu sampai Zia selesai makan baru kita pulang,” ujar Radith yang membuat Zia menatapnya kagum. Zia langsung melihat menu yang ada di sana. Dia membayangkan bisa membeli semua menu yang ada di sana.
“Apa kalau Zia boleh beli lagi, Zia bisa membelinya Pa? Zia boleh membeli apapun yang Zia mau?” tanya Zia dengan senang, Radith tentu saja terkejut, niat hati ingin menakut nakuti Zia malah membuat gadis kecil itu semakin senang karna bisa makan sepuasnya, meski Zia makan sepuasnya, Radith juga sanggup untuk membayar semua, jadi dia tak perlu khawatir akan hal itu.
“Enak ya Zi? Zia suka banget ya makan di sini? Kalau papa sih lebih suka makan di restoran yang mahal dan mewah, bukan di sini, kalau di sini enak sih, tapi gak begitu enak juga,” ujar Radith yang hanya di O kan saja oleh Zia karna dia tahu, makanan yang dipilih papanya emamng akan selalu enak, namun dia senang ingin makan makanan tak sehat ini, jika dia makan makanan yang enak namun tidak sesuai dengan keinginannya, tetap saja rasanya menjadi tak enak.
“Papa, dedek kecil akan lahir kapan? Apakah dedek kecil akan lahir sebentar lagi? Perut mami sudah semakin besar, apakah dedek kecil juga jadi besar di dalam sana?” Tanya Lira sambil memakakan Nugget dengan pelan. Dia akan menghabiskan satu menu sebelum memakan menu lainnya agar tidak terbuang, dia juga tidak suka membuat makanan tercecer, jadi dia akan memakannya pelan pelan denganr api, untuk menghargai orang yang ada di hadapannya ataupun orang yang membersihkannya.
“Kenapa papa tidak beli? Apakah papa mau makan punya Zia saja?” tanya Zia yang membuat Radith mengangguk lalu Zia memasukkan satu potong nugget ke mulut Radith. Membuat lelaki itu merasa nikmat dan langsung menelannya saat baru beberapa kali dia kunyah. Sepertinya dia akan menyetok nugget di rumahnya jika tahu Zia dan Sean sangat menyukai benda ini, meski Lira tak akan setuju karna Lira menganggap bahan bahan yang digunanakan kurang sehat, terlebih itu adalah makanan beku, makin tak sehat lagi.
“Papa udah kenyang dengan melihat Zia makan, jadi Zia makan aja yang banyak ya,” ujar Radith yang diangguki oleh gadis kecil itu. gadis kecil itu mempercepat tempo makannya agar tidak bosan dan otaknya merespon kenyang. Dia mengambil burger lalu menggigitnya kecil kecil karna dia tak sanggup jika harus memasukkan semua ke mulut kecilnya.
“Eum papa, sepertinya Zia sudah kenyang. Tapi masih ada ayam yang tersisa, apakah kita bisa membungkusnya untuk di jalan? Zia sudah merasa bosan makan di sini, jadi Zia merasa kenyang,” ujar gadis itu yang membuat Radith tertawa, gadis itu sungguh takut jika mereka akan berada di tempat ini dalam waktu yang lama hanya karna Zia yang belum menghabiskan makanannya.
“Ya sudah, kamu tunggu di sini saja, papa mau minta kantong makanan. Apakah kamu mau dibelikan es krim atau minuman lain lagi?” tanya Radith yang diangguki oleh Zia, gadis kecil itu ingin memakan Es krim yang lezat, jadi dia meminta Radith untuk membelikannya. Gadis kecil itu menunggu dengan sabar sampai Radith kembali dengan dua gelas es krim yang satu berisi stoberi, yang satu coklat, dia pikir Zia menyukai stoberi, jadi dia membelikan gadis itu rasa stoberi.
__ADS_1
“Zia mau yang coklat Pa, Zia suka sekali dengan es krim coklat,” ujar Zia yang tentu membuat Radith memberikan miliknya, tak mungkin dia membiarkan Zia untuk berebut es krim dengannya. Lebih baik dia mengalah, namun dia tahu rasa es krim stoberi sangat tidak enak bagi lidahnya. Dia melihat ada seorang anak kecil yang seperti tuna wisma ada di depan pintu.
Dengan langkah cepat Radith langsung menghampiri orang itu dan memberikannya es krim. Anak itu sangat senang dan berterima kasih pada Radith. Lelaki itu merasa tersentuh dan mengajak anak tuna wisma itu untuk ikut dengannya. Radith meminta anak itu untuk memesan dan Radith yang membayarnya. Anak itu mengucapkan terima kasih dan menunggu makanan datang di hadapan mereka. Radith sendiri membantu dengan membawakan nampan ke anak itu untuk duduk di sebelah Zia.
“Kamu? Kamu anak yang kabur waktu itu kan dari bang Ron? Kamu sekarang ada di sini? Wah, apa kamu sudah diadopsi oleh tuan muda ini? Kamu beruntung!” Radith melihat mereka sudah mengenal, mungkin saat itu Zia dijual ke pengepul pengemis, ada anak ini juga dan saat Zia sudah kabur, dia berpisah dari anak itu. sepertinya anak itu mengira Zia menjadi pengemis karna orang tuanya sudah meninggal atau pun dirinya dibuang, meski tak berguna juga menjelaskan panjang lebar pada anak itu.
“Hai, Om ini papa kandungnya Zia, jadi Zia bukan anak adopsi. Om sudah jadi kemana mana namun Zia yang diculik tidak bisa ditemukan. Saat Om sudah menemukan dia, kami pindah ke rumah kami di Bali dan tinggal di sana, jadi kamu mungkin sudah lama tidak melihat Zia,” ujar Radith dengan lembut agar anak itu tidak takut padanya. Radith tidak mau Lira merasa minder atau dikenal sebagai anak pungut, jadi dia harus meluruskan hal itu.
“Ah, jadi Zia adalah anak yang hilang. Kasihan sekali kamu. Kebanyakan dari kami adalah anak yang sudah tumbuh di jalanan. Ada yang sudah dari bayi dibuang, ada yang diletakkan di panti asuhan namun oleh Ibu panti tidak dirawat dengan baik, ada juga yang tadinya hidup dengan baik, namun kecelakaan merenggut nyawa orang tuanya jadi dia harus hidup dengan buruk di jalanan. Kamu beruntung, kamu hilang dan kamu dicari, serta ditemukan, kamu pasti anak yang baik.”
“Kenapa kamu pikir aku anak yang baik?” tanya Zia pelan. Anak itu menangguk yakin, dia ingin Zia tahu bahwa gadis kecil itu sangat berharga bagi keluarganya dan Zia akan selalu jadi seperti itu jika dia menjadi anak yang baik bagi keluarganya, anak itu ingin Zia tahu, seberat apapun cobaannya, akan jau lebih berat mereka yang tak ada di tempatnya sekarang.
“Kalau kamu bukan anak yang baik, kamu tidak akan dicari, tidak akan dikhawatirkan. Kamu harus tumbuh menjadi anak yang cerah dan tentu tidak mudah putus asa. Kamu adalah temanku yang masih sangat baru, namun apa yang kamu ajarkan padaku tidak pernah membuatku lupa.”
“ya, kami semua ditangkap, namun kami semua takut dan Zia tidak. Anak itu tidak mau ada di sana meski sudah diberi makan dan bahkan disiksa jika mereka berani kabur, namun Zia tak takut, dia tetap kabur dan akhirnya tidak pernah tertangkap lagi. Setelah itu ada orang datang menyelamatkan kami, tapi orang orang itu hanya membiarkan kami bebas, sedangkan kami tidak bisa apa apa kecuali mengemis.”
“Walau hasilnya lumayan Om, bisa buat beli makan, yah bukan makan mewah begini, tapi tetap saja menyenangkan. Uang yang aku dapat hari ini, aku akan menyumbangkannya semua ke masjid di dekat sini,” ujar anak itu yang tentu membuat Radith mengerutkan keningnya.
“Semua? Bukankah kamu juga membutuhkannya untuk kehidupan kamu? Kamu juga perlu untuk makan atau apa, tapi kamu mau memberikan semuanya?” tanya Radith tak menyanga ada anak yang seperti itu. bahkan anak lain akan memilih untuk membeli mainan dibanding dengan menyumbang ke tempat ibadah.
“Karna harta tidak dibawa mati om, walau saya masih kecil, saya juga harus menyiapkan bekal untuk surga nanti, itu yang saya dengar dari ustad tempat masjid yang saya ingin sumbang. Dia dan mereka yang ada di sana sangat baik, walau saya Cuma punya segini, saya rasa itu sudah sangat besar, karna saya memberikan semua yang saya punya, saya memberi dari kemiskinan saya.”
__ADS_1
“Kamu sungguh mulia ya, Om tidak pernah mengira ada anak yang memiliki pikiran seperti kamu ini, kamu harus belajar yang rajin dan membanggakan mama papa kamu, atau paling tidak membanggakan Om,” ujar radith yang membuat anak itu meringis.
Radith melihat dari kejauhan, ada beberapa orang yang bergerombol. Dia langsung menghampiri, takut terjadi sesuatu.
“Astaga, kasihan sekali dia masih muda, namun sudah meninggal dalam keadaan seperti ini. Sepertinya dia habis kecelakaan dan tidak diobati, jadi infeksi, astaga,” ujar orang orang yang entah mengapa membuat tubuh Radith berpacu cepat.
“Permisi, boleh saya lihat anaknya? Permisi permisi,” ujar Radith yang langsung lemas seketika. Itu adalah anak yang sama, anak yang tadi ada di dalam bersamanya dan anak yang memberikan nasehat baik untuknya. Bagaimana bisa? Bagaimana anak itu ada di sini dalam kondisi seperiti itu?
"Ya Tuhan, nak, kamu kenapa nak? nak?" Radith mencoba membangunkan anak itu namun tidak bisa. Anak itu sudah meninggal bahkan tubuhnya mulai dikerubung lalat, sepertinya anak itu sudah ada di sana untuk waktu yang lama. Entah kapan dia meninggal. Radith menengok ke arah restoran itu dan hanya ada Zia di sana. Dia langsung meminta orang orang memasukkan jasat orang itu ke Mobilnya dan dia akan membawa anak itu ke rumah sakit.
"Zia, Zia di sini dulu sama pengawal papa nanti kamu nyusul ya ke sana. Papa mau bawa teman kamu ke rumah sakit," ujar Radith cepat dan langsung pergi dari sana. Dia meninggalkan Zia yang ada di dalam restoran itu dan tak lama pengawal Radith datang dan berdiri di sebelah Zia. Gadis kecil itu tidak tahu apa yang terjadi pada Temannya, Gilang. Dia anak yang baik dan bahkan membantunya untuk kabur saat itu.
"Om, kita ke rumah sakit yuk Om, Gilang teman Zia. Dia tadi di sini dan pamitan sama Zia, terus tiba tiba dia menghilang dan ada di depan sana Om, Om ayo bawa Zia bertemu dengan teman Zia Om, Zia, Zia belum bilang selamat tinggal ke dia, atau bahkan Zia bakal minta papa biar dia tinggal dengan kami, ayo om," ujar Zia polos sambil menangis.
Pengawal tentu merasa tak tega. Pengawal itu langsung menggendong Zia dan masuk ke dalam mobilnya, melakukan koordinasi dengan pengawal lain untuk tahu lokasi mereka. Sesampainya di rumah sakit, Zia bisa melihat papanya yang duduk di lantai sambil memejamkan matanya. Zia menghampiri papanya dan memegang tangan papanya. Radith menatap Zia dengan menangis.
"Maaf papa harus menangis di depan Zia. Maaf papa tidak bisa menyelamatkan teman Zia. Maaf, maafkan papa, papa terlambat mengajak teman Zia untuk berobat ke rumah sakit, Zi, Zia maafkan papa," lirih Radith dengan takut. Zia langsung memeluk Radith, dia tahu temannya itu akan pergi karna tadi temannya sudah berpamitan.
"Papa, Zia mau masuk dan mau berpamitan sama teman Zia. Boleh kah?" Tanya Zia yang langsung diangguki oleh Radith. Lelaki itu tentu akan membiarkan anaknya untuk bertemu dengan temannya untik terakhir kali.
"Sekarang badan dia lagi dibersihkan nak, nanti kalau sudah bersih, kamu bisa melihat dan berpamitan sama dia. Papa udah minta pengawal papa untuk mencari keluarga dia, kalau memang tidak ada, papa akan makamkan di makam keluarga papa, tunggu dulu sampai susternya selesai ya," ujar Radith yang diangguki oleh Zia.
__ADS_1
"Kenapa teman kamu itu mendatangi kita? Kenapa teman kamu itu berpamitan ke Mita padahal kalian tidak bertemu untuk waktu yang lama," ujar Radith yang sebenarnya bingung dengan apa yang terjadi.
"Mungkin teman Zia mau menyampaikan sesuatu, atau teman Zia mau mengingatkan sesuatu pa," ujar Zia yang membuat Radith terdiam seribu bahasa.